Jakarta oh Jakarta

Sabtu, 31 Januari 2009

11 catatan dari sahabat
Jakarta... ? Siapa sih warga negara Indonesia yang belum pernah dengar kata Jakarta ? Atau belum pernah membaca tentang Jakarta ? Aku yakin semua orang udah sangat familiar dengan kata Jakarta. Ibukota negara kita tercinta, gito looh.

Aku ke Jakarta terakhir kali pada tahun 1994 yang lalu. Oh My God, udah lama juga ya ? Gak kerasa udah lebih dari 14 tahun yang lalu. Tentu saja udah sangat banyak perubahan tuh. Saat itu aku yang nginep di rumah saudara di daerah Pamulang, cuma sempet jalan-jalan ke Monas dan Pondok Indah Mall. Hu uh..., selama di Jakarta aku capek dalam perjalanan. Kemana-mana jauh. Masak hanya untuk sampai tujuan butuh waktu 2 jam ? Itu sih sama saja dengan perjalanan dari Madiun ke Solo !!

Gambar diambil dari sini

Lihat aja tuh foto monas plus air mancurnya. Keren banget ya ? Tentu saja saat aku berkunjung ke Monas tahun 1994 yang lalu belum ada tuh air mancurnya. Ih..., jadi pengen deh bisa ke Jakarta lagi. Tapi kapan ya... ?

Shasa-ku sebenarnya udah lama pengen ke Jakarta. Pengen lihat Taman Mini Indonesia Indah, katanya. Makanya, waktu dia ikut babak semifinal Olimpiade Sains Kuark Tahun 2008 yang lalu, saat diminta menuliskan tempat yang ingin dikunjungi jika nanti bisa sampai babak final yang akan diselenggarakan di Jakarta, Shasa menulis : Taman Mini Indonesia Indah !! Sayang sekali, keberuntungan belum berpihak padanya, sehingga Shasa belum bisa sampai babak final. Dan angan-angan pergi ke Jakarta untuk sementara ditunda dulu.

Gambar diambil dari sini

Sebenarnya, tanggal 8 Pebruari 2009 nanti kakak sepupu Shasa (mbak Tita) yang di Jakarta mau nikah. Kebetulan, resepsinya diselenggarakan di Taman Mini dan semua keluarga besar mau "diinapkan" di Taman Mini juga. Sebenarnya pengen banget sih untuk datang, tapi apa daya tanggal 7 Pebruari 2009 nanti Shasa akan mewakili sekolahnya untuk ikut (lagi) Olimpiade Sains Kuark Tahun 2009. Yah..., lagi-lagi keinginan untuk ke Jakarta ditunda lagi. Siapa tahu tahun ini keikutsertaan Shasa dalam Olimpiade Sains Kuark bisa sampai final. Itu berarti Shasa bisa sampai Jakarta. Semoga.

Sebetulnya Krisna, keponakanku yang di Pacitan, juga pengen banget ke Jakarta. Kalau Krisna ditanya kenapa ingin ke Jakarta, jawabannya sederhana saja : Karena Fa'i teman mainnya sudah pernah ke Jakarta naik Kereta Api. :D Dan katanya juga karena kepengen lihat Jakarta yang setiap hari ditontonnya lewat televisi.

Jakarta memang menjadi magnet bagi banyak orang untuk mengunjunginya. Di Jakarta semua ada. Banyak hiburan yang ditawarkan untuk dinikmati, dan tentu saja semua tergantung kemampuan dompet masing-masing ;) Seperti kemarin aku membaca tentang air mancur menari atau tentang seluncuran di mall. Hmm, begitu banyak ragam upaya yang dilakukan, agar tempat-tempat itu semakin banyak dikunjungi.


Gambar diambil dari sini


Gambar diambil dari sini

Jakarta memang memiliki daya tarik yang lebih daripada kota-kota lain di Indonesia. Maklum aja, sebagai kota metropolitan (ada yang bilang megapolitan) Jakarta memiliki segalanya. Jakarta menawarkan mimpi dan harapan bagi banyak orang. Sehingga banyak yang berlomba-lomba pergi ke Jakarta dan mencoba menggantungkan harap pada Jakarta.

Tapi ternyata Jakarta tak selalu gemerlap dan indah. Beragam masalah sedang menjadi PR bagi Pemerintah Jakarta. Betapa seringnya kita mendengar berita Jakarta yang terendam banjir ? Atau tentang kemacetan Jakarta yang semakin hari tak terkendali, sampai-semapi sekolah harus masuk lebih pagi. Belum lagi masalah sampah yang bertumpuk dan memenuhi sungai.


Gambar diambil dari sini



Gambar diambil dari sini

Berapa banyak orang yang semula silau dengan gemerlapnya ibukota ternyata harus menghadapi kenyataan tinggal dalam kemuraman Jakarta ? Orang-orang yang datang ke Jakarta tanpa membawa modal ketrampilan serta keuletan terpaksa harus rela hidup dalam tempat-tempat kumuh. Hidup dalam kemiskinan di kota metropolitan yang menawarkan segalanya! Kontras sekali ....

Gambar diambil sini

Jakarta oh Jakarta..., dibalik elok parasmu ternyata menyimpan begitu banyak duka dan masalah. Jadi sebelum memutuskan hijrah ke Jakarta harus dibarengi dengan kesiapan matang untuk menghadapi segala macam godaan dan permasalahannya. Atau mungkin lebih menyenangkan kalau kita ke Jakarta untuk berlibur saja, mencari hiburan yang belum ada di kota kita.

Kuingin Tahu

Jumat, 30 Januari 2009

4 catatan dari sahabat
Seperti apa rasanya menjadi terkenal
Apakah terasa semanis gula
Sehingga begitu banyak semut yang mengerumuni
Dan berebut manisnya

Atau...
Selezat masakan ibuku
Sehingga begitu banyak orang datang
Dan berhasrat untuk ikut mencicipinya

Atau....
Selengket secangkir madu
Sehingga terasa sulit lepas kita darinya

Namun...
Sampai sekarang belum kuperoleh jawabannya
Entah sampai kapan aku menunggu
Atau menunggu seseorang yang memberikan jawab
Atas pertanyaanku itu

Dan semoga itu tak lama
Karena aku sungguh ingin tahu...

Badai dalam rumah tangga

4 catatan dari sahabat
Badai dalam rumah tangga ? Oh No... !! Aku yakin, pasti itu kalimat yang akan pertama kali keluar dari siapapun. Ya iyalah..., masak ada sih orang yang ingin rumah tangganya terkena badai ? Yang namanya badai kan selalu identik dengan angin dahsyat yang memporak porandakan semuanya. Tapi..., seringkali keinginan tidak sejalan dengan realita kan ?

Selama kurang lebih 1 bulan ini, begitu banyak kisah tentang badai dalam rumah tangga yang aku dengar. Ehm..., kalau kuhitung-hitung kurang lebih ada 7 rumah tangga yang sedang terkena badai. Walau penyebab badai itu berbeda-beda, tapi kulihat ada 1 kesamaan, yaitu : istri menuntut cerai suaminya. Hmmm...., fenomena yang makin marak nih.

Alasan para istri itu menuntut cerai (dari yang aku ketahui) memang macam-macam, yaitu :
  • Sang suami sering melakukan KDRT, bahkan mengancam dengan menggunakan pisau segala. (Wah kalau ini sih serem banget. Bisa-bisa suatu saat akan jatuh korban)
  • Sang suami yang selama ini tidak jujur dalam masalah keuangan dan kabar terakhir sang suami sudah hidup serumah dengan wanita lain. (Ini sih sudah jatuh tertimpa tangga namanya...)
  • Hadirnya pihak ketiga dari pihak sang istri, dengan alasan bahwa selama ini sang suami tidak pengertian (jadi, sang istri cari orang lain yang lebih pengertian, gitu kali maksudnya, Tapi anehnya, yang menggugat cerai kok bukan suaminya ya ?!). *garuk-garuk kepala*
  • Sang suami sudah tidak lagi memberikan nafkah lahir dan batin selama sekian bulan. (Berarti sang suami sudah tidak menjalankan kewajibannya dong).
  • Sang suami meninggalkan rumah sekian bulan dan tidak bertanggung jawab. (Wah.., kasihan anak istrinya kalo kaya' begini)
  • Sang suami punya selingkuhan.... (Nah, kalau yang ini masuk akal jika sang istri gak terima dan nuntut cerai)
  • Sering terjadi pertengkaran dan sudah tidak ada kecocokan lagi dalam rumah tangga.... (Alasan yang paling gampang ini sih)
Apapun penyebabnya, siapapun yang mendatangkan badai.... hasilnya sama saja : sang istri ingin segera menyudahi badai dalam rumah tangganya dan memulai hidup baru dengan damai.
Tapi sejujurnya tidak semudah itu, aku rasa. Karena bagaimanapun juga, badai itu tentu telah meninggalkan luka. Apakah badai itu diakhiri atau tetap bertahan hidup dalam badai, rasanya tetap saja : menyisakan hati-hati yang luka. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka.

Mungkin, bagi beberapa orang lebih baik segera mengakhiri badai dan tidak memperparah luka, sehingga proses cerai nekad diambil. Mungkin, bagi beberapa orang, sesegera mungkin mengobati luka lebih baik daripada mempertahankan luka tanpa tahu kapan akan sembuhnya. Jadi..., walau perpisahan menyakitkan dan hal yang dibenci oleh Allah, bagi beberapa orang adalah pilihan sulit yang tetap harus diambil. Tentu saja sebelumnya telah mempertimbangkan masak-masak kesiapan mentalnya menyandang status janda dan pandangan negatif beberapa masyarakat.

Jadi, keputusan untuk mengambil keputusan untuk berpisah tentu saja berat bagi siapa saja. Dan, kalaupun itu tetap dipilih juga..., pasti ada hal yang lebih penting yang ingin "diselamatkan" dalam hidupnya. Hanya saja kita yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya seringkali terburu-buru mencibir pada mereka..... Padahal, harusnya kita bersyukur karena kita tidak berada dalam posisi mereka. Seandainya (ini cuma seandainya lho...), kita yang berada dalam posisi mereka..., kira-kira langkah apa yang akan kita ambil ?
:(

Rambut dan Orang Misterius

Kamis, 29 Januari 2009

10 catatan dari sahabat
Kemarin pulang kantor aku tiba-tiba ingin merubah gaya rambut. Selain karena aku udah bosen dengan gaya rambutku, aku juga mulai bingung karena rambutku mulai banyak yang rontok. Akhirnya, dengan diantar suami, aku potong rambut ke salon. Rambutku yang semula sebahu, aku potong pendek banget. Udah lama aku gak potong model begini, karena sudah beberapa tahun terakhir ini aku gak PD potong rambut pendek. Takut keliatan makin gemuk, gitu lho. *sambil ngaca* Tapi sebetulnya, suamiku suka kalo gaya rambutku pendek begini. (Heran deh, kan biasanya cowok lebih suka kalau pasangannya berambut panjang, tapi suamiku malah suka kalau aku berambut pendek). Makanya, waktu lihat aku "kembali" berambut pendek, suamiku senyum-senyum deh. :L

Tadi pagi, waktu aku sampai kantor... banyak banget yang ngomentari rambut pendekku. Ada yang bilang makin seger lah, ada yang bilang bagus rambut pendek daripada yang kemarin, ada yang bilang kalo aku niru BCL hehehe. Bla bla bla..., pokok'e macem-macem deh komentarnya. Yang lebih "jahil" bilang aku potong rambut pendek musim hujan begini biar gak "repot". Ada-ada saja. *tersipu malu*

Trus, siang hari ada SMS masuk ke HPku dari nomor yang gak aku kenal. Bunyinya gini : "Wah, model rambut baru bikin semua pangling. Omong-2 potong dimana ?"
Aku bingung nih sms dari siapa yach ? Aku gak merasa kenal ama nomornya. Karena penasaran akhirnya aku jawab : "Ini siapa ya ?"
Dan jawaban yang masuk dari nomor yang gak aku kenal itu gini nih : "Ah, gak perlu tau. Biarlah tetap jadi misteri. See you."
Duh... nyebelin banget gak sih ?!? :#

Kemudian aku jadi keingetan kejadian saat bulan Ramadhan yang lalu. Suatu pagi (kurang lebih jam setengah 2 pagi !!), beberapa saat sebelum aku bangun untuk makan sahur, ada SMS masuk ke HPku. Isinya tentang "curahan hati seseorang kepada orang yang selama ini diam-diam disukainya". Saat itu aku pikir SMS itu nyasar. Jadi gak aku respon. Ternyata, sesaat sebelum Subuh, ada lagi SMS masuk. Ternyata dari nomor yang sama. Isinya lagi-lagi tentang "ungkapan isi hatinya". Dan kali ini lebih dari 1 SMS !! Walah..., kok nyasar melulu sih SMSnya ?

Merasa terganggu, aku kemudian coba ganti SMS orang itu, untuk memberitahukannya bahwa SMSnya salah kirim. Ternyata gak direspon, malah dia tetap kirim SMS yang berisi "rayuan pulau kelapa" ke HPku. Iih..., apa maksud orang ini ?! Tapi, dari bunyi SMSnya kayaknya orang misterius ini kenal banget sama aku. Siapa ya kira-kira dia ?

Setelah usahaku menghentikan aksi orang misterius itu gak berhasil, akhirnya aku ngadu ke suamiku. Aku gak mau dong kalau suamiku mengira aku punya PIL. Kemudian suamiku coba telpon orang itu..., eh gak diangkat. Ternyata pengecut juga tuh orang. Beraninya cuma gangguin rumah tangga orang aja.

SMS dari orang misterius itu berlanjut terus selama beberapa hari. Aku betul-betul terganggu !! :@ Bayangin aja, masak SMS istri orang lain di atas jam 1 pagi ?! Udah gitu bunyi SMSnya gak sopan banget. Berani-beraninya dia merayu istri orang lain. Cuman sayangnya dia pengecut, gak berani nunjukin identitasnya. Aku peringatkan secara keras 2 kali lewat SMS gak ditanggapi. Suamiku coba telpon orang itu berkali-kali juga gak diangkat. Akhirnya, suamiku kirim SMS yang "amat sangat kasar" pada pengganggu itu. Alhamdulillah..., setelah itu SMS iseng berakhir juga.

Tapi..., hari ini aku terima lagi SMS dari orang misterius. Aku jadi suudzon (berburuk sangka) jangan-jangan orang yang dulu itu "beraksi lagi". Waduh..., gimana nih ?! Belum-belum aku jadi merasa benci banget sama orang misterius itu. Andai aku tahu siapa dia..., huh pasti udah aku marah-marahi. Tapi aku saat ini lebih suka berharap agar orang misterius itu gak gangguin aku lagi.

Sakit itu (katanya) bernama disfagia....

Rabu, 28 Januari 2009

9 catatan dari sahabat
Beberapa hari ini di kantor ada berita tentang seorang kawan (dari bagian lain) yang sedang sakit. Kabarnya kondisinya sekarang sudah cukup memprihatinkan. Kabar tersebut cukup membuat kaget banyak pihak, karena kawan itu terkenal sebagai orang yang aktif, sehat, kuat dan dinamis. Dia terkenal sebagai olahragawan dan pemandu acara-acara outdoor (tukang cua-cuap) di kantor kami. Jadi, begitu mendengar kabar bahwa kawan tadi sudah tidak berdaya di rumah sakit, banyak orang kaget dan heran. Orang sesehat itu..., sakit ??? Kok bisa ...??? :t



Gambar diambil dari sini

Setelah tak berkutik dengan banyaknya pekerjaan kantor, baru tadi siang aku dan rombongan kantor membezuk ke Rumah Sakit. Dan ternyata, orang yang kami jumpai tergeletak di ranjang rumah sakit bukan seperti kawan yang kami kenal sebelumnya. Kondisinya membuat kami semua tak sampai hati melihatnya. Dia tak bisa bicara, makanan pun sudah dimasukkan melalui selang di hidungnya. Melihat badannya yang masih tegap dan "utuh" pasti tak seorangpun menyangka kalau dia bisa tak berdaya seperti itu.

Berdasar informasi yang aku peroleh, semua berawal dari radang tenggorokan. Selama beberapa hari, kawan itu kehilangan suaranya karena batuk. Karena suara adalah salah satu "modal" utamanya dalam bekerja, maka dia melakukan berbagai upaya supaya cepat sembuh. Obat dari dokter dan ramuan shinse semua dikonsumsinya, nyaris dalam waktu yang bersamaan. Mungkin karena "over dosis" atau apalah, kemudian kawan tadi harus dilarikan ke rumah sakit. Dan ternyata... dengan cepat kondisinya memburuk. Bahkan untuk berkomunikasi pun dia sudah tak mampu.

Kami yang datang membezuknya tak ada sanggup berlama-lama di dalam kamar pasien. Semua tidak tega melihatnya menghentak-hentakkan kaki dan tangannya sambil sesekali "melenguh". Memprihatinkan sekali pokok'e....

Dari data pasien aku membaca bahwa sakit yang diderita kawanku itu bernama : disfagia. Penyakit apa lagi itu ? Setelah cari sana sini, akhirnya aku ketemu di sini tentang penyakit itu. Ringkasnya, disfagia adalah penyakit sulit menelan. Tapi masak hanya sesimpel itu penyakit yang diderita kawanku itu ? Padahal kawanku tadi bukan hanya sulit menelan, tapi juga sudah tak mampu berkomunikasi dengan orang lain dan bahkan sepertinya sudah seperti orang terkena stroke.

Tapi..., aku bukan dokter, jadi aku hanya bisa menebak-nebak saja. Aku sama sekali tak punya ilmu tentang penyakit. Yang kini aku renungkan adalah..., secepat ini Allah membuat segalanya berbeda. Sehari sebelumnya kawan tadi masih aktif di kantor dan ternyata keesokan harinya sudah terbering lemah di rumah sakit. Kalau sudah begini, terasa sekali betapa berharganya sehat itu. Olahragawan sekalipun, ternyata tak mampu menolak jika Allah menghendakinya jatuh sakit.

Hari ini aku seperti diingatkan untuk lebih mensyukuri apa yang aku dapat selama ini. Aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sebelum Allah mengambil segala kenikmatan itu dariku. Aku jadi ingat dengan lagunya Raihan yang berjudul Demi Masa.

Demi masa
sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali
Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
Demi masa
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal saleh

Dia Bilang

Selasa, 27 Januari 2009

4 catatan dari sahabat
11 tahun yang lalu
Dia bilang sayang
Dia bilang cinta
Dia bilang akan setia selamanya

5 tahun yang lalu
Dia bilang masih sayang
Dia bilang masih cinta
Dia bilang masih akan setia


1 minggu yang lalu
Dia bilang sebenarnya masih ada sayang
Dia bilang sebenarnya masih ada cinta
Dia bilang sebenarnya ingin selalu bersama

1 hari yang lalu

Dia bilang maaf
Dia bilang ada cinta yang lain
Dia bilang ada rindu yang lain


Sekarang
Dia bilang harus pergi

Untuk hati yang lain
Sekarang
Saatnya aku bilang :
Sudah cukup banyak kata untuk aku
Kini aku tak butuh lagi

Dan aku pun beranjak pergi.



Gambar diambil dari sini.

(untuk seseorang yang tadi pagi memutuskan untuk melangkah pergi)
Madiun, 27 Januari 2009

Mempercantik Blog

4 catatan dari sahabat
Setelah mengenal blog, ternyata aku jadi keasyikan. Aku bisa nulis apa saja yang aku mau, tentang hal-hal yang menyenangkan hatiku, yang membuatku kesal dan lain-lain. Awal buat blog dengan pengetahuan yang amat minim, bisa dipastikan blog aku biasa-biasa saja. Gak ada istimewanya. Tapi..., makin lama tentu saja aku ingin mempercantik blog aku.

Yang pertama kali ingin aku ganti dan aku percantik adalah template. Coba cari template yang keren udah dilakukan. Udah ketemu template yang cocok, ternyata aku gak berhasil mengganti templatenya. Ternyata mengganti template gak mudah bagiku. Beberapa kali aku nyoba tapi gagal terus. Hu uh.., kesel banget. :@

Sampai akhirnya aku sampai di blognya mbak kuyus dan mencoba salah satu template yang ada. Ternyata langsung berhasil. Duh seneng banget.... :D So, sampai sekarang templatenya gak aku ganti lagi. Kebetulan aku dari dulu emang pengen punya template dengan basic warna coklat. Untung ketemu yang cocok.

Selanjutnya, untuk mempercantik blog aku, mbak kuyus banyak mengajari aku beberapa tip dan triknya. Selain itu, aku juga coba mempraktekkan beberapa cara mempercantik blog dari tutorial membuat blog dari sini dan sini. Sehingga sekarang (menurutku) blog aku makin cantik. Iya kan ? ;)

Untuk sementara ini aku sudah cukup puas dengan blog aku. Entah kalo ke depannya aku masih ingin "ngutak-ngatik" blog agar semakin cantik lagi. Lihat saja nanti.

Rebutan Angpao

Senin, 26 Januari 2009

2 catatan dari sahabat
Hari ini (26 Januari 2009) adalah perayaan Tahun Baru Imlek. Tahun Baru Imlek selalu identik dengan angpao. Dari informasi yang aku dapat, kata angpao berasal dari kata Hokkian, yaitu ang (merah) dan pao (amplop). Jadi, angpao berarti amplop merah atau bingkisan merah. Sedangkan maksud dari pembagian angpao adalah sebagai wujud syukur atas rezeki yang telah diperoleh selama setahun terakhir sekaligus ajaran untuk menularkan rezeki dan kebahagiaan.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Madiun dipusatkan di tempat Peribadatan Tri Dharma yang terletak di Jalan Cokroaminoto. Untuk merayakannya dimeriahkan dengan pertunjukan barongsai dan tari-tarian. Meriah deh pokok'e... :~

Perayaan tersebut dimulai tanggal 25 Januari 2009 pada pukul 20.00. Selanjutnya dilakukan sembahyang di altar Klenteng Hwie Ing Kiong tersebut pada pukul 00.00. Pada tanggal 26 Januari 2009 masyarakat Madiun dan sekitarnya disuguhi aksi barongsai dari Tri Dharma Kota Madiun. Aksi Baronsai tersebut sempat membuat kemacetan yang parah di beberapa jalan, mulai dari Jalan Cokroaminoto, Sleko, dan H. Agus Salim.

Pada saat barongsai berkeliling di Kota Madiun tersebut, ada acara bagi-bagi angpao yang dilakukan oleh pemilik beberapa toko di Kota Madiun. Rencananya, acara pembagian angpao dan atraksi barongsai tersebut untuk menandai berakhirnya Tahun Tikus dan berganti Tahun Kerbau.

Sayangnya, pada saat pembagian angpao terjadi rebutan. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun tidak melewatkan kesempatan untuk berebut mendapatkan angpao tersebut. Terbatasnya jumlah angpao yang dibagikan membuat mereka saling sikut untuk mendapatkannya. Tak heran banyak anak terjatuh dan pingsan untuk mendapat beberapa lembar uang ribuan. :c

Kejadian yang serupa kembali terjadi. Kalau dulu saat pembagian zakat di beberapa kota terjadi rebutan, kali ini saat pembagian angpao terjadi juga rebutan. Masyarakat yang berebut untuk mendapatkan sejumlah uang yang bagi beberapa orang "tidak seberapa". Kecil bagi orang lain tapi bisa berarti besar bagi yang lainnya. Oleh karena itu, setelah kejadian serupa terjadi dan berulang di beberapa tempat, kita jadi makin sadar bahwa sebagian besar masyarakat kita masih menganggap uang yang "tidak seberapa" itu besar artinya.

Itulah potret sebagian besar masyarakat kita pada saat ini. Semoga saja perubahan ke arah kebaikan segera terjadi. Semoga saja kesejahteraan dapat segera dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, tanpa kecuali. Amien.
:y

Reading Poem Competition

Minggu, 25 Januari 2009

2 catatan dari sahabat
Hari ini, Minggu tanggal 25 Januari 2009, aku ngantar Shasa mengikuti lomba : Reading Poem. Sayang sekali, kali ini ayahnya tidak bisa ikut menyaksikan Shasa berlomba. Kebetulan ayahnya sedang sibuk ngurusin acara di kantor. Agar Shasa tetap semangat, Shasa minta agar tantenya dan dik Krisna yang datang dari Pacitan ikut menemaninya berlomba. Ayah hanya kebagian ngantar kami berempat ke tempat lomba.

Oya, reading Poem Competition ini merupakan rangkaian dari kegiatan Gerbangmas II Santo Bernardus Madiun Tahun 2009. Kebetulan, Shasa ditunjuk untuk mewakili sekolahnya bersama 4 anak lainnya (3 anak kelas 3, dan 2 anak dari kelas 2). Sementara pihak sekolah memberi kabar padaku bahwa Shasa diminta untuk ikut lomba tersebut di awal liburan sekolah (tgl. 18 Januari malam hari). Sekolah memberi jadwal latihan hanya 3 kali, yaitu : senin (19 Januari), Jumat (23 Januari) dan Sabtu (24 Januari). Jadi, mengingat pendeknya waktu, maka selama liburan ini Shasa sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut.

Selain dilatih oleh guru sekolahnya, Shasa berinisiatif meminta agar dia dilatih juga oleh tutornya di tempat les Bahasa Inggris. Atas desakannya, aku ngebel Miss Lusi (tutor di tempet Les Bhs. Inggrisnya) dan meminta kesediaannya untuk melatih Shasa untuk Reading Poem. Untung Miss Lusi tidak berkeberatan membantu melatih Shasa selama 4 hari berturut-turut, mulai Selasa sampai Jumat. Latihannya gak lama sih..., setiap latihan hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit.

Reading Poem Competition dibagi dalam 2 kategori : Kategori A untuk anak-anak TK. Kategori B untuk anak-anak kelas 1 - 3 SD. Pesertanya sih tidak terlalu banyak. Untuk Kategori A kurang lebih hanya diikuti oleh 25 peserta, sementara Kategori B diikuti oleh 38 peserta. Shasa mendapat nomor urut : B 9.

Menjelang penampilannya di atas panggung Shasa mengeluh sakit perut. Hehehe..., grogi dia rupanya. Oleh gurunya, Bu Wido, Shasa disarankan untuk mengambil nafas panjang agar groginya berkurang. Aku sendiri maklum kalau Shasa grogi, secara ... dia anak yang pemalu !! Gak kayak mamanya yang malu-maluin ....

Untuk membesarkan hatinya, aku hanya bisa bilang bahwa aku tidak menuntut dia jadi juara. Karena yang terpenting bagiku, dia bisa tampil maksimal, tanpa malu dan takut, serta tidak sampai lupa teks. Kukatakan juga pada Shasa bahwa ditunjuk untuk mewakili sekolah sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Sehingga, agar sekolah tidak kecewa kuminta Shasa untuk melakukan yang terbaik dari dirinya. Kalau belum menang saat ini..., berarti kemampuan Shasa belum bagus betul dan itu bisa diperbaiki lain kali.

Akhirnya nomor B9 dipanggil untuk tampil ke depan. Wow..., aku deg-degan lho. Semula aku khawatir kalau Shasa jadi grogi saat dia harus berjalan di panggung yang sangat panjang. Panggung yang digunakan untuk Reading Poem ditata seperti untuk peragaan busana, berbentuk T dengan kaki yang panjang. Alhamdulillah..., Shasa bisa jalan dengan cukup PD, ambil microphone, senyum kecil, memberi hormat dan .... mulai berpuisi !! Tidak ada salah atau lupa teks. Cukup PD walau bagiku suaranya kurang keras dikit. Tapi.., aku sangat bangga dan puas dengan penampilannya tadi.

Setelah menunggu cukup lama bagiku (dan sangat lama bagi Shasa ...), akhirnya diumumkan juga para pemenangnya. Untuk kategori B, Shasa berhak menjadi Juara Harapan II. Alhamdulillah.... Karena sebenarnya aku sama sekali gak berani berharap Shasa bisa menang, karena peserta yang lain juga bagus-bagus. Shasa sendiri waktu nomor B9 disebut sebagai juara Harapan II masih belum percaya. Setelah namanya disebutkan, barulah dia percaya bahwa dia menang !! Seneng sekali.....



Shasa saat nerima trophy (hasil jepretan de' Krisna sayang agak kabur..)


Duh senengnya yang menang....

Akhirnya kerja keras Shasa membuahkan hasil juga. Untuk bisa membuat Shasa berani tampil di depan juri dan penonton perlu waktu yang cukup lama juga.... Berkat usaha dan semangatnya akhirnya Shasa memetik buah dari ketekunannya. Aku sangat senang dan bangga tentu saja.

Sebenarnya puisi yang disediakan juri ada 4 buah, semuanya pendek-pendek. Dan puisi yang dipilih Shasa berjudul The Card Sharp. Mau tahu isi puisinya Shasa ? Oke..., bisa dibaca berikut ini.

THE CARD SHARP

A leopard and a cheetah were lying
Playing cards in a shady glade
Everyone thought the cheetah was cheating
“Like name, like nature “ they said
But the cheetah was never spotted
( though the leopard most certainly was )

Derita Yang Lepas

Sabtu, 24 Januari 2009

5 catatan dari sahabat
Seseorang datang dan bersimpuh berlinang air mata
Berderai-derai penderitaan terlontar
Pecah berhamburan.....
Biru, hitam dan merah dimana-mana

Sesekali dia mencoba untuk tersenyum
Namun hanya kepedihan di ujung bibirnya
Lebam oleh hantaman sakit hati dan kecewa
Yang telah lama mengkristal di dada

Terkadang dia mencoba untuk menatap
Nanar dan kosong belaka
Kering air matanya menyisakan tanda
Tak mampu lagi menyembunyikan amarah

Dia berjuang untuk kembali berdiri
Namun tubuhnya lunglai dan penat
Tersungkur dia kini
Tak bergerak
Tak bernafas

Lepas sudah segala deritanya
Dan aku hanya bisa menatapnya kelu


Madiun, 24 Januari 2008
(Kepada seorang kawan lama)

*gambar di atas di ambil dari sini*

Kursi dalam bus

Jumat, 23 Januari 2009

4 catatan dari sahabat
Dulu, waktu aku kuliah di Yogyakarta, aku sering memanfaatkan bus kota sebagai sarana transportasi. Bukan untuk ke kampus, karena jarak kost dan kampusku cukup kutempuh dengan jalan kaki selama kurang lebih 15 menit saja. Aku baru memanfaatkan bus kota bila aku bepergian ke tempat lain yang tidak mampu kujangkau dengan jalan kaki. Ke Malioboro misalnya.

Tapi untuk pulang kampung, aku paling sering menggunakan bus daripada travel ataupun kereta api. Alasannya cuma satu : bus bisa berangkat sewaktu-waktu dan aku bisa mendapatkannya dimana saja aku mau.

Seringnya sih, aku naik bus dari terminal, sehingga aku bisa memilih tempat duduk. Tapi suatu kali, aku naik bus dari Janti karena aku tidak sempat lagi ke terminal. So, waktu aku naik ke bus..., ampun... penumpangnya udah penuh !! Tidak ada kursi tersisa untukku. Jadinya aku berdiri deh... Nyesel banget gak bela-belain ke terminal untuk bisa dapatkan tempat duduk yang nyaman. :(

Untung saja, aku berdiri tidak lama, karena ada seorang bapak yang turun di Klaten. Siip lah, buru-buru aku duduk di tempat bapak itu tadi. Lega banget rasanya bisa duduk karena membayangkan berdiri terus sepanjang perjalananan sungguh sangat tidak menyenangkan.

Belum lama aku duduk, naiklah seorang ibu yang sudah cukup tua ke dalam bus. Ibu itu tengok kanan kiri cari tempat duduk, dan tidak berhasil menemukannya. Saat itu dalam hatiku muncul keinginan untuk memberikan tempat dudukku padanya, tapi aku ragu melakukannya.

Keraguanku disebabkan oleh rasa "enggan" yang muncul dalam hatiku, enggan dianggap oleh orang lain sok baik. Keraguanku yang kedua karena mengingat perjalananku yang masih jauh. Kemudian aku melihat beberapa lelaki muda yang duduk beberapa kursi di depanku. Mereka yang seharusnya berdiri memberikan tempat pada ibu itu, kata hatiku mencoba menutupi rasa bersalahku. :v

Tapi ternyata tak satupun penumpang bus yang berdiri dan memberikan tempat pada si ibu tadi. Kemudian aku teringat pada ibuku. Aku membayangkan, jika seandainya ibu itu adalah ibuku yang naik bus ke Yogya untuk menemui aku. Dan ternyata selama perjalanan dari Madiun - Yogya tidak ada yang memberikan kursi padanya. Aduh..., betapa sedih hatiku. :c

Makanya, aku kemudian segera berdiri dan memberikan kursiku padanya. Ibu itu tersenyum lega dan mengucapkan terima kasihnya padaku. Ternyata, bukan ibu itu saja yang merasa lega, akupun merasakan kelegaan yang sama. Aku berharap agar apa yang aku lakukan pada saat itu akan mendapat balasan pada ibuku kelak. Semoga saja suatu saat apabila ibuku berada di tempat umum dan memerlukan bantuan orang lain, ada orang yang dengan sukarela mengulurkan bantuan.

Ya Allah..., aku malu dalam hati. Untuk berbuat baik saja, aku masih memikirkan komentar dan pandangan orang. Untuk berbuat baik saja aku masih harus berpikir seribu kali. Sementara waktu aku tetap duduk dan belum memberikan bantuan pada ibu itu, aku malah tidak berpikir tentang pendapat dan pandangan orang lain..., karena semua melakukan hal yang sama : tidak perduli.

Ya Allah..., semoga ingatan akan kejadian itu dapat membantuku untuk berbuat baik kepada orang lain, tanpa perlu memikirkan apa pendapat dan pandangan orang lain.
:y

Hitam atau Putih ?

Rabu, 21 Januari 2009

9 catatan dari sahabat
Pernah ketemu dengan orang yang suka cari kejelekan orang lain ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang hobby mempengaruhi orang lain dengan pandangan-pandangan negatifnya ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang pinternya bermuka manis di depan orang lain tapi menikam di belakangnya ?
Aku pernah....

Bertemu, berkenalan dan berurusan dengan orang-orang seperti itu pasti terasa sangat mengganggu. Kalau diladenin, pasti akan keterusan. Kalau kita udah keterusan akan lebih parah lagi. Bisa-bisa kita ikut terseret arus negatifnya. Kita jadi terbiasa memandang orang lain dari sisi negatifnya juga dan kemudian.... membicarakannya dengan orang lain. Waaa., bahaya itu. Kalaupun kita mampu menjaga diri sehingga gak ikut arus negatifnya, tetap saja waktu berharga kita jadi sia-sia karena meladeninya.

Kalau didiemin, lama-lama kita yang akan jadi "sasaran tembaknya" dikemudian hari. Nah..., jika kita yang jadi "bahan" perbincangannya... tahu apa yang akan terjadi kemudian ? Mungkin kata yang tepat adalah... pembunuhan karakter !! Wuih..., ini lebih ngeri lagi.

Trus..., apa yang sebaiknya kita lakukan bila ngadepin orang-orang seperti di atas ? Kalau aku, lebih baik diam dan kemudian berlalu dari hadapannya. Soalnya, bagiku lebih ngeri kalau aku jadi "foto copy-an" dirinya. Pasti hari-hariku akan disibukkan dengan mencari dan membicarakan kekurangan orang lain. Walah.... cape' deh....

Tapi kalau aku yang kemudian dijadikan bahan omongannya dan pembunuhan karakter di alamatkan padaku, bagaimana dunk? Hmmm, setelah kupikir-pikir nih..., kayaknya akibat yang akan kutanggung lebih ringan daripada kalau aku yang melakukan pembunuhan karakter itu.

Kurasa bagi orang-orang yang mengenalku dengan baik, pasti gak akan menelan mentah-mentah pembunuhan karakter yang dialamatkan padaku. Sedangkan bagi orang-orang yang belum mengenalku, mungkin saja akan termakan omongan negatif itu. Tapi..., kupikir jika suatu saat mereka bisa lebih mengenalku, bisa saja pandangan negatif itu akan luntur dengan sendirinya.

Jadi..., rasanya saat ini aku memilih tetap berjalan di jalanku saja. Tetap melakukan apa saja yang menurutku baik untukku dan baik untuk sekitarku. Karena aku yakin, semua yang diniatkan untuk kebaikan akan berujung kebaikan juga. Mungkin ada orang yang gak bisa melihatnya, tapi masih banyak orang yang mampu melihat dengan nuraninya. Yang terpenting, Allah selalu melihat apa yang diperbuat hamba-Nya, bukan ? Dan dengan pilihan ini..., aku merasa hebat bisa melepaskan diri dari arus negatif.

Pernah bertemu dengan orang yang selalu tegar menghadapi segala macam cobaan ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang selalu berusaha melihat sisi positif dari segala macam persoalan ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri ?
Aku pernah....

Swear..., aku pernah bertemu, kenal dan berurusan dengan orang-orang seperti itu. Percayalah padaku. Dan ternyata..., berada dekat dengan mereka membuatku merasa sangat kecil dan malu. Sungguh, aku merasa diriku gak sebanding dengan mereka. Dan aku merasa aku bukanlah orang yang hebat (lagi).....

Walau di antara orang-orang seperti itu aku merasa malu, tapi aku gak akan surut langkah untuk terus berjalan bersama. Begitu banyak hal yang masih harus aku pelajari tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan baik dan memberikan kebaikan pula bagi orang lain. Bagaimana bisa mencintai hidup dan orang lain dengan sedemikian tulus. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan sangat ringan tanpa dibebani dengan pikiran negatif terhadap orang lain.

Dan..., kini aku berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sekali dua kali tersandung, tidak apalah. Bisa dijadikan pembelajaran untuk lebih hati-hati di kemudian hari. Sekali dua kali salah langkah juga tak masalah. Agar aku semakin mengetahui rambu-rambu yang ada dalam kehidupan ini. Berat ? Memang.... Tapi gak ada yang gak bisa dipelajari bukan ? Dengan membantu dan dibantu orang lain, aku yakin bahwa perjalananku ke depan akan semakin ringan. Semoga......

Kehamilan

Senin, 19 Januari 2009

9 catatan dari sahabat
Siapapun yang udah nikah pasti pengen segera punya momongan. Rasanya belum pas kalau belum jadi "orang tua" dalam arti yang sebenarnya. Jadi, kehamilan bagi pengantin baru selalu ditunggu-tunggu. Tidak saja bagi kedua pengantin baru, tapi juga bagi keluarganya. Jadi, bukan hal baru bila si pengantin baru sering dapat pertanyaan : "udah isi belum?" :f
Aku dulu juga mengalami hal seperti itu. Kebetulan, orang tuaku dan mertuaku sama-sama belum punya cucu. Jadi, begitu aku menikah mereka berharap untuk segera dapat menimang cucu. Malah eyang dari suamiku berharap, agar beliau segera dapat menimang buyut pertamanya dari hasil perkawinan kami. Berat nian kan bebanku .... *minta dikasihani*

Kebetulan aku juga gak langsung hamil. Setelah beberapa bulan bosen dengar pertanyaan "udah isi belum?" dari banyak orang, akhirnya aku hamil juga. Wah lega banget rasanya .... Aku "berhasil" hamil juga ....

Selama hamil, aku yang dulunya gak doyan makan jadi pengen makan semua jenis makanan. Bahkan bakso yang dulu aku gak doyan, jadi doyan gara-gara hamil. Poko'nya masalah makan aku gak ada masalah sama sekali. Aku juga gak ngalami yang namanya "morning sick". Cuman.... aku beberapa kali "pingsan" di kantor karena ternyata HB-ku rendah hehehe *sembunyi karena malu*

Ternyata setelah anakku lahir, dia doyan sekali makan. Mungkin benar apa kata orang-orang tua, waktu lihat aku doyan makan, banyak yang bilang pasti anakku besok gak sulit makan. Eh... ternyata betul tuh. Makanya anakku sekarang endut karena hobby banget makan.

Memang orang hamil itu lain-lain "bawaannya". Aku dulu doyan banget makan, tapi teman sekantorku yang saat ini istrinya sedang hamil jadi pusing gara-gara istrinya gak bisa nelan apa-apa. Semua yang masuk ke perutnya pasti keluar lagi. Makan buahpun pasti langsung dimuntahkan lagi. Susu juga gak doyan, sehingga dia sampai kekurangan cairan dan harus nginep di rumah sakit.

Padahal dulu dia pengen banget segera hamil waktu habis nikah. Mungkin juga "desakan" dari orang tua dan mertua yang membuatnya ingin cepat-cepat hamil. Giliran dia bisa hamil..., ternyata dia lemas dan tak berdaya. Tidak doyan makan pula. Cape' deh...

Kalau diingat "repot"nya hamil memang repot..., tapi sungguh gak sebanding dengan rasa bahagia yang luar biasa karena dapat menimang buah hati. Rasanya gak dapat dibandingkan dengan apapun.

Memiliki buah hati memang dambaan setiap pasangan suami istri. Makanya, sedih hati ini setiap mendengar berita tentang bayi yang diterlantarkan orang tuanya, atau malah dibuang. Padahal..., masih banyak orang tua yang menginginkan memiliki buah hati. Sungguh kontras dunia ini....

Raport Shasa

Sabtu, 17 Januari 2009

12 catatan dari sahabat
Akhirnya datang juga...., hari yang ditunggu-tunggu oleh Shasa. Pembagian Raport !! Tidak seperti biasanya, kali ini raport harus diambil langsung oleh orang tua/wali murid masing-masing. Akhirnya jam 8 pagi kurang dikit aku berangkat ke sekolah Shasa untuk ambil raport.

Awalnya kukira semua orang tua/wali murid dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan atau apalah dari Guru Wali Kelas. Ternyata, setiap orang tua/wali murid yang datang langsung dilayani pembagian raportnya. Sehingga aku gak butuh waktu banyak untuk ambil raport Shasa. Kebetulan waktu aku datang, baru ada 2 orang tua/wali murid di dalam kelas.

Penjual Mie Keliling

Jumat, 16 Januari 2009

8 catatan dari sahabat
Di perumahan yang kutinggali, banyak sekali penjual makanan yang lewat. Mulai pagi sampai malam hari. Mulai dari bahan makanan sampai makanan jadi. Pokok'e bisa dibilang lengkap deh. Selama ini Shasa tidak pernah berkomentar apapun tentang penjual-penjual keliling itu. Tapi lain ceritanya dengan malam kemarin.

Kemarin, saat aku menemani Shasa yang akan tidur malam, terdengar suara khas penjual mie lewat depan rumah. Penjual mie keliling itu biasanya juga menjual nasi goreng. Mereka berjualan dengan mendorong gerobag. "Tanda" dari penjual mie adalah suara "thog thog" yang berasal dari batang bambu yang dipukul dengan kayu. Makanya, kami biasanya menyebutnya sebagai "Mie Thog".

Shasa yang sudah terbaring di atas kasurnya, tiba-tiba nyeletuk waktu mendengar suara "thog thog" dari penjual mie keliling.

"Ma, aku sudah mau tidur, orang itu masih jualan" kata Shasa pelan.

"Yah begitulah susahnya nyari uang, dik," jawabku.

"Padahal kan sekarang gerimis, ma"

"Kalau tidak gerimis, mungkin jualan bapak itu sudah hampir habis. Karena gerimis, jadinya bapak itu pulangnya lebih malam karena jualannya masih banyak. Lagipula penjual mie thog kan memang jualannya malam, dik" kataku mencoba menjelaskan.

"Apa dia harus menghabiskan jualannya?" tanya Shasa ingin tahu.

"Ya tidak lah. Mungkin kalau sampai jam 12 malam jualannya masih ada, bapak itu pasti pulang karena besok masih harus jualan lagi."

"Penjual itu berangkat jualan jam berapa kalau jam segini belum pulang ?" lanjut Shasa.

"Biasanya mereka berangkat jam 5 sore. Waktu kita lewat alun-alun jam segitu, kita sering melihat rombongan penjual mie thog berangkat. Ingat kan ?" jawabku.

"Rumahnya jauh ya, ma?"

"Yang mama tahu sih memang jauh-jauh. Rumah kita aja dari alun-alun sudah jauh. Berarti rumah mereka lebih jauh lagi,"

"Kasihan ya ma kalau dagangan mereka tidak laku," kata Shasa pelan.

"Ya doakan saja agar dagangan mereka laku, ya? Itu makanya Shasa harus pandai-pandai mensyukuri apa yang sudah Shasa peroleh selama ini," nasehatku padanya.

Shasa tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian Shasaku tertidur. Pulas banget.

Entah apa yang ada dalam mimpinya, tapi malam itu aku merasa "bangga" karena Shasa-ku sudah bisa berempati kepada orang lain. Berarti, walau baru sedikit, cerita-ceritaku padanya tentang kehidupan orang-orang yang kurang beruntung terekam juga dalam pikirannya.

Semoga selanjutnya Shasa memiliki rasa kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi pada sesama. Amien.

Televisi dan Anak

Kamis, 15 Januari 2009

2 catatan dari sahabat
Pagi tadi aku menghadiri undangan ke sekolah Shasa. Acaranya : penyampaian hasil tes IQ anak dan konsultasi dengan psikolog. Dari kemarin Shasa udah wanti-wanti padaku agar aku jangan sampai gak datang. So, setelah ijin pada boss, aku berangkat ke sekolah Shasa jam 08.15 WIB.

Sampai di sekolah Shasa ternyata belum banyak wali murid yang datang. Tak lama menunggu, aku beserta wali murid yang lain dipersilahkan menandatangani daftar hadir. Setelah menerima hasil tes IQ anak kami, akhirnya kami memasuki ruang yang disediakan.

Hasil tes IQ Shasa gak mengecewakan. Tes IQ memang membantuku untuk lebih memahami kelebihan dan kekurangan Shasa, tapi aku gak akan menjadikan hasil tes IQ itu sebagai satu-satunya peganganku dalam menentukan masa depan Shasa. Karena IQ anak masih bisa berkembang dan IQ bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan seseorang di masa depannya nanti. (menurutku siy...)

Ternyata acara "konsultasi" yang ditulis di undangan bukanlah konsultasi dalam arti yang sebenarnya. Yang benar adalah sang psikolog menyampaikan materi yang menyangkut tumbuh kembang anak beserta tips menjadi orang tua yang "benar" untuk anak-anak.

Mengingat tema yang dibahas tidak jauh dari prestasi anak di sekolah, maka topik yang hangat dibicarakan oleh sang psikolog adalah mengenai cara-cara belajar anak. Disampaikan oleh sang Psikolog, bahwa agar anak bisa tumbuh kesadaran belajar adalah dengan menetapkan jadwal belajar bagi anak. Dan jadwal itu harus disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Sehingga jangan sampai ada anggota keluarga yang nyetel televisi di saat si anak sedang belajar. Dicontohkan juga bahwa ada 2 kelurahan di Yogyakarta yang telah berhasil menetapkan jam belajar bagi seluruh warganya. Pada saat jam belajar, semua warga dilarang menyalakan televisi dan apabila ada yang melanggar akan dikenakan sangsi. Hebat ya...?

Kemudian di ujung acara diadakan dialog. Sayangnya, sisa waktu untuk dialog sangat singkat. Yang menarik ada seorang bapak yang curhat bahwa dia sulit sekali melepaskan televisi dari anak-anaknya. Menanggapi curhat bapak tadi, ada seorang ibu yang menceritakan pengalaman pribadinya tentang "keberhasilannya" melepaskan anak dari televisi. Diceritakannya bahwa sudah selama 1 tahun ini televisi di rumahnya hanya dinyalakan pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang. Selebihnya televisi dimatikan. Dan untuk memenuhi kebutuhan sang suami akan berita, maka diputuskan berlangganan surat kabar.
Gambar diambil dari sini.

Wow..., sudah sangat bahayakah televisi di mata ibu itu sehingga dia mengambil sikap yang (menurutku) sangat ekstrim itu. Memang banyak "bahaya" yang datang dari tayangan televisi bagi anak-anak. Apalagi sinetron, infotainmen dan berita kriminalitas yang makin gak terkendali di televisi kita. Tapi menurutku (lagi), masih ada acara televisi yang layak untuk ditonton. Masih ada acara televisi yang bisa diambil nilai positifnya.

Ada acara televisi yang mampu menumbuhkan jiwa sosial dan solidaritas pada anak. Anak mungkin tidak akan tahu bagaimana sedihnya orang-orang yang tertimba bencana. Anak-anak mungkin tidak akan tahu bagaimana bahagianya seseorang yang menerima pertolongan di saat yang sangat sulit. Anak-anak juga mungkin tidak akan tahu bagaimana sulitnya seseorang berjuang mencari nafkah dan sebagainya.
Tapi ada acara televisi yang merekam semua kejadian itu. Anak-anak bisa melihat sendiri melalui televisi. Walau mereka tidak mengalami sendiri, tapi saya yakin dengan melihat melalui tayangan televisi anak-anak bisa ikut merasakan. Anak-anak bisa ikut berempati.

Ada juga acara televisi yang menyuguhkan acara yang bersifat pengetahuan. Contohnya : cerdas cermat dan sejenisnya. Atau acara yang menampilkan flora dan fauna.
Ada juga acara televisi yang mampu menumbuhkan inspirasi karena menyajikan informasi-informasi yang disampaikannya mampu menggugah semangat hidup orang lain / penontonnya.

Walau tidak banyak, ada juga film kartun yang layak untuk ditonton anak-anak.
Sayangnya, tayangan-tayangan yang masih bersifat mendidik itu tidak semuanya ditayangkan pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang !! Trus, bagaimana dengan anak yang dibebaskan nonton televisi hanya pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang itu ? Berarti semua acara yang "disediakan" pada saat hari "bebas nonton televisi" itu bisa dinikmati tanpa pengecualian ? Lantas, apakah efek negatif televisi dapat dibendung dengan sikap seperti itu ?

Jadi semuanya tergantung pada kita selaku orang tua. Bagaimana kita mampu memilihkan acara yang tepat bagi anak-anak. Menjadi tugas orang tua untuk menentukan layak dan tidaknya suatu acara televisi ditonton oleh anak-anak. Dan yang penting adalah pendampingan dari orang tuanya agar anak bisa menangkap dengan benar apa yang sedang mereka lihat di televisi.

Mungkin ada orang tua yang mencoba memberikan buku sebagai pengganti televisi. Memang melalui buku seorang anak akan mendapat banyak "ilmu". Tapi bagaimana dengan anak yang gak suka membaca ? Darimana anak-anak yang gak hobby baca ini akan mendapatkan 'ilmu" ?

Tapi satu hal yang harus diakui, bahwa efek membaca dan melihat jauh berbeda. Seorang anak yang membaca berita tsunami hanya bisa membayangkan betapa dahsyatnya tsunami. Tapi bila seorang anak melihat sendiri (melalui televisi) tentang tsunami akan betul-betul mengetahui betapa dahsyatnya penderitaan masyarakatnya.

Bagaimanapun juga, jangan sampai anak-anak tidak memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan ini. "Over protective" yang diberikan orang tua pada anak di usia dini, sangat mungkin akan membuat anak "tersesat" saat mereka mulai terjun langsung dalam masyarakat.

Itu semua menurut aku. Bagaimana menurut anda semua ?

Nyanyian Kodok

Rabu, 14 Januari 2009

5 catatan dari sahabat
Seharian ini Madiun terasa basah oleh hujan. Walau matahari sempat menyapa, tapi itupun gak berlangsung lama. Siang sampai sore malah hujan turun disertai dengan angin kencang. Aku hanya bisa berharap plus berdoa agar gak terjadi banjir lagi seperti akhir tahun 2007 yang lalu. Walau rumahku bebas dari banjir (Alhamdulillah), tapi melihat Madiun yang sebagian daerahnya terendam air rasanya hati miris juga.

Malam ini saat aku mengantar Shasa tidur malam, Shasa sempat nanya tentang suara asing yang didengarnya. Aku yang gak paham dengan apa yang didengar Shasa balik bertanya tentang suara apa yang dimaksudnya. Karena aku ngerasa gak mendengar suara yang asing atau aneh di telingaku.

Setelah sekian lama, barulah aku nyadar bahwa suara yang dimaksud Shasa adalah suara kodok dari belakang rumah. Memang malam ini suara nyanyian kodok di belakang rumah ramai banget. Mungkin kodok-kodok itu bersuka cita setelah seharian hujan turun nyaris tanpa henti.

Sebenarnya bukan baru kali ini Shasa ndengar suara kodok "bernyanyi" seperti itu. Mungkin saja, baru kali ini dia betul-betul merhatiin suara itu dan heran dengan suara kodok yang beda-beda "bunyinya" itu. Maksud Shasa, sama-sama kodoknya, kenapa bunyi suaranya berbeda-beda *garuk-garuk kepala*

Aku jadi inget kejadian beberapa tahun yang lalu saat aku masih jadi mahasiswi. Suatu kali aku pulang kampung ditemani seorang teman kostku yang berasal dari Jakarta. Saat malam tiba dan temanku mau tidur, dia bilang lamat-lamat mendengar suara "musik jawa" (yang dimaksud adalah gamelan). Dia heran kok sudah selarut itu masih ada orang yang punya hajatan (mungkin gamelan identik dengan acara
pernikahan ya?). Aku yang ngerasa gak mendengar suara "musik jawa" jadi bingung.

Setelah mencoba meyakinkan apa yang didengarnya, aku jadi tertawa geli. Ternyata yang didengar temanku itu bukan "musik jawa" melainkan "musik alam" alias suara kodok alias nyanyian kodok.

Temanku itu tidak percaya bahwa yang didengarnya adalah suara kodok. Dia heran kok suara kodok seperti itu. Ramai sekali katanya. Akhirnya kujelaskan padanya bahwa sudah biasa terdengar suara kodok bernyanyi saat musim hujan tiba. Ternyata selama ini, di rumahnya di Jakarta sana, temanku ini belum pernah mendengar nyanyian kodok. Ya ampun..... Untung saja dia saat itu ikut aku pulang kampung ke Madiun, sehingga dia punya pengalaman yang tak akan dilupakannya selamanya yaitu : mendengar nyanyian kodok di Madiun hehehe.

Nah, aku sekarang merasa beruntung karena Shasaku masih bisa mendengar nyanyian kodok. Mungkin beberapa tahun ke depan, di Madiun suara nyanyian kodok tidak sulit terdengar lagi. Saat semua tanah telah tertutup oleh bangungan, aspal dan paving stone...., saat itulan kodok-kodok akan semakin susah dicari.

Jadi..., malam ini aku akan menikmati tidur malamku dengan iringan nyanyian kodok. Indah sekali bukan ?

Empati

Senin, 12 Januari 2009

2 catatan dari sahabat
Ceritanya, sore tadi tidak seperti biasanya, aku sudah ada di rumah. Dan tidak seperti biasanya juga, aku bisa nonton televisi, karena biasanya sampai rumah sibuk dengan urusan rumah tangga sih *curhat mode on*. Kebetulan aku nonton program reality show yang berjudul : Minta Tolong.

Acara tersebut memiliki konsep untuk menguji kepekaan hati nurani orang-orang di sekitar kita. Melalui kamera tersembunyi, kita dapat melihat berbagai reaksi orang-orang ketika ada seseorang (yang tidak dikenal) datang meminta pertolongan.

Kebetulan acara yang aku lihat tadi sore menceritakan (kalau boleh dibilang) "perjuangan" seorang wanita (selanjutnya kita sebut sebagai "tokoh" saja yach ?) yang kelaparan dan minta nasi, karena sudah 2 hari tidak makan. Ternyata reaksi dari orang-orang sangat beragam ketika tokoh tadi datang dan minta makan. Ada yang cuma mendiamkan saja (pura-pura tidak dengar kali ya...?), ada yang menolak dengan berbagai alasan. Ada yang mengusir dengan menyiramkan air ke arah tokoh itu, walau airnya tidak banyak tapi sikapnya menurutku keterlaluan juga. Dan yang "tragis" adalah saat sang tokoh masuk ke sudah kedai makan dan melihat sisa nasi di piring yang sudah ditinggalkan pembelinya. Kebetulan pemilik warung belum sempat membereskan kembali meja itu. Waktu sang tokoh masuk dan bilang minta makan, lantas mengambil (dengan tangannya) sisa nasi di atas piring, ternyata sang tokoh malah diusir !! Masya Allah.... *sambil ngelus dada*

Kemudian diceritakan bahwa pada hari itu sang tokoh tadi sudah berjuang selama 13 jam minta nasi pada setiap orang yang ditemuinya, tapi tidak ada satupun yang membantunya. Keesokan harinya usaha meminta nasi dilanjutkan lagi. Baru pada hari kedua itulah, tokoh itu "beruntung" mendapatkan sebungkus nasi. Dan orang yang memiliki nurani membantu tokoh itu adalah seorang wanita pemulung miskin yang bekerja dengan membawa 2 orang anaknya (yang satu masih dalam gendongan !) beserta ibunya yang sudah renta.

Tidak sampai di situ saja, wanita pemulung miskin itu juga kemudian menyeberang jalan untuk membelikan tokoh tadi segelas teh hangat !! Aku jadi terharu melihat ketulusan wanita pemulung itu. Padahal saat itu, nasi bungkus yang dibawanya cuma satu, tapi melihat tokoh tadi kelaparan, tanpa berpikir panjang nasi itu langsung diserahkannya. *terharu*

Aku dulu pernah nonton acara serupa (yang kini sudah tidak ada lagi) di stasiun televisi yang lain. Dari tayangan yang dulu-dulu aku lihat, tenyata mayoritas orang yang memiliki hati nurani untuk menolong justru orang-orang yang tidak mampu. Sementara orang-orang yang mampu justru menutup mata bagi penderitaan orang lain.

Dari acara itu aku melihat betapa empati sangat mempengaruhi sikap seseorang. Memang tidak mudah memposisikan diri sebagai orang tidak mampu jika seseorang tidak pernah mengalami menjadi orang yang tidak mampu. Sebenarnya empati itulah yang akan kita dapatkan jika kita menjalani puasa Ramadhan dengan ikhlas. Karena melalui puasa Ramadhan itulah kita dapat merasakan bagaimana susahnya seseorang yang menahan haus dan lapar seharian. Tapi mungkin "pengalaman" menahan haus dan lapar selama 1 bulan tersebut terlupakan setelah kita kembali pada rutinitas sehari-hari di luar bulan Ramadhan. Sehingga, melalui acara Minta Tolong itulah kita dapat menyaksikan betapa kecilnya rasa kepedulian sebagian besar orang kepada yang membutuhkan.

Tentu saja tidak semua orang mampu kehilangan hati nurani lho... Demikian juga tidak semua orang yang tidak mampu memiliki keikhlasan untuk berbagi di saat mereka sendiri juga sangat membutuhkan pertolongan. Justru disinilah kita harus mengakui betapa luhurnya hati wanita pemulung itu yang dalam kondisinya yang serba kekurangan masih memiliki nurani dan kepedulian kepada orang lain.

Sekarang tinggal kita sendiri, apakah kita masih memiliki empati kepada orang lain ?

Ketemu Jejak Teman Lama

Minggu, 11 Januari 2009

10 catatan dari sahabat
Dulu waktu aku SMA, aku punya temen yang pinter banget. Murni Ramli namanya. Dia asli Ujung Pandang dan pindah ke Jawa (tepatnya di Madiun kotaku tercinta ehm !!) pada saat kelas 1 SMP, mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Aku mengenalnya waktu kelas 1 SMA. Kebetulan kami satu kelas. Duh... dia pinter sekali. Kagum aku padanya. Selain pinter, dia kalau bercanda suka ngaco juga. Dulu aku ga nyangka kalau dia ngocol abiez orangnya. :)

Waktu kelas 2 dan 3 SMA, kami sudah tidak sekelas lagi. Kebetulan jurusan yang kami pilih berbeda. Namun, kami masih cukup dekat apalagi kami sama-sama aktif dalam kegiatan Pramuka. Lulus SMA, dia melanjutkan kuliah ke IPB sedangkan aku ke UGM. So..., sejak saat itulah aku kehilangan jejaknya.

Sudah lama aku mencari-cari kabar tentang dia. Tapi mantan teman-teman SMA-ku ga ada yang tau dimana dia sekarang. Sampai akhirnya tadi malam aku blog walking. Tanpa sengaja aku menemukan nama : Murni Ramli dari blog ini. Aha...! Nama yang tidak "biasa". Hatiku langsung aja berdebar-debar *lebay deh* Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah Murni Ramli ini adalah teman yang lama aku cari-cari ?

Aku jadi lebih semangat melacak jejaknya. Aku dapatkan fotonya. Satu dua foto yang ada belum mampu membuatku berani meyakinkan diri bahwa dia adalah Murni yang selama ini aku cari-cari. Tapi dilihat dari senyumnya..., aku hampir yakin. Baru setelah melihat lebih banyak lagi fotonya... aku baru berani meyakinkan diri bahwa dia memang Murni Ramli yang aku cari kabarnya selama ini. Aduh seneng banget.... Ternyata Murni saat ini sedang menjalani pendidikan di Nagoya Jepang. Tuh kan..., apa kataku, dia memang pinter sekali. Tanpa membuang waktu aku segera say hello padanya. Akhirnya aku dapat ketemu lagi dengan teman lamaku. ;)

Memilih makanan

Jumat, 09 Januari 2009

3 catatan dari sahabat
Beberapa saat yang lalu, kita dihebohkan dengan berita tentang beberapa produk makanan berbahaya yang berasal dari China / Taiwan. Akibatnya, produk makanan China / Taiwan itu kemudian ditarik dari peredaran.

Tapi kemudian muncul masalah baru. Ternyata agar produk makanan China/ Taiwan itu dapat diterima dan beredar di masyarakat, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja tidak menunjukkan Made In China" atau "Made In Taiwan". Maksudnya tentu saja agar produk itu tetap dibeli. La kalau sudah begini bagaimana dong ?

Untung saja seorang teman memberikan pemecahan masalah di atas. Agar kita dapat mengetahui apakah suatu produk makanan itu produk Taiwan / China, kita dapat melihat dari barcode-nya. Barcode dengan awalan 690, 691 atau 692 adalah made in China . Sedangkan barcode dengan awalan 471 adalah made in Taiwan.

Di bawah ini adalah contoh barcode yang menunjukkan "made in Taiwan"



Yang di bawah ini adalah barcode dari beberapa negara (untuk penambah pengetahuan kita gak ada masalahnya toh...?)

00-13: USA & Canada

20-29: In-Store Functions

30-37: France

40-44: Germany

45: Japan (also 49)

46: Russian Federation

471: Taiwan

474: Estonia

475: Latvia

477: Lithuania

479: Sri Lanka

480: Philippines

482: Ukraine

484: Moldova

485: Armenia

486: Georgia

487: Kazakhstan

489: Hong Kong

49: Japan (JAN-13)

50: United Kingdom

520: Greece

528: Lebanon

529: Cyprus

531: Macedonia

535: Malta

539: Ireland

54: Belgium & Luxembourg

560: Portugal

569: Iceland

57: Denmark

590: Poland

594: Romania

599: Hungary

600 & 601: South Africa

609: Mauritius

611: Morocco

613: Algeria

619: Tunisia

622: Egypt

625: Jordan

626: Iran

64: Finland

690-692: China

70: Norway

729: Israel

73: Sweden

740: Guatemala

741: El Salvador

742: Honduras

743: Nicaragua

744: Costa Rica

746: Dominican Republic

750: Mexico

759: Venezuela

76: Switzerland

770: Colombia

773: Uruguay

775: Peru

777: Bolivia

779: Argentina

780: Chile

784: Paraguay

785: Peru

786: Ecuador

789: Brazil

80 - 83: Italy

84: Spain

850: Cuba

858: Slovakia

859: Czech Republic

860: Yugoslavia

869: Turkey

87: Netherlands

880: South Korea

885: Thailand

888: Singapore

890: India

893: Vietnam

899: Indonesia

90 & 91: Austria

93: Australia

94: New Zealand

955: Malaysia

977: International Standard Serial Number for Periodicals (ISSN)

978: International Standard Book Numbering (ISBN)

979: International Standard Music Number (ISMN)

980: Refund receipts

981 & 982: Common Currency Coupons

99: Coupons


Atau agar aman kita memilih produk makanan yang memiliki barcode 899 yach ? Tapi... akhir-akhir ini liputan investigasi dari berbagai stasiun televisi juga membuat merinding juga. Ternyata banyak makanan produk Indonesia yang mengandung formalin, boraks, rhodamin, pewarna tekstil dll. Kalau sudah begini... kok jadi repot mau milih makanan. Masih adakah makanan mana yang aman untuk dikonsumsi ?


Duka Palestina

4 catatan dari sahabat
Hari ini aku terima sms dari Sahabat masa kecilku, Lelly yang kini ada di Qatar. Bunyi sms-nya antara lain begini :
Aku baru pulang demo. Solidaritas buat Palestina. Alhamdulillah demonya lancar. Aku tadi sempat merinding. Aku demo bareng ribuan penduduk Qatar.
Aku kaget juga membaca sms-nya. Aku ga nyangka bahwa dia dalam hidupnya akan ikut demo !! Keadaan Palestina yang amat sangat memprihatinkan ternyata mengusik rasa kemanusiaannya sehingga dia meluangkan waktu untuk menunjukkan solidaritas buat Palestina.

Duka Palestina adalah duka bagi mayoritas penduduk dunia. Selama bertahun-tahun dunia menyaksikan konflik yang tak berkesudahan antara Israel dan Palestina. Dunia juga menyaksikan bagaimana rakyat Palestina hidup dalam ketakutan, kelaparan dan kemiskinan. Dan ternyata..., itu semua belum cukup. Karena sejak tanggal 27 Desember 2008, Palestina (Jalur Gaza) berubah bagaikan ajang pembantaian manusia akibat gempuran Israel yang kejam dan brutal.

Semua diluluh lantakkan. Tidak hanya rumah dan sekolah, bahkan masjid pun menjadi sasaran. Betapa perihnya hati membaca berita bahwa lebih dari 700 nyawa (termasuk anak-anak !!) melayang. Lebih teriris lagi hati ini saat menyaksikan foto-foto tragedi Palestina itu. Tubuh-tubuh korban yang terbakar dan tercabik-cabik akan membuat siapa saja yang melihatnya tak mampu membendung air mata. Aku pernah melihat foto di suatu surat kabar, dimana foto itu hanya menampakkan muka seorang anak yang penuh luka. Sementara seluruh tubuhnya terkubur oleh reruntuhan bangunan. Masya Allah.....

Yang membuatku tak mampu lagi berkata-kata adalah keadaan anak-anak, baik secara fisik maupun psikis yang pasti sangat mengenaskan. Bagaimana anak-anak yang tidak tahu apa-apa harus hidup dalam ketakutan yang amat sangat dan kini.... terancam kelaparan pula !! Ingin rasanya memeluk dan memberikan rasa aman pada anak-anak itu.

Aku tak tahu lagi harus bicara apa, karena apa yang terjadi saat ini sudah di luar batas kemanusiaan. Aku berharap agar kepedihan ini segera berlalu. Walaupun akan menyisakan trauma bagi warga Palestina, utamanya bagi anak-anak, tapi setidaknya ada kesempatan bagi mereka untuk hidup tanpa bayang-bayang ketakutan lagi. Semoga perdamaian segera terwujud. Amien.

Egois Part II

Kamis, 08 Januari 2009

2 catatan dari sahabat
Cerita tentang manusia (super) egois ternyata berlanjut lagi. Karena menurutku sikap egoisnya dan sikap keras kepalanya makin menjadi-jadi (bahkan menurutku udah sangat kelewatan) beberapa hari terakhir ini. Aku heran banget..., kok bisa ya ada orang sebegitu menyebalkannya !?!

Kemarin aku ngobrol dengan beberapa orang teman. Maksudku aku sharing ama mereka tentang perasaanku pada si manusia (super) egois itu. Ternyata mereka juga mengeluhkan hal yang sama padaku. Olala... !! Berarti aku tidak sendiri. Ternyata orang-orang di sekitarku juga merasakan hal yang sama. Semua juga sependapat bahwa memang akhir-akhir ini manusia (super) egois itu semakin menyebalkan saja.
Berita itu di satu sisi "melegakan" aku. Itu berarti aku masih "normal" karena apa yang aku rasakan juga dirasakan juga oleh orang-orang di sekitarku.

Di sisi yang lain, aku merasa kasihan juga pada manusia (super) egois itu. Karena dia yang kukenal dulu tidak begitu. Memang sedikit keras kepala, tapi masih mau dengar apa kata orang. Tapi kini dia jadi berubah sangat drastis. Jadi semena-mena, maunya semua kehendaknya dituruti dan tidak perduli dengan perasaan orang lain pula. Huuh ..., wis to pokoke nyebelin banget.

Aku jadi berpikir, sepertinya perubahan sikapnya itu dikarenakan dirinya sedang under pressure. Sepertinya dia sedang stress berat. Mungkin dia gak punya teman untuk berbagi suka duka (maklum selama ini sikapnya sudah cukup nyebelin sih).
Bisa jadi segala sikapnya yang nyebelin akhir-akhir ini adalah wujud dari "defence mecanism"nya dalam menghadapi tekanan. Walau aku sedang sebel banget sama dia, ada perasaan kasihan juga padanya (tapi dikit sih... *merasa bersalah*). Bukannya aku ga mau ngerti keadaan orang lain, tapi dia memang selama ini sulit mengerti dengan keadaan orang lain sih.

Jadi..., belajar dari manusia (super) egois ini bahwa agar kita dicintai orang lain, maka belajarlah mencintai orang lain. Karena apa yang akan kita dapatkan akan sebanding dengan apa yang kita berikan. Setuju gak ?

Egois

Minggu, 04 Januari 2009

7 catatan dari sahabat
Beberapa hari ini aku berurusan dengan orang yang (menurutku) sangat egois. Sungguh menyebalkan berurusan dengan orang-orang seperti itu. Emosiku nyaris terkuras habis menghadapinya. Sulit bagiku memendam kemarahan menghadapi sikap egoisnya yang masih ditambah pula dengan sikap keras kepalanya!! Selama beberapa hari aku masih merasa terganggu dengan perasaan marahku mengingat sikap dan perilakunya.

Ternyata sungguh melelahkan berurusan dengan orang-orang seperti itu. Aku merasakan lelah, baik lelah secara fisik maupun secara psikis. Beberapa hari ini aku rasakan kelelahan fisik yang amat sangat. Hal seperti ini belum pernah aku alami sebelumnya. Walaupun aku dalam kondisi yang sangat lelah, tapi tidak sampai seperti sekarang.

Aku mengira bahwa apa yang aku alami saat ini adalah psikosomatis. Yaitu gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan psikis. Perasaan marah dan tertekan yang aku rasakan yang menyebabkan kelelahan fisik yang amat sangat.

Sekarang aku jadi mikir-mikir, kenapa kemarin-kemarin sikap dan kata-kata orang yang (menurutku) sangat egois itu aku masukkan ke dalam hati. Yang kena dampaknya aku sendiri. Yang merasakan gak enaknya aku sendiri juga. So, mulai sekarang aku akan berusaha untuk tidak terlalu perduli dengan orang yang (menurutku) sangat egois itu. Aku gak akan capek-capek lagi mikirin segala hal yang berurusan dengannya. Aku gak mau hidupku terganggu karenanya.