Mengatasi rasa malas

Minggu, 31 Mei 2009

39 catatan dari sahabat
Entah kemana perginya semangatku. Sejak kemarin malam sampai pagi ini kok semangatku pergi dan belum kembali ya ? Sebenarnya dari kemarin aku sudah nulis postingan, tapi tidak berhasil aku selesaikan karena rasa malas terlebih dahulu memelukku. Baru jalan-jalan ke beberapa blog sahabat, aku sudah malas meneruskan. Maaf ya sahabat.., kalau sejak kemarin aku belum sempat menyapamu.

Aku tidak tahu kenapa rasa malas tiba-tiba datang dan tidak mau pergi meninggalkanku. Gemes banget aku rasanya. Berbagai upaya aku coba untuk menghilangkan rasa malas itu. Aku coba curhat via facebook dan beberapa sahabat datang dan mencoba menyemangati aku. Terima kasih semuanya....

Kemudian kucoba mencari kesenangan dengan main kuis yang ada di Facebook. Biasanya kuis-kuis yang lucu-lucu dan hasil yang super duper ajaib mampu membuatku tertawa geli. Lumayan berhasil juga ternyata. Tapi aku belum ingin berhenti..., aku ingin mengembalikan semua semangat yang aku miliki.

Nah.., kali ini aktivitas blogwalking aku lanjutkan lagi. Beberapa hal yang aku dapatkan dari acara jalan-jalan di siang hari ini ternyata semakin membuatku bersemangat lagi. Apalagi kemudian aku mendapatkan banyak award dari hasil jalan-jalanku itu.

Untuk lebih memompa semangatku lagi, maka aku akan langsung pajang deh award-award itu. Ini dia award-award itu...

Tanggal 27 Mei 2009, mas Awal Sholeh memberiku sebuah award. Terima kasih banyak ya... Award ini akan aku bagikan kembali kepada mas Dinoe, Dunia Polar, Rangga, Saga 02 dan kakve-santi.

Tanggal 29 Mei 2009, ganti Mbak Henny yang mengirimkan award kepadaku. Terima kasih banyak, mbak..... Award yang imut ini akan aku bagikan lagi kepada mbak Uke, mbak Loly, mbak Mulyati, mbak Narti dan mbak Peni.

Masih pada tanggal 29 Mei 2009, mbak Elly juga memberiku award. Sebuah award yang indah, makasih banyak mbak Elly. Seperti biasa juga, award ini akan aku bagikan kepada mas Yudie, mas Erik, bang Budiawan Hutasoit, bang Eri Communicator, Jeng Sri, mbak Kuyus, mbak Fanda dan Shasa imutz.

Lalu sebuah award yang aku terima dari 2 orang sahabat, yaitu Saga 02 (tanggal 29 Mei 2009) dan mbak Fanda (30 Mei 2009). Award yang bertemakan penyelamatan bumi ini akan aku bagikan kepada Attayaya,
Bang Seti@wan, buwel, not9, mas Awal Sholeh, Jonk dan Shasa imutz.

Masih pada tanggal 30 Mei 2009, aku mendapatkan award hasil karya Bang Seti@wan. Terima kasih banyak Bang, awardnya keren banget. Bang Seti@wan telah membagikan award ini merata kepada semua sahabatnya. Maka, aku ingin membaginya dengan mbak Sinta,
Mbak Henny , mbak Irma, Shasa Imutz dan kang dwi.

Nah..., sekarang aku sudah makin semangat nih..!! Semoga semangatku ini tidak akan luntur lagi. Persahabatan di dunia maya ini ternyata mampu juga menyemangatiku. Terima kasih semuanya...

Kegiatan Pramuka

Jumat, 29 Mei 2009

39 catatan dari sahabat
Beberapa hari yang lalu diberitakan tentang anak-anak Pramuka dan guru pembimbingnya yang tersesat di kawasan puncak Rengganis di Pegunungan Argopuro. Untungnya setelah beberapa hari dilakukan pencarian, mereka semua dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Meskipun ada yang harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang dan kekurangan cairan serta kekurangan gizi.

Kejadian tersebut tentu saja sempat membuat panik orang tua anak-anak itu. Apalagi mereka pamit hanya untuk berkemah selama 2-3 hari dan tanpa membawa bekal yang cukup. Ditambah lagi dengan sudah seringnya terdengar berita tentang banyaknya pendaki gunung yang hilang dan ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Orang tua mana yang tidak akan gelisah ?

Kejadian itu mengingatkan aku pada pengalamanku beberapa tahun yang lalu. Saat aku duduk di bangku SMA, aku sempat ikut dalam kegiatan pramuka. Berkemah dan hyking sudah beberapa kali aku alami.

Yang paling mengesankan adalah saat kami berkemah di Desa Geni Langit, Kecamatan Poncol, Magetan. Desa yang berada di kaki Gunung Lawu itu memang tempat yang asyik untuk berkemah. Apalagi kami berkemah di bawah pohon-pohon pinus yang tumbuh lebat. Wah.., asyik sekali pokoknya. (Jadi pengen ke sana lagi...)

Seperti biasa, setiap acara berkemah selalu diikuti dengan kegiatan hyking (pada siang hari) dan jurit malam (pada malam hari). Dalam acara itu kami harus berjalan menyusuri lereng Gunung Wilis. Bahkan pada malam hari, kami disuruh berjalan satu persatu, tidak boleh berombongan. Ngeri..? Ya iyalah....

Nah, setelah beberapa hari berkemah dengan segala macam suka dukanya, kami pulang dengan gembira. Ternyata, waktu kami sampai di sekolah... orang tua yang menjemput sudah banyak yang menunggu kami. Kami tentu saja heran.., karena tidak biasanya seperti ini. Setelah kami turun dari kendaraan kami (truk barang saudara-saudara!) kami mendapat berita yang mengagetkan. Ternyata.., di saat kami sedang berkemah di Geni Langit itu, dalam waktu yang bersamaan muncul berita di TVRI bahwa ada beberapa orang pendaki gunung yang hilang di Gunung Lawu !!

Tentu saja orang tua kami panik. Apalagi kami yang sedang berkemah tidak dapat dihubungi sama sekali. Kalaupun saat itu sudah ada handphone, belum tentu juga sinyalnya sebagus saat ini. Makanya.., pada saat kami dijadwalkan pulang, para orang tua sengaja menjemput untuk memastikan bahwa kami semua "selamat" dan baik-baik saja.

Terus terang saja, kejadian itu sempat membuatku kapok juga pergi berkemah di kaki gunung. Bukan acara berkemahnya yang membuatku khawatir, tapi... acara "jalan-jalan" di lereng gunung itu yang membuatku was-was. Dan kini..., aku mikir lagi, apakah kira-kira suatu saat nanti aku akan mengijinkan Shasa mengikuti kegiatan seperti itu ya ? Untuk saat ini sih... jawabanku : tidak !! Hehehehe...

Sekarang aku berada dalam posisi sebagai orang tua..., dan aku kini bisa merasakan betapa cemas dan khawatirnya orang tuaku dulu saat aku ikut kegiatan di gunung seperti itu... Jadi, aku pikir, aku akan menolak keinginan Shasa bila suatu saat dia meminta ijinku untuk ke gunung.

*lamunanku yang terlalu jauh ke depan..., padahal Shasa masih kelas 3 SD dan belum tentu dia ingin ikut kegiatan-kegiatan seperti itu*

Sekolah dan Pergaulan

Kamis, 28 Mei 2009

29 catatan dari sahabat
Malam ini, seperti biasa aku selalu menemani Shasa yang akan tidur malam. Sesaat sebelum Shasa tidur, terjadi percakapan antara aku dan Shasa. Percakapan yang kemudian membuatku berpikir cukup lama.

Awalnya, Shasa menanyakan padaku, kapan aku akan mengajaknya pergi ke Jakarta. Karena memang sampai di usianya yang ke-9 tahun ini Shasa belum pernah ke Jakarta. Sebelum menjawab aku menanyakan padanya, mengapa dia bertanya begitu. Jawaban dari Shasa sangat sederhana : karena banyak temannya yang sudah pergi ke Jakarta !!

Untuk pertanyaan itu, aku hanya bisa menjawab pada Shasa, "Insya Allah suatu hari nanti kita bisa ke Jakarta". Namun, tampaknya Shasa tidak puas dengan jawabanku, karena dia masih terus mengejarku tentang waktu yang pasti aku akan mengajaknya ke Jakarta. Bukan untuk alasan lain-lain kecuali berlibur, begitu kata Shasa. Dan.., aku tetap membesarkan hatinya, bahwa dia tetap akan pergi ke Jakarta, suatu saat nanti.

Setelah Shasa terlelap dalam tidurnya (dan semoga sudah bermimpi sampai di Jakarta hehehe), aku tenggelam dalam lamunan. Aku jadi berpikir, tak salah kalau Shasa punya keinginan itu. Apalagi kalau ternyata dia sudah beberapa kali mendengar cerita teman-temannya yang mengisi liburannya selalu ke luar kota.

Kebetulan, saat sekolah Shasa diliburkan untuk pelaksanaan UAN SD kemarin, Shasa tidak bisa pergi kemana-mana. Selama liburan 1 minggu itu, Shasa hanya di rumah, karena aku dan suamiku sama-sama tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor. Kami sama-sama tidak bisa mengambil cuti. Aduh.., timbul rasa bersalah dalam diriku karena tak mampu menemani Shasa di saat dia libur sekolah kemarin.

Aku lantas berpikir lagi, apakah teman-teman Shasa yang lain, yang sama-sama belum pernah ke Jakarta punya keinginan yang sama seperti Shasa saat ada temannya yang menceritakan asyiknya liburan ke Jakarta ? Tetapi..., aku hampir yakin kalau teman sekelas Shasa yang belum pernah ke Jakarta bisa dihitung dengan jari.

Sekolah Shasa adalah sekolah favorit di kotaku. Kupikir, itulah "resiko"nya menyekolahkan anak di sekolah favorit. Dimanapun tempatnya, aku yakin sekolah favorit diserbu oleh orang-orang yang mampu. Kalaupun ada yang tidak mampu, itupun hanya sebagian kecil saja.

Muncul pertanyaan di benakku, bagaimana kalau keinginan seperti yang dirasakan oleh Shasa ternyata dimiliki juga oleh anak-anak yang tidak mampu itu ? Mereka masih anak-anak kelas 3 SD. Anak kecil yang masih bicara dengan bebasnya tanpa terpikir bahwa ceritanya ternyata menimbulkan rasa cemburu dalam hati teman-temannya yang lain. Anak kecil yang belum bisa menyaring informasi dengan akal sehatnya.

Aku jadi ingat dengan sekolahku dulu. Aku dulu tidak dimasukkan ke sekolah favorit oleh kedua orang tuaku. Alasan orangtuaku mencarikan sekolah (SD) untukku adalah lokasi sekolah yang dekat dengan rumah. Kedua orangtuaku bekerja, sehingga kalau sekolahku dekat dengan rumah, aku bisa berangkat dan pulang sendiri. Jadilah aku berjalan kaki kurang lebih 10 menit setiap harinya menuju dan dari sekolahku.

Karena sekolahku bukan sekolah favorit, latar belakang ekonomi kami sangat beragam. Aku ingat, teman-temanku yang mampu adalah anak-anak dari tentara, guru dan pegawai. Namun, ada juga yang tidak mampu. Mereka adalah anaknya tukang becak, pedagang kaki lima dan ada pula anaknya pelayan toko. Kami datang dari keanekaragaman status sosial.

Namun, karena terbiasa hidup berbaur dengan orang-orang "biasa", maka kami biasa bertoleransi. Kami bisa menerima perbedaan dengan lebih baik. Kami juga tidak terbiasa membicarakan kemewahan dan materi.

Aku jadi berpikir, apakah seandainya Shasa tidak berada di sekolah favorit kondisinya akan berbeda ? Apakah seandainya Shasa masuk di sekolah kampung, pengalamanku akan terjadi juga padanya ? Apakah jika Shasa terdaftar sebagai murid sekolah "biasa" jiwa toleransinya akan lebih hidup ?

Sekolah ternyata berimbas pada pergaulan juga. Kalau terbiasa bergaul dengan anak-anak yang mampu di sekolah, maka anak akan sering melihat dan mendengar kehidupan anak-anak yang mampu. Kita tidak dapat menyalahkan anak kalau suatu saat mereka ingin seperti teman-temannya yang mampu itu.
Walaupun kita sudah sering mengajarkan pada anak kita untuk berempati pada orang-orang yang kurang mampu, ternyata keinginan seorang anak tidak dapat dibendung. Hal itu wajar sebenarnya, karena dia memang masih anak-anak.

Dengan keadaan seperti itu, kupikir harga pergaulan di sekolah favorit itu ternyata "mahal" juga. Ini kejadian di sekolah Shasa lho.., mungkin saja tidak terjadi di sekolah-sekolah yang lain.


Oleh-oleh perjalanan

Rabu, 27 Mei 2009

45 catatan dari sahabat
Biasanya, setelah pulang dari suatu perjalanan kita selalu bawa oleh-oleh. Seringkali pula, yang ditunggu oleh anak-anak apabila orangtuanya pergi, adalah oleh-olehnya. Oleh-oleh itu bisa berupa apa saja, bisa makanan, bisa barang atau bisa juga sekedar cerita.

Aku sendiri, kalau pergi ke luar kota juga selalu berusaha membawakan oleh-oleh untuk Shasa. Oleh-oleh yang paling sering aku belikan untuk Shasa adalah buku atau... makanan. Dua jenis oleh-oleh itu yang paling disukai oleh Shasa.


Pujian (Repost)

Selasa, 26 Mei 2009

36 catatan dari sahabat
Bulan Pebruari yang lalu, aku sudah pernah memposting tentang "pujian" ini. Tapi setelah aku maen ke blognya mbak Ajeng dan membaca postingannya yang luar biasa (seperti biasanya) tentang menilai ketulusan, aku ingin kembali memposting artikel ini. Aku ingin berbagi dengan sahabat semua tentang "pujian". Semoga ada manfaatnya.

Beberapa waktu yang lalu, seseorang memuji apa yang telah aku tulis di blog ini. Tentu saja aku merasa senang dan bangga. Aku tahu niatnya memujiku adalah tulus semata, yang bertujuan untuk membangkitkan semangatku untuk lebih giat lagi dalam belajar menulis. Karena dia tahu benar bahwa aku benar-benar sedang dalam taraf belajar mengekspresikan diri lewat bahasa tulisan.

Pujian ternyata memberikan efek yang luar biasa. Pujian bisa membuat orang lain senang, bangga dan bahagia. Pujian juga bisa mencerahkan, memotivasi dan mendorong timbulnya semangat.

Tapi pujian memang serasa pisau bermata dua. Di satu sisi, bila seseorang terlalu haus akan pujian maka justru akan menenggelamkannya. Pujian yang berlebihan justru akan memabukkan, dan membuat orang jadi lupa segala-galanya. Sementara di sisi lain, pujian dibutuhkan karena bisa menjadi pendorong untuk bisa lebih baik lagi.

Agar pujian dapat memberikan efek sebagaimana yang diharapkan, tentu saja harus diberikan pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Apabila seseorang memberikan pujian dengan niat tulus, pantas dan obyektif, maka niscaya pujian itu akan lebih mengena.

Tentu berbeda sekali bila seseorang memuji secara berlebihan dan membabi buta. Orang yang menerima pujian tersebut tentu saja akan berpikir apakah pujian yang diberikan secara berlebihan itu tulus ? Malah, pujian yang berlebihan akan terkesan seperti menjilat atau bahkan olok-olok semata.

Sikap orang dalam menerima pujian memang berbeda-beda. Ada orang yang tidak suka dengan pujian, tapi ada yang suka dengan pujian. Ada orang yang menerima pujian dengan malu-malu, tapi tak sedikit orang yang bisa menerima pujian secara proporsional.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh Raja Huta tentang perbedaan mindset khas Indonesia dan Poporsional sebagai berikut :
Khas Indonesia
  1. Mengganggap pujian hanya basa-basi dalam pergaulan sosial
  2. Pujian harus direspon dengan sikap merendah (menyangkal peran kita dalam prestasi yang dipuji) agar jangan dinilai sombong, dan supaya terkesan religius (sukes itu adalah berkat Allah semata).
Proporsional
  1. Menganggap pujian sebagai apresiasi dan pengharaan yang tulus
  2. Pujian harus direspon dengan sikap proporsional, yaitu menghargai perjuangan dan jerih payah diri sendiri, disertai ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung, dan mengucapkan syukur pada Allah.

Respon yang proporsional akan menghilangkan sikap canggung karena adanya perasaan yang saling bertentangan antara senang mendapat pujian dan menyangkal rasa senang tersebut dan berusaha menggantinya dengan sikap rendah hati. Apabila seseorang mampu bersikap proporsional dalam menyikapi pujian, maka semangat untuk berbuat lebih baik lagi akan lebih terasa.

Memang memberikan pujian sebenarnya hal yang sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan. Walaupun begitu ternyata tak semua orang bisa melakukannya. Alasan mengapa seseorang sulit memberikan pujian disampaikan secara gamblang oleh Arvan Pradiansyah yang garis besarnya adalah sebagai berikut :
  1. Karena tidak adanya cinta yang tulus atau cinta yang tanpa syarat.
  2. Karena kita seringkali lupa bahwa setiap manusia itu unik, berbeda dari lainnya.
  3. Karena kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar" dan "baru" setiap harinya.
Kalau anda pernah merasakan betapa senangnya mendapat pujian, kenapa tidak menularkannya kepada orang lain ? Kalau pujian mengandung energi positif yang dahsyat, maka coba berikan pujian anda kepada orang-orang yang selama ini terlupakan. Pujian itu akan membuat orang "biasa" merasa dimanusiakan. Semoga saja, pujian itu bisa membuatnya senang dan bahagia dan mampu membuatnya melakukan hal yang lebih baik lagi untuk membahagiakan orang lain. Hmm, indah bukan ??

Salah satu contoh cerita disampaikan oleh Haryo Ardito tentang dahsatnya pujian yang telah dirasakan oleh Johnny Figaro. Johnny Figaro adalah seorang rektor universitas negeri ternama di Amerika bagian tengah sebelah barat. Dia yang diperkirakan akan berakhir di tempat yang kumuh, ternyata berhasil menjadi seroang akademisi sukses berkat seseorang yang menyempatkan memberikan pujian tulus padanya.


When The Wind Blows

Senin, 25 Mei 2009

26 catatan dari sahabat
Baru kali ini aku baca karya James Patterson. Kebetulan beberapa saat yang lalu aku mendapatkan buku James Patterson dengan harga murah, yang berjudul When The Wind Blows. Kata Jeng Sri dan Mbak Ajeng..., karya-karya James Patterson bagus. Maka aku jadi makin semangat untuk membacanya.

When The Wind Blows adalah "science fiction" (menurutku lho..) yang di dalamnya banyak memuat istilah-istilah Biologi dan Kedokteran. Namun, tidak menjemukan dalam membacanya karena diramu dengan petualangan yang seru dan cukup mendebarkan.

Mempertahankan sebuah hubungan

Sabtu, 23 Mei 2009

45 catatan dari sahabat
Aku tak tahu harus berbuat apa saat mendengar kisah pilunya. Hanya kata-kata penghiburan dan pelukan sayang yang mampu kuberikan padanya. Namun, itu tak jua mampu mengobati pedih hatinya. Dia salah satu teman baikku, yang kini harus menyerah kalah dan merelakan pasangan hidupnya pergi dan berlari....

Mengapa sebuah hubungan yang diawali dengan cinta tidak selalu berakhir bahagia ? Mengapa sebuah hubungan tidak selalu mampu dijaga sampai akhir massa ? Mengapa harus surut langkah di tengah perjalanan, meskipun diawali dengan semangat yang membara ? Mengapa perasaan sayang dan cinta bisa tergantikan oleh benci ? Mengapa sebegitu mudahnya semua berubah ?

Mungkin masih banyak 'mengapa' yang muncul di benak kita. Masih banyak tanya yang berkecamuk di dada. Masih banyak yang ingin kita cari tahu jawabnya. Masih banyak ketidakpuasan ingin kita sampaikan.

Itulah yang sedang aku pikirkan sekarang. Aku masih ingin mencari tahu jawabnya. Setelah beberapa kali mendengar tentang badai dalam rumah tangga yang membuat salah satu teman baikku memilih untuk melangkah pergi.

Sudah sangat sering dibicarakan tentang tip dan trik dalam menjaga keharmonisan suatu hubungan. Sudah banyak kiat-kiat yang dibagikan agar terbebas dari prahara dalam rumah tangga. Tapi ternyata...., makin hari makin banyak yang ingin membebaskan diri dari prahara rumah tangga dengan cara melangkah pergi !! Meski tetap masih ada yang ingin bertahan meskipun sedang diamuk badai.

Jangan salah.., aku tidak hendak menghakimi. Aku juga tidak hendak menilai siapa-siapa. Karena aku tahu, bagi siapa saja yang berada dalam 'badai' memang sangat tidak mudah. Untuk tetap bertahan tidak mudah, bahkan untuk melangkah pergi pun ternyata tidak mudah. Semua masih butuh pertimbangan yang masak.

Siapa yang menginginkan hidupnya terlanda badai prahara ? Aku yakin tidak ada. Namun siapa mampu mengelak saat badai datang memporak-porandakan kehidupan kita ? Maka apabila saat itu datang, untuk penguat siapa saja yang sedang dalam badai, di bawah ini aku tuliskan beberapa lirik lagu. Semoga potongan lirik lagu ini bisa menjadi penyemangat dan sebagai bahan renungan.... sebelum mengambil suatu keputusan.

".... cerita dua manusia diterjang prahara, mencoba upaya
Mungkin dulu kita tergesa menyatukan langkah
Tak sadar rasa berbeda dalam tentukan arah

Harapku, jangan dulu berpisah
Kenanglah saat cinta merekah
Pintaku jangan dulu menyerah
Sebelum sesal nanti terlambat sudah
Bisik nurani"

(Prahara ~ KLa Project)

"...Sekejap badai datang mengoyak kedamaian
Segala musnah lalu gerimis langitpun
menangis.

Kekasih andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah

Kekasih andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian 'tuk cinta kita
dan bukan alasan untuk berpisah."
(Gerimis ~ KLa Project)

Sahabat.., seperti yang aku ceritakan kemarin, bahwa aku sedang terseret kenangan masa lalu. Jadi, harap maklum kalau lirik lagu yang aku tulis di sini masih lagu-lagu dari KLa Project. Tapi intinya.., aku hanya ingin pada saat terkena badai, potongan lirik lagu di atas bisa juga membantu untuk mengingatkan kita. Itu saja maksudku...

Hadirnya kenangan lama

Jumat, 22 Mei 2009

24 catatan dari sahabat
Dua hari ini aku sedang dalam suasana kembali kepada kenangan lama yang indah. Hehehe.. yang lain tidak boleh merasa iri ya ? Terus terang aku menikmati saat-saat ini. Saat-saat aku terlempar ke masa beberapa tahun yang lalu, yang penuh dengan kenangan indah.

Sebenarnya semua ini terjadi karena "pertemuan" yang tidak terduga dengan kenangan masa lalu. Setelah sekian lama tidak bertemu.., ternyata rasa rindu itu tak mampu lagi aku tahan. Wah, pokoknya aku seneng banget. Mungkin kalau digambarkan perasaanku saat ini, seperti potongan syair lagu di bawah ini :

Undangan yang membanggakan

Kamis, 21 Mei 2009

34 catatan dari sahabat
Suatu hari aku mendapatkan undangan yang berbeda dari undangan-undangan yang selama ini aku terima. Undangan dari mbak Fanda ini sangat 'unik'. Ternyata, dalam rangka menyambut postingan ke seratus Blog Baca Buku Fanda, aku diberi kehormatan untuk menuliskan satu artikel yang akan dipublikasikan dalam blognya. Wah…, tentu saja aku merasa tersanjung sekali mendapatkan kehormatan itu.


".... Anyway, sebagai rasa terima kasihku dan untuk memberi nuansa yang lain pada event posting ke-100 ini, aku mengundang dan memberi kesempatan kepada beberapa blogger untuk menjadi guest writer/penulis tamu di blog Baca Buku Fanda ini. Guest Writer ini akan memberi nuansa berbeda bagi para pembaca blog-ku, dan moga-moga juga membawa pembaca-pembaca baru ke blog si guest writer.

Mereka yang terpilih adalah:

Mbak Reni – yang menurutku tulisannya selalu membumi (maksudnya??) dan apa adanya terhadap semua hal di sekitar hidup dan dirinya. ..... "

Selain aku, masih ada 4 orang blogger lainnya yang diundang untuk menyumbangkan tulisannya untuk blog Baca Buku Fanda. Undangan dan penawaran itu aku terima dengan senang hati, tapi terus terang saja aku bingung kira-kira aku akan bicara tentang apa. Ternyata, menulis untuk orang lain tak semudah yang aku bayangkan saudara-saudara…. Hehehe…

Setelah berpikir lama, akhirnya aku memantapkan hati untuk bercerita tentang buku. Alasannya ? Tentu saja sesuai dengan nama blognya mbak Fanda. Selain itu semua juga sudah tahu bahwa si empunya blog adalah pecinta buku. Oleh karena itu, di momen yang special ini aku ingin menghadiahkan tulisan tentang sesuatu hal yang disukainya, yaitu buku !

Tapi…, aku bingung juga mau cerita tentang buku apa? Buku-buku koleksiku aku buka-buka lagi untuk mencari tema yang menarik. Setelah sekian lama bingung milih buku, akhirnya aku ketemu juga tema yang menarik. Tentang penulis buku favoritku, yaitu Torey Hayden. Dia penulis yang special di mataku, karena apa yang dia tulis adalah kisah nyata dari pengalamannya membantu ‘anak-anak yang bermasalah’. Ketulusan dan cintanya pada anak-anak yang tidak beruntung itulah yang membuatku jatuh hati padanya.

Kalau teman-teman ingin tahu ceritaku tentang Torey Hayden, datang aja ke blognya mbak Fanda ya? Oh ya.., sebagai ‘hadiah’ bagi kami yang telah rela menyumbangkan tulisan untuk blognya, mbak Fanda memberikan hadiah berupa award seperti ini :

Terimakasih untuk mbak Fanda atas awardnya ini. Kebetulan aku belum punya nih award ini. Sekali lagi makasih ya... Dan atas ijin mbak Fanda, aku akan memberikan award ini kembali kepada para sahabat yang selama ini banyak memberikan support padaku, yaitu : mbak kuyus, marcellino agatha, Bang Budiawan, dan tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah Shasa imutz.

Selain itu aku juga mendapat undangan lain yang juga membuatku bangga. Undangan untuk mengambil award. Nah, undangan simpatik begini tak layak utnuk ditolak kan ? Undangan yang pertama dari mas Agus, yang dituliskannya dalam shoutmix-ku.


• SAHABAT PENA DARI JAWA : anda dapat award tuh ambil ya sob.... (2009-05-17 12:20 AM)
Ternyata..., award yang diberikan padaku ini adalah hasil karya mas Agus Fauzy sendiri lho. Terima kasih banyak untuk mas Agus Fauzy yang sudah memberiku award yang cantik ini. Dan award dari Mas Agus ini akan aku bagikan kepada : mbak Fanda, mbak Fanny, Jeng Sri, Bang Eri, mas Yudie, Kang Dwi dan Shasa Imutz. Inilah award yang aku bagi-bagikan itu :

Undangan menerima award yang lebih lama lagi adalah dari Mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi. Sebenarnya aku sudah pernah menerima award ini dari sahabat yang lain, tapi aku tetap menerimanya dengan senang hati. Untuk mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi..., terimakasih banyak untuk award yang telah dibagikan padaku.

Award cantik dari mbak Echi ini akan aku bagikan juga kepada beberapa sahabat. Mereka adalah : mbak Irmasenjaque,
mbak Dwinacute, mbak Penny, mbak Elly dan mbak Sinta.

Award dari
mas Awal Sholeh ini aku bagikan lagi kepada : Itik Bali, mbak Echi, mas Ari,dan Buwel.


Nah award yang terakhir ini aku peroleh dari
Kang Dwi. Selanjutnya award ini aku bagikan lagi kepada mas Yanuar, mas Awal Sholeh, Trimatra, Anak Nelayan dan mas Agus Fauzy.

Oke..., selesai sudah aku bagi-bagi award. Semoga semua award diterima dengan senang hati ya ? Sampai jumpa lagi...

*gambar diambil dari http://www.avdistrict.org/library/authorhayden.html *

Eksploitasi Kemiskinan

Selasa, 19 Mei 2009

33 catatan dari sahabat
Dari berbagai berita yang kita dapatkan lewat berbagai media cetak maupun media elektronik, dapat kita ketahui bahwa tingkat kemiskinan di negara kita masih tergolong tinggi. Seseorang dikatakan miskin apabila secara fisik rumahnya tidak layak untuk dihuni, tidak memiliki pekerjaannya tetap, dan tingkat kesehatannya rendah. Salah satu contoh yang menggambarkan hal itu adalah banyaknya anak-anak yang menderita gizi buruk.

Akibat dari kemiskinan adalah banyak anak-anak yang putus sekolah dan kehilangan masa depannya. Banyak anak yang harus rela membantu orang tuanya untuk mencari makan. Penghasilan yang mereka dapatkan sehari-hari hanya cukup untuk makan. Itupun bukan makanan yang sehat dan mewah, namun hanya makanan seadanya, bahkan terkadang tak mampu mengenyangkan.

Kemiskinan adalah masalah strategis yang saat ini belum mampu tertangani oleh pemerintah Indonesia secara tuntas. Kemiskinan yang menyangkut kehidupan rakyat ini perlu kebijakan yang konkret dalam penanganannya. Campur tangan pemerintah dalam masalah kemiskinan ini terkait dengan amanah yang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :

Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Dengan demikian Pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk memelihara dan melindungi para fakir miskin dan anak-anak yang terlantar. Pengentasan kemiskinan bukanlah perkara yang dapat diselesaikan dengan mudah oleh pemerintah. Namun, tak menutup kemungkinan jika seluruh warga negara ikut aktif dan berperan serta dalam upaya pengentasan kemiskinan itu.

Terkait masalah kemiskinan itu, ada suatu fenomena yang kian marak di layar kaca kita. Beragam reality show tentang upaya-upaya membantu rakyat miskin ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Contohnya adalah Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi, Duit Kaget dan sebagainya.



Ternyata bukan hanya kemiskinan yang menjadi polemik, namun reality show di televisi pun menjadi polemik. Maraknya reality show itu menimbulkan beragam persepsi dari para pemirsa televisi. Ada yang mendukung, namun tak sedikit yang tidak setuju.

Satu pihak menganggap penayangan reality show seperti itu hanyalah eksploitasi kemiskinan semata. Memanfaatkan rakyat miskin untuk kepentingan komersialisasi. Mengeruk keuntungan dari ketidakberuntungan orang lain. Mencari nama di atas penderitaan orang lain. Atau entah masih banyak lagi persepsi yang lainnya.

Sementara di pihak lain memiliki persepsi yang berbeda. Mereka melihat reality show seperti itu sangat bermanfaat bagi orang miskin. Melalui reality show itu banyak rakyat yang terbantu. Entah dengan cara dibuatkan rumah yang sehat lengkap dengan perabotannya. Atau lewat pemberian bantuan modal usaha untuk kehidupan barunya. Reality show seakan memberi tempat bagi orang-orang mampu yang ingin "berzakat" untuk membantu orang miskin.

Persepsi orang boleh saja berbeda. Namun melalui sebuah reality show semacam itu aku melihat bahwa ada gerakan dari masyarakat (dalam wujud reality show) untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, tanpa perlu menunggu pemerintah. Suatu gerakan yang mau tak mau ternyata telah meringankan beban kehidupan beberapa orang.

Sementara untuk pertanyaan : "mengapa harus dengan "model" reality show ?" Menurutku jawabnya antara lain adalah :
  • agar orang-orang yang awalnya tidak peduli dengan kemiskinan, dapat melihat sendiri bagaimana "kemiskinan" yang sebenarnya ada di Indonesia
  • agar semakin banyak orang yang tergerak untuk ikut memberikan bantuan/dana lewat reality show itu yang selanjutnya akan diteruskan kepada orang miskin yang menjadi obyek reality show itu
  • harapan agar muncul rasa kepedulian dan solidaritas terhadap orang-orang miskin yang ada di sekitar kita
Meskipun program reality show yang kini semakin marak itu dinilai tidak mendidik, namun menurutku saat ini program reality semacam itu sedikit banyak telah memberikan karya nyata terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Hanya saja, rasanya perlu dipikirkan lagi kegiatan yang benar-benar bisa membantu rakyat miskin yang tanpa disertai anggapan "eksploitasi kemiskinan".

Sementara program yang benar-benar pas belum berjalan, menurutku kita tak punya hak untuk menghambat upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak lain yang ingin membantu rakyat miskin. Masalah niatnya, kita kembalikan pada masing-masing donator/dermawan. Bukanlah tugas kita menilai tentang suatu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Semuanya kita serahkan saja kepada Sang Maha Mengetahui dan Sang Maha Menghitung, Allah SWT.

Tragedi Siti Khoriyah (II)

Senin, 18 Mei 2009

15 catatan dari sahabat
Baru 2 hari yang lalu aku bercerita tentang Siti Khoriyah. Siti Khoriyah selama beberapa hari terakhir menjadi berita karena nasibnya yang tragis. Siti Khoriyah adalah balita (4,5 tahun) yang menjadi korban tindak arogansi aparat pemerintah (Satpol PP). Dalam suatu razia penertiban di Jalan Boulevard depan World Trade Centre (WTC) Surabaya pada Senin, 11 Mei 2009 yang lalu, Siti Khoriyah tersiram kuah bakso.

Namun, beberapa saat yang lalu aku mendengar berita mengejutkan. Berakhir sudah perjuangan Siti Khoriyah setelah dirawat selama 7 (tujuh) hari di RS dr Soetomo, Surabaya. Siti Khoiyaroh meninggal pada hari Senin, 18 Mei 2009 pukul 15.00 WIB. Siti Khoriyah meninggal karena karena mengalami gagal organ multiple atau gagal multi organ setelah mengalami luka bakar 67 persen. Meskipun para dokter telah berupaya sekuat tenaga menyelamatkan nyawa Siti Khoriyah, namun tak ada yang sanggup menolak takdir.

Kehilangan

15 catatan dari sahabat
Kawan, kali ini ingin curhat. Beberapa hari ini aku kehilangan besar-besaran ! Sayangnya tak seorang pun yang mampu membantuku mengatasi kehilanganku ini. Kehilangan yang benar-benar membuatku merasa tidak berdaya.

Kali ini kehilangan ini bukan karena sifat pelupaku sedang kambuh. Bukan pula karena aku lalai. Tapi kehilangan yang disebabkan aku tak mampu mempertahankan apa yang aku miliki. Kehilangan karena aku tak mampu menolak keinginan orang yang lebih berkuasa.

Aku bukan kehilangan harta bendaku. Tapi..., aku kehilangan salah satu 'aset'ku yang sangat berharga dalam bekerja : anggota tim yang potensial !! Sebut saja namanya Si A. Selama ini aku telah bekerja bersama A dalam 1 tim yang menurutku sudah cukup kompak dan solid. Walau sempat terjadi bongkar pasang anggota tim, tapi A selalu ada dalam tim-ku.

Aku ingat sekali, dulu sewaktu aku hendak bergabung dengannya dalam 1 tim, ada dua orang yang membisiki aku tentang kualitas A dalam bekerja. Kedua orang temanku ini mengatakan bahwa A adalah pegawai yang tidak berkualitas. Hanya gayanya saja yang seakan-akan menunjukkan dia hebat, padahal sebenarnya gak ada isinya. Kedua orang itu malah menganjurkan aku untuk lebih 'perhatian' kepada si B, karena sebenarnya si B lebih pandai dan menguasai pekerjaan.

Itulah 'bekal' yang aku terima dulu, sebelum aku tergabung dalam tim kerja dengan si A dan B. Tapi dengan berjalannya waktu, aku menemukan bahwa apa yang kedua orang temanku katakan dulu tidak sepenuhnya benar. Oke, B memang pandai dan menguasai pekerjaan, tapi itu belum cukup ! Karena B kurang memiliki semangat dan motivasi dalam bekerja. Loyalitasnya juga standar saja. Selain itu B kurang memiliki kreativitas dalam bekerja, sehingga pekerjaannya tidak ada perkembangannya.

Bagiku, A adalah seorang anggota tim yang loyal dalam bekerja. Aku sangat kagum dengan semangat kerjanya yang tinggi. Aku salut dengan kesiapannya untuk bekerja kapan pun tenaganya dibutuhkan. Aku suka dengan kreativitasnya dalam bekerja. Terus terang saja, keberadaannya dalam tim kerjaku benar-benar membuatku merasa sangat terbantu. Sementara, anggota tim yang lain di mataku tak ada yang mampu menggantikan dirinya. Bagiku, A adalah paket yang utuh dari keuletan, kecakapan, kesungguhan, kecerdasan dan kesopanan.

Namun kini..., aku harus merelakan A keluar dari tim-ku. Kualitas kerja A ternyata menarik hati pucuk pimpinanku untuk menjadikan A sebagai asistennya. Walau dalam hati aku tak rela melepaskan A, namun aku tak punya kuasa untuk membantah perintah pucuk pimpinan. Sementara A selalu siap menerima apapun pekerjaan yang disodorkan padanya.

Setelah aku kehilangan A, terasa sekali tim-ku kini berjalan timpang. Sayangnya, sampai sekarang aku belum mendapatkan pengganti A. Kesadaran yang muncul dalam diriku adalah untuk menggantikan A, mungkin aku membutuhkan 2-3 orang sekaligus.

Sebenarnya kalau boleh jujur.., potensi yang ada dalam diri A sebenarnya akan lebih berkembang jika dia tetap bekerja dalam tim. Posisinya sebagai asisten kali ini memang menaikkan prestise-nya, namun tidak mengasah kemampuannya. Tapi untuk saat ini aku hanya bisa berharap A bisa melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Semoga lain kali aku ada kesempatan untuk bekerja bersamanya lagi. Dan untuk saat ini aku harus mengucapkan selamat berpisah dengannya.

Myspace Glitter Graphics Maker



Apa yang bisa dilakukan tanpa ijazah ?

Minggu, 17 Mei 2009

34 catatan dari sahabat
Jawaban atas pertanyaan di atas mungkin akan sangat beragam. Tapi..., aku yakin sekali kalau mayoritas akan menjawab begini : "Tanpa ijazah kita tidak akan survive, apalagi di era globalisasi ini. Ada ijazah saja nasib juga tidak berubah lebih baik." Iya kan ?

Tapi..., bila pertanyaan itu kita sampaikan pada seorang Ajip Rosidi, maka jawabannya akan berbeda. Mungkin beliau akan menjawab, "Tanpa ijazah bukan berarti tidak bisa meraih keberhasilan. Ijazah bukan harga mati untuk berhasil dalam hidup."


Tragedi Siti Khoriyah

Sabtu, 16 Mei 2009

35 catatan dari sahabat
Sedih, ngenes, pilu, marah, jengkel semua aku rasakan. Gado-gado deh pokoknya. Penyebab semua itu adalah saat aku menyaksikan tragedi yang menimpa Siti Khoriyah (tapi ada yang menyebutnya Siti Horiyah. Yang bener yang mana ya ??), seorang balita yang baru berumur 4 tahun.

Sahabat-sahabat pasti sudah tahu peristiwa tragis yang terjadi saat Satpol PP Pemkot Surabaya yang menggelar razia penertiban Pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Boulevard depan World Trade Centre (WTC) Surabaya. Kejadiannya tanggal 11 Mei 2009, Senin lalu.

Sebagaimana diberitakan bahwa saat mengetahui ada razia, maka ibu korban buru-buru membereskan jualannya dan meletakkan anaknya di atas gerobak. Sayangnya, oleh petugas langkah ibu itu dihentikan dengan cara menarik rambutnya. Akibatnya, gerobak terlepas dari pegangan dan jatuh terguling. Sementara sang anak yang semula di atas gerobak ikut terjatuh dan tersiram kuah bakso yang panas !!

Gambar di ambil dari sini

Saat ini balita malang itu dirawat di burn unit lantai 3 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo. Setelah sebelumnya dirawat di ruang observasi intensif (ROI) Instalasi Rawat Darurat (IRD). Kini nyaris seluruh tubuh bocah 4 tahun itu dibalut terbungkus perban. Yang menjadi ancaman bagi Siti Khoriyah adalah infeksi dan kekurangan cairan. Oleh karena itu pihak rumah sakit selalu memantau tekanan darah serta jumlah cairan tubuhnya.

Selain itu tim dokter masih mewaspadai trauma inhalasi (terhirup uap panas) yang masuk ke saluran nafas. Dan untuk mengantisipasi adanya kuman dan bakteri, tim dokter akan melakukan operasi pencucian kulit yang mengalami luas luka bakar sebanyak 67 persen.

Menurut keterangan dokter RSUD dr Soetomo, Siti mengalami luka bakar tingkat 2A dengan area yang sangat luas. Siti Khoriyah mengalami luka bakar di seluruh bagian wajah, sekitar 2/3 bagian dada, seluruh perut, punggung, seluruh tangan kanan dan tangan kiri. Juga kaki kanan dan kaki kiri.

Sementara petugas Satpol PP yang bertanggungjawab atas kejadian itu dapat dijerat pasal 360 KUHP. Mereka dapat dianggap lalai hingga menyebabkan orang lain luka-luka. Sampai saat ini pihak Polsek Genteng Surabaya masih mengumpulkan alat bukti termasuk keterangan saksi-saksi.

Di pihak lain, Lembaga bantuan Hukum (LBH) Surabaya memberikan somasi kepada Kepala Satpol PP Pemkot Surabaya. Somasi berisikan Satpol PP Pemkot Surabaya yang dalam hal ini Walikota Surabaya harus segera merespon tuntutan yakni melakukan perbaikan kebijakan PKL, meminta maaf secara terbuka pada keluarga korban, memberikan panggantian kerugian materiil, memberi biaya pengobatan korban hingga sembuh.

Suatu peristiwa yang akhirnya membawa "kerugian" banyak pihak. Seorang ibu yang kehilangan modal berdagangnya sekaligus mengalami luka bakar ringan di kedua tangannya akibat tersiram kuah bakso. Seorang balita yang menderita luka bakar serius akibat tersiram kuah bakso saat ikut ibunya menyelamatkan diri dari razia. Seorang petugas Satpol PP yang karena (terlalu) bersemangat dalam bertugas, sehingga lepas kontrol dan mengakibatkan dirinya terancam hukuman pidana.

Ya Allah..., aku hanya bisa berharap agar kelak Siti Khoriyah bisa terlepas dari trauma atas apa yang dialaminya. Semoga saja Siti Khoriyah tidak akan cacat untuk selamanya. Semoga saja tragedi Siti Khoriyah ini bisa dijadikan bahan renungan kita semua, agar kita tidak lagi bertindak sewenang-wenang. Semoga tak ada lagi yang mengedepankan kekerasan dalam pemecahan masalah.

dari berbagai sumber.

Pertukaran pelajar

Jumat, 15 Mei 2009

27 catatan dari sahabat
Kemarin aku ngobrol dengan seorang teman kantorku. Dia banyak cerita tentang anaknya yang saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh AFS (American Field Service). Sudah hampir 1 tahun lamanya sang anak berada di Amerika Serikat. Malah kabarnya sang anak betah dan ingin terus tinggal serta sekolah di Amerika, katanya.

AFS Intercultural Programs, Inc. (bersama dengan badan-badan afiliasinya yang secara kolektif disebut AFS) adalah sebuah badan hukum non-profit yang berkantor pusat di New York, USA. Melalui program belajar antar budaya, AFS membina para siswanya, keluarga, relawan dan anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam program AFS guna memperoleh kemampuan, sikap dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi suatu kehidupan dunia yang beragam secara kultural dan makin saling bergantung serta membutuhkan satu sama lain.

Awalnya, AFS adalah kesatuan relawan asal Amerika yang berinisiatif menjadi sopir ambulans untuk mengangkut korban Perang Dunia ke I dan ke II. Setelah perang selesai, mereka berpikir untuk menciptakan perdamaian antarwarga dunia. Mereka percaya, kalau kaum muda di dunia ini bisa saling kenal dan menghargai perbedaan masing-masing, maka kehidupan di dunia bisa lebih adil dan damai.

Di Indonesia, AFS bekerja sama dengan Yayasan Bina Antarbudaya untuk program antar budaya. Yayasan ini sudah terbentuk sejak tahun 1985 dan meneruskan program AFS di Indonesia, yang sudah dimulai sejak 1956.

Aku jadi ingat dengan pengalamanku sendiri. Pengalaman waktu aku masih kelas 2 SMA dulu. Eit... jangan salah kira ya ? Bukan pengalamanku mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri lho. Tapi pengalaman mengikuti seleksi pertukaran pelajar tersebut.

Ceritanya, bermula saat sahabat penaku (Rahmila Murtiana) waktu aku SMA terpilih sebagai salah satu peserta program pertukaran pelajar ke Amerika. Membaca surat-suratnya dari Amerika, timbul keinginanku untuk ikut program itu pula. Kemudian, dari suatu majalah remaja (sayangnya aku lupa nama majalahnya) aku tahu lebih banyak tentang AFS itu.

Jadi, saat aku kelas 2 SMA, aku kemudian mendaftarkan diri untuk ikut program itu melalui Bina Antar Budaya Surabaya. Aku mengikuti seleksi di Jalan Bawean Surabaya. Aku berhasil mengikuti seleksi sampai 3 tahap. Sayangnya, pada saat seleksi tahap III aku tak berhasil lulus.

Kecewa ? Ya iyalah.... Tapi kekecewaanku itu tak berlangsung lama, kok. Karena aku yakin bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik untukku. Sehingga, walaupun aku tidak mampu meraih mimpiku untuk mengikuti program pertukaran pelajar, aku tetap semangat. Mungkin belum rejekiku, siapa tahu jadi rejeki anakku ya ? Amin.

Kebetulan juga, sahabatku waktu kuliah (Afifah Inayati) di Yogyakarta adalah alumnus program AFS. Dia mengikuti program pertukaran pelajar yang ke Jerman. So, lewat sahabat-sahabatku itulah aku memuaskan rasa penasaranku tentang asyiknya pertukaran pelajar di negara lain.

Apakah ada sahabat-sahabat lain yang pernah memiliki pengalaman dalam program pertukaran pelajar ? Bagi-bagi cerita juga ya ?

Hu uh... Sebel deh...!!

Kamis, 14 Mei 2009

34 catatan dari sahabat
Beberapa hari ini internat di rumah bermasalah. Di saat sedang asyik blogwalking, tiba-tiba gangguan itu datang. Gangguan yang berwujud tulisan : address not found, page load error !! Walau setelah ditunggu beberapa saat akhirnya bisa normal kembali. Tapi gangguan seperti itu muncul berkali-kali. Menyebalkan bukan ?

Ternyata... kemarin lebih parah lagi. Pulang kantor waktu aku buka blog bisa sih, tapi begitu aku masuk dan nulis komentar... ternyata gak berhasil. Tulisan yang muncul hanyalah Blogger tidak ada. Hah ?? Apa lagi ini ?? Tidak lama kemudian... internet mati total. Jadi sejak kemarin malam sampai tadi pagi yang muncul di layar monitorku hanyalah tulisan : Address not found !! Aduh..., menyebalkan sekali !!

Kenapa ya akhir-akhir ini internetku bermasalah ? Tidak lancar koneksinya ? Apakah ada gangguan dengan speedy-nya ? Seingatku, selama aku pakai speedy tak ada masalah tuh. Baru kali ini aku merasa terganggu sekali dengan koneksi speedy yang "byar-pet" begini.

Gara-gara koneksi internet yang tidak lancar, membuatku jadi kehilangan semangat untuk nulis deh. Padahal sebenarnya kemarin-kemarin itu aku punya rencana untuk posting beberapa tulisan. Tapi...., karena tidak berhasil buka internet, jadi ya gagal deh. Untuk posting sekarang... moodnya sudah tidak pas.

Sementara internet di kantor terbatas sekali. Kalaupun aku bisa blogwalking, tapi kebebasan yang aku miliki hanya sebatas meninggalkan jejak lewat shoutmix. Untuk meninggalkan komentar... aksesnya diblokir !! Hikss... Jadi aku harus cukup puas hanya meninggalkan pesan singkat di shoutmix. Itupun hanya mampu kulakukan terbatas sekali, karena waktuku tidak banyak. Kebetulan akhir-akhir ini pekerjaan di kantor juga sedang banyak...

Ngeblog bagiku adalah refreshing..., sama seperti kalau aku membaca buku. Ngeblog itu asyik. Setelah seharian sibuk di kantor dan sibuk ngurusin rumah tangga..., waktu untuk ngeblog betul-betul aku nikmati. Dengan mencatatkan apa yang kurasakan, kupikirkan, dan kulakukan di dalam blog ini..., rasanya sudah membuatku merasa ringan. Untungnya suamiku juga mendukung kegiatan refreshingku ini.

Itulah mengapa aku jadi 'terganggu' saat internet bermasalah. Karena aku merasa tak punya tempat untuk menuangkan semua isi hati dan pikiranku lagi. Tapi..., di saat perasaanku sedang sebel begini aku mendapatkan kabar menggembirakan dalam shoutmix-ku.
  • agoez3 Assalamu'alaikum. Bu, ada amanat berupa award untuk njenengan. Silakan diambil di blog aku ya. Makasih. Wassalam (2009-05-14 12:25 PM)

Agoez3 mengirimkan award buatku. Terima kasih banyak untuk Agoez3 yang baik hati berbagi award denganku. Wah... kukira musim award sudah berakhir. Kiriman paket award ini benar-benar bisa membuatku tersenyum lagi. Inilah paket award yang kuterima dari Agoez3.

Persyaratan yang mengikuti award ini adalah :
- membuat postingan yang memuat gambar award ini
- sebutkan yang memberikan award ini beserta link blognya
- hadiahkan award ini kepada 10 sahabat
- kunjungi blognya dan beritahukan kalau ada award untuknya

Dan award ini akan aku hadiahkan kembali pada 10 sahabat lainnya, yaitu :
  1. Kang dwi
  2. Irmasenjaque : Duniaku... (Love and Live)
  3. Nura : Nuranuraniku
  4. Yanuar Catur Rasrafara : Rastafara Islands
  5. Nopi Mujiyanto : My Unique Affiliate
  6. Awal Sholeh : Awal_Sholeh (Mechanical Engineering)
  7. Bunda Sarah : Education Zone and Music
  8. Yani : Cinta Kimia
  9. Trimatra
  10. Shasa Imutz : Jejak Langkahku
Oke..., semoga yang kebagian award ini dapat menerimanya dan merawatnya dengan baik. Semoga juga seperti aku, kedatangan award ini mampu membangkitkan senyum di hati kita.

Buku dan Minat Baca

Rabu, 13 Mei 2009

15 catatan dari sahabat
Keberadaan buku tentu saja tak dapat dilepaskan dari minat baca. Apabila minat baca masih rendah, maka jumlah buku yang "disediakan" di pasaran juga tidak akan banyak. Sementara kalau minat baca tinggi, maka para penerbit buku tak akan sungkan-sungkan menyediakan jumlah buku yang banyak di pasaran.

Bila dibandingkan dengan negara-negera lain, penjualan buku di Indonesia termasuk kecil. Bahkan dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara pun Indonesia kalah jauh dalam hal penjualan buku. Kira-kira mengapa hal ini bisa terjadi ? Jawabnya adalah masih rendahnya minat baca. Mau tak mau hal tersebut harus kita akui karena memang membaca belum membudaya di seluruh lapisan masyarakat.

Kemudian kita akan bertanya, mengapa membaca pada masyarakat Indonesia belum membudaya ? Menurutku, jawabnya adalah sebagai berikut :
  • Masih ada rakyat Indonesia yang buta huruf
  • Mahalnya harga buku di Indonesia
  • Rendahnya taraf kehidupan mayoritas rakyat Indonesia
  • Belum munculnya kesadaran gemar membaca

Lantas, mengapakah gemar membaca harus dibudayakan ? Tentu saja karena buku adalah jendela dunia. Lewat buku (dan membaca) kita akan belajar tentang banyak hal. Wawasan kita akan semakin luas. Pikiran kita tak akan lagi sempit dan tak lagi terkungkung oleh dunia sekitar kita saja. Begitu banyak hal di luar kita yang akan kita ketahui dari membaca. Untuk itu, gemar membaca harus mulai dibudayakan. Telah terbukti bahwa banyak orang yang telah mengambil banyak keuntungan dari membaca.

Jadi apa yang bisa kita lakukan ? Untuk mewujudkan budaya gemar membaca, tidak bisa diselesaikan lewat satu kebijakan/program saja. Perlu ditetapkan kebijakan yang saling menunjang satu sama lain sehingga masyarakat Indonesia gemar membaca dan pada akhirnya akan membawa Indonesia lebih maju.

Yang kurasakan perlu untuk dilakukan adalah :
  • Membebaskan rakyat Indonesia dari buta huruf. Dalam bayanganku, dengan kemampuannya mengenali aksara, akan memudahkan rakyat Indonesia menerima informasi. Dengan beragam informasi dan wawasan yang dimilikinya, maka seseorang akan bisa meningkatkan kualitas hidupnya.
  • Meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia, yang dapat dicapai dengan penciptaan lapangan kerja ataupun penyelenggaraan pelatihan ketrampilan serta menurunkan harga-harga kebutuhan pokok rakyat.
  • Menurunkan harga buku. Sementara ini, yang lebih diutamakan oleh mayoritas rakyat Indonesia adalah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Membeli buku masih dianggap sebagai "barang mewah", karena buku yang ada sekarang masih tergolong mahal. Buku-buku yang dibeli biasanya sebatas buku pelajaran sekolah yang wajib dimiliki. Apabila kualitas hidup rakyat belum mampu ditingkatkan, maka membeli buku masih sebatas impian. Rasanya kita patut iri dengan penduduk Singapura karena Pemerintah Singapura kabarnya telah menetapkan pajak 0% untuk buku !!
  • Menyediakan perpustakaan umum yang tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Jika ternyata rakyat tidak mampu mencukupi sendiri kebutuhannya akan informasi yang akan didapat dari buku, maka pemerintah dapat membantu lewat perpustakaan. Dengan hadirnya perpustakaan umum ini diharapkan seluruh rakyat Indonesia dapat menikmati manfaat buku tanpa harus keluar uang banyak untuk membeli buku yang sampai saat ini masih mahal di Indonesia.
  • Membudayakan gemar membaca akan sulit dilakukan jika apa yang hendak dibaca (dalam hal ini : buku) tak mampu dimiliki. Apabila harga buku terjangkau segala lapisan masyarakat, maka tak akan sulit untuk meningkatkan minat baca. Minat baca dapat dimulai dari rumah dan sekolah. Jika di rumah dan di sekolah disediakan waktu khusus untuk membaca, maka lambat laun rasa cinta akan buku akan tumbuh.

Itulah angan-angan yang selama ini ada dalam pikiranku. Angan-angan yang muncul dari kerinduan untuk bisa dengan mudah mendapatkan manfaat dari buku. Kerinduan yang muncul dari perasaan prihatin melihat anak-anak Indonesia begitu jauhnya dari buku dan lebih memilih PS sebagai sarana menghibur diri. Padahal menurutku pribadi..., dengan membaca buku aku sudah bisa mendapatkan hiburan yang sangat luar biasa.

Tentu saja tak harus setiap waktu kita sibuk membaca buku. Tapi..., cukuplah kita mempunyai kebutuhan untuk membaca. Jika sudah menjadi kebutuhan..., maka kita akan mengatur sendiri waktunya kapan kebutuhan itu akan kita penuhi. Itu saja ....

Impian dari hasrat terbesarku untuk mampu mendapatkan buku yang berkualitas dengan harga terjangkau.

Saat masih berkuasa

Senin, 11 Mei 2009

31 catatan dari sahabat
Kebanyakan orang saat memegang kekuasaan akan mempergunakan kekuasaannya itu untuk mempermudah segala urusannya. Dengan mempergunakan kekuasaannya biasanya mereka dapat membuat orang lain memenuhi keinginannya. Sudah banyak contoh kasus untuk membuktikan hal itu.

Aku sendiri pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan salah seorang yang memegang kekuasaan ini. Kebetulan dia adalah salah seorang anggota DPRD (sebut saja Bpk. X). Dan aku tak akan pernah lupa akan kejadian hari itu.

Suatu pagi saat aku sedang sibuk bekerja di mejaku, tiba-tiba Bpk. X datang dan langsung menuju ke mejaku. Tanpa perlu banyak berbasa-basi dia menunjukkan dokumen anaknya yang namanya salah ketik. Walaupun bukan aku yang mengetik nama anaknya itu, tapi aku memang yang bertanggung jawab atas keluarnya dokumen itu.

Dengan nada suara yang sama sekali tidak ramah, Bpk. X menyuruhku (catat : bukan meminta tolong) untuk membetulkan nama yang tercatat dalam dokumen itu. Saat aku menerimanya dan menjanjikan padanya untuk memperbaiki dokumen itu, ternyata masih ada lagi "perintah"nya untukku. Dengan suara keras Bpk. X berkata : "kalau sudah jadi, legalisir rangkap 10 !"


Aku yang terkejut hanya bisa menganggukkan kepala. Memang di kantorku bisa membuatkan legalisir untuk dokumen itu, tapi biasanya pihak yang berkepentingan menfoto-copy sendiri dokumen yang dingin dilegalisir itu. Kalau begitu, Bpk. X tidak hanya memintaku membetulkan nama anaknya yang salah ketik, tapi juga memfoto-copy sekaligus mencarikan legalisirnya !! *mengelus dada*


Belum cukup kata-kata itu diucapkannya sekali, Bpk. X masih mengulanginya 2 kali lagi. Seakan-akan takut aku tidak mendengar dan tidak melaksanakan kata-katanya yang disampaikan dengan keras itu. Teman-temanku yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan muka yang sebel banget.

Begitu Bpk. X keluar ruangan, maka ramailah suasana kantorku. Semua sibuk membicarakan Bpk. X tadi. Tak satupun teman sekantorku yang simpati dengan sikap dan cara Bpk. X tadi. Teman-teman kecewa dengan cara dan sikap Bpk. X dalam mengutarakan maksudnya. Semua merasa heran dengan sikap sok kuasa yang ditunjukkannya.

Namun, ada juga teman yang menyalahkan aku, mengapa aku menuruti saja apa katanya. Jawabku sih sederhana saja, aku hanya dituntut untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Ada juga teman yang lain protes begini : "suruh legalisir rangkap 10 ?? Kok gak kasih uang untuk foto copy ?!"

Namun sejujurnya, dalam hati aku juga merasa jengkel sekali. Kalau seseorang minta tolong kan harusnya dengan sikap dan cara yang baik, mengapa Bpk. X tidak melakukan hal itu ? Apa yang akan terjadi apabila ternyata dalam periode berikutnya Bpk. X tidak lagi terpilih sebagai anggota DPRD ? Akankah saat tak lagi berkuasa Bpk. X masih akan bersikap yang sama ?

Aku jadi berpikir, apakah sikap itu memang merupakan kepribadian Bpk. X atau sikap yang muncul dari perasaan berkuasa ? Namun jika mengingat dokumen itu adalah milik anaknya yang sudah tamat SMA, maka yang jadi pertanyaanku adalah mengapa bukan anaknya sendiri yang mengurus dokumen itu ? Apakah ada kekhawatiran di benak orangtuanya, kalau yang mengurus dokumen itu sang anak sendiri tidak akan "ditanggapi" dengan baik ? Apakah beliau beranggapan bahwa kalau yang mengurus dokumen itu adalah seorang anggota dewan yang terhormat, pasti akan langsung ditanggapi ?

Yang lebih sering terjadi adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan justru mempergunakan kekuasaannya itu untuk kepentingan dirinya dan keluarganya semata. Jarang sekali orang yang mempergunakan kekuasaannya untuk memperjuangkan orang lain. Semoga saja calon-calon legislatif yang baru saja terpilih tidak akan bersikap seperti itu. Amin.

Menilai Orang Lain

Minggu, 10 Mei 2009

27 catatan dari sahabat
Apa yang ada dalam pikiran kita kalau melihat seorang gadis berusia 47 tahun, tidak cantik, bertubuh tambun, dan penampilan yang jauh dari kata mengesankan? Yang seringkali terjadi adalah kita berpikir bahwa gadis itu sama sekali tidak menarik. Bahkan mungkin kita tak akan berpikir ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya. (Benar kan ? Hayooo… ngaku aja).

Lantas apa yang kita pikirkan kalau mengetahui bahwa gadis itu terlahir dengan cedera otak ringan karena kekurangan oksigen saat dilahirkan ? Mungkin kita akan berpikir bahwa betapa malangnya gadis itu. Seakan-akan begitu “lengkap” segala macam kekurangan melekat padanya.

Akibat cedera otak yang dialaminya, gadis itu mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolahnya. Jadi begitulah, dengan segala kekurangan yang dimilikinya, gadis itu tumbuh menjadi gadis yang tidak populer di lingkungannya. Bahkan dia tumbuh bersama ejekan dan cemoohan yang selalu menyertainya.

Pandangan merendahkan, cibiran dan ejekan itu pulalah yang diterimanya saat dia memberanikan diri untuk tampil di muka umum untuk menunjukkan salah satu kemampuan terbaiknya. Untung saja berkat kemauan kerasnya untuk “unjuk gigi” semua cemoohan dan ejekan itu tak mampu melunturkan tekadnya. Bahkan kemudian pandangan merendahkan, ejekan, cemoohan dan cibiran itu berubah menjadi pujian dan sanjungan.

Gadis yang sedang kita bicarakan itu bernama Susan Boyle. Aku yakin bahwa banyak yang sudah mengetahui tentang Susan Boyle. Tapi bagi yang belum tahu…, aku jelaskan saja bahwa Susan Boyle itu adalah kontestan Britain’s Got Talent yang mengejutkan dunia.


Saat pemunculan pertamanya di atas panggung, semua penonton dan juri memandang sebelah mata padanya. Bahkan ada yang mencemooh dan mencibirnya, salah satunya adalah Simon Cowell (ingat kan sama juri American Idol ini??). Kebetulan Simon Cowell yang terkenal berlidah tajam itu menjadi salah satu juri dalam ajang itu. Bahkan sebelum Susan Boyle menyanyi pun, Simon Cowell sudah melontarkan kata-kata pedas untuknya.

Namun, Susan Boyle mencoba bertahan dan menerima ejekan serta cemoohan itu dengan lapang dada. Keberaniannya tampil di muka umum didorong oleh keinginannya membuat ibunya bangga. Dan ternyata apa yang diinginkannya terkabul, karena begitu dia menyanyi maka semua penonton dan juri, harus mengakui bahwa dia adalah gadis yang memiliki suara emas.

Tepuk tangan riuh mengakhiri nyanyian yang dibawakan Susan Boyle. Penonton dan juri terharu. Semua memuji keindahan suara Susan Boyle. Bahkan Simon Cowell pun merasa menyesal telah berkata kasar dan merendahkan Susan Boyle sebelumnya.

Setelah acara itu ditayangkan di stasiun televisi, Susan Boyle tidak lagi menjadi bahan ejekan dan cemoohan lingkungannya. Dia tiba-tiba menjadi terkenal, dan semua orang ingin dekat dengannya. Bahkan acara-acara televisi terkenal dari berbagai negara ingin mengundangnya (termasuk Oprah Winfrey).

Nah…, sekali lagi kita diingatkan untuk tidak lagi “menilai buku hanya dari sampul luarnya saja”. Memang selama ini masyarakat terbiasa memandang dan menilai dari bungkus luarnya saja. Yang tampak di luar itu pulalah yang dijadikan pegangan, apalagi kalau yang tampak di luar begitu berkilau

Padahal apa yang sering kali dianggap remeh dan dilecehkan ternyata menyimpan sesuatu yang indah. Atau menyimpan kekuatan yang dahsyat luar biasa. Alangkah lebih baik jika sebelum kita menjatuhkan penilaian, kita mempelajari dulu apa yang ada di dalamnya.

Semoga kita bisa belajar dari peristiwa di atas. Semoga kita tidak sampai seperti Simon Cowell yang merasa menyesal telah menilai negatif seseorang tanpa mengetahui kemampuannya terlebih dahulu. Semoga untuk selanjutnya kita bisa lebih bijaksana dalam menilai orang lain.

Pelajaran yang gagal total

Jumat, 08 Mei 2009

26 catatan dari sahabat
Pernah merasa jengkel atas sesuatu yang tidak menyenangkan tapi terjadi berulang-ulang ? Atau merasa gemas dan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengatasinya ? Itulah yang dirasakan suamiku beberapa saat yang lalu.

Seperti yang dulu pernah aku katakan padamu kawan, bahwa aku ini sangat pelupa. Entah mengapa aku jadi bisa pelupa begini. Pengen bisa keluar dari penyakit atau sifat atau apalah namanya yang bernama pelupa ini...., namun sampai sekarang belum berhasil juga. *curhat mode on*

Beberapa saat yang lalu, saat aku belum terlalu lama sampai di kantor, HPku berdering. Ternyata suamiku yang menelepon. Dalam telponnya suamiku menanyakan dimana aku meletakkan kunci rumah. Ceritanya, waktu sampai di rumah (setelah mengantarkan aku ke kantor), suamiku tak menemukan kunci itu di tempat biasa. Mendapat pertanyaan itu dari suamiku, aku jadi bingung dan berusaha mengingat-ingat dimana aku meletakkan kunci rumah itu.

Setelah tak berhasil mengingat dimana aku tadi meletakkan kunci, maka suamiku baru berkata yang sebenarnya. Rupanya, setelah aku menutup pintu aku lupa menguncinya dan kuncinya pun ternyata masih terpasang pada pintu di sisi luar. Oh My God....

Kejadian itu bukan kali pertama aku lupa soal menutup pintu di saat akan pergi dari rumah. Suamiku mungkin sampai bosen berhadapan terus dengan si pelupa yang menempel erat padaku. *pasrah* Sementara suamiku menanyakan dimana aku meletakkan kunci itu dengan tujuan untuk mengetes apakah aku ingat telah menutup dan mengunci pintu.

Mengingat bahwa kondisi keamanan lingkungan perumahanku akhir-akhir ini tergolong rawan akibat banyak pencurian, maka suamiku memberikan peringatan padaku untuk tidak mengulangi hal seperti itu lagi. Sementara aku yang merasa bersalah, hanya diam saja. Aku kemudian bertekad dalam hati untuk lain kali tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.

Namun kawan..., ternyata si pelupa itu memang sangat mencintaiku. Hanya selang beberapa hari setelah kejadian itu, si pelupa kembali datang padaku. Suatu kali, saat aku baru sampai di kantor aku menyadari bahwa aku lupa membawa HP. Wah..., bisa-bisa teman-temanku akan kesulitan untuk menghubungi aku nih. Telpon kantor ada sih..., tapi telpon kantor sangat sibuk dan terkadang berbincang masalah pribadi di telepon kantor tidak terasa nyaman.

So..., aku mencoba menghubungi suamiku lewat telepon kantor. Intinya aku meminta suamiku (kalau punya waktu luang) untuk membawa HPku itu ke kantorku. Tapi ternyata suamiku punya rencana lain, kawan. Kali ini suamiku ingin memberikan "pelajaran" bagiku atas sifat / penyakit pelupaku itu. Jadinya..., sehari itu aku kerja di kantor tanpa ditemani HPku. Hiksss.... sepiii banget rasanya.

Kebetulan hari itu pekerjaan kantorku sangat padat. Bahkan akhirnya bos memutuskan agar aku dan beberapa teman lainnya kerja lembur hari itu. Aku yang sedang diajak bos rapat sejak beberapa saat sebelum waktu kerja berakhir, tak sempat memberi kabar suamiku.

Sementara suamiku kebingungan karena aku belum pulang juga padahal jam kantor sudah berakhir. Akhirnya..., suamiku memutuskan untuk menelepon kantorku. Kebetulan teman yang menerima teleponku (yang juga harus kerja lembur hari itu) tidak mengetahui kalau aku sedang rapat dengan bos. Sehingga waktu suamiku menanyakan keberadaanku, maka temanku yang tak melihatku duduk di meja kerjaku mengatakan bahwa aku sudah pulang.

Mendengar bahwa aku sudah pulang, membuat suamiku makin kalang kabut. Suamiku mengira pulang kantor itu aku langsung ke rumah ibu. Maka meluncurlah suamiku ke sana dan... so pasti tak ditemuinya aku di sana. Kemudian suamiku memutuskan untuk langsung menuju rumah, karena siapa tahu aku langsung pulang ke rumah. Dan ternyata... rumah masih dalam keadaan kosong dan terkunci.

Di tengah kebingungannya, suamiku mencoba untuk menelepon ke HP teman sekantorku yang lain. Kebetulan temanku ini tidak lembur dan sudah bersantai di rumah. Hanya untungnya temanku ini mengetahui bahwa aku sedang rapat bersama bos. Mendengar hal itu legalah hati suamiku...

Dan kemudian, setelah aku mengetahui bahwa suamiku sempat kebingungan karena "kehilangan" istri, maka aku tak menyia-nyiakan untuk menggodanya. Ternyata rencana suamiku untuk memberi "pelajaran" padaku telah gagal total. Karena bukan aku yang kebingungan karena tak bisa menghubunginya, namun ternyata.... suamiku yang kelabakan tak bisa menghubungiku. Hehehehe...

Jadi ... niat memberiku "pelajaran" itu ternyata justru berbalik arah mengenai suamiku sendiri. Teman-teman kantorku yang mengetahui kejadian ini juga tak henti menggoda suamiku. Ada-ada saja.....

Itulah satu kejadian lucu akibat dari penyakit / sifat pelupaku.... sementara kejadian yang menyebalkan gara-gara si pelupa ini ... ternyata banyak sekali. Hehehehe...

Rasa peduli dan perhatian

Kamis, 07 Mei 2009

24 catatan dari sahabat
Orang yang peduli adalah orang yang memperhatikan. Dengan rasa peduli seseorang akan melakukan hal-hal yang akan membantu dan menyenangkan orang lain. Jika orang tidak memiliki rasa peduli pada orang lain, maka tidak akan muncul rasa kasih sayang pada orang lain tersebut. Tanpa ada rasa peduli, maka akan sulit untuk mampu menyayangi orang lain.

Kepedulian terhadap orang lain dapat terlihat dari kepekaan seseorang akan kebutuhan orang lain dan kemampuan untuk memahami kondisi orang lain. Rasa peduli adalah perhatian kita terhadap situasi dan kondisi orang lain.

Setiap orang akan merasa bahagia apabila ada orang lain yang peduli padanya, ada yang memperhatikannya. Tidak hanya anak-anak, namun orang dewasa dan (apalagi) orang tua akan sangat bahagia ketika mengetahui bahwa ada orang yang peduli dan memperhatikannya.

Jadi, sebenarnya sangat mudah untuk membuat orang lain bahagia, yaitu cukup dengan peduli pada mereka. Cukup dengan memberikan perhatian pada mereka. Sementara wujud dari rasa peduli dan perhatian itu bisa bermacam-macam, dari yang paling sederhana sampai yang istimewa.

Hal-hal sederhana yang bisa menunjukkan rasa peduli kita adalah melalui ucapan. Misalkan saja, ucapan selamat ulang tahun. Siapa saja akan sangat bahagia bila mengetahui bahwa ada orang lain yang mengingat hari ulang tahunnya. Maka, ucapan selamat ulang tahun yang kita ucapkan pada seseorang akan membuat orang lain merasa dirinya berharga untuk diingat hari ulang tahunnya.

Rasa peduli yang kita tunjukkan pada saat dan suasana yang menyenangkan tentu saja akan menambah kesenangan. Tapi bagaimana bila rasa peduli kita berikan pada saat orang lain dalam suasana yang tidak menyenangkan ? Bila kita mampu menunjukkan rasa peduli kita di saat-saat seperti itu, maka rasa peduli itu seperti siraman air di padang tandus. Pastinya apa yang telah kita lakukan itu tak akan terlupakan oleh orang yang menerima rasa peduli kita.

Seperti saat kita menjenguk orang lain yang sedang sakit. Dalam kondisi seperti itu, kepedulian orang lain terhadap orang yang sakit seringkali mampu menguatkan. Bahkan seringkali kepedulian dan perhatian yang diberikan pada orang sakit mampu menguatkan motivasi untuk segera sehat kembali. Setidaknya orang yang sakit merasa bahagia karena ada yang peduli padanya.

Kepedulian yang aku berikan pada mas Ari pada saat dia sakit, ternyata juga membuatknya merasa bahagia. Padahal saat mas Ari sakit aku hanya menjenguknya sambil membawakan award untuknya sebagai oleh-oleh. Dan wujud kepedulianku (dalam bentuk award) itu ternyata disambut hangat oleh mas Ari.

Wah...... It's Real kaya usapan lembut tangan Emakku kala aku sakit kala kecil. Rasanya Nyaman, hangat yang tentram. Ternyata ada yang Ngejenguk kala aku sakit. Mbak reni, Emak dunia Mayaku mengusap keningku, Makasih mak. Sakitku agak baikan sekarang.

Dan kini di saat sudah mulai membaik, sebagai ucapan terima kasihnya padaku mas Ari ganti memberiku 3 buah award yang keren. Padahal..., aku sungguh tak mengharapkan imbalan apa-apa atas award yang kubawakan untuknya.

Mungkin mas Ari pun ingin membalas perhatianku dan kepedulianku. Mungkin mas Ari pun ingin ganti membuatku bahagia dengan pemberiannya. Dan untuk rasa peduli yang ditujukan padaku ini aku hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak untuk mas Ari.

Inilah award sebagai wujud rasa peduli dari Mas Ari untuk aku. Rasa peduli yang berawal dari semangat persahabatan, persaudaraan dan kasih sayang di antara sesama blogger.



Dan, atas ijin mas Ari aku bisa membagikan kembali award ini untuk sahabat-sahabat yang lain. Lewat award ini aku ingin menyampaikan bahwa aku peduli kepada mereka. Dan yang akan menerima wujud rasa peduli dan perhatianku kali ini adalah : semua yang telah memberikan komentar untuk postinganku kali ini.

Untuk siapa saja yang telah menuliskan komentar untuk postingan ini, silahkan membawa pulang award di atas. Award itu aku berikan sebagai ucapan terima kasihku atas perhatian yang telah diberikan padaku lewat komentar di postingan ini.

Hanya itu yang bisa aku berikan. Semoga diterima dengan senang hati....