Kejutaaaan.... !!

Selasa, 30 Juni 2009

34 catatan dari sahabat
Setelah seharian aku dibuat gemas dengan koneksi inet yang terputus.., akhirnya aku bisa juga akses internet setelah waktu menunjukkan pukul 21.50 WIB. Di kantor akses ke blogspot dan blogger sudah diblokir (tanya kenapa...? hehehe kayak iklan aja ya....). Sampai di rumah pun ternyata inet bermasalah lagi, sehingga lagi-lagi aku tak bisa buka inet. Sayang sekali ketika akhirnya akses ke inet lancar lagi, waktu sudah sangat larut bagiku.

Untuk melakukan blogwalking pada selarut ini, aku sudah dipeluk oleh rasa kantuk. Akhirnya, kuputuskan untuk membuka email, sekedar untuk memeriksa apakah ada surat baru untukku. Walaupun sebenarnya rindu ingin mengetuk rumah sahabat satu persatu, akhirnya keingingan itu sementara kupendam dulu. Kupikir, blogwalking dan posting baru bisa kutunda esok hari saja.

Dan ternyata.... dari email yang masuk aku mendapatkan sebuah kejutan. Hayoooo..., siapa yang bisa menebak apa kejutan yang aku terima ? Sebenarnya sih lebih tepat kalau kejutan ini untuk Shasa, bukan untuk aku. Inilah bunyi email yang membuatku sangat terkejut dan nyaris tak percaya.

Kepada Yth.
Sdr/i Pengelola Blog shasaimutz.blogspot.com

Setelah melakukan proses verifikasi dan penilaian, bersama ini kami
menyampaikan bahwa blog yang Anda kelola layak dan berhak mendapatkan
penghargaan Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 untuk kategori mingguan
"Student Blog" pada periode Selasa (30/06/2009).

Selamat untuk Anda!

Sebagai bentuk apresiasi, kami akan segera mengirimkan merchandise kepada
Anda berupa:

- 1 buah T-Shirt Internet Sehat "be www" (ukuran all-size)
- 1 buah Buku Internet Sehat

Sungguh mulanya aku tak percaya blog Shasa bisa mendapatkan penghargaan dari Internet Sehat. Sampai-sampai email itu aku baca berkali-kali. Alhamdulillah, ternyata aku tak salah baca. Ternyata mataku tak menipu terhadap apa yang aku baca.

Sebenarnya aku sudah mendaftarkan Shasa sejak bulan April 2009 yang lalu. Aku melakukannya diam-diam, tanpa sepengetahuan Shasa. Hanya Shasa sempat bertanya kepadaku kenapa di dalam blognya aku pasang banner Internet Sehat. Saat itu sih aku menjawab bahwa banner itu hanya untuk menambah manis blognya saja,. Terpaksa aku tak terus terang padanya karena aku tak ingin dia terlalu berharap untuk menang. Terutama, aku tak ingin dia kecewa apabila ternyata dia gagal.

Ketidaktahuan Shasa dalam Internet Sehat itu membuatnya tidak lebih terpacu untuk update blog secara rutin. Kesibukannya dalam urusan sekolah, membuat blognya jarang dikunjunginya. Seiring berjalannya waktu dan tak ada kabar lagi tentang Internet Sehat nyaris membuatku melupakan Internet Sehat ini. Makanya, waktu tadi di dalam emailku ada email dari Internet Sehat, aku nyaris tak percaya.

Untuk kemenangan Shasa ini, aku ucapkan terima kasih kepada Mas Willis Koes. Sebenarnya atas saran dan dorongan darinya aku berani mendaftarkan blog Shasa ikut Internet Sehat. Menurut Mas Willis, untuk ukuran anak-anak, blog Shasa cukup lumayan. Kata Mas Willis juga, blog Shasa bisa masuk dalam kategori Student Blog. Akhirnya, aku nekad mendaftarkan blog Shasa. Tapi aku sendiri tak berani mendaftarkan blog-ku sendiri karena menurutku blogku masih jauh dari kata menarik, apalagi bagus.

Sayang sekali malam ini Shasa sudah lelap terbuai mimpi. Tapi aku yakin, berita ini pasti akan membuatnya tersenyum bangga. Siapa tahu..., setelah mendapatkan penghargaan ini (yang mamanya sendiri pun tak mampu mendapatkannya !!), semangat Shasa untuk ngeblog semakin terpacu. Hmm, tapi aku gak yakin juga sih, karena mood Shasa sama seperti anak-anak lainnya, gampang berubah-ubah.

So.., buat sahabat semua, bila ingin juga mendaftarkan ikut Internet Sehat bisa membaca persyaratannya di sini. Oke... semoga berhasil ya.

Sstt... rencana semula untuk tidak posting malam-malam, karena sudah ngantuk, jadi berantakan. Ternyata aku dengan semangat 45 langsung posting tentang kejutan ini (^_^)

Binatang kesayangan

Senin, 29 Juni 2009

31 catatan dari sahabat
Dua hari yang lalu Shasa-ku bercerita kalau dia mendapatkan pertanyaan yang ditinggalkan oleh Om Trimatra di blognya. Penasaran aku segera membuka Jejak Langkahku untuk melihat sendiri pertanyaan apa yang diberikan kepada Shasa. Ternyata, pertanyaan yang diajukan mas Trimatra seperti ini :
"andai semua binatang didunia ini boleh untuk dimiliki dan dipelihara, kamu mau pelihara apa? Alasannya??"
Sesaat kemudian Shasa bercerita kepadaku bahwa pertanyaan dari Om Trimatra itu telah dijawabnya. Katanya, jawabnya ada 6 dan aku diminta menebaknya. Namun dari keenam jawabannya yang berhasil kutebak dengan benar hanya 3 saja hehehe... (berarti nilai mama cuma 5 dong Sha? Kan salahnya separuh sendiri hehehe...)

Namun aku belum sempat membuka lagi Jejak Langkahku untuk melihat sendiri apa yang ditulis Shasa untuk menjawab pertanyaan itu. Makanya aku kaget banget sewaktu hari Minggu pagi aku menemukan foto Shasa dan jawaban Shasa ada di dalam postingan blognya Mas Trimatra yang berjudul What they said about pets ?.

Oh My God..., ternyata Mas Tri sedang mengadakan "polling" tentang binatang-binatang yang ingin dipelihara seseorang. Dan salah satu yang diminta mengisi polling itu adalah Shasa. Sayang sekali hasil polling itu tidak ditampilkan semua oleh Mas Trimatra, namun hanya diwakili oleh 4 responden dengan kategori : jawaban tersingkat, jawaban terpanjang, jawaban paling asal dan jawaban paling serius. Ternyata.... jawaban Shasa mewakili jawaban paling serius !! Hehehe........ Secara, Shasa semangat banget menjawab semua komentar-komentar yang masuk ke dalam blognya.........

Setelah membaca jawaban Shasa, aku baru tahu kalau ternyata Shasa ingin sekali bisa memelihara kupu-kupu dan kunang-kunang. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa kedua jenis binatang itu masuk dalam kategori binatang yang ingin dipelihara Shasa. Selama ini Shasa sudah pernah memelihara berbagai jenis binatang, seperti Kelinci, Hamster, Burung Kura-kura dan Ikan hias.

Pertama kali yang dipelihara Shasa adalah burung yaitu jenis lovebird. Namun saat akhirnya burung itu mati, Shasa nangis lama sekali. Aku sampai kehabisan cara untuk menghiburnya. Setelah sekian lama waktu berlalu.., Shasa minta untuk memelihara Hamster. Kejadian yang sama terulang lagi saat hamster peliharaannya mati. Yang paling ,menyedihkan bagi Shasa adalah saat kelincinya mati. Selama berhari-hari Shasa masih merasa sedih karenanya.

Itulah sebabnya aku sempat merasa keberatan waktu Shasa minta memelihara binatang lagi. Takut melihatnya sedih tatkala binatang yang dipelihara dan disayanginya mati. Tapi lama-lama kupikir biarlah Shasa mempunyai tanggung jawab dengan memelihara binatang-binatang itu. Dan Shasa biar juga mengalami perasaan "kehilangan" itu supaya dia mempunyai pengalaman dan pengetahuan bahwa suatu saat kita bisa kehilangan sesuatu yang sangat kita sayangi. Selain itu agar Shasa juga belajar menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan dan supaya dia juga tahu bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati.

Sebenarnya aku pribadi kurang suka memelihara binatang. Berkebalikan dengan mas Judhanto, suamiku. Sejak kecil dia suka memelihara binatang. Bahkan waktu kuliah dulu dia pernah memelihara ayam cukup lama bahkan bisa menghasilkan. Selain ayam, suamiku juga pecinta burung dan ikan. Sepertinya kesenangan Shasa akan binatang menurun dari ayahnya.

Dan..., sore tadi suamiku bilang bahwa ikan cupang peliharaan Shasa mati. Walaaah.... Untungnya Shasa libur 2 hari ini bermalam di rumah eyangnya, jadi dia belum tahu kalau ikannya mati (lagi). Enaknya kapan ya aku memberitahu Shasa tentang kematian ikannya ini...? Aku belum siap melihat Shasa akan bersedih lagi.... Hikss....

Tumbuh di tengah badai

Minggu, 28 Juni 2009

36 catatan dari sahabat
Buku yang berjudul Tumbuh di Tengah Badai ini ditulis oleh Herniwatty Moechiam. Buku yang sangat luar biasa ini adalah sebuah kisah nyata, yang bercerita tentang perjuangan seorang ibu rumah tangga dalam membesarkan anak autis . Pada saat itu, autisme belum dikenal luas seperti sekarang ini. Bahkan kepastian bahwa anaknya menderita penyakit autis ini baru diketahui setelah si anak kelas 3 SD.

Kehadiran anak ketiga yang "berbeda" dari anak-anak sebelumnya membuat kedua orang tuanya shock. Ketidaksiapan menerima anak yang tidak normal membuat kehidupan rumah tangga mereka semakin terpuruk dari tahun ke tahun. Pertengkaran, adu mulut, dan teriakan-teriakan yang terus menerus terjadi membuat rumah menjadi sangat tidak menyenangkan. Anak-anak tumbuh dalam suasana yang tertekan dan membuat emosi mereka terganggu.

Perhatian ibu yang lebih kepada si bungsu membuat kedua kakaknya cemburu dan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian. Suasana rumah yang gaduh membuat sang ayah menjadi sangat mudah terpancing emosinya. Tidak ada suasana yang kondusif untuk membesarkan anak-anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Kondisi bukan bertambah baik, tapi dari hari ke hari semakin terpuruk.

Akhirnya, setelah sekian lama terjebak dalam badai rumah tangga, sang ibu bisa bangkit untuk "menyelamatkan" anak-anaknya dari keterpurukan yang kian dalam. Dengan terpanting-panting sang ibu mengambil alih semua peran sang ayah dalam mengurusi semua anak-anaknya. Mulai dari urusan antar jemput anak, memilihkan sekolah dan tempat-tempat kursus untuk memberikan kesibukan anak-anaknya, bahkan sampai memilihkan tempat terapi dan konsultasi psikologis untuk semua anaknya telah dilakukannya sendiri.

Untungnya sang ayah memiliki penghasilan yang cukup untuk semua itu. Meskipun sang ayah sama sekali tidak peduli atas perkembangan anak-anaknya, tapi semua yang mereka butuhkan dicukupinya, namun tak luput dari segala macam persyaratan dan kecaman tak berkesudahan dari sang ayah. Walaupun harus jatuh bangun, sang ibu mampu seorang diri mengurus anak-anaknya, meskipun tak sedikit pandangan sinis, curiga dan melecehkan yang diterimanya, bukan saja dari suami, tapi juga dari lingkungan yang saat itu belum tahu kerepotan mengurus seorang anak yang autis.

Segala macam kesulitan yang dihadapi ternyata belum cukup, karena badai yang lebih hebat masih harus mereka lewati. Namun, akhirnya dengan ketabahan dan rasa cinta yang dalam kepada anak-anaknya, membuat sang ibu mampu sedikit demi sedikit menyemai harapan. Kondisi rumah tangga yang nyaris tak mampu dipertahankan akhirnya dapat juga berubah ke arah yang lebih baik. Anak-anaknya pun mampu menunjukkan prestasi yang tak disangka-sangka bahkan akhirnya bisa menunjukkan bahwa mereka saling mencintai dan saling dukung satu sama lain.

Setelah perjalanan panjang, sang ibu semakin menyadari bahwa dia "beruntung" diberi kesempatan oleh Allah menerima titipan yang "istimewa" berupa seorang anak autis. Melalui anaknya yang autis itulah, sang ibu menyadari bahwa dirinya mampu berkembang menjadi lebih baik. Bahkan, disadarinya kemudian bahwa kehadiran anak yang autis dalam keluarganya telah menumbuhkan kesadaran, keimanan, kesabaran, pengertian, kesetiaan, kasih sayang, kematangan dan masih banyak lagi.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Berprasangka baik kepada Allah adalah kunci untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan seberat apapun.
  • Cinta seorang ibu kepada anak-anaknya sangat tulus, bahkan sang ibu seringkali mau berkorban apa saja demi kebahagiaan sang anak.
  • Saat kehidupan sedemikian buruknya, harapan tak sepenuhnya hilang, namun hanya tertutup oleh pandangan dan pikiran negatif.
Penulis : Herniwatty Moechiam
Kategori : Kisah Nyata
Penerbit : Bentang
Th. Terbit : 2009 (cetakan I)
Tebal : 236 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 33.300,- (diskon)

Tuhan telah memutuskan

Sabtu, 27 Juni 2009

34 catatan dari sahabat
Setelah membaca komentar yang masuk dalam postingan ini, aku merasa perlu menambahkan sedikit informasi tentang buku ini. Penulisnya, Dr. Free Hearty, M.Hum, menulis novel ini berdasarkan keluhan yang ada dalam masyarakat. Buku yang ditulis dalam jangka waktu 6 bulan ini sebelumnya telah melalui penelitian yang lama. Jadi, meskipun buku ini termasuk kategori novel, namun kisah yang diangkat berdasarkan kenyataan yang ada dalam masyarakat kita.

Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang Ibu Rumah Tangga yang bernama Fetty. Dia yang dinikahkan setelah lulus SMA dengan pria pilihan orang tuanya mengalami banyak ujian sepanjang perjalanan kehidupan rumah tangganya. Terjal, berliku dan seringkali harus tersayat-sayat duri yang pedih. Gambaran kehidupan rumah tangga, yang mungkin telah dialami sekian banyak wanita Indonesia, yang memaksa mempertahankan rumah tangga yang sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

Fetty adalah seorang istri yang tunduk dan patuh kepada suami sebagaimana ajaran yang telah didapatkannya dari nenek, ibu dan mertuanya. Fettty yang menikah tanpa dilandasi cinta, menjalankan kehidupan rumah tangganya berdasarkan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah kewajiban seorang istri. Harapannya, dengan melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya maka akan diperoleh surga sebagai imbalannya.

Apapun kehendak sang suami tak hendak dilawan olehnya. Apapun perintah suami dilaksanakannya, meskipun seringkali dengan terseok-seok. Perannya dalam rumah tangga di mata suami tak ubahnya seperti pembantu rumah tangga. Bahkan saat sang suami melarangnya melanjutkan kuliah dan melarang keluar rumah tanpa seijinnya, semua dipatuhi tanpa banyak protes. Mengenai aktivitas suami di luar rumah pun tak satupun yang dipertanyakannya.

Meskipun berusaha keras menjalankan semua ajaran dari nenek, ibu dan mertuanya, sebenarnya di dalam pikiran Fetty seringkali muncul tanya yang tidak terjawab. Kehidupan rumah tangga yang timpang karena suami hanya sibuk di luar rumah dan tidak peduli sama sekali masalah rumah tangga membuat hati Fetty ingin berontak. Dalam hatinya, Fetty mempertanyakan apakah suami peduli dengan pengorbanan seorang istri dalam mengurus rumah tangga dan mempersiapkan generasi penerus bangsa. Apakah setelah kewajiban yang sedemikian besarnya dipikul seorang istri tidak ada hak yang pantas diterima sebagai imbalannya.

Kebuntuan komunikasi, sikap dingin dari sang suami dan sikap penurutnya (yang dimata suami dianggap sebagai cerminan orang bodoh) membuat kehidupan rumah tangganya tak berjalan bahagia. Ketabahan dan kesetiannya sebagai istri yang senantiasa mengabdi kepada suami tak mendapatkan balasan kasih sayang. Suaminya tak pernah menghargainya dan bahkan kemudian terbukti mengkhianatinya. Meskipun kebenaran telah terbuka di depan mata, tak ada keberanian dalam hatinya untuk bertindak di luar ajaran yang pernah didapatkannya dahulu dari nenek, ibu dan mertuanya.

Kehidupan rumah tangga yang diharapkan dapat berjalan langgeng mulai tampak goyah. Pada saat itulah muncul 2 orang sahabat yang menguatkannya dan memberikan jalan keluar dari semua permasalahannya. Berkat kedua sahabatnya itulah, Fetty kemudian banyak belajar dan selanjutnya mampu ber-metamorfosis dari seorang wanita yang dihinakan menjadi seorang wanita yang mampu memperjuangkan haknya. Fetty kemudian mampu mengangkat harkat dan martabatnya serta menyelamatkan kehidupan dan masa depan keempat anak-anaknya.

Setelah jatuh bangun menjalani kehidupannya, akhirnya dengan ketabahan yang dimilikinya Fetty dapat hidup bahagia. Dia dapat merasakan cinta yang telah lama didambakannya. Cinta yang menjadikan dirinya merasa bermartabat dan dihargai. Pergaulannya dengan seorang wanita penyuka sesama jenis, mampu membukakan wawasan berpikirnya tentang nilai seseorang yang sebenarnya. Dan semua perjalanan hidupnya yang penuh liku telah menjadikannya seorang wanita yang bijaksana.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Komunikasi dan keterbukaan dalam sebuah rumah tangga sangat diperlukan agar rumah tangga bisa berjalan harmonis.
  • Cinta dalam sebuah rumah tangga harus terus menerus dipupuk dan dipelihara.
  • Untuk menjadikan biduk rumah tangga bisa berjalan baik, diperlukan 2 orang yang terlibat di dalamnya. Tapi untuk membuat biduk itu karam, hanya diperlukan 1 orang saja.
  • Segala kesulitan pasti ada jalan keluarnya, tinggal bagaimana usaha kita dan kita pasrahkan hasilnya pada Sang Kuasa.

Penulis : Free Hearty
Kategori : Novel
Penerbit : Jendela
Th. Terbit : 2009 (cetakan I)
Tebal : 270 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 37.000,- (diskon)

Cerita yang tersisa

Jumat, 26 Juni 2009

21 catatan dari sahabat
Selama 2 hari (Rabu dan Kamis) aku dinas untuk melakukan rapat koordinasi ke Kediri. Dalam waktu dimana aku tidak bersentuhan dengan blog itu aku memiliki cerita yang tersisa. Cerita yang perlu aku catatkan disini, sekedar cara agar aku tidak melupakannya begitu saja. Agar suatu saat aku bisa mengingatnya kembali apabila kenangan tentang cerita yang tersisa ini semakin terkikis dari ingatan.

Dua hari aku bertemu dan berkumpul dengan banyak orang dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur. Kami berkumpul untuk melakukan rapat koordinasi seputar kebijakan yang menyangkut kepegawaian. Berkumpul untuk menyatukan persepsi dan membahas permasalahan-permasalahan yang timbul beserta solusinya.

Dalam kurun waktu itu, selama aku bertemu dan bergaul dengan banyak orang, semakin banyak hal yang aku dapatkan. Dengan bertukar pikiran dengan mereka, banyak ilmu yang aku peroleh. Semua itu membuatku semakin sadar bahwa ilmu dan pengetahuan yang aku miliki belumlah seberapa. Masih banyak hal yang dapat aku pelajari dari orang-orang di sekelilingku. Jadi, tidak selayaknya aku berbangga hati dan menyombongkan diri bahwa ilmu dan pengetahuan yang aku miliki sudah sempurna.

Pergaulan memang memberikan banyak hal untuk dipelajari. Dengan semakin membuka diri dan bergaul dengan banyak orang, makin banyak orang yang akan kita temui dan kita jadikan narasumber kehidupan. Tinggal bagaimana kita mampu mengambil pelajaran dari pergaulan itu, bagaimana kita bisa memilah hal-hal apa saja yang dapat kita pergunakan untuk mengembangkan diri kita menjadi lebih baik.

Pengalaman hidup tiap orang berbeda, dan kita akan sangat beruntung apabila kita dapat ikut memetik pelajaran dari pengalaman orang lain. Bagaimanapun juga pengalaman adalah guru yang terbaik. Bukan saja pengalaman pribadi yang berguna, tapi pengalaman hidup orang lain pun tak kalah bergunanya. Sesuatu yang apabila kita menyadarinya, kita akan bisa selalu menghargai orang lain karena tiap orang memiliki ilmu dan pengalaman yang berharga untuk kita pelajari.

Itulah cerita pertama yang tak ingin aku lupakan, hasil dari pergaulanku dengan banyak teman se-Jawa Timur kemarin. Selain itu, ada cerita kedua yang tak ingin aku lupakan, yang kebetulan terjadi pada saat aku dalam perjalanan pulang dari Kediri ke Madiun.

Dalam perjalanan ke Madiun itulah, di dalam mobil aku menerima SMS dari seorang saudara jauhku. Dalam SMS-nya dia mengabarkan bahwa Shasa berhasil menduduki ranking 1 di kelasnya saat kenaikan kelas ini. Ya, Kamis tanggal 25 Juni 2009 kemarin adalah perpisahan untuk anak-anak kelas 6 dan pengumuman juara kelas murid-murid kelas 1 - 6. Kebetulan, saudara jauhku yang merupakan anggota paguyuban kelas diundang untuk menghadiri acara perpisahan itu. Waktu nama Shasa dipanggil maju ke atas panggung untuk menerima hadiah, dia langsung mengirimkan SMS buatku.

Alhamdulillah..., aku merasa lega karena Shasa telah berhasil dalam perjuangannya. Memang sejak Shasa kelas 3 ini, aku tidak terlalu terlibat dalam urusan belajarnya. Dulu sewaktu Shasa kelas 1 sampai kelas 2, aku sangat terlibat dalam kegiatan belajarnya. Aku bahkan mengetikkan soal-soal untuk dikerjakannya saat dia mau ulangan. Aku juga aktif dalam memberikan tebakan soal secara lisan untuknya. Hanya saja, "kejelekanku" adalah aku menginginkan Shasa bisa menjawab semua pertanyaanku (baik lisan maupun tertulis) dengan betul. Kalau sampai masih ada yang salah, aku cenderung mendorong dia untuk mempelajarinya lagi.

Sebenarnya aku tidak pernah menuntut Shasa untuk menjadi ranking 1 seperti sekarang. Selama ini Shasa juga sudah tahu bahwa aku hanya memintanya melakukan yang terbaik yang dia bisa. Bagiku, masuk 5 besar saja sudah bagus. Kalaupun aku sering memintanya untuk mampu menjawab semua pertanyaanku dengan betul, itu adalah keinginanku agar Shasa memiliki persiapan yang cukup. Sehingga sewaktu kelas 1 dan kelas 2, aku sudah bersyukur ketika Shasa mendapatkan ranking berfluktuasi dari posisi 3 sampai posisi 5.

Lama kelamaan aku menyadari bahwa caraku mempersiapkan Shasa menghadapi ujian sekolahnya tidak tepat. Aku merasa bahwa Shasa cukup stres dengan caraku seperti itu, karena terus terang saja, aku memperlakukan Shasa seperti aku memperlakukan diriku sendiri saat menghadapi ulangan sekolah bertahun-tahun yang lalu. Makanya, begitu Shasa naik kelas 3 aku mulai merubah caraku.

Aku melihat Shasa sudah mempunyai kesadaran sendiri untuk belajar. Tanpa perlu disuruh Shasa akan belajar dan mengerjakan PRnya sendiri. Hanya di saat menemui kesulitan, Shasa akan meminta tolong. Sehingga, saat menghadapi ulangan aku pun mulai melepasnya. Kuberikan tanggung jawab itu sepenuhnya pada Shasa, aku hanya mengawasi dan menemani. Dia kuijinkan belajar dan berhenti belajar sekehendak hatinya. Ternyata.., aku melihat Shasa cukup bertanggung jawab.

Hasilnya dari perubahan yang aku lakukan itu adalah, pada semester ganjil kemarin Shasa berhasil menduduki ranking 2 di kelasnya. Dan pada saat kenaikan kelas ini prestasi Shasa malah naik, ranking 1. Alhamdulillah..., sesuatu yang sebenarnya di luar dugaanku. Ternyata Shasa bisa membuktikan bahwa dia mampu melakukannya sendiri, dan aku hanya perlu mengawasi dan menemani.

Namun, satu hal yang aku syukuri adalah kelas Shasa adalah kelas yang dinamis. Selalu ada perubahan yang tak terduga di sana. Kalau aku amati, sejak kelas 1 sampai kelas 3 ini, anak-anak yang duduk di ranking 10 besar selalu berputar. Tak pernah statis. Itu menunjukkan bahwa tingkat kompetisi di kelas Shasa termasuk ketat juga.

Oleh karena itu aku mempersiapkan dan menasehati Shasa untuk menghadapi segala kemungkinan dengan lapang dada. Kalau saat ini ada di atas, jangan putus asa kalau lain kali ada di bawah. Karena semua berjuang dan berusaha dengan jujur untuk mendapatkan yang terbaik. Maka, siapa yang paling matang persiapannya pasti akan bisa mencapai puncak. Sementara yang sedang di bawah bukan berarti tidak pandai, namun persiapan dan usaha yang dilakukannya mungkin tidak sekeras yang bisa sampai di puncak.

Untuk saat ini Shasa mengerti apa yang aku nasehatkan padanya. Semoga saja dia tidak akan melupakan nasehatku itu dan tetap mampu berjuang dengan sportif meraih apa yang diimpilkannya. Amin.

Itu saja cerita yang tersisa yang kurasa perlu untuk kucatat di sini. Semoga selain bermanfaat bagiku, dapat bermanfaat juga bagi orang lain. Semoga...

Rutinitas perjalanan pagi

Kamis, 25 Juni 2009

22 catatan dari sahabat
Terkadang, aku melewatkan pagiku dengan ketergesaan. Diantara kesibukan rumah tangga pagi hari, aku juga harus mempersiapkan diri untuk ke kantor. Semua harus serba cepat, karena aku tidak ingin kami sampai terlambat di tujuan. Paling lambat, pukul 06.25 pagi kami sudah keluar dari rumah. Jadwal pertama, adalah mengantar Shasa ke sekolah dulu, kemudian baru aku menuju ke kantorku.

Dalam ketergesaan, aku tak mampu menikmati perjalanan pagiku. Apalagi kalau kami berangkat dari rumah sedikit terlambat dari jadwal, maka perjalanan akan menjadi lebih lambat. Karena di Madiun pun sudah mulai ada kemacetan, khususnya di pagi hari. Pada pagi hari khususnya, aktivitas mayoritas warga Kota Madiun adalah sama : berangkat beraktivitas. Sehingga.., terkumpullah kami di jalan-jalan yang ada di Kota Madiun dalam ketergesaan menuju tujuan masing-masing.

Dalam ketergesaan, semua ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tidak ada ruang bagiku untuk menikmati perjalanan pagi hari. Suara bising kendaraan, suara klakson bersahut-sahutan dan polusi yang dihasilkan dari kendaraan bermotor yang jumlahnya kian bertambah saja, benar-benar membuat perjalanan pagi sangat tidak nyaman.

Satu hal yang aku syukuri, Madiun bukanlah kota besar. Kalaupun kami berangkat sedikit lewat dari jadwal, kami masih bisa menempuh jarak yang ada dalam tenggang waktu yang singkat. Apalagi jarak yang harus kami tempuh dari rumah, ke sekolah Shasa dan ke kantorku tidaklah jauh. Sehingga aku pun masih bisa sampai kantor paling lambat pukul 06.50 WIB.

Terdorong keinginan untuk bisa menikmati perjalanan pagiku, maka aku cenderung untuk memilih berangkat lebih pagi. Apabila perjalanan pagi dapat kulewati tanpa ketergesaan, jalanan yang masih sepi dan asap knalpot yang masih sedikit, mampu membuatku leluasa menikmati perjalanan pagiku. Dan setiap hari Jum'at aku akan berangkat lebih pagi dari biasanya, karena pukul 06.30 di kantor sudah dilaksanakan Olah Raga bersama. Perjalanan Jumat pagi adalah perjalanan paling nyaman dari semua perjalanan pagiku, karena jalan-jalan masih sangat sepi.


Jalanan yang aku lewati setiap pagi saat masih sepi


Jalan di dekat kantorku berada

Dalam perjalanan pagiku tanpa ketergesaan, aku mampu menikmati setiap sudut kota yang aku lewati. Ternyata banyak tempat, banyak jalan yang aku lewati dengan rasa syukur. Madiunku tergolong bersih dan hijau dan melewati jalan-jalan yang bersih dari sampah dan kotoran di pagi hari, ternyata membuatku semakin berseri. Menyaksikan dan menikmati rindangnya pepohonan di sisi jalan, membuatku sadar bahwa betapa aku mencintai kota kelahiranku ini.

Semoga rutinitas perjalanan pagiku akan tetap memberikan kedamaian dan kenyamanan sampai aku tiba di tempat tujuan untuk memulai aktivitasku. Amin...

Istirahat sesaat

Rabu, 24 Juni 2009

23 catatan dari sahabat
Rutinitas kegiatan sehari-hari memang terkadang bisa menimbulkan kejenuhan. Berkutat dengan hal yang sama secara terus menerus mau tak mau akan menimbulkan kebosanan juga. Tinggal bagaimana kita mampu mengusir rasa bosan itu agar kita tetap memiliki semangat untuk terus berkarya.

Terus terang saja, beberapa saat yang lalu aku pernah merasakan bosan dan malas untuk beraktivitas, bahkan untuk menulis di blog inipun aku berat melakukannya. Padahal..., menulis di blog adalah salah satu kegiatan yang sebenarnya paling kusukai saat ini.

Berselimut kecewa

Selasa, 23 Juni 2009

24 catatan dari sahabat
Minggu pagi ketika aku sedang menyapu di depan rumah, aku melihat seseorang yang aku kenal di ujung jalan. Bu Gito namanya. Dia adalah penjual nasi pecel yang berkeliling dengan membawa sepeda. Setiap pagi dia selalu lewat di kompleks perumahanku untuk menjajakan nasi pecelnya. Sebenarnya, penjual nasi pecel keliling di kompleks perumahanku ada 2 orang, tapi aku dan keluarga lebih suka dengan pecel yang dijual Bu Gito.

Biasanya Bu Gito lewat di depan rumahku kurang lebih pukul 06.30 pagi, sayangnya pada jam-jam itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju tempat kami masing-masing beraktivitas. Sehingga hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja biasanya aku dapat bertemu dengan Bu Gito. Bahkan dulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi kami sekeluarga sering membeli pecel pada Bu Gito, tapi semenjak hampir setengah tahun ini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Semenjak Bu Gito selalu berusaha menghindar dariku.

Seperti yang aku duga, pada Minggu pagi itu Bu Gito kembali menghindar dariku. Meskipun aku yakin dia tadi melihatku sedang menyapu di depan rumah, ternyata dia memilih untuk berbelok ke gang yang ada di ujung jalan. Terhadap kenyataan ini, perasaan yang paling dominan aku rasakan adalah .... kekecewaan.

Sebenarnya semua berawal dari suatu permohonan yang disampaikan Bu Gito padaku, di suatu Sabtu pagi kurang lebih 6 bulan yang lalu. Setelah dia melayani pesanan nasi pecelku, dia menyampaikan permintaan hendak meminjam uang padaku. Uang yang ingin dipinjamnya tidak banyak sebenarnya, tapi dia mengatakan dia sedang sangat membutuhkannya. Saat itu dia berjanji untuk segera mengembalikan di awal bulan berikutnya setelah uang arisannya keluar. Akhirnya, aku mengambil uang untuk membayar nasi pecel yang kubeli sekaligus untuk memberikan pinjaman uang untuknya.

Ternyata, pada hari yang ditentukan, Bu Gito tidak muncul di rumahku untuk menepati janjinya. Dia juga tak tampak lagi lewat di depan rumahku, atau mungkin aku saja yang tidak tahu dia lewat, karena setiap Senin sampai Jumat aku sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Tapi ternyata, pada hari Sabtu dan Minggu pun dia tak tampak lewat di depan rumahku.

Baru kurang lebih 3 minggu kemudian aku melihat Bu Gito lewat di depan rumahku. Kebetulan aku melihatnya, maka aku memanggilnya. Bukan untuk menagih hutangnya, tapi untuk membeli nasi pecel seperti biasa. Pada saat itulah Bu Gito berkata padaku bahwa uang yang akan dibayarkan padaku terpaksa terpakai untuk keperluan lain. Selain itu Bu Gito juga menceritakan kepadaku bahwa hutangnya kepada tetanggaku yang lain (Bu Anna) juga belum bisa dilunasinya.

Itulah komunikasi terakhirku dengan Bu Gito, karena setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kalaupun dia berjualan di kompleks perumahanku, seperti kejadian Minggu pagi itu, dia akan berbalik arah ketika melihatku. Dia akan berusaha untuk menghindar dariku.

Terus terang aku kecewa dengan sikapnya. Aku tak hendak mempersoalkan uang yang dipinjamnya dariku, namun yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang tidak berterus terang dan sembunyi-sembunyi dariku. Seandainya saja pada hari yang telah dijanjikannya untuk membayar hutang padaku itu dia datang dan menjelaskan kerepotannya, aku malah akan dengan senang hati membantunya. Sayang sekali, justru pada hari itu dia tak datang dan tidak memberikan penjelasan apa-apa ataupun untuk minta maaf.

Pada pertemuan terakhirku dengan Bu Gito itupun tidak ada kata maaf yang diucapkannya karena tak sanggup menepati janjinya. Dia malah lebih sibuk menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya seolah mencari pemakluman dariku atas ketidakmampuannya melunasi hutang pada saat yang telah dijanjikannya.

Sebenarnya setelah pertemuan terakhirku dengannya, aku sudah mengikhlaskan uang itu. Aku tidak berharap bahwa uang itu akan kembali. Namun, ternyata Bu Gito masih saja dengan sengaja menghindar dariku dan aku tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.

Yang aku sayangkan, gara-gara hutang piutang, suatu hubungan yang dulunya telah terjalin baik menjadi rusak. Sudah banyak contoh kasusnya, malah ada yang persaudaraannya menjadi berantakan. Pihak yang memberikan hutang seringkali serba salah dalam menagih uangnya kepada saudara sendiri. Pihak yang berhutang seringkali merasa sakit hati kalau terus-menerus ditagih. Akhirnya..., kedua belah pihak memilih saling menjauh... dan hubungan persaudaraan jadi terputus.

Meskipun aku sudah tak menghrapkan uang itu kembali, tapi aku masih diselimuti rasa kecewa dengan sikapnya yang tidak mau jujur dan terbuka. Salahkah aku memiliki perasaan seperti itu... ? Bagaimana menurutmu, kawan ?

*) Keterangan : gambar diambil dari sini

No One's Perfect : Cinta dan penerimaan

Minggu, 21 Juni 2009

31 catatan dari sahabat
Buku No One's Perfect aku dapatkan saat di Madiun ada Pameran buku awal Juni 2009 yang lalu di tempat buku-buku yang diobral. Aku beruntung menemukan buku yang hebat ini. Melalui buku ini aku mendapatkan semangat dan inspirasi untuk lebih mensyukuri hidupku.

Buku No One's Perfect menceritakan kehidupan Hirotada Ototake. Oto-chan, begitulah dia biasa disapa, lahir pada tanggal 6 April 1976. Mulanya sang ayah berusaha menyembunyikan kenyataan dari istrinya bahwa anak mereka terlahir dalam kondisi Tetra-Melia, yaitu sebuah kelainan bawaan yang membuatnya hampir tak memiliki tangan dan kaki. Setelah 3 minggu sejak Oto-chan dilahirkan, akhirnya sang ibu diberi kesempatan untuk melihat bayinya untuk pertama kalinya.

Pada saat itu suasana di rumah sakit sangat tegang menunggu apa yang terjadi jika sang ibu melihat kondisi bayinya. Namun yang terjadi kemudian ternyata di luar dugaan, karena begitu melihat kondisi bayinya sang ibu berkata dengan sangat tulus : "Anakku, kamu sangat tampan".

Cinta dan penerimaan yang tulus dari kedua orang tuanya membuat Oto-chan tumbuh dan berkembang seperti layaknya orang normal. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Beberapa kali mereka memutuskan untuk pindah rumah, agar jarak dari rumah dengan sekolah Oto-chan tidak terlalu jauh. Selain itu, mereka juga tidak memasukkan anak mereka ke sekolah khusus bagi penyandang cacat. Mereka menganggap anaknya tidak memerlukan pendidikan khusus yang berbeda dari anak-anak normal lainnya.

Tentu saja keinginan orang tua Oto-chan itu tidak mudah, karena pada saat itu sekolah umum yang ada di Jepang tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat. Bahkan agar anaknya bisa bersekolah di sekolah umum, mereka memutuskan menemui Dewan Pendidikan Sekolah. Setelah Dewan Pendidikan Sekolah melihat sendiri kemampuan Oto-chan dalam menulis, makan dengan menggunakan sendok/garpu, menggunting kertas bahkan berjalan, akhirnya dia diijinkan masuk ke sekolah umum.

Sejak masuk sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak, kehadiran Oto-chan di sekolah selalu menarik perhatian teman-temannya. Anak-anak itu dengan lugu dan polos akan bertanya kepadanya mengapa dia tak memiliki tangan dan kaki. Hal tersebut tidak membuat dirinya dan ibunya menjadi bersedih hati. Bahkan, ibunya dengan tenang akan berkata, "Itu adalah masalah yang harus dipecahkannya sendiri." Sehingga, Oto-chan akan dengan senang hati menceritakan kepada teman-temannya mengapa dia terlahir tanpa tangan dan kaki.

Untuk pendidikan di sekolah, orang tua Oto-chan menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pihak sekolah dan tidak ikut campur sama sekali. Sensei Takagi adalah guru SD yang membuat banyak kebijakan yang awalnya dianggap keterlaluan dan kejam bagi Oto-chan. Seperti tidak diperkenankan menggunakan kursi roda tanpa seijinnya, melarang murid lain memberikan bantuan apapun pada Oto-chan, dan masih banyak lagi.

"Sekarang kita dapat saja memanjakannya sekehendak kita, tapi suatu saat dia harus menghadapi semuanya sendirian. Tujuan saya adalah untuk mempersiapkan apa yang dia perlukan sekarang sebagai bekal dia di masa datang." (Alasan Sensei Takagi atas sikapnya yang keras pada Oto-chan, halaman 22)
Oto-chan memang berkembang dan berperilaku seperti anak normal lainnya. Dia sama sekali tak pernah berpikir bahwa dirinya cacat, selain itu teman-temannya juga seringkali "lupa" bahwa dia cacat. Semua menganggapnya sama normalnya dengan anak-anak lainnya. Mereka berkelahi (secara fisik), bermain, beraktivitas dan bahkan mengikuti lomba olah raga bersama.

Seringkali kehadiran Oto-chan mampu memberikan motivasi bagi teman-temannya untuk selalu berbuat baik. Bahkan salah satu gurunya pernah berkata bahwa karena keberadaannya, maka kelas menjadi sangat peduli kepada sesama, dimana setiap orang saling membantu tatkala ada teman yang menderita kesusahan.

Perjuangan Oto-chan memang hebat. Dia tidak pernah merasa memiliki keterbatasan dan sangat bersemangat menjalani hidupnya. Semua itu berkat penerimaan yang tulus dan cinta yang tanpa syarat yang diterimanya dari lingkungannya. Orang tua yang hebat, guru, teman-teman dan lingkungan sekolah yang mendukung semuanya membuat Oto-chan benar-benar "normal" seperti orang normal lainnya.

Semenjak kuliah di Universitas Waseda, Jepang, Oto-chan terlibat dalam kampanye tentang lingkungan "Bebas Rintangan".
Sampai sekarang pun Oto-chan tetap melanjutkan apa yang menjadi prinsipnya yaitu menegakkan sebuah lingkungan "bebas rintangan" bagi orang lain, baik dalam lingkungan pemerintahan, media dan di hadapan orang-orang yang dia temui.

Kegiatan tersebut berawal pada suatu hari yang dianggap sebagai titik balik dalam kehidupan Oto-chan. Suatu malam, di usianya yang ke-20 tahun, dia baru memikirkan mengapa dia terlahir cacat. Dalam benaknya kemudian muncul kesadaran bahwa mungkin dia dilahirkan dengan kondisi seperti itu untuk menyelesaikan suatu tugas yang akan terjadi di kemudian hari. Dan, berkat pemikiran itulah, dia kemudian lebih memfokuskan diri untuk mengasah potensi yang ada dalam dirinya agar lebih berguna bagi orang lain.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Cinta dan penerimaan yang tulus dan tanpa syarat memberikan dampak yang sangat luar biasa pada pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
  • Mampu menerima diri sendiri adalah modal utama untuk hidup bahagia dan berkembang optimal.
  • Setiap orang terlahir dengan memiliki kelebihan dan perannya sendiri, karena tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia.
Penulis : Hirotada Ototake
Kategori : Non Fiksi ~ Kisah Nyata
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Th. Terbit : 2007 (cetakan III)
Tebal : 230 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 10.000 (obral)

Ketika blank ide

Sabtu, 20 Juni 2009

44 catatan dari sahabat
Hal yang menyebalkan bagi seorang blogger adalah ketika blank ide. Di saat semangat untuk menulis blog sedang menggebu, tapi ternyata tak tahu harus menulis apa karena blank ide. Untuk seorang blogger, ide adalah modal utama.

Itu sebabnya, di beberapa blog banyak menuliskan tentang tips agar seorang blogger tak sampai blank ide. Sebenarnya ide menulis yang paling mudah didapat dari kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa aku lebih sering memilih untuk menuliskan kejadian-kejadian yang aku alami dan aku pikirkan sehari-hari.

Memang untuk mengisi blog yang dimiliki, seseorang menggunakan berbagai cara yang berbeda. Ada yang lebih suka mengisi blog dengan hasil karya sendiri, tapi ada juga yang mengisi blog dengan meng-copy paste-kan hasil karya orang lain. Untuk masalah copy paste, menurutku sih sah-sah saja asalkan diketahui dan mendapatkan ijin dari penulis aslinya.

Memang sih, ada beberapa penulis yang rela begitu saja kalau tulisannya dicopy paste tanpa harus meminta ijin terlebih dulu kepadanya. Tapi bila seseorang meng-copy paste tulisan orang lain secara utuh, maka sebagai warga blogger yang baik, memang seharusnya meminta ijin terlebih dahulu. Dan, akan lebih baik lagi kalau di awal atau di akhir tulisan disebutkan dari siapa tulisan tersebut diperoleh.

Pada saat aku blank ide, itulah kesempatanku untuk memposting award-award dari para sahabat. Dulu waktu pertama-tama menerima award, aku langsung memajangnya dalam postingan, karena kalau aku tunda-tunda takut malah jadi lupa. Tapi lama kelamaan, aku cenderung mengumpulkannya terlebih dahulu, kemudian aku posting sekaligus.

Seperti kali ini, aku akan memposting beberapa award dari para sahabat. Terima kasih semuanya atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan kepadaku sehingga membuatku semaking bersemangat untuk menulis di blog ini.

Award yang pertama aku terima dari : mas Agoez3. Sebagai upaya untuk mengeratkan tali silaturahim mas Agoez3 membagi beberapa award. Untukku diberikan sebuah award dengan peraturan yaitu "Untuk menerima award ini, blog sobat harus memiliki design dan isi yang bagus, memposting ilmu-ilmu baru yang bermanfaat, penuh gaya." Terima kasih awardnya mas, aku sangat tersanjung menerimanya. Award ini akan aku teruskan kepada : Marcellino Agatha, Mbak Fanda (Sungai Hidup), mbak Penny, mbak Fanny, Jonk, Sang Petualang dan Itik Bali.

Award kedua dari Sang Petualang. Lewat shoutmix, Sang Petualang menuliskan
  • Sang Petualang halo...met malam...ada award buat mbak reni...mohon diterima ya (jika berkenan)...thanks ya...Salam Lestari... (2009-06-20 3:46 AM)
Terimakasih sekali untuk Sang Petualang atas awardnya yang sangat spesial ini. Ohya, award ini aku terima dari tangan pertama, maksudnya.. award ini adalah hasil karya Sang Petualang. Award ini akan aku teruskan kepada : Mbak Kuyus, Mbak Elly, Attayaya, Mbak Narti dan Wisata Riau.

Selanjutnya adalah 2 buah award yang aku dapatkan dari Mbak Narti. Terima kasih Mbak Narti untuk award-awardnya. Kedua award yang aku borong dari Qatar ini adalah sebagai berikut :

Award pertama dari Mbak Narti yang bergambar hati ini aku bagikan lagi kepada sahabat-sahabat sebagai berikut :
Jeng Sri, Mbak Anazkia, Henny Y. Caprestya, Mbak Ajeng, Natazya, Mbak Irma, Mbak Dwina, Bintang (My World). Semoga semua suka menerima award yang cantik ini ya...

Award kedua dari Mbak Narti yang berwarna hitam ini akan aku bagikan lagi kepada : Mas Yudie, Bang Budiawan, Bang Eri Communicator, Bang Seti@wan, Awal Sholeh, Tukang Komen, Buwel dan Agoez3. Sengaja dipilih para blogger pria yang menerimanya karena award ini terkesan maskulin.

Ada satu lagi award khusus, yang aku dapatkan dari Bang Seti@wan. Award ini sebenarnya diberikan kepada siapa saja yang telah memberikan komentar atas postingannya tentang "funny jokes monkeys sms". Award yang lucu ini tidak akan aku bagikan kepada sahabat-sahabat yang lain, karena bagi sahabat-sahabat yang menginginkan award lucu ini bisa langsung mengambil di blognya Bang Seti@awan.

Nah.., selesai sudah acara bagi-bagi awardnya. Semoga lain kali aku masih berkesempatan bagi-bagi lagi untuk sahabat-sahabat yang lain. Bye for now...

Blog, blog dan blog...

Jumat, 19 Juni 2009

32 catatan dari sahabat
Beberapa saat yang lalu aku posting "candu itu bernama facebook...". Walaupun aku tidak termasuk dalam kategori yang kecanduan facebook..., tapi bukan berarti aku tidak kena candu sama sekali. Ternyata oh ternyata..., aku terkena candu yang bernama blog, saudara-saudara!!

Aku akui bahwa aku sudah addicted banget dengan blog. Sehtiap hari selalu meluangkan waktu untuk buka blog. Ada yang kurang kalau belum posting, ada yang aneh bila belum blogwalking, terasa belum lengkap bila belum jawab komentar dan shoutmix yang masuk. Blog.., blog... dan blog... itu yang tiap kali aku inginkan. Hehehe... *tersipu malu*

Kalau melihat kondisi yang ada sekarang, aku benar-benar sangat takjub dengan "pencapaianku" selama ini. Karena terus terang saja (janji ya, jangan diketawakan)..., dulu waktu aku kenal internet tahun 2007 yang lalu (telat banget ya?!) yang sering menjadi "tujuanku" adalah google dan yahoo.

Kemudian..., aku sering baca-baca di multiply. Sungguh.., saat itu aku sangat heran, bagaimana seseorang bisa mempublikasikan tulisannya via internet dan bisa dibaca semua orang !! Apalagi bukan hanya tulisan yang ada, tapi ada juga foto dan lain-lainnya yang kala itu membuatku sangat takjub. Olala... sungguh saat itu aku heran luar biasa hehehe...

Selanjutnya, entah apa mulanya, kok tiba-tiba aku nyasar ke blogger. Akhirnya step by step aku ikuti petunjuk yang ada. Ternyata..., jadilah blog pertamaku. Duh, senang sekali rasanya. Tapi setelah aku coba utak-atik untuk menambah asesoris dan mengganti template, ternyata blog-ku bukan bertambah bagus tapi... malah kacau balau. Hikss...

Untung saja, isinya belum banyak. So, aku putuskan untuk membuat blog baru lagi. Meskipun begitu, berkali-kali aku coba ganti template tidak berhasil, sampai akhirnya aku nyasar ke blognya mbak Kuyus. Dari rekomendasi mbak Kuyus, ada sebuah template yang aku langsung jatuh cinta begitu melihatnya. Maka aku langsung coba memakainya, dan herannya... kali ini langsung berhasil. Senang sekali hatiku... Dan template itu aku pakai sampai sekarang.

Lewat bantuan mbak Kuyus pula, aku sedikit demi sedikit mempercantik blogku. Dalam perjalanan waktu, Marcellino Agatha ikut pula membantuku. Seringkali di saat blogku mengalami masalah, aku meminta bantuannya. Alhamdulillah..., kini aku cukup puas dengan penampilan blogku. Blog ini adalah lompatan luar biasa dalam hidupku hehehe...

Satu hal yang tak aku duga sebelumnya adalah, aku kemudian jadi sangat addicted dengan blog ! Ternyata ngeblog itu asyik... Ternyata ngeblog bisa membuatku senang karena aku bisa menjadi diriku sendiri. Oleh sebab itu..., di saat aku tidak mempunyai banyak waktu untuk ngeblog, seperti yang terjadi beberapa hari ini, terasa ada yang kurang lengkap. Terasa ada yang hilang...

Dahulu sih di kantor aku masih bisa mengakses blogspot. Namun karena akses ke blogger diblokir oleh kantor, maka aku dulu hanya bisa meninggalkan jejak di kotak shoutmix dan tidak bisa menulis komentar di blog. Sehingga, baru setelah aku ada di rumah, aku bisa memuaskan diri untuk ngeblog.

Sayang sekali, sejak kurang lebih sebulan ini, yang diblokir di kantor bukan hanya akses ke blogger saja, tapi juga ke blogspot. So.., aku sekarang tidak bisa menyempatkan waktu mengintip blog sahabat-sahabat di kantor dan kalau ada kelonggaran waktu aku tidak bisa baca-baca blog sahabat. Semua baru bisa aku lakukan di rumah, padahal... waktuku di rumah pun terbatas.

Jadi begitulah..., aku sekarang merasa kewalahan mengatasi kecanduanku akan blog ini. Ternyata..., menghilangkan kecanduan emang tidak mudah ya... ?? *pasrah mode on* Kira-kira ada tidak ya yang bisa membantuku.... ?

Hari Bahagia dan Pernikahan

Rabu, 17 Juni 2009

34 catatan dari sahabat
Pernikahan adalah hari istimewa, hari bahagia yang tak akan terlupakan. Tidak saja bagi yang melangsungkan penikahan, namun juga bagi keluarga, saudara, sahabat dan juga orang-orang di sekitarnya. Bisa dikatakan, yang menghadiri acara pernikahan pasti ikut merasakan kebahagiaan itu.

Dan.., rasa itulah yang aku rasakan pada hari ini. Pernikahan pertama yang kuhadiri adalah pernikahan sepupu jauhku. Meskipun lokasi pernikahannya dilangsungkan di Ponorogo, aku meluangkan waktu untuk bisa datang. Apalagi Ponorogo tidak terlalu jauh dari Madiun, maka aku pun hadir di sana. Aku ingin menambah kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh sepupu jauhku. Siapapun yang punya hajat, pasti berharap undangan dan saudara-saudaranya bisa datang untuk melengkapi kebahagiaan mereka bukan ?

Aku dan Puisi

Senin, 15 Juni 2009

35 catatan dari sahabat
Sejak dulu, aku suka sekali puisi. Aku kagum dengan keindahan bahasa dan kekuatan kata dalam sebuah puisi yang mampu menyampaikan suatu kisah dan cerita. Aku sungguh kagum dengan kemampuan seorang penyair yang mampu menggunakan sedikit kata / kalimat untuk mengungkapkan sesuatu.

Sejak dulu, aku suka sekali membaca puisi. Aku sering membaca puisi untuk diriku sendiri. Aku memang tak cukup Percaya Diri untuk melakukannya di depan orang lain. Meski aku sangat suka puisi, aku tak tahu bagaimana cara membaca puisi atau berdeklamasi dengan baik. Selama ini aku membacanya hanya mengikuti penalaranku saja tentang apa yang terdapat dalam puisi itu.

Sejak dulu, aku ingin sekali bisa menulis puisi. Tapi..., ternyata aku tak pernah berhasil menulis sebuah puisi yang indah dan sarat makna. Bagiku sangat sulit untuk mengekspresikan diri hanya lewat beberapa baris kalimat. Lebih mudah bagiku menceritakannya lewat kalimat yang panjang dan cerita yang lengkap.

Mungkin aku memang lebih "sreg" kalau menyampaikan sesuatu secara detail dan panjang lebar. Melalui rentetan kata-kata yang panjang, ternyata aku merasa lebih mengena. Sementara dalam puisi, seseorang dituntut untuk tidak menggunakan terlalu banyak kata dan kalimat, tapi mampu menyampaikan isinya. Nah, berat kan ?

Terus terang, saat aku membaca puisi yang indah dari blog beberapa sahabat, aku iri juga lho. Ingin sekali aku bisa membuat puisi seindah hasil karya sahabat semua. Tapi meskipun aku telah mencoba beberapa kali, ternyata hasilnya jauh dari kata mengesankan.... Akhirnya, dengan menyadari kemampuan yang aku miliki, maka aku tak lagi ngotot untuk bisa menulis puisi yang indah. Cukuplah dengan menikmati puisi, aku bisa merasakan bahagia.

Banyak penyair yang aku suka. Aku suka dengan Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Toto Sudarto Bachtiar, WS Rendra dan seorang penyair muda yaitu Abdurrahman Faiz. Menurutku, mereka mampu menyampaikan isi hai dengan sangat indah. Meskipun ada juga penyair lainnya yang beberapa karyanya aku suka.

Sebagai penutup aku ingin menuliskan salah satu puisi WS Rendra yang sangat aku suka, yang berjudul : Sajak Joki Tobing untuk Widuri. Menurutku sih puisi ini indah sekali...

SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI
Oleh : W.S. Rendra

Dengan latar belakang gubug-gubug karton,
aku terkenang akan wajahmu.
Di atas debu kemiskinan,
aku berdiri menghadapmu.
Usaplah wajahku, Widuri.
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran.
Ciliwung keruh,
wajah-wajah nelayan keruh,
lalu muncullah rambutmu yang berkibaran
Kemiskinan dan kelaparan,
membangkitkan keangkuhanku.
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku.

Jakarta, 9 Mei 1977

Kreativitas

Minggu, 14 Juni 2009

42 catatan dari sahabat
Dalam Wikipedia disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Seseorang yang kreatif akan mampu untuk selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, yang biasanya tidak dilihat oleh orang lain.

Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Oleh karena itu, biasanya orang yang kreatif cenderung lebih mampu keluar dari suatu permasalahan lebih cepat daripada orang lain. Orang yang kreatif juga mampu melihat setiap peluang yang ada.

Untuk menjadi kreatif, seseorang tidak dapat melakukannya begitu saja. Ada proses yang harus dilalui. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan. Tahap yang biasa dilalui dalam suatu kreativitas yaitu :
  1. menyelidiki (peluang) : proses mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan. Jika jawaban atas suatu pertanyaan telah didapat maka proses kreativitas sudah dimulai.
  2. menemukan (ide-ide) : proses melihat dan menilai berbagai teknik dan metode yang mungkin dapat membantu dalam menyelesaikan masalah, tanpa menggunakan cara berpikir yang traditional.
  3. memilih (ide yang paling berpeluang) : proses untuk mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
  4. melaksanakan : bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan.

Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, untuk menadapatkan hasil yang lebih baik di segala hal, kreativitas sangat penting dan orang yang kreatif sangat dibutuhkan.

Membicarakan masalah kreativitas, aku melihat bahwa dalam dunia blogger banyak sekali orang-orang yang memiliki krativitas tinggi. Melalui beragam blog yang ada, aku melihat beragam isi (tema yang diangkat, gaya penulisan, cara pandang dalam melihat suatu masalah) dan penampilan blog (template dan widget). Semuanya memberiku banyak sekali ilmu dan pemahaman yang baru akan sesuatu hal.

Selain itu, yang marak terjadi antara sesama blogger adalah ... award. Untuk memajang award dalam sebuah blog, terlihat sekali perbedaannya. Ada yang suka memasukkannya dalam postingan (seperti aku hehehe), ada yang lebih suka menyimpannya dalam sidebar (aku juga melakukannya), dan ada juga yang menyimpannya di tab menu atau di tempat/blog yang terpisah.

Mengenai award ini, aku juga melihat kreativitas yang berbeda-beda. Kretivitas pembuat award benar-benar kuacungi jempol. Aku pernah beberapa kali menerima award langsung dari pembuatnya. Award spesial seperti itu, yang aku terima langsung dari si pembuatnya, antara lain dari : ac3nk, Marcellino Agatha, mas Ari (Metungkul), Adrianz, Agus Fauzi (Sahabat Pena), Mbak Elly (Newsoul), Seti@wan Dirgantara (Fatamorgana) (yang telah 2 kali membagikan award buatan sendiri), dan terakhir mbak Anazkia.

Dan.., yang terbaru aku menerima 3 buah award lagi, yang terdiri dari 2 buah award baru dan 1 buah award lama. Aku tentu saja senang menerima pemberian ini. Semua award, baik yang baru maupun yang lama, aku terima dengan senang hati. Terima kasih telah membagikan awardnya untukku. Inilah ketiga award itu...

Award yang didesain sendiri olehHenny ini terinspirasi oleh Kue Ulang Tahun. Award ini cantik sekali, secantik orangnya yang pinter sekali memasak. Terima kasih banyak, Hen... Untuk award yang cantik ini aku ingin membagikan dengan mbak Narti, mbak Dwina, mbak Anazkia, mbak Fanda, mbak Sinta, mbak Irma, mbak Elly, mbak Kuyus dan Shasa Imutz.

Selanjutnya adalah award spesial yang dibuat olehKang Dwi ini menggotong tema persahabatan. Terima kasih Kang Dwi... Meskipun penerima award ini tidak dibebani dengan kewajiban untuk memajang award tersebut pada posting khusus, tapi aku suka sekali memajangnya. Tapi karena pesan Kang Dwi bahwa award ini tidak untuk di bagikan kepada siapapun, maka kali ini award ini akan kusimpan untukku sendiri.

Yang terakhir adalah award darinotnine. Meskipun aku sudah pernah menerimanya, aku tetap suka menerimanya. Terima kasih Notnine.... Kali ini award ini akan aku bagikan lagi kepada : Rizky, Rangga, Dunia Polar, Cahyadi, Kir31 dan Ajie. Semoga diterima dengan senang hati ya...

Semoga award-award ini membuatku dan sahabat-sahabat lainnya lebih kreatif lagi dalam berkarya. Semangat...!!

Menikmati hobi baru

Sabtu, 13 Juni 2009

30 catatan dari sahabat
Hobby adalah sesuatu yang sangat disukai dan sangat mengasyikkan untuk dikerjakan. Seseorang yang menjalankan hobbynya pasti akan merasa hidup terasa menyenangkan, sehingga tanpa disadari waktu berlalu dengan sangat cepat. Karena orang bisa sangat bahagia dengan hobbynya, maka hobby seringkali dijadikan sebagai kegiatan rekreasi untuk menenangkan pikiran seseorang.

Mengerjakan hobby memang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan lagi jika dari suatu hobby seseorang bisa mendapatkan penghasilan. Meskipun tak mendatangkan uang, tapi jika hobby tersebut mendapat apresiasi yang positif dari orang lain tentu saja tetap menggembirakan. Seperti hobbyku menulis dalam blog ini. Apresiasi dari sahabat-sahabat semua telah membuatku semakin menikmati hobby ini.

Dulu, waktu kecil aku punya hobby membaca, berkorespondensi (sampai punya banyak sahabat pena) dan filateli (koleksi perangko). Seiring dengan berjalannya waktu, korespondensi sudah tidak menarik lagi, karena aku lebih suka berkomunikasi lewat telepon, sms, email dan chatting. Sedangkan aku juga sudah tak memiliki banyak waktu untuk mengurus koleksi perangko yang aku miliki. Sehingga tinggal hobby membacaku yang tetap aku jalani dengan sepenuh hati.

Semenjak akhir tahun 2008 kemarin, aku mempunyai hobby baru yang tak kalah mengasyikkan dari membaca yaitu : ngeblog ! Ternyata lebih dari yang aku bayangkan, ngeblog bisa membuatku sangat rileks dan senang. Menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan ternyata bisa membuat lega luar biasa.

Selain itu, hobby-ku sejak awal tahun 2oo9 bertambah lagi. Hobby "terbaru"-ku yaitu hunting buku-buku yang bagus dan murah !! Setiap kali berhasil mendapatkan buku yang jauh lebih murah daripada harga jual di toko, rasanya bahagia sekali. Soalnya selama ini, aku bisa mendapatkan buku murah hanya kalau titip teman yang ada di kota besar. Sekarang, setelah aku bisa hunting sendiri ... ternyata rasanya luar biasa !! Sampai-sampai jadi ketagihan.

Makanya waktu bulan Maret 2009 yang lalu di Kota Madiun ada pameran buku, aku tak mau menyia-nyiakannya. Apalagi setelah di Madiun ada toko buku yang menjual buku dengan harga diskon, aku jadi semakin rajin saja menengok kesana untuk cari-cari buku murah. Kalau sudah melihat buku bagus yang harganya murah..., tanpa pikir panjang aku langsung ambil.

Kabar terbaru, mulai tanggal 6 Juni sampai dengan 14 Juni 2009, ada pameran buku lagi di Kota Madiun. Alhamdulillah..., selama tahun 2009 ini di Kota Madiun sudah ada 2 kali pameran buku. Memang tidak besar, tapi sudah lebih dari cukup karena buku-buku dijual dengan diskon 10-20%. Sementara itu, banyak juga buku-buku yang diobral. Seperti sebelumnya, aku dan Shasa jadi lapar mata melihat tumpukan buku yang murah itu.


Spanduk pameran yang terpajang dekat sekolah Shasa


Pintu gerbang menuju tempat tempat pameran


Buku-buku yang berhasil kami bawa pulang

Maka, setelah keluar dari arena pameran buku itu, kami membawa serta beberapa kantong plastik berisi banyak buku. Sejujurnya, yang memborong banyak buku obral adalah Shasa. Kebetulan buku cerita untuk anak-anak, seperti yang biasa terdapat di perpustakaan-perpustakaan, dijual dengan harga hanya Rp. 3.000,- Sehingga Shasa benar-benar tak dapat membendung hasratnya untuk membeli sebanyak mungkin yang dia mampu.

Sementara aku sendiri, hanya dapat 4 buah buku. Dan, untuk kali ini ayahnya mengalah tak mendapatkan sebuah buku pun. Soalnya, tak satupun buku yang ada menarik minatnya.

Kapan lagi ya aku bisa menjalankan hobby-ku hunting buku murah ini ? *ngarep banget*

Sekali tepuk dua lalat

Kamis, 11 Juni 2009

30 catatan dari sahabat
Sekali tepuk dua lalat... pasti akan terasa "hebat" sekali. Untuk bisa menepuk seekor lalat saja susahnya minta ampun, tapi ini... sekali tepuk bisa dapat dua lalat sekaligus ! Hebat bukan ? Dan yang telah melakukannya adalah... aku !!

Tapi tunggu dulu.., aku bukan sedang menepuk lalat betulan kok. Hehehe... Yang aku maksud dengan "Sekali tepuk dua lalat" adalah suatu peribahasa yang memiliki arti sama dengan peribahasa : "sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampuai". Adapun artinya adalah satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (atau keuntungan) sekaligus.

Memanfaatkan barang lama

36 catatan dari sahabat
Catatanku kali ini masih ada sambungannya dengan postingan terdahuluku, yaitu : Ayo bicara tentang sampah..... Menurut Dr. Tandjung, M.Sc. (1982), sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula. Sedangkan dalam Istilah Lingkungan untuk Manajeman, Ecolink (1996) sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

Berdasar uraian di atas, maka salah satu cara untuk mengurangi sampah adalah membuatnya menjadi berguna dan memiliki nilai ekonomis. Untuk tujuan itu memang diperlukan adanya kreativitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah menyulap sampah-sampah organik menjadi kompos. Ada juga yang telah menyulap kulit kacang tanah, kulit telur, kertas-kertas bekas menjadi barang-barang kerajinan tangan yang bernilai tinggi.


Ayo bicara tentang sampah...

Rabu, 10 Juni 2009

34 catatan dari sahabat
Membicarakan sampah memang tidak menyenangkan. Baru membayangkannya saja sudah membuat tidak nyaman. Namun, aku kali ini ingin sekali bicara tentang sampah. Meskipun kata suamiku tidak penting, tapi entah mengapa aku "perhatian" sekali dengan sampah. Kebetulan juga, di lingkungan RT dan RW di kompleks perumahanku, aku menjadi pengurus iuran untuk petugas pemungut sampah (jabatan yang tepat kurasa hehehe...).

Sampah kian hari kian menjadi masalah di beberapa kota besar. Bukan hanya volume sampah yang makin besar, tapi menentukan lokasi untuk TPA (Tempat Pembuangan Akhir) memang tidak semudah yang dibayangkan. Pada saat ini, mencari lahan yang luas untuk TPA juga tidak mudah. Kalaupun lahan sudah ada, belum tentu penduduk sekitar setuju apabila lokasi di dekat tempat tinggalnya dijadikan TPA.

Catatan kehidupan

Senin, 08 Juni 2009

31 catatan dari sahabat
Jauh sudah kita menapaki hidup. Tak terhitung banyaknya pengalaman yang kita dapatkan. Berbagai pelajaran kehidupan telah kita rasakan. Ada yang manis, namun tak sedikit yang pahit. Semuanya telah diatur-Nya dengan sangat indah bagi kita, sehingga mampu menjadikan kita seperti saat ini.


Setiap orang menyikapi perjalanan hidupnya berbeda-beda. Ada yang menerimanya tanpa perlu memikirkannya, namun tak jarang ada yang menikmatinya dengan penuh kesadaran. Di sisi lain, tak sedikit yang berontak dan tidak menerima perjalanan hidupnya dengan lapang dada. Semua punya cara masing-masing menjalani kehidupannya, namun tak ada yang mampu mengelak dari rencana-Nya.

Sementara aku, aku adalah manusia yang masih dalam taraf berlajar menyikapi hidup dengan lebih bijaksana. Aku masih berusaha menyikapi hidup selalu dalam rasa syukur. Meski tak jarang, di saat terjatuh, tak urung aku berat untuk mengucap syukur. Namun seiring berjalannya waktu, baru aku sadari bahwa ternyata rencana-Nya untukku memang sungguh indah.

Berbekal kesadaran itulah, aku ingin membuat catatan kehidupanku. Tujuanku adalah agar aku bisa belajar kembali dari sejarah perjalanan hidupku. Bukan berarti aku harus selalu menengok ke belakang, bukan pula aku tak ingin maju ke depan. Melainkan agar aku punya "bahan" untuk mengigatkanku atas semua pelajaran berharga yang pernah aku miliki. Agar aku tak lupa bahwa pada suatu waktu aku pernah mempunyai pengalaman hidup yang bermanfaat untuk membuatku menjadi jauh lebih baik lagi.

Sementara pengalaman pahit bagiku tak layak untuk dilupakan begitu saja. Setidaknya, dengan memiliki catatan itu, aku bisa mengingatnya untuk tidak mengulangi pengalaman pahit yang serupa. Berbekal pengalaman pahit itu, aku yakin aku bisa melangkah jauh lebih kuat.

Itulah mengapa..., aku memutuskan untuk memiliki catatan kecil di sini. Catatan yang lebih banyak bercerita tentang duniaku, sekitarku, pikiranku, perasaanku dan semua yang menyangkut tentang aku. Catatan yang ternyata membuatku semakin bergairah untuk belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan.

Sekarang untuk memiliki sebuah catatan tak lagi harus dengan menulis.Bagiku, keberadaan komputer dan internet ternyata mampu menggugah lagi semangatku untuk memiliki catatan kehidupan itu. Catatan yang bisa aku bentuk semauku, sesuka hatiku, hingga aku nyaman berlama-lama menuliskan segala hal tentang aku dan sekitarku.

Dulu, aku suka sekali menulis perjalanan hidupku dalam diary. Aku ingat sekali, diary pertama yang aku miliki sangat indah. Diary itu bergambar hati, berwarna coklat muda, berbau sangat harum dan ada kuncinya. Diary istimewa itu aku miliki saat aku kelas 1 SMP sebagai hadiah ulang tahun dari mas Judhanto. Ya..., mas Judhanto (kini suamiku) adalah teman sekelasku waktu aku SMP dulu.

Berawal dari itulah aku suka mencatat semua perjalanan hidupku. Namun, seiring dengan kesibukanku aktivitas menulisku jadi semakin menurun. Apalagi setelah aku menikah dan punya anak, rasanya enggan sekali menggerakkan tangan untuk memegang pena. Karena keengganan menulis itulah, aku sempat tak memiliki catatan kehidupan selama beberapa lama.

Namun, sejak aku mengenal internet dan blog, aku serasa menemukan duniaku yang pernah hilang dulu. Aku kini bisa memiliki lagi catatan kehidupanku. Meskipun sempat terputus selama sekian lama, tak mengapa, setidaknya aku telah bisa kembali belajar dari pengalaman hidupku sendiri.

Akan lebih menyenangkan apabila Shasa-ku dapat juga belajar dari perjalanan hidup yang aku jalani. Dan untuk teman-teman semua, yang telah membuatku semakin bersemangat memiliki catatan kehidupan ini, hanya ucapan terima kasih yang bisa aku berikan.

Belajar dari kasus Ibu Prita Mulyasari

Minggu, 07 Juni 2009

38 catatan dari sahabat
Heboh kasus Ibu Prita Mulyasari belum selesai. Suatu kasus yang membuat banyak orang tersentak, kaget dan tak percaya. Membuat banyak orang berpikir, sampai dimanakah batas yang diberikan kepada seorang pelanggan untuk mempertanyakan pelayanan yang diterimanya atau yang diberikan kepadanya. Seberapa luaskah kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan menyampaikan keluhan.

Dari kasus tersebut aku melihat bahwa yang dijadikan persoalan adalah pelayanan yang dianggap tidak memuaskan. Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh lembaga atau perorangan kepada masyarakat (pelanggan), yang bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki. Apabila suatu pelayanan yang diberikan dapat memuaskan pelanggan maka akan mengakibatkan loyalitas pelanggan yang besar.

Pelayanan yang terbaik dan memuaskan sering disebut sebagai Pelayanan Prima. Menurut Swastika (2005), pelayanan prima mengandung tiga hal pokok, yaitu adanya pendekatan sikap yang berkaitan dengan kepedulian kepada pelanggan, upaya melayani dengan tindakan yang terbaik dan ada tujuan untuk memuaskan pelanggan dengan berorientasi pada standar layanan tertentu.

Untuk mencapai tingkat pelayanan yang prima maka pelaku pelayanan harus mampu melayani pelanggan secara memuaskan, baik dengan keterampilan pelaku pelayanan (kemampuan, sikap, penampilan, perhatian, tindakan, tanggung jawab, kecepatan, ketepatan, keramahan) maupun dengan memaksimalkan failitas-fasilitas penunjang (gedung, desain interior dan exterior serta peralatan/perlengkapan) yang mampu menimbulkan kenyamanan bagi konsumen. Suatu pelayanan kepada masyarakat akan dianggap berkualitas apabila sesuai dengan sendi-sendi pelayanan prima sebagai berikut:
  1. Kesederhanaan
  2. Kejelasan dan kepastian
  3. Keamanan
  4. Keterbukaan
  5. Efisien
  6. Ekonomis
  7. Keadilan
  8. Ketepatan waktu

Saat ini semua aparatur pemerintah yang memberikan pelayanan dituntut untuk memahami visi, misi dan standar pelayanan prima. Untuk mendukung hal itu telah diterbitkan Keputusan Menpan nomor 81 / 1995, yang juga dipertegas dalam Instruksi Presiden nomor I / 1995 tentang peningkatan kualitas aparatur pemerintahan kepada masyarakat. Oleh karena itu, kualitas pelayanan masyarakat dewasa ini tidak dapat diabaikan lagi, bahkan hendaknya sedapat mungkin disesuaikan dengan tuntutan era globalisasi.

Guna lebih mendorong aparatur pelayanan dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka sejak tahun 1995 Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara memberikan Penghargaan Citra Pelayanan Prima yang dilakukan dua tahun sekali. Hal itu antara lain dilakukan melalui berbagai inovasi dan terobosan yang pada hakekatnya untuk mempermudah, mempercepat, dan meminimalkan biaya.

Segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah tersebut dengan harapan agar masyarakat dapat benar-benar mendapatkan pelayanan proporsional yang merupakan haknya, baik di bidang kesehatan, pendidikan, perijinan, perpajakan, surat-menyurat dan sebagainya. Keberhasilan unit pelayanan publik di suatu daerah/instansi juga diharapkan bisa diadopsi oleh daerah atau unit-unit lain.

Jika setiap unit pelayanan publik telah melakukan pelayanan yang mengacu pada pelayanan prima, maka kasus seperti Ibu Prita tidak perlu terjadi. Kenyataan itu menyadarkan kita bahwa ternyata pelaku pelayanan belum sepenuhnya mampu melayani dan menempatkan pelanggan sebagai orang yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Sepertinya untuk mewujudkan pelayanan prima para pelaku pelayanan harus selalu diingatkan untuk berpegang pada motto : “pelanggan adalah raja”.

Semoga saja kasus Ibu Prita dapat menyadarkan kita semua untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan (masyarakat). Semoga keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan dan untuk ke depannya, tak akan ada lagi kasus serupa.

Yang lama dan yang baru di bulan Juni

Jumat, 05 Juni 2009

32 catatan dari sahabat
Dalam hidup ini selalu terdapat 2 sisi yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Ada panjang ada pendek, ada besar ada kecil, ada baik ada buruk, ada tua ada muda... dan masih banyak lagi. Semua hal yang bertolak belakang itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya saling mendukung dan saling melengkapi.

Sebagai contoh : tua dan muda. Tak ada yang disebut tua kalau tak ada yang muda, begitu pula sebaliknya. Tak akan ada orang yang sudah tua, jika sebelumnya tidak ada orang muda. Keduanya berkaitan dan tak dapat dipisahkan.


Candu itu bernama facebook

Kamis, 04 Juni 2009

55 catatan dari sahabat
Candu adalah istilah untuk sejenis kimia yang memabukkan. Padahal, setiap apa saja yang bisa memabukkan hukumnya adalah haram. Untuk makanan dan minuman yang haram selama ini sudah seringkali diberitahukan secara luas kepada masyarakat. Namun..., beberapa saat yang lalu santer diberitakan bahwa beberapa ulama menilai bahwa Facebook itu haram.

Aku tidak ingin mempermasalahkan haram atau tidaknya Facebook. Sudah banyak orang yang lebih ahli dalam meninjau permasalahan tersebut. Namun aku hanya ingin menceritakan pengalamanku serta beberapa temanku dalam memakai Facebook.

Dulu banyak orang yang terkena demam Facebook. Sekarang, banyak orang yang mabuk karena Facebook. Semakin banyak orang yang tidak sanggup melepaskan diri dari Facebook. Bangun tidur buka facebook. Di kantor, buka Facebook. Pulang dari kantor langsung buka Facebook. Mau tidur asyik dengan Facebook. Walaaah.... *geleng-geleng kepala*

Makanya tidak mengherankan kalau sampai akhirnya ada seorang gadis kecil, Serafina Ophelia, yang protes kepada ibunya yang asyik dengan Facebook. Untuk melihat bagaimana protes Serafina dapat dilihat di sini.

Namun, apakah hanya kaum ibu dan wanita saja yang kecanduan dan mabuk karena Facebook ? Jawabnya adalah... tidak !! Karena banyak sekali pria yang ternyata sudah kecanduan dengan Facebook. Ternyata banyak juga pria yang suka mengobral status di Facebook.

Aku pribadi ternyata tidak terlalu "menikmati" Facebook. Sesekali masih menulis status di Facebook. Kadang-kadang mengomentari status atau foto teman di Facebook. Kalau sedang iseng..., mengerjakan kuis yang ada untuk sekedar refreshing. Setelah itu... ya sudah. Tidak ada "kepuasan" seperti yang aku dapatkan dari sebuah blog.

Namun pengalaman beberapa teman ternyata berbeda. Seorang teman pernah bercerita kepadaku, bahwa lewat Facebook dia bisa bertemu lagi dengan pemuja rahasianya 12 tahun yang lalu !! Dan ..., cinta itu baru bersemi sekarang lewat Facebook. Sebenarnya tidak menjadi persoalan yang berarti jika seandainya mereka berdua saat ini sedang tidak terikat tali perkawinan.

Lewat inbox yang ada dalam Facebook, mereka secara intens bisa saling mengungkapkan isi hati. Cinta terlarang yang mereka jalani itu... semakin subur dari hari ke hari. Mereka yang selama 12 tahun terpisah dan menyimpan rasa dalam dada, justru akhirnya bertemu lewat Facebook di saat mereka sama-sama sudah tidak sendiri lagi...

Seorang teman lain lagi ceritanya. Suatu hari dia sangat kesal dengan sahabat SMA-nya dulu yang secara terbuka mengingatkannya pada cinta masa mudanya dulu. Sang sahabat menuliskan hal itu di kotak komen foto. Tentu saja siapa saja bisa membacanya... termasuk istri temanku itu. Gara-gara keisengan sahabatnya, ternyata mengakibatkan pertengkaran yang hebat dalam rumah tangga temanku itu.

Menurutku, masih banyak yang belum menyadari benar bahwa Facebook adalah "ruang publik". Siapa saja yang diundang bisa datang dan membaca apa yang ada di situ. Dari status dan komentar yang masuk terhadap pemilik Facebook semua orang akan bisa menilai bagaimana pemiliknya. Cerita masa lalu yang mungkin ingin dikubur, ternyata karena niat bercanda seseorang, bisa terbeber dan diketahui umum.

Memang ada juga sahabat yang bersuka cita karena menemukan kemudahan mengakses sahabatnya yang lama tidak bertemu, via Facebook. Banyak hal yang bisa dilakukan lewat Facebook. Apapun alasannya, ternyata memang banyak yang kecanduan Facebook.

Jika teringat lagi dengan "protes" Serafina Ophelia di atas..., maka candu yang membuat banyak orang mabuk dengan Facebook dapat digambarkan dengan "meminjam" lirik-nya Duo Ratu sebagai berikut :
Aku Mau Makan Kubuka Facebook
Aku Mau Tidur Juga Kubuka Facebook
Aku Mau Pergi Kubuka Facebook
Ooo Facebook Mengapa Semua Serba Facebook

Aku Sedang Bingung Ku-update status
Aku Sedang Sedih Juga Ku-update status
Aku Sedang Bosan Ku-update status
Ooo Facebook Inikah Bila Ku Jatuh
Jatuh Cinta ...
**tulisan iseng yang terinspirasi oleh pengalaman beberapa teman**