Jumat, 23 September 2011

Memperebutkan hak

Kamis kemarin aku, suami dan seorang sahabat berniat untuk periksa mata ke rumah sakit. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan kacamata yang sudah sekian lama aku pakai ini. Selama ini aku mengenakan kacamata dengan lensa minus. Namun aku mulai curiga jangan-jangan aku mulai harus mengenakan kacamata dengan lensa plus juga #merasatua.

Sementara itu, suami dan sahabatku selama ini belum mengenakan kacamata. Namun mereka juga mulai merasa ada gangguan dengan penglihatan mereka. Itu sebabnya mereka ingin periksa mata juga, karena mereka yakin sudah waktunya mereka menggunakan kacamata sepertiku #merasatuajuga.

Setelah sempat tertunda beberapa kali, karena kesibukan kami di kantor masing-masing, akhirnya kami sepakati untuk periksa Kamis kemarin. Karena sebagai PNS kami menjadi peserta AS**S maka kami pun berniat untuk menggunakan fasilitas AS**S yang menjadi hak kami. Kami semangat sekali mengurusnya, karena ini pengalaman pertama bagi suami dan sahabatku menggunakan AS**S untuk periksa mata. Jika nanti mereka diharuskan pakai kacamata, maka inilah kali pertama mereka mendapatkan hak mereka mendapatkan santunan dalam pembelian kacamata.

Aku sendiri memang sudah lama memakai kaca mata. Namun, selaku peserta AS**S aku tidak selalu mengambil hak untuk mendapatkan santunan dalam pembelian kacamata. Alasannya, aku males untuk mengurus segala macam persyaratan dan kelengkapannya, sementara santunan yang kami terima hanya sedikit. Terakhir aku mengambil santunan pembelian kacamata sudah bertahun-tahun yang lalu. Tepatnya kapan aku sudah lupa, karena sudah lama sekali.

Namun, kali ini yang perlu kacamata bukan hanya aku, tapi suami juga. Sepertinya suamiku harus pakai kacamata dan aku sepertinya harus ganti kacamata. Itu berarti 2 kacamata dan 2 biaya yang sangat besar dalam pembeliannya. Oleh karena itu, aku dan suami sepakat untuk kali ini kami akan mengambil hak kami untuk mendapatkan santunan dalam pembelian kacamata.

Namun proses untuk mendapatkan hak kami tersebut tak mudah. Agar tak menunggu terlalu lama di rumah sakit, seorang teman berbaik hati mengantrikan berkas kami (aku, suami dan sahabatku). Selanjutnya kami diminta datang jam 11 siang, dengan harapan jumlah pasien yang periksa sudah tinggal sedikit. Namun saat kami datang ke rumah sakit, ternyata... dokternya belum datang. Padahal di depan poli mata, kami melihat banyak sekali pasien yang antri. Dan, semua yang antri sudah tua hanya kami bertiga yang masih muda #ehm.

Akibat terlalu lama menunggu, pasien-pasien yang tua itu tak sanggup berlama-lama duduk di kursi tunggu rumah sakit yang keras. Beberapa dari mereka memilih untuk duduk lesehan tanpa alas duduk di lantai. Sementara ada beberapa bapak yang nekad rebahan di lantai rumah sakit. Namun, ada juga pasien yang akhirnya memilih pulang setelah kelamaan menunggu.

Saat kami sudah sangat jenuh menunggu, akhirnya jam 1 siang dokternya datang juga. Pasien pertama yang dipanggil adalah suamiku. Setelah diperiksa beberapa menit, suamiku mendapat resep untuk kacamata baca dan jalan. Pasien kedua adalah aku. Sebelum periksa, dokternya menanyakan berapa minus-ku. Mendengar jawabanku dokternya berkata, "untuk mata minus sebanyak itu, sebaiknya tidak periksa disini tapi periksa di rumah sakit provinsi." Ya ampun, kalau aku harus periksa mata ke rumah sakit provinsi itu berarti aku harus mengurus rujukan lagi lewat dokter AS**Sku. Sia-sia dong usahaku menunggunya berjam-jam?

Namun pada akhirnya, dokternya mau juga periksa mataku. Namun, tetap saja aku tak mendapat resep kacamata seperti yang didapat suamiku. Aku hanya mendapatkan vitamin mata. Kecewa tentu saja, apalagi sebenarnya aku sempat mengintip di catatannya bahwa mataku sekarang ada plus 0,5. Hanya saja, di belakang tulisan itu ditambahkannya tanda tanya. Dia kemudian juga menyarankan aku untuk datang periksa seminggu lagi.

Nasib yang sama juga dialami sahabatku. Dia juga hanya dapat vitamin dari dokternya dan tak dapat resep kacamata. Gara-gara kecewa karena kami tak dapat rekomendasi untuk membeli kacamata dan karena sudah terlalu capek menunggu, maka aku dan sahabatku tak mau antri lagi di apotek. Kami sepakat tak akan menebus resep itu.

Ternyata, meski kami (dan pasien-pasien di rumah sakit itu tadi) ingin mendapatkan apa yang menjadi hak kami ternyata sulit sekali. Seolah-olah kami sedang memperebutkan apa yang menjadi hak kami. Buktinyan untuk mendapat pelayanan saja, kami harus antri berjam-jam. Untung saja, ada teman yang sudah mengantrikan berkas kami pagi itu, sehingga kami jadi pasien dengan nomor urut pertama. Aku jadi berpikir, berapa jam sudah orang-orang tua itu tadi antri di depan poli mata? Aku yang sudah sengaja datang siang saja masih antri 3 jam.

Sebagai peserta AS**S gaji kami otomatis dipotong setiap bulan untuk iuran. Namun ternyata saat kami ingin menggunakan hak kami dan mendapatkan santunan untuk beli kacamata (yang besarnya hanya Rp. 200.000) susahnya minta ampun. Kalau sudah begini, aku kapok tak akan menggunakan lagi fasilitas AS**S yang sebenarnya menjadi hakku sebagai peserta. Terus, buat apa gajiku harus dipotong setiap bulannya? #gemas

Maaf sahabat, 2 postingan terakhir ini hanya berisi kegalauan hatiku... Semoga tidak mengganggu indahnya hari ini ya?

31 komentar:

  1. yup selamat datang di republik indonesia mba wkwkwkwkwkwwk

    yah saya sendiri juga heran dengan republik ini dimana kita terkaang sulit untk mendapatkan hak kita!!!!!

    kayaknya hari ini koment pertama deh!!!!!

    BalasHapus
  2. gak masalah mbak kalau aku sih. seneng2 aja bacanya. tapi kadang aku suka bt sama yg komen2 tuh oops malah curhat balik. makanya lg kurang semangat nih

    BalasHapus
  3. ga yangka,..dokter yg ditunggu dtgnya siang ener,...bisa2 lumutan ya mbak,..:)
    mending periksa di luar aja mbak,..ga pake mangkel dan gemas hehehe

    BalasHapus
  4. anggota askes masih dinomorduakan ya..? kalo di jogja kayaknya jarang banget denger keluhan. wong liat pelayanan di posyandu apa puskesmas saja kelihatannya oke.

    BalasHapus
  5. Menurutku bukan galau. Kenyataan hidup bahwa di sekitar kita banyak ketidak adilan. Tetap berbagi kebaikan terus toh mbak Reni...

    BalasHapus
  6. memang spt itulah pelayanan kesehatan di negara ini. kalau dg asuransi kesehatan sering gak dianggap.

    BalasHapus
  7. Ya begitulah pelayanan di negeri ini Mba. Salam kenal ya. :)

    BalasHapus
  8. Iya mbak emang susah banget klo udah urusan aakes mah.. Apalagi sekarang kan berdasarkan klaim.. Jadi rada ribet deh urusanya.

    BalasHapus
  9. memang jarang sekali ada pelayanan yg memuaskan di negri ini. Semuanya harus pke pamrih kalo utk yg pke gratisan di jamin antri dan kadang ada yg suka bentak2 karena terlalu padatnya pasien ....egri ini. Semuanya harus pke pamrih kalo utk yg pke gratisan di jamin antri dan kadang ada yg suka bentak2 karena terlalu padatnya pasien ....

    BalasHapus
  10. tenang, mba.. bukan cm mba reni korban yg kecewa gara2 asuransi kesehatan itu... pdhal kan sbnrnya itu premi nya udah dibayar, tapi kesannya kyk yg gratisan gitu.

    BalasHapus
  11. bener mba, menyebalkan ya. padahal tiap bulan gaji kita dipotong...

    BalasHapus
  12. coba disampaikan aja keluhan tentang pelayanannya ke pihak pimpinan rumah sakit atau penyedia layanan askes bu :)

    BalasHapus
  13. kita memang ndak tau, gimana lagi caranya merubah sistem kesehatan di indonsia ini. seolah-olah, orang sakit di ind dianggap sampah. mulai dari pelayanan dokter yang selalu merasa bangga jika ditunggui, sampai dengan ketidaknyamanan mengantri.....yah welcome to ind Ja deh...

    BalasHapus
  14. saya enggak punya pengalaman sama sekali nih perihal A###S, tapi kalau antri nunggu dokter datang, ehm saya rasa sering hehe

    BalasHapus
  15. emang kayak gitu bak, kalo kata si Loli di film Para Pencari Tuhan , gini.. "orang miskin selalu dalam dilema", hehehe

    saya juga sering ngalamin mbak, ribetnya pake askes... :)

    BalasHapus
  16. Oh jadi ceritanya bu renny akhir-akhir ini lagi kena penyakit galau hehehe B)

    BalasHapus
  17. Bagus deh dishare disini ceritanya, jadi banyak yang tau tentang ketidak puasan atas pelayanan yang diberikan, semoga aj 'orang orang askes' jg baca artikel ini biar ada pembenahan nantinya.

    Salam.. .

    BalasHapus
  18. hmmmm begitulan pelayanan di rumah sakit
    masih jauh dari standar
    dokter yg suka hati datangnya
    perawat dengan muka masam
    hasil yg tidak memuaskan

    BalasHapus
  19. Beda dengan di tempatku mbak. Memang benar santunannya 200rb, tapi untuk pelayanan mendapatkan kacamata ternyata mudah. Setelah dapat resep tinggal pilih toko kacamatanya aja. Tentu saja antri lama merupakan hal yang sama dirasakan semua orang.

    BalasHapus
  20. biasa pelayan publik yang masih amburadul,love,peace and gaul.

    BalasHapus
  21. aku juga jarang pake fasilitas ini...

    BalasHapus
  22. hmm, mama saya PNS, jadi 2 taun lalu pernah saya operasi pake askes dan persyaratannya nggak ribet sama sekali kok mbak. datang ke puskesmas, trus blg saya mau di operasi dan dirujuk ke dokter bedah. setelah itu tinggal ke dr. bedah dan semuanya aman2 saja sampe saya beres dioperasi.

    mbak, selamat ya. mbak menang giveaway saya. saya minta alamat mbak di kirim ke rancupid.meutia@gmail.com
    trims

    BalasHapus
  23. yah kalo udah ngomongin hak di Indonesia mah jadi wassalam deh bu :D

    BalasHapus
  24. galau memang lagi merajalela, tapi jangan sampai keterusan yaa ;D

    BalasHapus
  25. kayaknya di indonesia memang begitu ya mbak, hak orang seperti diambil

    BalasHapus
  26. iya biasa itu mba gak heran pasti diribet2in klo askes mah :D
    sabar ya mba

    BalasHapus
  27. masyaalloh...
    indonesia oh indonesia...
    dimana mengambil hak dipersulit, dan mengambil yg bukan hak-nya dianggap lazim....

    thanks for sharing mbak...

    BalasHapus
  28. udah plus ya mbak? sbentar lagi susah baca menu di restoran mbak... meski plus, tetap harus berjiwa muda... :)

    BalasHapus
  29. aduh nyebelin ya mbak... hh suka gitu deh kalo asuransi

    BalasHapus
  30. Hahahaha. Kalo dari cerita yg saya tangkap, bukan askes nya yg ribet. Toh yg pake askes dgn yg ga pake askes sama2 ngantri.

    Dari cerita mba nya, dokter memang tdk merekomendasikan pemberian resep kaca mata bukan? Bukan karna askes tdk menolak/memperibetkan resep kacamatanya. Kalo memang tak percaya dgn dokternya, ya sebaiknya cari second opinion k dokter lain.
    Namanya juga asuransi kesehatan mba, ya kudu based on medic indication.
    Kalo semua keinginan pribadi d turutin, ya wassalam...

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)