Kamis, 26 Agustus 2010

Perseteruan anak

Sudah sering sekali kita berhadapan dengan anak-anak yang berkelahi atau bertengkar dengan teman-temannya. Rasanya sudah menjadi hal yang biasa jika anak-anak bertengkar. Sebenarnya dengan bertengkar anak-anak itu belajar juga. Yang pertama mereka belajar bahwa dalam sosialisasi itu perlu toleransi dan kompromi. Selain itu mereka belajar juga tentang mempertahankan prinsip atau pendapat, mengatasi perbedaan dengan orang lain, serta belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hebatnya lagi, anak-anak itu akan dengan cepat rukun kembali sesaat setelah bertengkar. Sementara yang sering terjadi, para orang tua yang mengetahui pertengkaran anak-anaknya itu malah masih emosi dan saling gontok, karena ego orang tua yang sudah tinggi.

Jika perseteruan anak-anak masih dalam batas 'wajar-wajar' saja, sebaiknya orang tua memang tak usah ikut campur. Biarkan anak-anak mengambil pelajaran dari pertengkaran dan perseteruan itu. Namun jika ternyata perseteruan itu sudah terlampau jauh atau sampai menyakiti fisik (secara sengaja), rasanya orang tua harus ikut campur untuk menyelesaikannya. Karena bagaimanapun juga anak-anak harus belajar untuk perseteru dengan 'benar' dan menghormati tubuh orang lain.

Sobat semua pasti sudah tahu tentang berita yang sedang hangat beberapa hari ini tentang anak-anak SD yang berseteru dan kini perkaranya maju ke pengadilan. Perseteruan yang terjadi antar anak kelas 1 SDK Yohanes Gabriel Surabaya yang menurutku sudah kelewat batas. Ceritanya, pada tanggal 25 Februari 2010 yang lalu saat jam istirahat, BM yang duduk di kelas I-A mendorong MJ, siswi kelas I-B. Korban jatuh terjengkang. Dalam posisi terlentang, BM menendang bagian selangkangan MJ dan ditinggal lari ke dalam ruang kelas. Akibatnya MJ mengalami pendarahan dan harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit selama 7 hari.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter dan foto rontgen, diketahui tulang pinggul dan tulang vagina MJ retak.  Meskipun korban dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, namun, korban masih sering kali mengeluh setiap kali buang air kecil sehingga harus kontrol secara rutin. 

Selama menjalani perawatan, keluarga korban menanggung sendiri biayanya dibantu pihak sekolah. Keluarga korban sempat mengajukan permintaan ganti rugi kepada keluarga BM tapi tak pernah ditanggapi. Dinggap tak memiliki itikad baik, maka penasihat hukum korban pun mendaftarkan gugatan terhadap keluarga pelaku melalui PN Surabaya. Dalam gugatan tersebut pengacara dari keluarga korban mengajukan ganti rugi biaya perawatan dan biaya perawatan lanjutan sebesar Rp 27.273.800,00.

Terus terang saja, aku merasa sangat prihatin dengan kasus perseteruan anak-anak kelas 1 SD tersebut. Mengapa untuk anak-anak seumur mereka, tindakan dari BM sudah sejauh itu. Dari perilaku BM cenderung merusak itu aku mengira bahwa dalam kesehariannya mungkin saja BM juga sudah terbiasa bersikap agresif. Mungkin selama ini perilaku negatif BM 'dibiarkan' sehingga BM tidak mengetahui bahwa perilakunya salah. Tapi... ini hanya dugaanku saja.

Belajar dari kasus tersebut di atas, kita harus semakin hati-hati dalam mendidik dan membimbing anak-anak kita. Semoga kasus seperti itu tak akan pernah terjadi lagi pada siapa pun. Amin.

23 komentar:

  1. ikut prihatin, semoga menjadi pembelajaran bagi kita semuanya ...

    BalasHapus
  2. sebaiknya sejak kecil orang tua mendidik anaknya untuk hidup rukun,ajarkan kalau berkelahi tidak bermanfaat bagi mereka.

    BalasHapus
  3. Waduh agak miris sebenernya klo lagi2 mesti ng'denger tindak kekerasan, apalagi untuk seumuran anak SD walah.......


    aku rasa kebanyakan disuguhkan film2 tema kekerasan di TV mbak.... waktu ada Smack Down ikut dipraktekin wah...... anak2 eank bahaya klo dikasih yg nggak2........

    tapi klo cuma ribut kecil kaya contoh pertama ya bener kata Mbak reni ndak usah ikut campur hhe...

    Semangat n Met aktivitas Mbak...

    aku juga punya Award nie hhe.... klo sempet diambil ya Mbak....

    BalasHapus
  4. Selalu ada yang demikian mbak, tetangga saya juga ada yang kalo anaknya bertengkar dengan teman mainnya, sebagai orang tua dia ikut terlibat yang akhirnya pertengkaran menjadi tingkat orang dewasa. Selalu itu terjadi, maka si anak kian menakutkan.

    BalasHapus
  5. Benar mbak , kita harus mendidik anak kita dlm berprilaku agar dia tidak menimbulkan perseteruan dgn anak yg lain..

    BalasHapus
  6. Astaghfirallah
    anak 1SD sudah memiliki sifat kasar seperti itu
    gimana nanti jika dia dewasa :(

    BalasHapus
  7. rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita, apa yang terjadi di rumah sebagian akan mereka bawa ke sekolah, begitupun sebaliknya. oleh karena itu pengawasan terhadap anak baik di dalam maupun diluar rumah adalah tanggung jawab bersama, dan orang tualah yang lebih besar prosentasenya.
    Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua. inysa Allah

    BalasHapus
  8. Semoga saja tidak terjadi pada anak2 kita ya Mb...mungkin kurangnya perhatian dari orang tua sehingga si anak selalu berbuat sesuka hatinya...menunjukkan pemberontakan dirinya..

    BalasHapus
  9. sungguh terlalu kalo kayak gitu.......... orang tuanya ga bisa mendidik anak kali ya..... trus malah ga punya itikad baik, orang macam apa kalo kayak gitu...... bagus lah kalo dibawa ke pengadilan, biar jera.... orang tua sama anak sama saja...... semoga kejadian kyk bgini ga terulang lagi.... padahal masih kelas 1 kan itu.... ediaaan....

    BalasHapus
  10. Sip neh Mbak, moga cerahlah dunia anak2 kita, jadi ngeri neh bila punya anak nanti, ehmm, moga mampu dah...

    BalasHapus
  11. iihh.. selangkangannya diinjakk?? O.o sakit tuh.. si BM ko kurang ajar banget yah.. g dididik ortunya yah? huh..

    BalasHapus
  12. waduh, parah juga ya beritanya. ga tega ngebayanginnya.

    terkadang malah jadi pertanyaan untuk diri saya sendiri: "bisa tidak ya saya menjadi orang tua yang baik kelak?"

    terimakasih inspirasinya bu.

    BalasHapus
  13. masih kecil udah berantem, duh...apalagi ntar kalo dah besar ya..ck.ck..miris dengernya

    BalasHapus
  14. hmmm moga kejadian tsb tidak terulang lagi atau lebih parah...jadi Ortu memang gak mudah ya mbak :)

    BalasHapus
  15. ngeri mbak... membayangkan hal seperti itu bisa dilakukan oleh anak-anak...

    BalasHapus
  16. mampir ngintip doang, lagi mau "nelungsungi" nih..entar balik lagih..

    BalasHapus
  17. ganti rugi perwatan anak nya besar banget...huffft

    BalasHapus
  18. anak2 bertengkar tu wajar, tp kl mp orang tua ikut2an akan lain jadinya seperti halnya kejadian tetangga saya beberapa waktu lalu, hanya karena salah paham orang tua ikut2, jdnya gt deh, semoga aja pas lebaran nanti mau saling memaafkan

    BalasHapus
  19. peranan orang tua sangatlah dibutuhkan demi perkembngan kepribadian anak-anak sekarang buk...

    BalasHapus
  20. betul,, biar bagaimanapun orang tua sangat berpengaruh pada kepribadian anak..

    melihat prilaku melukai fisik dari kejadian di atas, mungkin juga prilaku tersebut di akibatkan oleh lingkungan di dalam rumah...

    BalasHapus
  21. astaghfirullah..
    itu sungguhan kah mbak?
    kok ya parah bener sih?
    ya ampun, itu anak kan baru kelas satu sd ya?
    kok bisa kayak begitu ya? >.<
    susahnya mendidik anak euy... >.<

    BalasHapus
  22. klo mnurutmu klo anak kecil cowo bertengkar, pa yg hrus di lakuin, balas, to suruh mnta maaf !

    BalasHapus
  23. Ya Allah, semoga kita bisa menjaga anak2 kita dan mengajarkan hala2 yang baik yah Mba.

    alo menurut gw ortu nya BM pasti ngebiarin tingkah anaknya yang kurang ajar & kasar. Duh, anak kaya gituh emang ga bisa dibiarkan deh! Tapi sekali lagi, kesalahan sebenernya terletak di orang tua yang tidak berhasil mendidik anaknya

    Semoga MJ segera sembuh dan tidak ada efeknya yang timbul pada saat dewasa nanti. Amien

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)