Kamis, 16 April 2009

Etika dan Tata Krama (Part III)

Kalau sebelumnya aku sudah cerita tentang etika dan tata krama part I dan part II, kini kembali lagi aku akan cerita tentang etika dan tata krama. Mungkin ini adalah cerita penutupnya (karena kalau kebanyakan takut yang baca jadi bosan hehehe).

Melanjutkan cerita sebelumnya, ternyata kembali orang tuaku dihadapkan pada masalah etika dan tata krama ini. Ceritanya, rombongan yang dulu datang menginap di rumah orang tuaku rencananya dalam beberapa hari ke depan akan datang untuk menginap lagi.

Berita itu disampailkan orang tuaku padaku beberapa hari yang lalu. Sejujurnya orang tuaku keberatan menerima mereka kembali datang dan menginap di rumah orang tuaku. Bahkan dalam perbincangan denganku, orang tuaku tidak sepenuh hati menerima kedatangan mereka.

Ternyata, kejadian lama berulang lagi. Rupanya sekolah mereka akan mengikuti kegiatan lomba lagi di Madiun. Dan seperti kejadian yang lalu, anak-anak yang ikut lomba tidak boleh didampingi orang tua. Karena anak saudaraku diikutkan lomba itu juga, maka saudaraku (selaku wali muridnya) diminta pihak sekolah untuk memberitahukan pada orang tuaku rencana mereka menginap di rumah orang tuaku.

Sebenarnya orang tuaku hendak menolak. Apalagi sebelumnya orang tuaku telah meminta saudaraku untuk menyampaikan pada pihak sekolah agar mau bicara dan minta ijin secara langsung (lewat telepon) pada orang tuaku. Entah mengapa, tetap saja saudaraku yang diminta meminta ijin itu dan pihak sekolah tak mau meminta ijin secara langsung pada orang tuaku.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya ijin diberikan. Alasan orang tuaku adalah karena rasa sayang pada saudaraku. Selain itu orang tuaku tak ingin saudaraku mendapat kesulitan di sekolah anaknya.

Tapi untunglah, hari ini ada berita "baik". Rupanya saudaraku merasakan juga dilema orang tuaku. Setelah mempertimbangkan masak-masak, maka saudaraku mengambil keputusan untuk mencari alasan agar rombongan itu tidak jadi menginap di rumah orang tuaku.

Saudaraku berkata pada pihak sekolah bahwa pada hari yang direncanakan itu orang tuaku terpaksa tidak dapat menampung tamu. Penyebabnya adalah tetangga depan rumah orang tuaku sedang melaksanakan hajat pernikahan. Hmm, ternyata dengan terpaksa saudaraku berbohong. Padahal sebenarnya acara hajatan itu baru akan dilangsungkan pada akhir bulan ini.

Akhirnya, orang tuaku lega dan saudaraku pun merasa lega. Sebenarnya dia sangat tak enak hati waktu mengetahui kejadian tak menyenangkan bulan yang lalu, hanya saja dia tak tahu harus berbuat apa. Saudaraku akhirnya bisa menolak (walau dengan berbohong) keinginan pihak sekolah itu untuk menginap di rumah orang tuaku.

Namun begitu, ibuku kini mempunyai keinginan lain. Mengetahui bahwa anak saudaraku beserta rombongan temannya dan gurunya (total 7 orang) tak jadi menginap di rumahku, ibuku jadi merasa tak enak hati. Maka ibu merencanakan untuk membuatkan makanan ringan bagi mereka. Dan aku ditugaskan ibu untuk mengantarkan makanan itu ke tempat perlombaan dan menyerahkannya pada gurunya.

Alasan ibuku adalah makanan ringan itu bisa dijadikan bekal bagi anak saudaraku, temannya dan guru-gurunya dalam perjalanan pulang ke kota mereka kembali. Karena rencananya setelah perlombaan selesai rombongan itu akan langsung kembali pulang ke kota mereka. Kata ibuku, "tak enak kalau kita diam saja padahal tahu kalau mereka datang ke Madiun."

Jadi..., sebenarnya ibuku tetap aja merepotkan diri. Tapi kali ini atas kehendak dan inisiatif sendiri. Prinsip ibuku masih tetap sama, yaitu memuliakan tamu. Meskipun tamu itu tak jadi bermalam di rumah orang tuaku....

8 komentar:

  1. woow, hati ibu mba reni mulia bgt ya.. pdhl sdh pernah dikecewakan.
    patut dicontoh krn berbesar hati itu tdklah mudah!

    BalasHapus
  2. Salah satu bukti kemukminan seseorang adalah dari caranya memuliakan tamu.. Pembelajaran yg sangat berharga mbak,terima kasih.

    BalasHapus
  3. wah.....hati ibunya mba reni mulia bgt......tapi kalo saya ngalami hal kayak gt pasti saya gak perdulikan tamunya hahahahaha

    BalasHapus
  4. ibu nya mbk reni ko yo persis bngt ibuku, repot2 sendiri utk kesenangan org lain, walaupun orang tsb pernah menyakitkan hati ibu...

    semoga ibu mbk reni dpt balasan yg setimpal ken kemuliaan hatinya..amiin

    BalasHapus
  5. @maya ozk : aku sendiri banyak belajar dari beliau, mbak.

    @ajeng : semoga sharing ini bisa bermanfaat bagi yang lain ya, mbak ?

    @jeng sri : **tersipu malu** ah, mbak pinter banget membesarkan hatiku.

    @jhoni : kita kudu belajar banyak dari para orang tua...

    @tisti : Amin... makasih banget banget doanya, mbak.

    BalasHapus
  6. Suatu sikap yang sangat bagus yang dimiliki ibunda mbak Reni, memuliakan tamu...

    BalasHapus
  7. ibu-ibu ko gitu ya? ibu saya juga,,, malah dia bela2in lebih mementingkan tamu daripada anaknya sendiri :D

    BalasHapus
  8. waaaaaaa.. bae banget ya...
    tapi itulah orang semakin dewasa sifat empatinya makin tinggi ya....
    salut deh...

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)