Kamis, 09 April 2009

Persepsi

Beberapa hari ini aku sedang rajin Blogwalking. Kebetulan ada libur panjang, jadi aku bisa leluasa duduk di depan kompi dan bermesraan dengan internet. Hmmm..., suatu kesempatan langka yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, bukan ? **bukaannnn.. (jawab suara-suara yang entah muncul dari mana)**

Oleh-oleh dari blogwalking-ku tentu saja banyak sekali. Dan, yang menarik adalah secara kebetulan aku serasa menemukan benang merah dari postingan 4 orang teman. Intinya, keempat teman ini berbicara tentang persepsi. Tentu saja masing-masing menuliskannya dari latar belakang peristiwa/kisah yang berbeda. Pun, cara penyampaian yang berbeda pula. Dan kali ini pun aku akan mencatat hal ini dengan gaya yang berbeda pula, tidak seperti biasanya. Sedikit lebih serius (daripada biasanya) maksudnya ....

Dari Half Full- Half Empty diceritakan tentang perubahan persepsi yang membuat kita sadar bahwa setiap orang/hal memiliki nilai/arti tersendiri. Sementara Bunda Medani menceritakan bahwa dari persepsi yang berbeda membuat orang akan memilih cara dan sikap yang berbeda pula. Sementara Baca Buku Fanda menceritakan tentang buku-buku yang menggambarkan adanya persepsi yang berbeda bisa menimbulkan sikap yang berbeda dalam memperlakukan sesama. Dan.., yang terakhir adalah Ajeng's Blog, menceritakan tentang pemaknaan yang berbeda dari tiap manusia atas peristiwa-peristiwa (tragedi dan bencana alam) yang terjadi belakangan ini.

Setelah aku renungkan keempat cerita di atas, maka kunci dari semua kejadian tersebut di atas adalah persepsi. Menurut Rahmad (2005) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sementara persepsi sosial dikatakan Mulyana (2005) sebagai proses menangkap arti obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Sehingga, pada hakikatnya persepsi merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu.

Dalam proses persepsi tersebut, seseorang dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek. Penilaian ini dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Selanjutnya dari persepsi tersebut akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula.

Lantas, kalau objek atau kejadian atau peristiwa yang sama terjadi, mengapa persepsi tiap orang atas suatu kejadian yang sama bisa berbeda-beda ? Hal tersebut dapat dimaklumi karena pelaku utama persepsi adalah manusia. Sementara manusia dengan emosi yang dimilikinya sulit diandalkan untuk dapat melihat dan menilai secara obyektif. Akibatnya akan muncul persepsi yang berbeda-beda. Itulah yang menyebabkan perbedaan sikap dan perilaku satu orang dengan lainnya.

Banyak hal yang mempengaruhi perbedaan persepsi. Ada 3 hal yang mempengaruhi perbedaan persepsi menurut Muhyadi (1989), yaitu:
  • Kondisi internal : dari orang yang membentuk persepsi itu sendiri, yang dipengaruhi oleh kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian dari orang yang membentuk persepsi. Misalnya : sebagaimana dicontohkan oleh Baca Buku Fanda bahwa anak-anak yang memiliki hati yang masih bersih dari prasangka justru mempertanyakan tentang manusia yang suka membeda-bedakan satu sama lain. Atau sebagaimana yang digambarkan oleh Bunda Medani, bahwa kepribadian yang berbeda akan mempersepsikan suatu peristiwa dengan berbeda pula.
  • Kondisi eksternal : yang berupa stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain). Misalnya : sebagaimana yang dicontohkan oleh Half Full- Half Empty, tentang persepsi yang berbeda atas 2 buah ember : yang satu penuh dan yang satu bocor.
  • Kondisi eksternal : yang berupa stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). Misalnya : sebagaimana diulas dalam Ajeng's Blog bahwa persepsi orang atas suatu bencana alam akan berbeda, antara orang-orang di lokasi bencana (yang mengalami langsug) dan orang-orang di luar lokasi bencana (yang hanya menyaksikan bencana dari jauh).
Setelah kita mengetahui banyaknya faktor yang menyebabkan perbedaan persepsi, perlukan kita bersitegang memperdebatkannya apabila hal tersebut terjadi? Bukankah lebih baik bila kita duduk satu meja dan membicarakannya, sehingga ditemukan satu persepsi yang sama?

Kalaupun persamaan persepsi tak dapat dicapai, setidaknya kita mengetahui bahwa tiap-tiap orang telah mencoba dengan kemampuan yang ada dalam dirinya untuk melakukan penilaian atas suatu peristiwa / kejadian. Kalaupun hasilnya berbeda-beda, kenapa harus diperbedatkan ? Bukankah lebih baik kita mempersepsikan perbedaan yang ada dengan benar ? Sehingga dapat diambil sikap dan perilaku yang benar juga. Setuju kan?

19 komentar:

  1. 5 facts about me, pe-ernya mbak Reni belum juga aku kerjakan. Salah satu 5 facts about me ttg bad habits yaitu susssah berkomunikasi atau mengkomunikasikan diri sendiri kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi salah persepsi.

    Terima kasih, sudah memberi masukan lewat postingannya. Memang, tak salahlah jika aku meyakini, bahwa hidup adalah pembelajaran.

    Dalam pembelajaran, si belajar tak selalu benar.

    BalasHapus
  2. Kedumprangggg....!! yang pertamaX rupanya...

    BalasHapus
  3. @willis koes : oalah mas, jangan buru-buru to. Nabrak apa tadi ? Pengen jadi pertamax nih hehehe.
    Yups setuju sekali dg mas Will, hidup adalah pembelajaran dan yang belajar tak selalu benar...!!

    BalasHapus
  4. lg ketiban susah nulis di SB. kayaknya blog mbak nggak begitu berat kok, mungkin mbak upload gambar di postingannya pake gambar berformat JPG alias JPEG, jadi berat banget. Coba deh download softwarenya untuk mengubah/meresize gambar ke format GIF, artikel ini udah pernah aku posting, cari aja dengan label "software"

    BalasHapus
  5. Setuju, mbak Reni. Memang perbedaan persepsi kadang sulit diselami. Kita sering ngomong: Kok bisa ya orang itu berkata/melakukan itu? Apa mereka ga mikir bahwa...dst. Kita sering menyalahkan org lain duluan, pdhal org lain belum tentu pny persepsi sama dgn kita. Jadi siapa yg salah dan benar? Ya ga ada, itu cuma beda perspsi aja. Dan benar juga kata mbak Reni, daripada berdebat dan ingin menang sendiri, mending dibicarakan utk dicari solusinya.
    Nice posting, mbak!
    Bangga juga bhw posting-ku membawa inspirasi bg posting yg bagus ini!!

    BalasHapus
  6. Wah, terima kasih tambahan ilmunya mbak..Terus berbagi,karena dg begitu kita akan semakin belajar.. Nice post

    BalasHapus
  7. terimakasih sudah berbagi ilmu, mbak Reni.. keep blogging ya

    BalasHapus
  8. setuju. tiap org berhak punya persepsi yg berbeda atas suatu hal.

    BalasHapus
  9. huwa jadi merasa bersalah gue nih karna PR nya belom gue kerjain ampe sekrang, susah bener bu, fuih, mending kasih matematika dah , insya Allah gue kerjain, sekali insya Allah ^^

    BalasHapus
  10. @jengsri : aduh mbak Sri, tulisan itu juga masih banyak kurangnya kok.

    @willis koes : thanks... akan dicoba, mas.

    @fanda : makasih mbak.., tulisan mbak fanda telah menginspirasiku.

    @ajeng : yups, setuju mbak. Dengan berbagi kita akan makin kaya mbak.

    @bunda : makasih bunda. Makasih dah mampir... ^_^

    @dhe : hehehe

    @fanny : seep...!!

    @R-Adha : Oke deh, besok-2 lagi dikasih PR matematika aja ya ? Hehehe

    BalasHapus
  11. setuju mbak.
    perbedaan persepsi bukan harus diributkan
    tp dicari solusi untuk menyatukannya
    perbedaan persepsi juga pembelajaran agar kita bisa saling menghargai

    BalasHapus
  12. @kejujurancinta : betul itu mbak.. Setuju bangetz...

    @bunga raya : salam kenal kembali ^_^

    BalasHapus
  13. beda persepsi itu wajar dan lumrah saja, selama kita juga menyikapinya dengan bijak. jangan hanya karena beda persepsi timbullah perselisihan dst...

    BalasHapus
  14. @penny : Yups..., betul mbak... Setuju aku.

    BalasHapus
  15. Wah... lengkap sudah... pembahasan disini... akhirnya kita dapat saling memahami dan mengerti tentang orang lain.

    BalasHapus
  16. Persepsi itu ... unik dan antik. Semua orang punya cara pandangnya sendiri sendiri. Tergantung dari .. beberapa hal yang Mbak sebutkan diatas.

    Kadang perbedaan persepsi menimbulkan kontroversi yang berlebih, walau secara tidak sadar itu yang memperkaya sudut pandang akan satu hal.

    Diskusi dan komunikasi terbuka merupakan sarana terbaik untuk menyamakan persepsi yang berlainan. Asal jangan memaksakan kehendak atas dasar mayoritas tertentu saja. Harus ada plus minusnya untuk bisa mencapai kata sepakat.

    BalasHapus
  17. @marianus : indah sekali ya kalau tiap orang bisa saling mengerti dan memahami.

    @kuyus : betul, mbak. Kita dapat belajar melalui banyak cara, termasuk melalui perbedaan persepsi yang ada.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)