Selasa, 27 Juli 2010

Belajar dari anak-anak

Cerita kali ini masih ada kaitannya dengan cerita tentang belajar tentang arti kelompok dan kepemimpinan yang aku ceritakan kemarin. Jadi, setelah aku melaporkan masalah anak-anak kelas 5 itu kepada bapak pembina Pramuka, rupanya kemarin siang langsung ditindaklanjuti oleh beliau.

Saat beliau masuk ke kelas 5, beliau meminta ketua Pramuka regu putri maju ke depan. Shasa dan satu lagi temannya (sebut saja namanya Tyas) maju. Setelah itu, bapak pembina Pramuka itu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari anak-anak itu, akhirnya beliau memberikan penjelasan panjang lebar tentang arti kelompok. Beliau menekankan agar regu yang terbentuk jangan sampai dirubah-rubah lagi.

Akhirnya, memang regu Pramuka di kelas Shasa tidak mengalami perubahan. Semua bisa menerima dengan baik. Yang menarik, Tyas sebagai ketua regu putri kelompok lainnya, yang berencana untuk mengambil 4 orang anggota regu dari Shasa tanpa diminta meminta maaf pada Shasa. Selain itu, Mita (sebut saja begitu) sebagai salah satu dari 4 orang yang akan berpindah regu, juga meminta maaf pada Shasa. Shasa pun menerima permintaan maaf itu dengan tangan terbuka.

Lihatlah..., betapa anak-anak ternyata mampu bersikap lebih bijak daripada orang-orang dewasa. Anak-anak tanpa diminta telah dengan mudah meminta maaf atas kesalahannya. Mereka tak merasa gengsi meminta maaf. Sementara anak-anak pun dengan tulus memaafkannya, tanpa mengungkit-ungkit lagi semua yang telah terjadi. Sekarang pun pertemanan di antara mereka berjalan dengan normal, tanpa ada rasa sakit hati atau dendam. Bahkan, kemarin siang pun Shasa sudah berlatih lagi menari bersama-sama dengan anggota regunya.

Tak hanya Shasa dan teman-temannya yang belajar banyak dari kejadian kemarin itu. Tapi aku, yang kebetulan tahu permasalahan itu, jadi mendapat pelajaran berharga pula dari anak-anak. Aku belajar menjadi bijak, agar aku dapat mengajarkannya kepada Shasa. Aku belajar tentang ketulusan karena kulihat anak-anak dengan mudah melakukannya. Aku belajar lebih banyak tentang kekuatan maaf yang telah mampu mengukir kembali senyum di bibir mereka-mereka yang semula bermasalah.

Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan mudah meminta maaf pada siapa saja (termasuk kepada anak-anak sekalipun) saat kita melakukan kesalahan ? Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan tulus hati memberikan maaf pada orang-orang yang telah menyakiti kita ? Apakah kita, selaku orang-orang dewasa, akan dengan mudah melupakan rasa sakit hati dan dendam di hati kita ? Apakah kita, lebih baik daripada anak-anak itu ?

Kali ini..., rasanya yang mendapat pelajaran berharga lebih banyak adalah aku dari Shasa (dan teman-temannya) ... dan bukan sebaliknya.

25 komentar:

  1. kadang yg tua juga perlu belajar dari anak2 . . . belajar memahami kepandaian anak2, bukan meniru sifat anak2, , .

    Jd inget anggota DPR klo gitu :D

    BalasHapus
  2. lugunya anak-anak akan mengingatkan kita pada masa lalu,,, kecerdasan emosional orang dewasa lebih kuat soalnya buk...

    BalasHapus
  3. shasha pinteeer.. :D

    mudah buat mereka saling memaafkan, semoga elok juga begitu, jadi orang pemaaf.. :D

    BalasHapus
  4. Siang Mb, kata maaf sememangnya mudah untuk di ucapkan, namun tidak banyak seseorang bisa meminta maaf karna banyak faktor.

    BalasHapus
  5. Kalau dikembangkan lagi maaf anak-anak tulus dan mulia, sedangkan bagi wakil rakyat kita "Maaf" berarti "uang atau posisi" lihatlah kasus besar menguap begitu saja!

    BalasHapus
  6. kalo aku sih pemaap bu. terlalu banyak obral maap sampe orang suka sembarangan. hehehe nasib...

    BalasHapus
  7. sip deh. kadang kita memang harus belajar dari anak2 ya.

    BalasHapus
  8. assalamualaikum..
    sore-sore berkunjung,'
    salam kenal dari rara
    salam

    BalasHapus
  9. wah mb.Reni rajin posting, smp nggak kekejar, yg kemaren posting apa, jd nggak tau ada kejadian apa. Tp bisa sedikit membayangkan dr postingan ini.

    Benar mbak, mungkin energi negatif spt dendam dll dlm diri anak itu nggak ada atau minim sekali ya mbak, dan mereka berfikir sederhana shg tdk suka membesar-besarkan masalah.

    BalasHapus
  10. anak2 masih lugu belom tercemar dg perasaan gengsi....... beda dengan orang dewasa.... kok bisa ya.......

    BalasHapus
  11. iya mba kadang kita lupa untuk belajar dari hal-hal kecil seperti itu..........padahal itu menjadi hal yg mendasar dalam kehidupan kita!!!!

    saya juga masih perlu banyak belajar nih heheheheheheh...........

    BalasHapus
  12. Memang Kita harus sering belajar dari anak-anak yang masih polos.. apalagi kalau dalam masalah egoisme orang dewasa..
    thnks sharingnya

    BalasHapus
  13. yup....anak-anak lebih mudah memaafkan daripada kita orang dewasa...
    dan mereka tidak mudah menyerah..kalau gagal pasti mau nyoba lagi..
    coba kita yang tua-tua...gagal sedikit langsung give up..
    salam kenal ya bunda..buat sasa..

    BalasHapus
  14. suLit untuk meminta maaf dan Lebih suLit Lagi untuk memaafkan.
    dari kisah tersebut, maka kita orang yang Lebih dewasa harusnya Lebih banyak mempeLajari dari haL-haL keciL yang kerap terjadi pada anak keciL.
    terima kasih atas kisahnya, bermanfaat.

    BalasHapus
  15. terkadang malahan orang tua yang gak bisa mngerti dan memaafkan seperti kejadian pertengkaran anak TK yg berujung ke kantor polisi, padahal anaknya sudah bermain sama-sama lagi. Allah saja Maha pemaaf masa kita ciptaanya tidak memaafkan

    BalasHapus
  16. itulah bedanya ortu dgn anak2 ya mbak :)

    BalasHapus
  17. Terkadang anak2 lbh dewasa dibanding usianya
    dan manusia dewasa malah bertingkah kekanak2an..
    hiks
    *playback memory td siang liat atasan pd berantem pas rapat

    BalasHapus
  18. belajar n bermain bersama anak2 sangat menyehatkan

    BalasHapus
  19. wah... benar sekali mbak... seringkali dari seorang anak yang kita anggap tidak tahu apa-apa, kita bisa belajar banyak hal...

    BalasHapus
  20. Ya terkadnag jiwa polos anak2 memberi kan ilham perdamaian dan kedisiplinan. Beda bangets kalo udah dewasa. Mungkin karena pengaruh linkungan juga bu makanya orang dewasa lebih gimana gtu dari pada anak kecil

    BalasHapus
  21. wah masih ada kelajutannya toh..

    ini episode trakhir kan bu?

    BalasHapus
  22. Iya mbak ,terkadang yg muda juga bisa memberi kita inspirasi

    BalasHapus
  23. Benar, mengarahkan anak-anak secara dini sangat bermanfaat.
    Mengarahkan para pengantri sembako gratis lebih susah kan, mereka sampai terinjak-injak karena tak mau antri, bahkan sampai ada yang mati.

    salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  24. iya mbah makasih yaa...salam kenal n kunjungan balik..

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)