Minggu, 28 Juni 2015

Usaha Keras yang Tak Sia-Sia

Keberhasilan Shasa memperoleh nilai UN SMP 2015 tertinggi peringkat ke-2 se Jawa Timur dan peringkat ke-1 se-Kota Madiun bukanlah diperoleh dengan mudah. Shasa memperolehnya melalui kerja keras, keteguhan hati dan ketekunan. Selama beberapa bulan lamanya Shasa ekstra keras belajar untuk bisa menguasai pelajaran yang diujikan pada saat UN.

Memang sejak kelas 7 sampai kelas 9 Shasa selalu masuk kelas unggulan. Bahkan selama ini rangkingnya di kelas tak pernah keluar dari 10 besar. Namun, Shasa menyadari bahwa untuk pelajaran matematika dan IPA dia masih merasa kurang menguasai. Itu sebabnya dia minta untuk ikut bimbingan belajar begitu masuk kelas 9. Selain itu, Shasa tak segan bertanya pada teman-temannya jika ada pelajaran (khususnya matematika) yang kurang mampu dipahaminya.

Syukurlah, selama ini teman-teman Shasa tak segan berbagi ilmunya. Walau Shasa sering bertanya mereka telaten menjawabnya. Apabila penjelasan dari guru di sekolah dan penjelasan dari teman-temanya dirasa kurang memuaskannya, Shasa akan minta masuk les tambahan di bimbingan belajarnya. Tak jarang dia memintaku membelikan beberapa buku lain untuk membantunya memahami suatu materi.

Mulai bulan April 2015 setiap hari murid-murid di kelas 9 hanya diberi pelajaran yang akan diujikan dalam UN. Namun, selain itu sekolah juga mengadakan kegiatan Intesifikasi Belajar (IB). Namun, tidak semua murid bisa mengikuti IB yang diadakan setelah jam sekolah itu. IB yang diselenggarakan di sekolah Shasa itu hanya ada beberapa kelas. Ada “kelas atas” sebanyak 1 kelas yang hanya diisi 20 anak yang dirasa “unggul” pada masing mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN. Selain itu ada beberapa “kelas bawah” yang diisi anak-anak yang “kurang” pada masing-masing pelajaran yang diujikan dalam UN.

Nah, Shasa tidak termasuk dalam anak yang ikut IB itu, baik itu kelas atas maupun kelas bawah. Aku tak tahu apa alasan pihak sekolah tidak memasukkan Shasa dalam kelas atas padahal selama ini hasil try out Shasa cukup bagus. Apalagi beberapa hari sebelumnya, Shasa dan 14 temannya ditunjuk untuk mewakili sekolahnya mengikuti try out tingkat kota yang diselenggarakan MKKS SMP Kota Madiun.

Ternyata, Shasa sendiri merasa sedih dan tersisih karena dia tidak termasuk murid yang dipilih ikut IB untuk kelas atas. Sebenarnya Shasa sudah berusaha untuk menemui gurunya dan meminta ijin untuk bisa mengikuti IB tersebut. Sayang guru tersebut menolak dengan alasan : guru yang memberikan IB jumlahnya sangat terbatas.

Penolakan itu ternyata sangat melukai hatinya. Melihatnya terpuruk saat itu, aku hanya bisa menyemangatinya. Kukatakan padanya bahwa inilah kesempatan yang diberikan Allah padanya untuk membuktikan pada guru-guru di sekolah bahwa tanpa ikut IB dia bisa berhasil. Tiap hari kucoba untuk memotivasinya bahwa bukan berarti belajar sendiri tidak bisa berhasil. Alhamdulillah... usahaku menyemangatinya berhasil. Shasa menjadi sangat bersemangat dan termotivasi untuk bisa berhasil dari perjuangannya sendiri.

Sejak saat itu, Shasa mengatur sendiri jam belajarnya. Disusunnya materi-materi yang akan dipelajarinya. Dan, dia dengan disiplin menjalani semua itu sendiri. Aku dan suami hanya bisa menemani dan memberikan support padanya. Untuk bekal belajarnya kami belikan semua buku-buku yang dia minta. Selain itu yang tak boleh ketinggalan adalah... kami sediakan semua bekal makanan yang akan menemaninya belajar. Hehehe...

Selama kurang lebih sebulan aku dan suami melihat Shasa sangat fokus pada pelajarannya. Bahkan Shasa sampai rela bergadang hanya untuk menyelesaikan materi sebagaimana yang dijadwakannya itu. Hasilnya... nilai-nilai try outnya meningkat secara signifikan. Bahkan pada try out tingkat kota yang terakhir diselenggarakan, Shasa berhasil masuk dalam peringkat ke-5 se-Kota Madiun.


Radar Madiun, 22 April 2015

Hasil itu tentu saja menggembirakan Shasa dan semakin menyemangatinya untuk semakin tekun mempersiapkan diri menghadapi UN. Namun, pada saat pelaksanaan UN aku sudah berpesan dan melarang Shasa untuk tidak lagi bergadang. Jika dia tetap ingin belajar aku hanya mengijinkannya sampai pukul 21.00 WIB. Pulang dari UN pun aku memintanya untuk beristirahat dulu dan baru belajar lagi sore hari.

Alhamdulillah... akhirnya kerja keras Shasa membuahkan hasil yang sangat membanggakan. Shasa berhasil membuktikan bahwa kerja keras tak pernah sia-sia. Shasa membuktikan bahwa keberhasilan hanya bisa diperoleh dengan kerja keras dan ketekunan. Akhirnya aku bisa menunjukkan kebenaran dari nasehatku selama ini padanya bahwa Allah akan membayar sebanyak apa yang kita usahakan.

Man Jadda Wa Jada, barangsiapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Shasa telah bekerja lebih keras dari teman-temannya. Shasa juga sudah meningkatkan ibadahnya dengan puasa. Yang terakhir, Shasa sudah menyerahkan hasilnya pada Allah... dan ternyata Allah memberikan imbalan yang pantas untuk semuanya. Alhamdulillah.... Semoga setelah ini Shasa tak lagi takut bekerja keras karena dia sudah membuktikan bahwa tak ada kerja keras yang sia-sia. Aamiin.

14 komentar:

  1. Aamiin..jd inget postingan Om Rawins td ttg diskriminasi.

    Sasha sdh membuktikan, beljar usaha n do'a mngantarkan Sasha mjd juara..tetap semangat dan terus belajar ya Sha ;-)

    BalasHapus
  2. ::
    Excellent memang Audrey....

    Satu lagi, bukti bahwa ALLAH itu ada dan sayang banget pada Audrey yang hanya berharap dari belas kasihan ALLAH, see...semua yg Audrey usahkan: ada hasilnya...
    waaah, bukan kepalang senangnya... Paling enak memang hanya berharap padaNYA ya, Audrey.... nggak penting masuk IB... Malah bisa-bisa jika masuk IB, score-nya nggak sampe 396.00

    Tante Upique masih terus berdoa: Audrey sampai di Silicon Valley, USA.
    Aamiin..
    ������

    BalasHapus
  3. ::
    tetap terus seperti sekarang ya Audrey.... Bertanya jika kurang mengerti dan selalu menjelaskan jika ada teman yang bertanya... Karena dengan menjelaskan pada teman yang bertanya; Audrey akan semakin pintar untuk hal tsb... Pasti...
    Peluk peluk untuk Audrey dari:
    Elmo, Oscar & Venus
    😘😘😘😘

    BalasHapus
  4. setuju, usaha keras memang tidak akan sia, kalau kita berusaha selalu, pasti akan ada hasilnya

    BalasHapus
  5. Slmt berkarya.salam hangat.

    BalasHapus
  6. Aku juga melihat nama Shasa di Jawa Pos mbak Ren..Shasa memang hebat..pasti bangga memiliki anak seperti ini...

    BalasHapus
  7. Udah gede ya..?
    Kenapa kalo dengar nama Shasa aku selalu mikir gadis kecil dengan seragam putih merah terus ya..?

    BalasHapus
  8. Mba Reni, selamat ya buat shasaaa, iiihg gemes banget sama saya sendiri. Jaman tes-tes seperti itu kurang greget kali y

    BalasHapus
  9. Selamat ya Shasa nanti kasih tips buat Pascal ya

    BalasHapus
  10. Sekali lagi, selamat utk Shasa. Dan saya salit dengan kerja kerasnya! *cubit pipi Shasa*

    BalasHapus
  11. Waa... Selamat Sasha, hebaaat euy... Masuk 5 besar se Madiun! Ikut seneeeng...

    BalasHapus
  12. waaah... selamat ya Shasa.. perjuangannya nggak sia - sia :')

    BalasHapus
  13. Shasa kereeenn.. salut deh..
    Ayoo Sha, SMA harus lebih giat lagi dunk ya ;)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)