Senin, 07 September 2015

Belajar Menjadi Manajer

Beberapa hari terakhir ini Shasaku belajar menjadi manajer. Lebih tepatnya menjadi manajer kelompok vocal group di kelasnya. Begini cerita lengkapnya. Bulan September ini, sekolah Shasa merayakan ulang tahun. Nah, untuk merayakannya maka sekolah menggelar semacam bazar dan pentas seni di sekolah pada tanggal 5 September 2015 yang lalu.

Untuk mempersiapkan dan menyambut ulang tahun sekolah itu, Shasa dan semua teman-temannya sibuk sekali. Murid-murid di kelas dibagi dalam berbagai kelompok. Ada yang bertugas mengurus keindahan kelas. Ada yang membuat lampion (walau pada akhirnya lampionnya dibuat beramai-ramai). Ada yang bertugas membuat baju dari bahan bekas (koran) yang dipakai untuk pawai. Ada yang berlatih dance dan vocal group untuk pentas seni.

Awalnya Shasa dan beberapa orang teman bertugas membuat baju dari bahan bekas. Untuk mengerjakannya, Shasa dan teman-temanya harus kerja kelompok. Untunglah ada saudara dari teman sekelas Shasa yang mau sukarela membantu membuat baju dari bahan bekas itu, sehingga baju itu bisa lebih cepat jadi dari jadwal yang ditargetkan.

Urusan membuat baju yang sudah beres membuat Shasa jadi tak lagi repot dengan urusan persiapan pentas seni. Di saat itu, teman-teman vocal group sedang kebingungan mencari seorang "penanggung jawab" yang mengatur segala sesuatu terhadap kelompok vocal group. Akhirnya... jadilah Shasa menawarkan diri menjadi "penanggung jawab" kelompok vocal group.

Awalnya, Shasa bercerita padaku bahwa dia menjadi "penanggung jawab" kelompok vocal group di kelasnya. Namun setelah mengetahui apa saja tugas yang dikerjakannya selaku penanggung jawab, aku mengatakan pada Shasa kalau dia lebih tepat disebut sebagai manajer. Dan kulihat, Shasa benar-benar total menjalankan tugasnya sebagai manajer. Aku bahkan sering tersenyum geli saat Shasa menyebut anggota vocal group-nya dengan istilah "anak-anakku" hehehe.

Meskipun baru belajar menjadi manajer, kulihat banyak sekali yang telah dilakukan Shasa. Dia yang mengatur jadwal latihan. Dia juga sibuk mencari, memilih dan menawarkan lagu pada kelompok vocal groupnya. Dia juga yang mengurus keperluan latihan, termasuk mencarikan konsumsi. Dia juga memikirkan baju yang akan dipakai saat pentas. Bahkan Shasa rela meminjamkan baju miliknya jika ternyata ada anggota vocal group yang tak punya baju sesuai yang ditentukannya.

Agar kelompok vocal group-nya bisa tampil prima saat pentas seni, Shasa juga tak segan melarang mereka makan makanan berminyak. Dia juga sempat "memarahi" teman-temannya yang ketahuan minum es. Untungnya, anggota vocal group itu manut aja dimanajeri orang yang galak seperti Shasa.

Ada satu cerita yang membuatku terkesan. Suatu malam, saat mereka sedang berlatih di sekolah, Shasa mengirim pesan padaku. Dalam pesannya itu Shasa menanyakan apa yang harus dilakukannya menghadapi "anak-anaknya" yang sedang down. Rupanya, malam itu beredar kabar bahwa aturan untuk kelompok vocal group yang akan tampil di pentas seni diubah.

Hal itu tentu saja menjadi berita yang sangat menyakitkan bagi kelompok vocal group Shasa. Maklum saja, sudah berhari-hari mereka berlatih sampai malam. Lagu yang akan mereka tampilkan sudah siap. Bahkan aransemen sudah jadi dan latihan sudah matang. Bisa dibilang kelompok mereka sudah siap tampil.

Membayangkan kerja keras mereka akan sia-sia, mereka menjadi sangat down. Yang cowok maupun yang cewek sama-sama frustrasi dan tak ada yang mampu mengontrol emosi. Ada yang nangis, ada yang marah-marah dengan membanting barang atau menghentak-hentakkan kaki, bahkan ada yang teriak-teriak. Suasana kacau. Dan Shasa, sang manajer, kebingungan. Lantas dia mengirim pesan padaku untuk menanyakan apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan "anak-anaknya".

Malam itu aku hanya bisa mengatakan padanya bahwa yang terpenting adalah kekompakan kelas. Jika mereka merasa tak punya waktu untuk memulai lagi dari nol, kuusulkan agar tetap tampil sebagaimana mereka berlatih selama ini. Tapi satu kelas harus siap dengan resikonya, karena tidak sesuai aturan yang ditetapkan. Apapun resikonya harus siap ditanggung bersama oleh kelas mereka.

Namun sebaliknya aku juga mengatakan kalau mereka tidak siap menerima resiko akibat tampil tidak sesuai aturan, maka mereka harus siap memulai dari nol. Namun seluruh anggota vocal group harus siap untuk berlatih lebih keras mengingat waktu tampil tinggal beberapa hari lagi. Intinya, susah senang, baik buruk harus diterima bersama oleh teman-teman sekelas. Apapun jika kompak, akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Ternyata, setelah Shasa membicarakan hal itu dengan anggota vocal group dan juga teman-teman sekelas, mereka memilih untuk mengikuti aturan saja. Mereka siap untuk memulai dari nol, walau untuk itu mereka harus bekerja lebih keras lagi. Tapi syukurlah, keesokan harinya ada berita gembira. Aturan baru dibatalkan sehingga anggota vocal group Shasa bisa tersenyum lega.

Aku bangga dengan semua yang telah dilakukan Shasa. Aku bersyukur, acara ulang tahun sekolah dan pentas seninya telah memberikan kesempatan bagi Shasa untuk belajar menjadi manajer. Aku yakin pengalaman ini memberikan banyak manfaat bagi Shasa.

27 komentar:

  1. belajar berorganisasi itu bagus sekali untuk latihan leadership.. kepake terus kedepannya... :))
    hihi iya mbak reny apakabarrrr??

    shasa udah makin besar saya inget waktu masih SD lucu banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kabar baik Ninda.... iyaaa Shasa sudah SMA sekarang, Waktu cepat sekali berlalu yaa.... hehehe

      Semoga apa yang telah dipelajari Shasa itu bermanfaat bagi Shasa kelak yaa... :)

      Hapus
  2. manager adlh orang yg memanage...
    kayaknya boleh jg tuh Sasha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang dilakukan Shasa.... dia telah belajar untuk memanage teman-temannya agar dapat tampil maksimal saat pentas seni

      Hapus
  3. Shasa hebat banget ya..bisa memarahi mereka yg kurang konsisten...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha itu dilakukan Shasa saat teman-temannya bandel makan gorenga dan minum es padahal kondisi fisik mereka sedang drop karena kelelahan

      Hapus
  4. Woww...bisa dipupuk terus tuh mba bakat manajerial Shasa. Mba Shasa keren deeehh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Dek Un.... semoga makin terasah ya.... Makasih banyak :)

      Hapus
  5. Assalamualaikum..Bu Reni. Kunjungan perdana nih. salam sesama blogger.
    Wah Shasa mendapat pelajaran yang berharga, menjadi manager.
    Lumayan berat menjadi leader, selain sebagai otak pemikir, juga tanggung jawabnya.
    Semoga Shasa mendapat hikmah dari belajarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam pak Rachmat...
      Iya pelajaran yang tak terduga da luar biasa... syukurlah dia menikmatinya dan bisa menjalankan dengan cukup baik.
      Terimakasih sudah mampir

      Hapus
  6. sasha pinterrr... semoga nanti jadi manajer yang bijak ya shasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... terimakasih banyak Dek Echa untuk doanya :)

      Hapus
  7. ikut bangga sama Sasha yang sudah bisa memimpin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak dek Lia :)

      Hapus
  8. Wah hebat, belajar sejak dini ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... syukurlah Shasa mendapatkan kesempatan istimewa untuk bisa belajar menjadi manajer hehehe

      Hapus
  9. Sasha makinn kereen, Bu! Salut dah, bisa memanejeri kelompok. Semoga kedepan makin terasah jiwa leadershipnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... terimakasih untuk doanya.
      Semoga kelak apa yang telah dipelajarinya itu bermanfaat bagi masa depannya :)

      Hapus
  10. belajar leadership memang harus ditanam dari dini supaya nantinya bisa memimpin suatu organisasi .. dan tidak malumalu nantinya kalau dr kecil sudah biasa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mbak.... itu makanya aku mendorongnya untuk memanfaatkan kesempatan menjadi manajer itu dengan sebaik-baiknya :)

      Hapus
  11. Hai mba, kunjungan yang pertama ini. Leadership yang dipupuk sejak dini, insya Allah akan mematangkan mental dan membuatnya menjadi bijak. Sukses untuk Sasha dan mamanya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak sudah mampir dan meninggalkan jejak... Terimakasih juga untuk doanya :)

      Hapus
  12. Shasha tentu mendapatkan pengalaman yang penting dalam kegiatan ini ya; karena belajar menjadi manajer tentu akan terasa manfaatnya bila praktik secara langsung. Salut untuk Shasha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak Pak... Shasa memang telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa sekaligus mengambil banyak pelajaran darinya. Untungnya... Shasa menyukainya sehingga tak merasa terbebani sama sekali selama belajar menjadi manajer saat itu hehehe

      Hapus
  13. emang sangat penting leadership ini, dengan kemampuan ini hidup kita juga menjadi lebih teratur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sekali untuk apresiasinya :)

      Hapus
  14. belajar dari kecil banyak manfaatnya ya Mba, yuk ach belajar memenejeri diri saya..uhuuuk

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)