Sabtu, 05 September 2015

Plus Minus Kerja Kelompok

Plus minus kerja kelompok ini aku catat setelah berulang kali aku mengamati kegiatan kerja kelompok yang diikuti Shasa sejak SD hingga SMA. Memang, saat SD frekuensi kerja kelompok memang tak banyak. Memasuki bangku SMP frekuensi kerja kelompok meningkat drastis. Begitu juga saat Shasa duduk di bangku SMA saat ini.

Walau terhitung Shasa baru menjadi siswa SMA selama 1 bulan lewat beberapa hari tapi frekuensi kerja kelompoknya sangat padat. Bahkan di hari pertama masuk sekolah pun Shasa langsung kerja kelompok pada sore harinya. Apalagi pada awal September ini sekolah Shasa akan merayakan HUT, otomatis setiap hari Shasa dan juga teman-temannya kerja kelompok. Selain kerja kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, tapi juga kerja kelompok untuk mempersiapkan perayaan HUT sekolah.

Kebetulan beberapa kali kerja kelompok dilakukan di rumah kami. Mulai dari kerja kelompok yang hanya terdiri dari 3-4 orang sampai yang diikuti 30 anak (1 kelas) sekaligus! Beberapa kali juga kerja kelompok dilakukan dalam 2 shift. Misal shift pertama untuk mengerjakan tugas mapel matematika, shift kedua untuk mengerjakan tugas mapel kesenian.

Memang kerja kelompok itu menyita banyak waktu Shasa dan teman-temannya. Apalagi dengan jadwal yang sedemikian padat aku terkadang merasa kasihan juga pada Shasa dan teman-temannya yang nyaris tak punya cukup waktu untuk istirahat itu. Dan setelah sekian lama mengamati kegiatan kerja kelompok yang dilakukan Shasa dan teman-temannya inilah catatan plus minus kerja kelompok versiku.

Yang plus dari kegiatan kerja kelompok antara lain :
  1. Anak-anak dilatih untuk bekerja bersama dalam satu tim. Membangun kerjasama ini ternyata tak mudah, sehingga jika mereka ingin tugas kelompok mereka terselesaikan dengan baik maka mereka harus mampu menekan ego masing-masing, mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, saling tolong menolong dan bahu membahu menyelesaikan tugas kelompok.
  2. Tugas akan jauh lebih mudah dan lebih baik saat dikerjakan bersama daripada dikerjakan sendiri. Dengan banyaknya tenaga yang mengerjakannya dan juga banyaknya sumbang saran dari anggota kelompok maka hasil pekerjaan itu akan lebih baik daripada dikerjakan sendiri.
  3. Memupuk semangat kebersamaan, senasib sepenanggungan sehingga makin mendekatkan mereka satu sama lain.

Yang minus dari kegiatan kerja kelompok antara lain :
  1. Masih ada anak-anak yang kurang disiplin dan belum bisa menghargai waktu. Mereka seenaknya saja datang terlambat yang tentunya membuat teman yang lain menunggu sehingga pekerjaan menjadi selesai lebih lambat daripada seharusnya.
  2. Seringkali anak-anak kurang fokus dalam bekerja dan belum bisa melakukan sesuatu sesuai skala prioritas. Mereka seringkali lebih banyak bercandanya daripada menyelesaikan pekerjaan mereka. Hal ini tentu saja menyebabkan pekerjaan mereka tak kunjung selesai.
  3. Ego anak-anak yang masih tinggi bisa menyebabkan pertengkaran apabila ada yang memaksakan kehendak ataupun idenya dan tak ada yang mau mengalah.
  4. Ada anak-anak yang malas dan tak mau repot ikut kerja kelompok sehingga ketidakaktifannya menjadi beban teman-teman lain di kelompoknya.

Agar kerja kelompok ini memberikan hasil yang maksimal (sebagaimana yang diharapkan) tentu saja perlu upaya untuk menekan hal-hal yang bersifat minus dari kerja kelompok tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melibatkan peran orang dewasa. Tak ada salahnya guru pembimbing masing-masing pelajaran atau guru BK, senantiasa mengingatkan anak-anak tentang pentingnya disiplin dan kerjasama agar pelaksanaan kerja kelompok memberikan hasil maksimal. Anak-anak harus seringkali diingatkan tentang tujuan dibentuknya kelompok-kelompok tersebut. Dan untuk anak-anak yang tak aktif kerja kelompok sebaiknya nilainya dibedakan dari teman-teman lain di kelompoknya.

Selain itu, orang dewasa yang menjadi tuan rumah pelaksanaan kerja kelompok di rumah tak ada salahnya memberikan arahan dan nasehat apabila diperlukan. Jika terlihat anak-anak terus menerus bercanda dan tak kunjung mengerjakan tugas mereka, tak ada salahnya mereka diingatkan untuk menyelesaikan tugas mereka dahulu. Jika tugas selesai baru mereka bisa bercanda lagi sepuasnya. Atau jika terlihat ada pertengkaran tak berkesudahan antara anggota kelompok, tak ada salahnya orang dewasa melerai dan mencarikan solusinya.

Mungkin, masalah dalam kerja kelompok akan lebih banyak muncul saat anak-anak masih duduk di bangku SD-SMP. Saat mereka sudah duduk di bangku SMA, kemungkinan munculnya masalah bisa semakin kecil karena mereka sudah mampu berpikir dan bersikap jauh lebih dewasa.

Namun sejauh ini plus minus kerja kelompok ini telah membuat Shasa-ku belajar dari kerja kelompok.

20 komentar:

  1. memang pengalaman kerja kelompok banyak muncul saat SD, SMP

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat SMA lebih banyak lagi kok :)

      Hapus
  2. Nah ini. Kemaren banget A Radit juga kerja kelompok di rumah. Aduh... itu temen2nya banyak yang gak disiplin. Malah maen hape aja. Tadinya mau aku tegur. Tapi dipikir2 ah biarin aja, anak orang lain ini. Asal jangan anakku aja. Heheheheh.... males ribut :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kan karena temannya asyik main HP jadinya kerjaan kelompok ka ga kelar-kelar mbak. Yang gitu itu sering bikin kita gemes yaa.... pengen negur dan mengingatkan tapi ada rasa ga enak karena itu anak orang lain hehehe

      Hapus
  3. iya mbak emang kudu belajar...soalnya kita kan hidup dengan banyak orang bisa kerjasama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Proses belajar yang panjang dek Echaa.... dan semoga anak2 itu juga dapat mengambil pelajaran penting dari kerja kelompok ini

      Hapus
  4. Rajin bangeet. Rumah sll ramai dong, Mbak. Sudah SMA udah ngga ada kejar2an lagi pas belajar kelompok, ya. Lebih tertib. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa mau ga mau kudu rajin, Idah... kalau gak gitu tugas sekolah gak akan bisa kelar.
      SMA sih sudah ga kejar-kejaran lagi.... tapi sibuk dg gadget masing-masing hehehe

      Hapus
  5. Iya, mba. Kadang ada anak yang masih menggantungkan temennya buat tugas. Biar dia leyeh2. Fiuh, kadang jengkel juga kalo gitu ya. Jadi nggak imbang kerja kerasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa.... kalau ada yang ga ikut kerja, cuma nitip nama aja itu emang bener-bener bikin kesel hehehe

      Hapus
  6. iya kadang kerja kelompok itu suka ga berimbang, suka ada yg males2an, tapi terlepas dari itu kerja kelompok itu seperti membangun kerjasama tim ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu makanya mbak.... agar manfaat kerja kelompok benar-benar terwujud maka perlu bimbingan dan arahan dari orang-orang yang lebih dewasa

      Hapus
  7. mba rani anaknya sudah sma toh...nampak awet muda hehe. anak saya masih sd kelas 2 belum ad akerja kelompok tp tiap sore bawa teman2nya (tetangga) ke rumah, ramenya bukan main,...mungkin begitu juga ya suasana kerja kelompak, ramai yang serius beberapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaa..... aku seneng banget nih disebut awet muda hahaha....
      Tunggu aja mbak saat-saat anak sudah sibuk dengan kegiatan kerja kelompok hehehe

      Hapus
  8. kalau boleh memilih aku pasti milih kerja sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa, dek Lia? Biar kerjaan lebih cepat beres tanpa tergantung orang lain ya?
      Pascal sudah mulai kerja kelompok belum nih?

      Hapus
  9. ya gitu deh... belum kalo ntar mahasiswa sebenernya kelakuan tim juga sama aja kok... tapi yaudah semangat shasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sih.... karakter orang kan emang beda2 ya... ada yang cuek, santai dan serius... nah kalau mereka kerja dalam 1 kelompok susah juga ya? hehehe

      Hapus
  10. Belajar kelompok menguntungkan, tetapi tidak boleh terlalu majemuk persertanya. biar lebih mudah mengontrolnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya.... kalau kerja kelompok untuk mengerjakan tugas sekolah... kan ga bisa milih anggota kelompokya Pak hehehe

      Hapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)