Kamis, 11 Februari 2016

Hidup adalah pilihan

Yups..., hidup adalah pilihan. Dalam kehidupan ini kita akan terus dihadapkan pada pilihan demi pilihan. Mau tidak mau, suka tidak suka... kita tetap harus memilih. Mulai dari pilihan-pilihan sepele sampai pada pilihan-pilihan yang membuat kita sakit kepala saat memikirkannya. Kalau sekedar memillih mau pakai baju apa hari ini atau memasak apa hari ini sepertinya tak akan membuat kita pusing memikirkannya selama berhari-hari.

Beda urusannya saat seseorang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menyangkut 'masa depan'. Seperti yang dialami Shasa saat masuk SMA beberapa bulan lalu. Shasa bingung memilih antara masuk IPA atau IPS. Sebenarnya, Shasa ingin masuk ke IPS karena merasa lebih berminat pada pelajaran-pelajaran di IPS. Namun, saat mengetahui bahwa di sekolahnya 'kuota' untuk jurusan IPS hanya ada 2 kelas, Shasa jadi berpikir ulang untuk masuk IPS. Padahal 'kuota' untuk jurusan IPA disediakan sebanyak 7 kelas.

Perbandingan 7 kelas versus 2 kelas itu menjadi bahan pertimbangan Shasa. Sudah terbayang bagaimana kelas 'minoritas' itu akan jauh lebih sedikit mendapat perhatian dari sekolah maupun guru-guru. Apalagi ternyata mayoritas guru-guru untuk pelajaran IPS bukanlah guru-guru yang ada di sekolah Shasa, melainkan guru-guru dari sekolah lain. Akhirnya, Shasa memilih untuk mengambil jurusan IPA dengan segala macam konsekuensi yang harus diterimanya.

Begitu juga saat Shasa memilih ekstra kurikuler di sekolah. Di sekolah Shasa, murid-murid di sekolah Shasa hanya diijinkan mengambil paling banyak 2 ekstra kurikuler. Jika ternyata ada yang mengambil lebih dari 2, maka resiko keteteran di sekolah harus siap ditanggung. Shasa sendiri memilih 2 ekstra kurikuler yaitu : English Club dan teater. Dibandingkan dengan English Club, kesibukannya di teater sangat menyita waktu. Apalagi jika teaternya hendak tampil, bisa 2 minggu full Shasa akan pulang malam karena berlatih untuk tampil.

Bagaimana dengan sekolahnya? Tentu saja mau tak mau sekolahnya jadi agak keteteran juga. Pulang sekolah sudah malam tapi masih harus mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Dan, karena sudah memilih untuk memulainya maka Shasa harus siap untuk menyelesaikannya. Shasa belajar untuk bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang telah diambilnya.

Soal pilihan hidup, aku jadi teringat dengan dek Astin Astanti. Dia baru saja membuat pilihan penting bagi hidupnya. Pilihan yang akan mempengaruhi suami dan juga anak-anaknya. Setelah berpikir sekian lama dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya dek Astin memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia mengundurkan diri dari pekerjaan yang sekian lama ditekuninya.

Dek Astin telah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang bisa full mengurus suami dan kedua anaknya. Kebetulan, saat itu dek Astin baru saja melahirkan anak kedua. Memiliki bayi memang menuntut seorang Ibu untuk bisa memberikan perhatian penuh. Apalagi ditambah kakak si bayi yang merasa cemburu dengan adik bayinya. Meninggalkan kedua anaknya untuk bekerja tentu saja membuat Dek Astin tak tenang di kantornya.

Kini dek Astin telah menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Tentu saja setelah sekian lama disibukkan dengan pekerjaan kantor, dek Astin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri untuk sepenuhnya berada di rumah dan mengurusi semua pekerjaan rumah. Namun, kini dia telah merasa nyaman dengan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah tangga. Dia bisa memberikan seluruh waktu dan perhatiannya untuk keluarga, khususnya untuk tumbuh kembang kedua anaknya : Faiz dan Fira.

Meskipun kini menyandang status sebagai ibu rumah tangga namun bukan berarti dek Astin tak bisa berkarya. Dek Astin tetap mendapat penghasilan dari blog-blog yang dikelolanya. Apa yang telah didapatkannya setelah melepaskan pekerjaannya telah meyakinkan dek Astin bahwa pilihan yang diambilnya adalah yang terbaik untuk keluarga kecilnya.

Apakah pilihan tersulit yang telah kau ambil dalam hidupmu, sobat?


11 komentar:

  1. Wih, minoritas banget ya penjurusannya. Shasa tetap semangat yaaa meskipun banyak kegiatan.

    BalasHapus
  2. Setiap pilihan yang diambil tentunya sudah dipertimbangkan masak masak dan penuh perhitungan dengan resiko terukur

    BalasHapus
  3. Beda dengan SMU aku dulu ya Mbak, IPA lebih sedikit dr IPS. Memutuskan untuk memilih sesuatu memang harus memikirkan konsekuensi masing- masing pilihan. Tks Mbak Reni, telah memberikanku semangat yang luar biasa.

    BalasHapus
  4. Hidup memang dihadapkan banyak pilihan.
    Semangat ya Shasha.
    Kalau di sekolah si sulung, hanya boleh satu extra saja. Jadi kalo sudah masuk tim lomba, nggak boleh ikut extra atau OSIS. Begitu juga kalo sudah jadi anggota OSIS, nggak boleh ikutan extra. Mungkin biar pelajaran nggak keteteran :)

    BalasHapus
  5. Liat anak sekolah jaman sekarang itu capek ya Mbak? Tapi yang ngejalanin enjoy aja :).

    Pilihan tersulit saya waktu harus berhenti jadi TKW. Nyesek banget waktu itu, karena harus berhenti jadi majikan di rumah majikan *saking enaknya pekerjaan disana* hihi

    BalasHapus
  6. hidup memang selalu penuh pilihan ya mba. Semoga pilihan yang kita ambil selalu yang terbaik :)

    BalasHapus
  7. semangaaaat...memang anak sekolah sekarang heboh yaaa...aku pun mengalami banyak pilihan sulit dalam hidup tapi yakin dan percaya bahwa allah WT akan berikan kita yang terbaik :)

    BalasHapus
  8. duh sayang sekali ya Shasha gak bisa masuk IPS, tapi INsya Allah Shasha juga bisa sukses di IPA

    BalasHapus
  9. Pengen banget jadi fulltime mom mbak, tapi sepertinya belum berani untuk mengambil keputusan, baru sebatas angan-angan aja. Hikss, memang harus berani dalam memutuskan supaya hidup jadi lebih tenang ya mb. Salam kenal

    BalasHapus
  10. Setiap orang pastinya memilih sebuah pilihan dengan pemikiran yang matang... ^^

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)