Jumat, 08 Mei 2020

Seperti apa engkau ingin dikenang?

Hari Rabu, tanggal 8 April 2020 yang lalu masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berpulangnya seorang musisi berbakat berdarah Ambon. Glenn Fredly. Kabar itu tentu saja sangat mengejutkan apalagi musisi yang masih tergolong muda itu tidak pernah diketahui menderita sakit sebelumnya. Kabar duka tersebut semakin menyesakkan dada saat diketahui bahwa Glenn meninggalkan buah hati pertamanya yang baru berusia 40 hari. Belum puas baginya menimang buah hati yang begitu dicintainya. Belum lama dia mengayuh biduk rumah tangga dengan istri yang belum lama dinikahinya.

Bagi para penggemar sejatinya, belum puas rasanya mendengarkan lagu-lagu indah buah karyanya. Belum puas menikmati suara indahnya dan wajah manisnya. Belum puas menyaksikannya bernyanyi dan menghibur para penggemarnya. Belum puas merasakan kerendah-hatiannya dan sikap ramah tamahnya, yang jauh dari sikap jumawa seseorang yang merasa terkenal dan diidolakan.

Bagi orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang selama ini berjalan bersamanya, begitu banyak kenangan indah yang tak ingin dilupakan begitu saja. Mereka seakan-akan ingin mencurahkan segala kenangan indah tentang kebaikan hati seorang Glenn Fredly. Mereka semua ingin berbagi cerita tentang apa saja kenangan dan pelajaran hidup yang mereka dapatkan dari Glenn Fredly. Dari semua kenangan yang mereka bagikan itu, terlihat sekali bahwa mereka sangat mencintai, menghormati, menghargai, dan mengagumi sosok Glenn Fredly. Betapa mereka semua sangat kehilangan sosoknya.

Aku juga melihat begitu banyak hal yang dilakukan oleh banyak orang untuk mengenangnya. Mulai dari puisi, lukisan, mural, dan sebagainya. Termasuk juga beberapa kali kunjungan mereka ke makam Glenn Fredly. Semua itu mereka lakukan untuk menunjukkan kecintaan dan kerinduannya pada sang idola. 

Dan hari ini, tanggal 8 mei 2020, tepat 1 bulan setelah berpulangnya musisi berdarah Ambon itu, masih kutemukan banyak ungkapan cinta dan kerinduan untuknya. Jujur saja, selama ini aku bukan penggemar sejatinya. Selama ini aku sebatas pada orang yang sangat menyukai karya-karya indahnya, tanpa ada keinginan untuk tahu lebih dalam tentang apa dan siapa dia. Namun, justru setelah dia tiada aku jadi sangat menyukainya karena mengetahui betapa "hebat"nya dia dari berbagai kenangan yang dibagikan oleh orang-orang yang pernah mengenalnya.

Selepas kepergiannya aku sangat mengaguminya. Kagum akan besarnya cinta yang telah dia tebarkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Kagum akan besarnya kepedulian dan perhatiannya pada orang lain. Kagum akan kerendah-hatiannya meskipun dia seorang atris terkenal. Kagum akan besarnya cinta orang-orang di sekitarnya kepadanya, tak peduli walau kini dia telah tiada. Kelak, istri dan anak yang ditinggalkannya akan menemukan banyak ungkapan cinta dan kekaguman yang tak luntur untuk suami dan sang ayah yang telah lama berpulang.

Kepergiannya menyadarkanku, bahwa benar ungkapan "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama". Glenn membuktikan bahwa nama baik itu lebih berharga daripada harta, karena disaat seseorang telah tiada hanya nama baik dan perbuatan baiklah yang akan dikenang oleh orang lain.

Kepergian Glenn Fredly seolah menitipkan pesan padaku: seperti apa engkau ingin dikenang? Jika ingin dikenang dengan penuh cinta, penghormatan dan kekaguman seperti yang Glenn dapatkan setelah kepergiannya, maka aku harus rajin menanam kebaikan tanpa pamrih mulai dari sekarang.

Selamat jalan Glenn... kepergianmu layak dikenang dengan penuh cinta. Kepergianmu memberikan pelajaran yang luar biasa.

Dari aku, yang terlambat mengenal dan mengagumimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)