Selasa, 29 Juni 2010

Dimana sawahku....?

Dulu..., lokasi perumahan yang kini ku tempati adalah daerah persawahan. Saat pertama kali aku masuk beli rumah di perumahan itu, di sekitar perumahanku masih banyak sawahnya. Tinggal di dekat dengan area persawahan seperti itu ada enaknya dan gak enaknya.

Seperti saat cuaca berangin, maka anginnya terasa kenceng banget terasa di rumah. Maklum saja, karena di sekitar rumah masih sangat sedikit bangunan yang menahan kerasnya angin. Hal itu tentu saja membuat rumah terasa kotor, karena angin telah dengan sukses menerbangkan debu kemana-mana. Selain itu, aku juga sering merasa kedinginan karena angin yang kenceng itu.

Enaknya, pemandangan yang sejuk dimata ada di sekitar rumah. Hamparan sawah yang menghijau terasa sangat menyejukkan. Apalagi gunung yang menjulang tinggi menjadi backgroundnya. Indah sekali. Jika musim hujan tiba, maka nyanyian kodok pasti jadi hiburan tersendiri. Suasana pedesaan masih tersisa, sehingga betah rasanya.

Namun.., semenjak kurang lebih 5 tahun terakhir, perubahan mulai terjadi. Sawah-sawah menyusut dengan sangat cepatnya dan tergantikan oleh komplek-komplek perumahan yang terus menerus dibangun tiada hentinya. Herannya, seberapa banyaknya perumahan yang dibangun, selalu saja habis terjual dalam waktu yang relatif singkat.

Perumahan Mewah = Mepet Sawah (Dekat sawah)

Perumahan yang makin banyak menyita area persawahan

Pegunungan yang melatarbelakangi persawahan

Hal ini membuatku berpikir, apakah mereka (para pembeli rumah) memang belum memiliki rumah, sehingga kehadiran komplek-komplek perumahan (yang kebanyakan bertipe RSS) sangat diminati? Ataukah, mereka membeli rumah-tumah itu sekedar untuk investasi semata, karena sejatinya mereka telah memiliki rumah sendiri?

Apapun alasannya, yang jelas kini sawah-sawah di kotaku mulai menyusut. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan, aku tak lagi dapat menemukan sawah di sekitar perumahanku. Apakah kondisi yang sama juga terjadi di kotamu, sobat?

34 komentar:

  1. Betul, meski Tangerang ( khususnya tempat tinggalku ) belumlah termasuk kota metropolitan, namun kehadiran industri telah 'menggusur' sawah-sawah yang ada. Kalau mau bermain ke sawah, kami harus pulang kampung dulu di Kebumen.

    BalasHapus
  2. Asalmaualaikum..pagi mba..iya bener mba..sama.kayaknya pihak developer terlalu haus dengan namanya target sehingga lawah eprsawahan pun jadi koeban..apdahal dampak dari kerusakan eksistem nya akan turun ke anak cucu kita...

    mungkin haru sada kebijakan tegas dari pemerintah,atau langkah (solusi) dari pemerintah menegnai penetapan lahan persawahan...

    nice artikel ...
    wasalamualaikum

    BalasHapus
  3. Mereka, para sawah2 itu, mereka lari tunggang langgang di tabrakin lokomotif industrialisasi dan perumahan.

    BalasHapus
  4. Ya bgitu lah mba smkin lamanya waktu berjalan smkin banyak perubhan.
    Tp di desaku msh bayak perkebunan bawang merah mbah jadi msh indah di pandang.

    BalasHapus
  5. Pagi Mb Reni, kampung halamanku juga sangat nyaman..kekeluargaan di perkampungan sangat lah akrab..masih bisa merasakannya dinginnya malam, sejuknya angin. Tapi sekarang sudah bayak pendatang baru jadi sedikit padat..namun begitu kenyamanan masih bisa di rasakan walau kadang sesekali terjadi kemalingan.

    BalasHapus
  6. sawah saat ini semakin lama semakin menghilang...meskipun peraturan diperketat untuk penggunaan lahan sawah namun ternyata masih bisa lolos menembus peraturan tersebut....

    BalasHapus
  7. sangat btul sis,..di tempatku aj sawah sudah jarang ditemui krn byk perumahan dan Ruko2 yang dibangun,..kl mau merasakan sejuknya suasana pedesaan terpaksa deh kami ke plosok lagi...

    BalasHapus
  8. halo met siang mampir mo baca-baca artikelnya
    terima kasih

    BalasHapus
  9. sekarang sawah2 memang terus beralih fungsi mendadi area perumahan, katanya sih memang untuk infestasi

    BalasHapus
  10. Iya ya Mbak....klo dipikir2.....sekarang didaerah pedesaan Kompleks juga mulai bermunculan.......padahal dulu masih Asri.....klo aku pulang ke solo(kampung ibuku)...aja udah kaya dijakarta suasananya hhe......

    BalasHapus
  11. Kebanyakan sih beli rumah buat investasi aja...kasian sawah2 tesisihkan dgn perumahan...

    BalasHapus
  12. catatan yang sangat bermanfaat mba......:)

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah mbak di perumahanku masih ada sawah2. Tapi denger2 sekarang disebelah perumahanku akan dibuat perumahan baru yg berarti bakal menggilas lahan persawahan di bawah kompleks perumahanku. Sedih deh

    BalasHapus
  14. Waktu pergi ke Jawa, seneng banget deh bisa lihat hamparan sawah.
    Adem banget.
    Tapi itu di desa, kalo di kota sepertinya emang udah jarang banget mbak.

    BalasHapus
  15. Kalo di Jayapura, gak ada sawah sama sekali mbak.
    Ada juga kalo didaerah kabupatennya.
    Itu juga jauh sekali dari kota.
    Parah emang.

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah..didesaku masih banyak sawah-sawah mbak..
    mklum masih ndesoo bgt sih..
    heheh.. :D

    BalasHapus
  17. Iya mbak... Di Banyuwangi aja udah mulai kayak gitu.. sawah-sawah sekitar rumahku mulai hilang dan berganti perumahan.. sedih liatnya.. padahal aku suka tuh main-main di sawah.. :( Tapi gimana lagi.. banyak yang mbutuhin rumah kali ya... kan penduduk semakin bertambah.. tapi sawah juga penting.. kalo sawah berkurang ... pRoduksi pertanian jg berkurang.. apa lama2 kita musti impor beras terus ya.. hmm...

    BalasHapus
  18. ntar kalo g ada sawah lagi kan bisa linuran di desa bu....

    BalasHapus
  19. ::Salaman Dulu::
    ::kapan ya aku bisa pertamax di blog ini maklum blogging nya kalau pulang kerja saja::

    Sebuah Fakta di Yogyakarta ( khususnya kabupaten Sleman ) areal pertanian sudah menjadi langka dan sempit saja,

    Sebuah Fakta Di Yogyakarta ada juga orang-orang yang sudah Dilarang Beli Tanah yang biasanya memang berperilaku Beli Tanah>>>Bangun Rumah>>>Disewakan

    Sebuah Fakta di tempat saya tinggal ( Bantul ) dulu depan rumah, sepanjang mata memandang adalah hamparan padi hijau nan elok, namun kini terhalang oleh dinding perumahan elite.

    Namun memang itu sudah menjadi kebutuhan bu, buktinya tiap lahan perumahan dibuka, selalu saja habis dan akhirnya berpenghuni, mau diapakan lagi.. memang butuh hunian, he he kecuali mau bikin Rumah Pohon sepeti Tarzan

    ::Salam Hangat::

    BalasHapus
  20. yups mbak, waktu buwel sd sering maen bolanya disawah sekarang susah wat nyari lahan tuk maen bola, paling ada ya di stadion atau alun alun atau lapangan bola yang lain... hiks...

    BalasHapus
  21. Di kampungku, masih bnyak hamparan sawah. Klo pas musin hujan yg pling asik dengerin nyanyian kodok bersahutan :))
    Salam sobat :)

    BalasHapus
  22. kalo di kampungku masih banyak sawah , masih pada rumah panggung semua. sejuk banget disitu :)

    BalasHapus
  23. Kota saya belum tersentuh mbak, masih asri dan indah dengan banyaknya hutan-hutan dan perkebunan

    BalasHapus
  24. sepertinya itu memang sudah banyak terjadi mbak.. sawah-sawah akhirnya berubah menjadi perumahan, real estate, bahkan ruko-ruko... bahkan akibat lahan yang semakin menyempit... di deket rumahku.. lahan pekuburan pun akhirnya tergusur karena manusia yang butuh mendirikan rumah...

    BalasHapus
  25. emang susah nyari sawah sekarang mbak...

    BalasHapus
  26. Saya termasuk beruntung. Daerah rumah saya dulu juga banyak sawahnya. Jadi saya dan adik sempat merasakan bermain dan berpetualang di pematang sawah. Kasian aja gitu, liat anak jaman sekarang yang susah banget kalau mau ke sawah. Apalagi ada beberapa tempat bermain yang maksa banget bikin sawah2 kecil supaya anak-anak tau "Ooohhh...ini toh ladang padi itu".

    BalasHapus
  27. semua seperti ibu kalau dikabupaten atau provinsi kalau di desa ya mungkin masih banyak sawah

    BalasHapus
  28. sawahnya hujau bnget, sama dengan sawah desa q

    BalasHapus
  29. memang kota semakin padat dan banyak sawah dirubah menjadi pemukiman

    BalasHapus
  30. anak kota tak punya lapangan bola, anak kota tak bisa bermain bola

    BalasHapus
  31. syukurlah, rumah saya termasuk mewah (MEpet saWAH)... :)

    BalasHapus
  32. semua itu juga ada faktor kesalahan dari pemilik tanah mbak yang tergiur uang puluhan juta hingga rela jual tanah warisan hmmmm, kondisi spt tempat mbak itu dah terjadi dimana2, hanya bisa berharap kedepannya lebih baik...

    BalasHapus
  33. iya nih.. sawah dimana mana makin lama makin berkurang.. hal ini menjadi miris banget karena keadaan sekitar telah berubah total...

    BalasHapus
  34. investasi perumahan lebih menggiurkan daripada melakukan usaha budidaya pertanian, makanya byk areal pesawahan diubah jg areal2 perumahan...

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)