Senin, 21 Juni 2010

Kisah Seorang Reader

Ini adalah kisah dari sahabatku ~sebut saja namanya Evy~ sewaktu di SMA dulu. Kini ia menetap di Semarang, mengikuti suaminya yang bekerja disana. Beberapa saat yang lalu ~saat pelaksanaan Ujian Akhir Semester~ Evy berkesempatan menjadi reader (pembaca untuk anak2 tunanetra yang bersekolah di sekolah umum) bagi Satrio, anak kelas VIII (2 SMP). Karena pelaksanaan UAS berlangsung selama 3 hari, maka selama itu pulalah Evy mendampingi dan menjadi reader bagi Satrio.

Pada hari pertama UAS, materi ujian yang pertama harus dikerjakan adalah IPA. Begitu Evy menerima soalnya dan siap untuk membacakannya bagi Satrio, seketika itu juga ia merasa lemas. Dia bingung karena ternyata soal-soal ujian IPA itu banyak gambar-gambarnya. Dia merasa kesulitan untuk mendeskripsikan gambar itu ke dalam bentuk kalimat yang dapat dimengerti oleh Satrio.

Gambar-gambar yang harus diterjemahkan Evy ke dalam kalimat itu antara lain seperti : tempat jatuhnya bayangan dari cahaya yang mengenai lensa. Ada juga soal tentang penampang daun yang dikotil dan monokotil dan masih banyak lagi. Untuk menjelaskan tentang penampang daun ini Evy berusaha menjelaskannya seperti ini :

Evy (berkata dengan hati-hati) : "Tahu daun kan ? Nah, daun itu nanti kalau dibelah akan kelihatan lapisannya, jika kita melihatnya dengan menggunakan mikroskop."

Satrio (bertanya dengan polos) : "Daun seperti apa ?"

Evy yang tak mengira Satrio bertanya seperti itu langsung tercekat hatinya. Bagaimana seorang anak yang tuna netra membayangkan daun yang dibelah ? Bagaimana mereka bisa membayangkan penampangnya jika mereka tak akan pernah melihat wujudnya lewat mikroskop ? Jika membayangkannya saja mereka tak mampu, bagaimana mereka bisa menjawabnya.

Kondisi serupa muncul lagi saat ujian Bahasa Jawa. Dalam ujian Bahasa Jawa, selalu saja ada soal untuk menulis dalam Huruf Jawa. Untuk Satrio. Hal itu mustahil dilakukan karena sampai sekarang belum ada alat peraga atau penterjemahan Huruf Jawa dalam huruf Braille. Kondisi tersebut membuat rasa kemanusiaan Evy terusik dan rasanya ingin membantu memberikan jawabab untuk Satrio agar nilai ujiannya bisa bagus.

Evy memang baru bertemu dan berkenalan dengan Satrio saat dia bertugas menjadi readernya ketika ujian diadakan. Evy sendiri tak tahu bagaimana selama ini Satrio mengikuti pelajaran di sekolahnya. Apakah ada reader bagi Satrio juga saat pelajaran di kelas ? Bagaimana readernya itu membacakan, menerangkan dan 'menggambarkan' pelajaran tiap harinya.

Aku jadi berpikir, apakah anak-anak berkebutuhan khusus (tuna netra) yang sekolah di sekolah umum tidak mendapatkan 'pendampingan' ? Ataukah anak-anak berkebutuhan khusus itu semuanya harus masuk ke Sekolah Luar Biasa ? Apakah tindakan orang tua Satrio dengan mendaftarkan anaknya masuk ke sekolah umum dapat dinilai kurang tepat ? Apakah kesediaan sekolah umum untuk menerima anak-anak seperti Satrio tidak disertai dengan kesediaan melakukan penangannya yang benar ?

Terus terang saja, pengetahuanku tentang bagaimana anak-anak tuna netra mendapatkan pendidikan memang tak aku ketahui secara pasti. Apakah harus di Sekolah Luar Biasa ataukah boleh di sekolah umum ? Selain itu, aku juga tak tahu bagaimana proses transfer ilmu di sekolah umum terhadap anak-anak tuna netra berlangsung.

Thanks to Evy... yang pengalamannya telah menyadarkan aku bahwa apa yang seringkali lupa kusyukuri ternyata sangat berarti bagi orang lain. Semoga saja anak-anak seperti Satrio dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya tetap dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Amin...

23 komentar:

  1. pendidikan umum untuk abk (anak berkebutuhan khusus) memang belum memadai. Kalaupun ada abk bersekolah di sekolah umum, orangtuanya harus siap dg segala konsekwensi.
    Saya juga tak bisa membayangkan bagaimana anak2 tuna netra mendeskripsikan gambar2. Karena menjelaskan dengan kata2 itu sungguh sulit sekali.

    Begitupun dengan anak tuna rungu, ketika memasuki sekolah umum. kendala bahasa menjadi hal yang utama. Mereka minim penguasaan kosa kata verbal. Bila menggunakan pendamping biasanya ortunya sendiri yang menyediakan bukan sekolah.
    Bisa di bilang sekolah Umum di Indonesia belum siap menerima ABK dengan berbagai kebutuhan khususnya.
    btw terimakasih mba sudah share

    BalasHapus
  2. postingan diatas smoga memberi makna utk kita,....sis

    BalasHapus
  3. semoga orang orang yg memiliki kekurangan seperti satrio diberikan kelebihan yg lain olehTuhan.. dan semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka...

    BalasHapus
  4. seharusnya memang lebih di perhatikan lagi bagaimana pendidikan untuk anak2 yang memiliki kekurangan

    BalasHapus
  5. yah,, semoga fasilitas pendidikan kita semakin mendukung untuk saudara/i kita yang seperti di atas.. :D

    BalasHapus
  6. Menurutqu, sebaiknya Satrio masuk SLB karena memang subsidi pemerintah maupun swasta, alokasi anggaran ntuk anak-anak luar biasa lebih terfokus ke SLB. Sedangkan sekolah umum sangat kurang sarana prasarana ntuk melayani anak2 berkebutuhan khusus seperti Satrio.
    Nice share, salam hangat dan salut kami buat Bu Evi. :)

    BalasHapus
  7. Amin mbak.
    Memang terkadang kita tak menyadari bahwa apa yang kita dapat lebih baik dari orang lain diluar sana.
    Tapi saya lumayan salut lo buat mereka2 yang termasuk anak berkebutuhan khusus, semangat pendidikannya boleh juga :)

    BalasHapus
  8. betul mbak, seringkali kita lupa bersyukur dengan kelengkapan tubuh yang kita terima.
    setauku anak" berkebutuhan khusus memang harus ditangani khusus di sekolah khusus ^^

    BalasHapus
  9. Sebuah inpirasi kecil tentang kehidupan, makasih mbak artikelnya :)

    BalasHapus
  10. sebuah pencerahan yang sangat indah... yang menyadarkan aku untuk terus bersyukur atas mata yang bisa melihat, yang telah diberikanNya untukku... thanks mbak...

    BalasHapus
  11. hanya bisa prihatin mbak, kenapa hal2 spt itu belum maksimal diberi perhatian oleh pemerintah...

    BalasHapus
  12. salam kunjugan dari saya :)

    saya mau kasi tahu aja nih, Mbak! Di bulan oktober yang akan datang akan diadakan acara di FISIP UI, krimOgraphy, festival/kompetisi filem dan fotography tentang Anak dalam perspektif kriminologi. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat di sini http://krimography.wordpress.com/ atau di blog saya.
    silakan ikut berpartisipasi!

    Terimakasih! Hidup Bolgger!
    :)

    BalasHapus
  13. Tadinya, mau nyari2 komen Mbak NItha, eh malah ajdi yang pertamanya.

    Makasih yah, Mbak atas sharenya...

    BalasHapus
  14. inspirasi yang bagus banget buat para sobat blogger..^^

    BalasHapus
  15. Semoga aja apa yang menjadi kesulitan anak-anak seperti Satrio, dapat di atasi oleh para pendidik dan pemerintah dalam hal ini. mis : fasilitas pendidikan yang mendukung buat mereka

    BalasHapus
  16. Rasanya kok masih mustahil menerjemahkan unsur visual ke dalam verbal bagi tuna netra.
    Berharap bngt ada penemuan baru bwt solusinya

    BalasHapus
  17. Pengalaman yang sangat berharga yah. Tapi pemerintah memang belum sepenuhnya memperhatikan pendidikan bagi anak ber-kebutuhan khusus. Semoga saja Dinas Pendidikan dapat membeikan solusi bagi permasalahan ini

    BalasHapus
  18. inspirasi yang menyentuh.... ^_^

    keren... lebih dari cukup untuk membuka kembali "mata" hati ini....

    BalasHapus
  19. datang untuk berkunjung
    terima kasih

    BalasHapus
  20. Amin
    kasihan bagi mereka yg berkebutuhan gak bisa sekolah :(
    aku jadi malu dulu aku waktu masih jaman sekolah males2an nakal
    tp diluar banyak orang yang ingin sekali bisa sekolah tinggi >,<

    BalasHapus
  21. Dimana ada kekurangan disitu ada kelebihan!!!

    BalasHapus
  22. nice posting mba
    banyak hal ternyata yang tidak kita tahu sebelumnya
    luar biasa ya
    orang2 yang punya kekurangan malah semangatnya belajar nya luar biasa^^

    BalasHapus
  23. sahabat slalu memberikan pelajaran berharga

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)