Sabtu, 10 Mei 2014

Sang Patriot : Beratnya Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan


Judul : Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Cetakan : Pertama (Pebruari 2014)
Tebal : 280 halaman
ISBN : 978-602-14969-0-9

Rukmini adalah seorang wanita yang pandai, keras hati dan sangat ingin menjadi ahli hukum. Sebenarnya, keinginan atau cita-cita Rukmini itu sangat mungkin bisa terwujud, selain karena kepandaiannya yang memang luar biasa, namun juga dia terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan terpandang di Sampang. Pada saat itu, masa penjajahan Belanda, hanya orang-orang yang dari golongan ningrat atau dari keluarga terpandang saja yang bisa bersekolah, dan Rukmini salah satunya.

Kepandaian Rukmini itu tentu saja sangat dibanggakan oleh Bapaknya, yang merupakan guru OSVIA, namun sekaligus juga “disesali” oleh Bapaknya. Karena Rukmini berjenis kelamin perempuan, maka Bapaknya memutuskan untuk menikahkan Rukmini. Beliau khawatir jika semakin tinggi pendidikan Rukmini dan semakin pandai anaknya itu, maka akan sulit bagi Rukmini mendapatkan suami. Kebetulan, ada seorang pemuda yang dinilai memenuhi persyaratan Rukmini untuk menjadi calon suaminya, yaitu: mahir berbahasa Belanda.

Rukmini yang biasanya selalu tunduk dan taat pada kehendak orangtuanya kali ini berontak, karena dia sangat berambisi untuk bisa meraih cita-citanya. Selain itu, Rukmini juga belum mengenal seperti apa lelaki yang dijodohkan dengannya. Namun, pada akhirnya Rukmini mau menurut setelah orangtuanya mengatakan bahwa calon suaminya sama sekali tak keberatan jika setelah menikah Rukmini berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya.

Seandainya Rukmini menolak perjodohan itu dan tetap ngotot melanjutkan pendidikan, maka mungkin saja Rukmini akan menjadi ahli hukum wanita yang sangat handal di Indonesia. Dia mungkin juga akan hidup nyaman dan serba berkecukupan. Dan, dia tak akan menjalani beratnya melalui masa-masa mempertahankan kemerdekaan dan menyandang status sebagai janda dari pahlawan kemerdekaan bernama Letkol. Mochammad Sroedji. Namun, Rukmini tak pernah menyesalinya dan sangat mensyukurinya. Bagi Rukmini, Moch. Sroedji adalah sosok pria istimewa yang bukan saja sangat dicintainya namun juga sangat dikaguminya.

Berbeda dengan Rukmini yang berasal dari keluarga berkecukupan dan terpandang, Moch. Sroedji terlahir dari keluarga pedagang. Sebenarnya jika menilik asal usul keluarganya, Sroedji hanya bisa sekolah ongko loro, yang hanya bisa baca tulis saja. Namun, Sroedji yang memiliki otak cemerlang sangat haus akan pendidikan. Untunglah ada saudara yang mau membantu, sehingga Sroedji bisa juga sekolah hingga tamat HIS dan Ambacthsleergang. Maka tak mengherankan jika Sroedji sangat mahir berbahasa Belanda.

Namun, meski mahir Bahasa Belanda dan menjalani pendidikan yang cukup tinggi di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda, Sroedji adalah nasionalis sejati. Kecintaannya pada tanah air sangat tinggi dan keinginannya sangat kuat untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Dia tak rela jika anak cucunya kelak akan tetap menjadi “babu” di negara sendiri.

Itu sebabnya, Sroedji (dengan dukungan penuh dari istri tercinta: Rukmini) memilih melepaskan pekerjaannya sebagai mantri malaria di RS Kreongan dan bergabung dengan PETA bentukan Jepang. Dia berharap untuk mendapatkan bekal pelatihan yang dapat dimanfaatkan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Masa-masa pelatihan sebagai kadet PETA di Bogor sangatlah berat seperti sedang ditempa di dalam kawah candradimuka. Dalam masa pendidikan itu, bakat kepemimpinan Sroedji sudah menonjol sehingga dia ditunjuk sebagai komandan kompi. Sroedji juga mampu membangun mental dan semangat teman-temannya sehingga mereka dapat melalui masa-masa sulit selama pelatihan hingga selesai.

Tak lama setelah menyelesaikan pendidikan, Jepang menyerah kalah dan berakhir pula penjajahan Jepang di Indonesia. Menghadapi situasi tersebut, pemerintah Indonesia bergerak cepat dengan menyatakan kemerdekaan Indonesia. Namun, masuknya tentara sekutu ke Indonesia membuat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan yang telah mereka raih dengan susah payah. Sroedji adalah salah satu dari sekian banyak pejuang Indonesia yang rela menyerahkan segalanya, termasuk nyawa, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rukmini melalui masa-masa itu dengan sangat berat. Dia harus berbulan-bulan berpisah dari suami dan membesarkan anak-anak mereka seorang diri. Selama itu pula Rukmini harus menyembunyikan identitas dirinya sebagai istri Moch. Sroedji sang prajurit, karena Belanda selalu berusaha untuk menemukan anak dan istri Sroedji. Belanda sudah kehabisan akal untuk menghadapi sepak terjang Sroedji dan pasukannya. Kekuatan dan ketangguhan pasukan Sroedji memang tak bisa dilepaskan dari peran Sroedji sebagai pemimpin mereka. Itu sebabnya mereka berusaha menangkap dan menawan anak dan istri Sroedji, karena mereka tahu bahwa anak dan istri merupakan kelemahan Sroedji.

Setegar-tegarnya seorang Rukmini yang keras hati, ada kalanya hatinya melemah seperti waktu penjarah mengambil semua barang-barang di rumah yang ditinggalkannya saat dia mengungsi ke tempat yang aman. Atau pada saat dia hamil tua, dan harus berjalan dua ratus kilometer dari Jember menuju Kediri dalam suasana yang penuh ketegangan dan penderitaan. Atau juga pada saat dia harus berjuang sendiri melahirkan anaknya yang keempat, karena suaminya tercinta ditugaskan ke tempat lain. Atau pada saat dia berulang kali mendengar kabar kematian suaminya, yang sengaja dihembuskan Belanda untuk melemahkan semangat keluarga dan juga pasukan Sroedji.

Beratnya kehidupan di masa perjuangan itu membuat beberapa orang yang sudah tak tahan menderita memilih jalan pintas. Mereka memilih untuk menjadi mata-mata Belanda agar bisa menjalani hidup yang enak. Mata-mata Belanda yang berhasil menyusup ke dalam pasukan Sroedji inilah yang akhirnya mematahkan perjuangan Sroedji. Mata-mata itu mengabarkan kondisi Sroedji yang melemah karena sakit berikut posisinya sehingga memudahkan Belanda menyerbu tempat persembunyian Sroedji dan pasukannya.

Sroedji gugur dalam usahanya mempertahankan kemerdekaan, tak lama setelah sahabatnya yaitu dr. RM Soebandi juga gugur saat hendak menyelamatkan nyawa Sroedji, pada tanggal 8 Februari 1949. Namun, pengorbanan Sroedji, dr. Soebandi dan ribuan para pejuang lainnya tidak sia-sia, karena pada akhirnya kemerdekaan Indonesia diakui secara de jure dan de facto oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Begitu aku menyelesaikan membaca Novel Sang Patriot ini, aku mau tak mau bernafas lega. Rasa lega yang muncul karena pengorbanan Moch. Sroedji dan para patriot lainnya akhirnya berhasil membuat Indonesia merdeka. Rasa lega karena kini aku bisa menikmati indahnya arti kemerdekaan yang telah dipersembahkan lewat darah, air mata dan juga nyawa dari para pejuang dan semua keluarga mereka. Lega karena kini tak ada lagi penjajahan, sehingga kita tak lagi ditindas dengan semena-mena oleh negara lain.

Satu perasaan yang terus menerus menemaniku membaca halaman demi halaman novel ini adalah perasaan merinding sekaligus ngeri. Kejamnya perlakuan para penjajah terhadap kaum pribumi sangat tidak manusiawi. Bahkan aku tak sanggup untuk sekedar menuliskan kembali bagaimana kekejian para penjajah itu. Mereka begitu tega merampok semua harta rakyat, sehingga rakyat kelaparan dan miskin yang semiskin-miskinnya. Miris membayangkan rakyat terpaksa menutupi tubuh mereka dengan goni (yang pastinya akan terasa gatal sekali di kulit) karena hanya itu satu-satunya yang mereka miliki dan bisa mereka pakai untuk menutup tubuh. Masya Allah….

Salut untuk mbak Irma Devita, yang telah berjuang keras mengumpulkan data untuk bisa menyusun novel berdasarkan kisah nyata kakeknya tercinta: Mochammad Sroedji. Tentu tak mudah mengumpulkan cerita-cerita yang terserak di berbagai kota, mengingat perjuangan Sroedji memang mencakup daerah yang cukup luas. Juga karena penulis telah mampu menyajikan fakta sejarah dengan cara yang “menyenangkan” sehingga pembaca dapat mengetahui sejarah perjuangan bangsa bukan hanya dari buku sejarah yang seringkali membosankan bila dibaca.

Penulis telah berhasil menyampaikan pada pembacanya bagaimana beratnya perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1942 - 1949. Meninggalkan keluarga tercinta dalam waktu lama, hidup berpindah-pindah menyembunyikan diri dari penjajah, melakukan perang secara bergerilya, senjata yang seadanya, kelelahan dan ketakutan yang terus menerus, sangat mudah membuat hati siapa saja lemah. Disinilah peran pemimpin yang handal (seperti Sroedji) sangat diperlukan untuk tetap membakar semangat pasukannya.

Tambahan foto di halaman belakang, yaitu foto-foto Sroedji dan keluarga telah berhasil meyakinkan pembaca yang bukan berasal dari Jember dan sekitarnya, yang belum pernah mendengar kisah kepahlawanan Sroedji, bahwa sosok Sroedji benar-benar ada! Foto monumen kedua Letkol Mochammad Sroedji di depan kantor Bupati Jember kian mengukuhkan fakta tak terbantahkan bahwa memang Sroedji adalah tokoh yang dihormati dan dicintai warga Jember.

Daftar istilah yang ditambahkan penulis di belakang juga cukup banyak membantu pembaca untuk mendapatkan informasi tambahan seputar istilah-istilah dari Bahasa Jepang dan Bahasa Belanda itu. Sedangkan puisi yang juga dimuat di halaman belakang sedikit banyak akan ikut menyulut semangat nasionalisme dan juga penghormatan bagi para pahlawan di hati para pembaca. Apalagi ditambahnya beberapa quote yang cukup mampu menggugah rasa nasionalisme seperti:

Bagi seorang ksatria, gugur dalam pertempuran lebih membahagiakan daripada mati dalam kenistaan sebagai pengkhianat (hal. 98).

Kalian hanya diminta memilih satu di antara dua kebaikan... bertempur lalu menang atau mati sebagai syuhada yang oleh Allah dijanjikan surga. (hal. 173)

Untuk editing aku angkat jempol, karena menurutku editingnya rapi dengan ukuran huruf sudah pas sehingga tak membuat pembaca capek meski novel ini cukup tebal. Namun, ada sedikit kesalahan ketik seperti penulisan nama Letkol. Mochammad Sroedi yang pada halaman ix tertulis Letkol. Mochamamad Sroedji. Kemudian penulisan "koen" (Bahasa Jawa, logat Suroboyo-an) ada yang ditulis "ko en" (hal. 79, 167, 194) namun ada yang ditulis "koen" (hal. 192).

Sampulnya juga keren sekali, menggambarkan seorang prajurit dengan senjata di pinggang, sangat pas dengan judulnya Sang Patriot: Sebuah Epos Kepahlawanan. Warna merah yang nyaris mendominasi sampul, aku rasa untuk menggambarkan keberanian dan menggambarkan banyaknya darah yang telah menyirami bumi pertiwi dalam menebus kemerdekaan Indonesia. Keren sekali!

Namun, untuk lebih menyempurnakan novel ini ada beberapa hal yang menurutku perlu mendapat perhatian dari penulisnya. Yang pertama soal bahasa. Kata-kata yang ada dalam novel ini adalah kata-kata dari 6 bahasa yaitu: Jawa, Madura, Indonesia, Belanda, Jepang dan Inggris. Munculnya kata-kata itu (selain kata dalam Bahasa Inggris) lebih banyak dipakai penulis saat menggambarkan percakapan langsung antara tokoh-tokohnya. Sementara kata dalam Bahasa Inggris muncul untuk menuliskan sebuah quote "we did not win a battle, but we already win the war" (hal. 86)

Sebagian kata-kata Bahasa Jawa, Madura, Belanda dan Jepang yang muncul dalam percakapan itu ada yang langsung diikuti dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia di belakangnya. Namun, ada juga yang hanya diterjemahkan sebagian aja atau malah ada yang sama sekali tidak diberi terjemahannya. Berikut ini adalah sedikit contohnya:

Opo sing dhadhi karepmu, tho, Pom?” Rukmini yang baru saja melahirkan merasa bingung dan gundah melihat Pom tak kunjung sembuh. (hal. 141) --> Bahasa Jawa, tanpa terjemahan sama sekali.

"Nyoon saporah Pak, Dalem tak poron abineh.... Maaf pak, Saya terpaksa tidak bisa menuruti keinginan Bapak. Saya belum mau menikah sekarang...." (hal. 26) --> Bahasa Madura, ada terjemahan di belakangnya.

"Wakatta ka?!" teriak Kapten Maruzaki (hal. 49) --> Bahasa Jepang tanpa terjemahan.

"Doe je handen omhoog! Angkat tangan!!" teriak seorang serdadu Belanda (hal.91) --> Bahasa Belanda dengan terjemahan di belakangnya.

Untuk kata-kata yang tidak diterjemahkan memang bisa mengurangi kemampuan pembaca memahami isi cerita secara utuh. Ada baiknya jika kata-kata “asing” itu diberikan catatan kaki di bawah, sehingga pembaca bisa langsung tahu apa artinya. Memang, catatan kaki membuat tampilan tidak cantik, namun jika ditaruh di belakang halaman maka pembaca akan malas untuk berulang kali terpaksa bolak-balik ke halaman belakang hanya untuk tahu artinya. Atau bisa juga terjemahannya langsung ditulis di belakangnya yang ditulis di dalam tanda kurung.

Kedua, soal pengulangan informasi. Ada beberapa pengulangan informasi yang menurutku akan lebih efektif bila informasi-informasi tersebut disajikan sekali saja. Beberapa contoh pengulangan informasi itu sebagai berikut:

  • informasi tentang cita-cita Rukmini menjadi Meester in de Rechten (ahli hukum) seperti Mr. Maria Ulfa Subadio yang merupakan ahli hukum wanita pertama di Indonesia. Informasi ini tersaji pada halaman 20 (tanpa menyebutkan nama Mr. Maria Ulfa Subadio) sedangkan pada halaman 26 dan halaman 66 mencantumkan pula nama Mr. Maria Ulfa Subadio.
  • informasi tentang profesi Moch. Sroedji sebagai mantri malaria di RS Kreongan. Informasi ini pertama kali tersaji pada halaman 32, namun kemudian disajikan lagi pada halaman 34.
  • tentang kabar bohong yang sengaja dihembuskan oleh Belanda tentang kematian Sroedji yang dimaksudkan untuk melemahkan semangat pasukannya. Informasi ini tersaji pada halaman 177dan halaman 233.
  • pengulangan sepenggal kisah di prolog dan pada bab terakhir (sebelum epilog). Penulis mengulang kisah perlakuan tak manusiawi dari Belanda terhadap jenazah Sroedji. Bahkan ada sepenggal kalimat yang sama diulang 2 kali: pada halaman 2 dan halaman 240. Kalimat tersebut adalah:
“Kalian rakyat Jember… cepat menyerah! TNI sudah hancur! Lihat, pemimpin kalian sudah tertangkap! Bagi sisa pasukan yang ada, menyerahlah! Akan ada ampunan dari Kerajaan Belanda dan jaminan hidup enak!”

Untuk foto, ada satu pertanyaan yang muncul. Di atas sudah aku tuliskan bahwa ada foto monumen kedua Sroedji di depan kantor Bupati Jember. Aku lantas bertanya-tanya, kalau monumen itu disebut monumen kedua, mana monumen pertamanya? Dimana tempatnya? Mengapa tidak ditambahkan juga di lampiran foto-foto itu? Apakah yang dimaksud sebagai monumen yang pertama adalah foto patung seorang laki-laki dengan tangan mengacung ke depan, yang selalu muncul di atas judul bab, dan selalu muncul di setiap pojok halaman bawah dekat dengan nomor halaman? Kalau benar, sayangnya penulis tak memberi keterangan tambahan dimana letak monumen itu dan kapan dibangun atau diresmikannya.

Bila novel lain (pada umumnya) memberikan kejutan di endingnya, tapi novel ini tidak. Justru penulis dengan berani menuliskan ending tokohnya di dalam prolog! Mungkin pertimbangan penulis karena novel ini based on true story, dimana banyak orang yang sudah tahu kisah perjuangan Moch. Sroedji. Jadi, penulis tak merasa perlu menyembunyikan ending, namun bukan berarti novel ini miskin kejuta. Penulis dengan lihai menonjolkan sisi manusiawi seorang Sroedji, yang pastinya belum banyak diketahui umum. Siapa sangka seorang pejuang adalah pecinta yang romantis?

Oya, ada satu hal (di luar kisah kepahlawanan Moch. Sroedji) yang membuatku bertanya-tanya. Diceritakan juga bahwa Sroedji terlibat dalam pertempuran di Surabaya yang terjadi pada November 1945. Membaca kisah pertempuran tersebut, aku merasa bahwa peran terbesar dalam pertempuran Surabaya itu ada pada Gubernur Suryo dan Panglima Divisi I TKR Jatim yaitu Kolonel Sungkono. Bahkan dalam pertempuran Surabaya itu Kolonel Sungkono bertindak sebagai Komandan Pertahanan Surabaya.

Padahal, selama ini yang aku tahu, tokoh yang menonjol dalam pertempuran Surabaya itu adalah Soetomo atau yang biasa dikenal dengan nama Bung Tomo. Memang, dalam novel ini disebutkan bahwa tugas Soetomo adalah sebagai koordinator antar front melalui corong radio. Tapi, selanjutnya tak banyak dituliskan tentang peran Soetomo di situ. Aku jadi heran, mengapa nama Kolonel Sungkono kalah tenar dari Soetomo dalam perannya pada pertempuran Surabaya itu.

Akhir kata, salut untuk penulis yang telah berani menerbitkan novel yang berbeda dari novel pada umumnya. Jika novel-novel lain hanya mengangkat masalah percintaan, maka novel ini mengangkat kisah perjuangan sehingga aku lebih senang menyebutnya sebagai “novel perjuangan”. Dan, aku sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh para generasi muda agar kecintaannya pada tanah air tidak luntur, begitu juga penghormatan pada para pejuang yang telah gugur untuk kemerdekaan Indonesia.



Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot

30 komentar:

  1. Jeng Reni, luar biasa keren reviewnya dari alur cerita hingga kebahasaan. Terima kasih Jeng, ikut menikmati sinopsisnya dan semakin menguat keinginan membacanya. Sukses ya Jeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh mbak Prih membuatku GR nih... hehehe
      Terimakasih sudah mengapresiasi ya mbak... dan terimakasih juga utk doanya :)

      Hapus
  2. Review nya aja menarik apa lagi isinya. Saya penasaran bgt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang menarik kok... membacanya serasa menonton film perjuangan.
      Lengkap dan detil...

      Hapus
  3. Sang Patriot disini berbeda banget dengan sang patriot di tempat lain, lebih maknyes dibacanya, semoga jadi juara kontes deh yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... terimakasih doanya.
      Dan, terimakasih juga sudah membaca review yang aku buat :)

      Hapus
  4. Huaaah mak Reni ikutan juga ternyata :D

    Telat info dan saya gak punya bukunya.... #kumplit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ikut dong... kan aku punya bukunya. Sayang banget melepaskan kesempatan utk mereview buku ini :)

      Hapus
  5. novel ini memang sangat layak dibaca..terutama untuk generasi muda saat kini..agar mereka tidak lupa tentang orang2 yg telah berjuang dengan berkorban darah dan nyawa serta harta demi mempertahankan kemerdekaan negeri ini...
    selamat berlomba..semoga menjadi yg terbaik...
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. sepakat Pak... novel ini memang sebaiknya dibaca generasi muda agar mereka menghargai kemerdekaan yang telah diperoleh dg pengorbanan yang luar biasa dari para pendahulu kita

      Hapus
  6. layak dibaca untuk membangkitkan nasionalisme. Semoga menang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... terimakasih doanya Mak :)

      Hapus
  7. Review yang cermat dan runtut
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakde kalau komen juga cermat....
      Terimakasih sudah mampir dan support ya Pakde
      Salam hangat dari Madiun :)

      Hapus
  8. Emaaaaakkk... top markotop review-nya, moga menang^^

    Keren banget bukunya, nih. Isinya itu loh, bikin hati bergetar saat membacanya. Mbayangin jadi Bu Rukmini, ah saya sanggup gak yaaa jadi seperti beliau? Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, haloooo... wah seneng melihatmu kembali....
      Iyaa.. buku itu keren banget. Coba deh baca, pasti perasaan campur aduk.
      Aku sendiri gak yakin bisa melakoni apa yang Bu Rukmini lakoni kok...

      Hapus
  9. Mbak reni kalau review selalu cetar membahana. Jadi pengen beli nih. Btw, suka sama templatenya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika Mak Ika suka dg reviewnya...
      Iya, itu headernya baru dipasang hehehe

      Hapus
  10. Balasan
    1. Lho, kenapa dicopas? Kan enakan nulis sendiri. :)

      Hapus
  11. mbak reni hebat.... detail bangeeetttt....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah... Mak Susi jangan gitu ah... aku juga sedang belajar membuat review nih ceritanya :)

      Hapus
  12. selalu cuma bisa bengong kalo baca review ibue shasa
    kayaknya detil banget kalo baca buku ya?
    ga kaya aku yang bisa satu halaman perdetik
    hihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah Kang... tiap orang kan punya kesenengan sendiri2 to...
      Aku seneng baca buku, jadi kalau baca buku bawaannya ya serius gitu.
      La Kang Rawins sukanya otak-atik komputer.. ya maklum kalo gak telaten baca buku :)

      Hapus
  13. Makin jago si Ibu ngereview... Kenapa nggak coba bikin resensi trus kirim ke media, Bu? =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dicoba sih... dan baru sekali dimuat :)

      Hapus
  14. “novel perjuangan”. jadi teringat bacaanku waktu SD. novel jenis ini semua. :)

    BalasHapus
  15. seperti iasa kalua baca review mbak Reni serasa baca bukunya langsung, Good luck y mbak

    BalasHapus
  16. Mbak Reni, terima kasih atas partisipasinya :)

    BalasHapus
  17. Pelajaran dalam buku ini memang lengkap, yang intinya mengajarkan Nasionalisme (y)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)