Senin, 11 September 2017

Perceraian PNS

PNS diikat dengan banyak aturan, termasuk menyangkut perkawinan dan perceraian. Dan jika PNS tidak mentaati aturan yang menyangkut perkawinan dan perceraian tersebut, maka PNS akan mendapatkan sanksi salah satu hukuman disiplin tingkat berat.

Menangani perceraian PNS menjadi salah satu tugasku (bersama tim). Dan, jujur kukatakan bahwa sangat tidak menyenangkan melakukan tugas itu. Dalam menangani perceraian PNS ini mau tak mau aku harus ikut "masuk" dalam permasalahan rumah tangga orang lain.

Masuk dalam permasalahan rumah tangga orang lain saja sudah tidak menyenangkan, apalagi jika yang bersangkutan menolak kami tahu terlalu banyak. Padahal, saran pertimbangan dan rekomendasi untuk dapat mengijinkan atau tidak mengijinkan PNS yang bersangkutan untuk bercerai sangat tergantung pada gamblangnya permasalahan dalam rumah tangga tersebut.

Sejujurnya sangat tidak mudah saat harus merekomendasikan untuk memberikan ijin suatu pasangan untuk bercerai. Sama tak mudahnya untuk merekomendasikan untuk menolak permohonan suatu pasangan untuk bercerai. Mengapa begitu? Penjelasannya di bawah ini.....

Terkadang saat kami masuk dalam permasalahan rumah tangga suatu pasangan, kami melihat bahwa pasangan itu sebenarnya sulit untuk tetap disatukan dalam satu rumah tangga. Namun, pasangan itu tidak punya satu pun alasan sah yang menyebabkan mereka dapat diijinkan untuk bercerai. Sehingga mau tak mau rekomendasi yang dapat kami berikan adalah menolak ijin perceraian tersebut.

Di sisi lain, terkadang kami melihat bahwa pasangan tersebut memang lebih baik dipisahkan dengan alasan demi kebaikan mereka berdua dan juga anak-anak mereka. Apalagi alasan bagi mereka untuk bercerai sudah sesuai dengan alasan sah yang dapat diberikan ijin untuk bercerai. Walau terkadang kami merasa bersalah juga karena merekomendasikan suatu pasangan untuk diijinkan bercerai.

Setiap orang tentunya ingin rumah tangganya langgeng sampai maut memisahkan. Setiap rumah tangga tentunya punya masalah sendiri. Tidak ada rumah tangga yang terbebas dari masalah, tinggal bagaimana masing-masing pasangan menyikapi permasalahan yang ada.

Aku sih berharapnya pasangan-pasangan yang rumah tangganya bermasalah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus berakhir pada perceraian. Dengan demikian aku tak harus terpaksa ikut masuk dalam permasalahan rumah tangga mereka dan memberikan rekomendasi nasib rumah tangga mereka ke depannya.

Kalau bicara tentang perceraian (tak hanya perceraian PNS), Idah Ceris sudah lebih berpengalaman daripada aku. Jika aku hanya sesekali saja mendapat limpahan tugas menangani pasangan-pasangan yang akan bercerai, Idah justru tiap hari harus berkutat dengan hal itu.

Pengalaman Idah dalam menangani perceraian tentunya juga lebih banyak dan lebih beragam daripada aku. Mungkin bedanya, aku langsung berhadapan dengan pasangan-pasangan yang hendak bercerai, Idah tak perlu berhadapan langsung dengan mereka. Jadi penasaran pengen tahu suka duka Idah ngurus masalah perceraian tiap hari. Bagaimana Idah... serukah pengalamanmu? Bagi-bagi dong ceritanya padaku. (^_~)

2 komentar:

  1. Saya ngebayanginnya, kayaknya gak nyaman ya, Mbak. Jadi semacam kayak ikut tau urusan rumah tangga orang lain :)

    BalasHapus
  2. menghadapi orang curhat masalah rumah tangga aja berat ya mbak Reni, apalagi kalau sudah sampai ke mbak Reni berarti memang masalah ini sudah berat ya..
    perlu banyak sabar dan mental baja sepertinya mbak, biar nggak terlalu kepikiran masalah orang lain

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)