Kamis, 11 Juli 2013

#11 Review : Surat Dahlan


Akhirnya, aku berhasil juga menuntaskan membaca Surat Dahlan hari ini. Sebetulnya, novel karya Khrisna Pabichara ini sudah ada di mejaku sejak beberapa saat yang lalu, namun kesibukan membuatku tak mampu menjangkaunya. Hingga, kemarin malam sebelum tidur dan berlanjut hari ini sepulang kantor aku mengesampingkan hal lain, untuk bisa menuntaskan novel ini hari ini juga.

Membaca Surat Dahlan aku seakan diajak untuk bertualang dalam banyak hal. Petualangan hidup di perantauan dalam keterbatasan yang seringkali menyesakkan : keterbatasan ekonomi. Petualangan dan perjuangan dalam menegakkan idealisme yang bergolak dalam jiwa muda yang menolak melihat kondisi Ibu Pertiwi yang menyedihkan. Petualangan menaklukkan rasa takut saat hidup sebagai "buronan". Petualangan dalam meraih masa depan yang lebih baik. Dan tak lupa... petualangan dalam meraih cinta. Aihhh..., betul-betul paket komplit dalam sebuah novel.

Terus terang, aku dibuat kagum membaca novel yang terinspirasi kisah kehidupan Dahlan Iskan ini. Begitu banyak kejadian ~yang menurutku~ luar biasa yang terjadi dalam hidupnya. Hal itu membuatku mau tak mau harus mengakui bahwa memang pengalaman hidup memberikan banyak sekali manfaat bagi pelakunya. Aku yakin, tanpa pengalaman-pengalaman menakjubkan itu, seorang Dahlan Iskan tak akan pernah menjadi seperti Dahlan Iskan yang sekarang. Jadi, beruntunglah Dahkan Iskan.

Selain belajar dari pengalaman hidup, Dahlan Islan juga berhasil belajar dari begitu banyak orang hebat yang ditemuinya dalam rentang kehidupannya. Untungnya, Dahlan adalah orang yang suka belajar dari orang lain, siapapun itu. Melalui orang-orang yang hadir dalam hidupnya itu Dahlan tumbuh dan berkembang menjadi seperti sekarang ini.

Membaca Novel Surat Dahlan, aku seolah dihadapkan pada metamorfosis kehidupan seorang Dahlan Iskan. Berbekal sosok Dahlan (dalam Novel Sepatu Dahlan) yang sebagai anak kampung, miskin dan tak banyak bicara, aku dihadapkan pada sosok Dahlan muda yang masih gamang akan diri dan masa depannya. Pergumulan emosi Dahlan terasa sangat kuat saat masih berstatus mahasiswa. Namun saat memasuki dunia kerja, mulai terasa lagi perubahan dalam sosok Dahlan dan kian terasa berbeda saat Dahlan berumah tangga. Sungguh, tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku bahwa pada akhirnya Dahlan akan mampu bersikap hangat dan romantis pada istrinya, yang diawal digambarkan tomboy itu.

Tanpa kusadari, aku keasyikan membaca novel ini. Bukan saja karena begitu banyak kisah luar biasa aku temukan disini, namun aku mendapat banyak pesan yang mau tak mau membuatku sempat menghentikan sejenak kegiatan membacaku untuk merenungkannya. Pesan yang disampaikan oleh Pak Iskah melalui dongeng dan nasihat yang seringkali dikenang Dahlan. Pesan melalui seloroh atau ucapan dari orang-orang terdekat Dahlan, seperti Mbak Atun, Mas Sam, Nenek Saripa, Pak Sabri dan sebagainya. Bahkan pesan itu aku terima bukan lewat kata-kata, tapi juga melalui sejarah kehidupan Dahlan.

Tak ada daging yang paling enak dan paling baik selain lidah dan hati, tentu bila keduanya baik. Tapi, kalau keduanya tidak baik, tak ada daging yang paling tidak enak selain lidah dan hati

Jadi begitulah, tanpa kusadari aku membaca buku ini dengan serius karena aku tak ingin melewatkan pesan-pesan yang berharga itu. Namun, ada juga saat dimana aku bisa merasa 'rileks' membacanya yaitu saat aku membaca 'surat'. Untungnya ada banyak 'surat' di dalam Surat Dahlan ini, khususnya dari Aisha. Saat membaca surat-surat itu... aku menikmati sekali keindahan bahasa yang digunakan penulisnya dalam mengungkapkan rasa. Keindahan itu membuatku lupa sejenak akan peliknya beban kehidupan dari seorang Dahlan.

Akhirnya, aku bisa menutup novel ini dengan senyuman dan jadi tak sabar menunggu terbitnya buku ketiga : Senyum Dahlan.

Judul : Surat Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I ( Januari, 2013)
Tebal : 396 halaman
Harga : Rp. 64.500

Review di atas adalah repost tulisan di sini


31 komentar:

  1. Belum sempet baca novelnya, tapi syukurlah telah diberi kesempatan untuk ketemu dan ngopi bareng penulisnya :)

    BalasHapus
  2. Bapak yang satu itu memang fenomenal ...
    dan ini pasti juga didasari oleh pengalaman hidup yang luar biasa

    salam saya Bu Reni

    BalasHapus
  3. @PRofijo >> waahh... kejutan! Profijo mampir kesini lagi. Kejutan juga ternyata Profijo sudah ketemu dg Dahlan Iskan. How come?

    @nh18 >> yups.. bener banget Om. Kisah hidup beliau memang inspiratif bagiku.

    BalasHapus
  4. Si profijo kan sering ngopi ame pejabat.huhehuhehue

    BalasHapus
  5. waaah, kebetulan saya udah baca nih buku mbaaak,
    betul2 mengajarkan bahwa yang awalnya terlihat nothing bisa dipatahkan dengan kemauan, hebat..

    BalasHapus
  6. perasaan sudah pernah nulis ini bu..?

    BalasHapus
  7. pengalaman hidupnya inspiratif ya mbak

    BalasHapus
  8. Sdh lama baca kok saya gak kepikiran nge review ya, mbak

    BalasHapus
  9. @Yanuar Catur >> Wah ternyata gitu ya? Kapan2 ikut Profijo ngopi ah... :D

    @Yudi Darmawan >> Setuju... novelnya bener2 inspiratif ya?

    @Rawins >> emang sudah Kang, kan sebelumnya aku post di The Others. Kan ada tuh keterangan di bawah :D

    @Lidya - Mama Cal-Vin >> Iya mbak, kita bisa banyak belajar darinya.

    @Hariyanti Sukma >> Nah, makanya mulai sekarang belajar utk ngereview mbak. seru lo.

    BalasHapus
  10. aku suka gaya @iskan_dahlan

    BalasHapus
  11. Tokoh yang kukagumi, kisahnya di jawapost selalu kuikuti. Dibenakku terbayang dahlan iskan dan jokowi jadi satu mungkinkah, dua-duanya cekatan dan apa adanya!

    BalasHapus
  12. @Attayaya >> Yups.. banyak yg suka dg tokoh yang satu ini Bang :)

    @Rifka Nida Novalia >> sama2 mbak.. :)

    @Edi >> Wah pak Edi ternyata telataen mengikuti Dahlan Iskan di Jawa Pos ya?

    BalasHapus
  13. Aku blm sempat beli bukunya.. untunglah mbak Renny bikin review-nya sehingga aku bisa tahu isi bukunya seperti apa.. Beliau itu salah satu tokoh inspiratif-ku..

    BalasHapus
  14. Aku blm sempat beli buku itu.. Untunglah mbak Reny menulis review-nya shg aku jadi tahu apa intisari kisahnya.. Sosok beliau itu adalah salah satu inspiratorku..

    BalasHapus
  15. Terima Kasih Reviewnya bu ...
    Inspiratif banget sepertinya, walaupun hanya dari sini saiia tau isi novelnya .. :)

    ★ http://www.adadeny.com/

    BalasHapus
  16. saya suka gaya santai beliau mbak, dulu waktu masih di sby sering liat mobil jaguarnya lewat, lewat doang sayangnya hehe

    BalasHapus
  17. mb reni masih sempet yah review novel2? klo aku ga ada waktu blas mb, dirumah dah ribet ma anak2.. apalagi ada sikecil yg selalu menyita perhatian tuh..
    Nice share mb.. selamat beraktifitas, sukses selalu yah.. :)

    BalasHapus
  18. baru tau masalah surat Khrisna Pabichara ini :) terimakasih atas infonya.. salam kenal

    BalasHapus
  19. Aaak pingin baca novelnya juga nanti :)

    BalasHapus
  20. buku2 ttg pak Dahlan selalu best seller, ya. Isinya inspiratif

    BalasHapus
  21. belum sempat baca mbaakkk
    eh yatapi belum beli juga sih :D

    BalasHapus
  22. Lidah dan hati, dua jenis daging yg paling enak sekaligus paling tdk enak ya Mbak.

    #selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin ya mbak. Maaf, br bisa BeWe

    BalasHapus
  23. lidah dan hati memang saling bertautan...lidah hanya meneruskan maksud hati.
    maka jika hati meradang maka lidahpun ikut membakarnya....

    jadi untuk hati yang meradang tentu ada obatnya, apa mba obatnya?

    BalasHapus
  24. sepatu dahlannya belum sempat beli dan baca
    terjebak dalam buku-buku impor karya haruki murakami bun. :|

    BalasHapus
  25. Belajar dari pengalaman orang lain ternyata sangat berguna dan penting.

    BalasHapus
  26. dahlan tuh yang mana sih? Apa yang punya mobil pakek listrik ntu ya?

    BalasHapus
  27. pengalaman hidupnya inspiratif

    BalasHapus
  28. Jadi tertarik beli nih mbakkk

    BalasHapus
  29. aq baru tahu ada novel dengan judul tersebut....
    :)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)