Minggu, 15 September 2013

[Resensi] Rainbow : Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua



Judul : Rainbow (Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua)
Penulis : Eni Martini
Penerbit : Elex Media Computindo
Terbit : 2013
Tebal : 201 halaman
Harga : Rp. 37.800

Novel Rainbow karya Eni Martini ini menceritakan tentang kehidupan Akna dan Keisha. Kehidupan rumah tangga yang semula penuh cinta dan sangat bahagia, tiba-tiba dalam sekejap berubah drastis. Semua bermula dari sebuah kecelakaan fatal yang menyebabkan sang nahkoda rumah tangga harus kehilangan satu kaki, tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan!

Akna seorang suami yang semula hangat, penuh kasih dan sangat melindungi tiba-tiba berubah menjadi sosok lelaki jahat, dingin dan penyendiri. Perubahan sikap itu membuat Keisha demikian terpukul, terluka dan memilih untuk menyingkir dan meminimalisir kontroversi dengan suaminya. Akhirnya, Keisha memilih untuk fokus bekerja dan mengembangkan usaha toko perlengkapan bayi yang dikelolanya bersama Emi sahabatnya.

Keisha yang semula hanyalah istri yang demikian dilindungi oleh suaminya, berusaha untuk mampu bangkit menyelamatkan perekonomian keluarga, setelah suaminya "dirumahkan". Namun, pencapaian yang diperoleh Keisha tak mampu menolong Akna keluar dari keterpurukannya. Akna yang berubah temperamental berhasil membuat Yanti, asisten rumah tangga mereka memilih untuk pulang kampung. Bahkan, akhirnya Keisha pun memilih meninggalkan suaminya dan pulang ke rumah orang tuanya.

Apakah rumah tangga mereka dapat terselamatkan, mengingat Akna di mata Keisha tak ubahnya seorang "monster" yang menakutkan? Apakah usaha yang diperjuangkan Keisha mampu membangkitkan semangat Akna untuk keluar dari keterpurukannya? Jawabannya, ada dalam novel setebal 201 halaman ini.

Dari segi cerita, menurutku cukup bagus. Membaca novel ini, seakan aku ditodong dengan pertanyaan : siapkah aku jika tiba-tiba mengalami kejadian seperti yang dihadapi Akna dan Keisha? Dan, jujur... aku masih tak yakin dengan jawabanku.

Setidaknya, aku salut dengan penulisnya yang bisa bercerita dengan cukup detil tentang usaha yang dijalankan Keisha dan Emi. Mungkin karena penulis juga memiliki online shop, sehingga sedikit banyak punya pengetahuan tentang strategi mengelola bisnis itu. Selain itu, aku juga salut karena penulis juga cukup detil mengulas step-step yang harus dijalani seorang yang akan mengenakan kaki palsu.

Gaya bahasa yang ringan dan mengalir membuatku asyik mengikuti kisah dalam novel ini. Lebih menarik karena di beberapa bagian ada potongan lirik lagu yang sesuai dengan situasi dan suasana hati tokoh-tokohnya.

Kekurangan yang aku catat dari novel ini antara lain adalah : banyaknya kalimat yang terlalu panjang. Bahkan, karena kalimatnya banyak yang panjang, tak jarang aku menemukan alinea yang hanya terdiri dari 2 kalimat saja. Ada cukup banyak kalimat yang terdiri dari 30 sampai dengan 50 kata lebih.

Dan, kalimat terpanjang yang aku temukan dalam novel ini adalah kalimat yang terdiri dari 63 kata. Aku sampai megap-megap bacanya. Ini kalimatnya :

Kalau kali palsu itu dapat dia miliki secara instan, dia mau, tapi ini, untuk memakai kaki palsu saja, prosesnya panjang sekali: dari mulai dengan assessment atau pemeriksaan kepada pasien, yaitu berupa pencatatan data diri pasien, penentuan diagnosis dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluhan pasien, kemudian pengukuran dan casting atau pembuatan gips yang dilakukan pada kedua tungkai, baik yang sehat maupun yang diamputasi. (hal 119)

Selain itu, aku masih menemukan beberapa salah ketik. Kata yang masih salah ketik antara lain : pendapat harusnya pendapatan (hal 79), bilang harusnya bila (hal 109), tengkuy harusnya tengkyu (hal 113). Typo yang cukup banyak di kalimat ini : Untung Yanti segera membukakan pintu karena sudah dia menelepon sejak dari masih di angkot (hal 81). Ada juga kalimat yang terlalu banyak "nya" di dalam kalimatnya : Akna terduduk lemas, kemarin dokternya menghubunginya ke ponselnya.

Ada satu potongan cerita yang membuatku sedikit bingung, yaitu saat Keisha menjelaskan kepada Emi tentang rencana pengembangan toko mereka. Potongan cerita itu muncul 2 kali, dengan timing yang berbeda dan kesan yang berbeda pula. Dan itu membingungkanku. Pada halaman 61-62 diceritakan bahwa Keisha menceritakan tentang rencana itu di dalam ruang kantor toko mereka. Emi bukan hanya takjub dengan ide itu, tapi terkesan Emi setuju.

Namun, di halaman 78-79 diceritakan bahwa Keisha (seolah baru) menceritakan ide pengembangan toko mereka di dalam perjalanan pulang ke rumah. Emi yang mengantarkan Keisha terkejut dengan ide itu seolah-olah dia belum pernah mendengar ide itu sebelumnya. Bahkan, Keisha menangkap kesan bahwa Emi kurang tertarik dengan ide itu.

Yang kurang dari novel ini adalah tidak adanya daftar isi. Aku yang terbiasa untuk melihat gambaran dari isi sebuah buku melalui daftar isinya, kali ini terpaksa meraba-raba akan berjalan kemana kisah dalam buku ini dibawa. Namun, covernya dan desain di dalamnya (dengan payung di atas judul masing-masing bab) cukup menarik.


Secara keseluruhan novel ini menarik dan mengajarkan banyak hal padaku. Pelajaran pertama adalah soal bagaimana menyikapi takdir. Pelajaran kedua adalah manfaat dari menjaga tali silaturahmi.

Selama ini dia baru pasrah terhadap takdir. Pasrah saja tanpa berdamai ternyata sulit untuk kompromi. (hal 52)
Memang tali silaturahmi itu perlu dijaga, selain membahagiakan dikelilingi sahabat baik, juga membuka pintu rezeki. (hal 122-123)


termenung usai membaca rainbow

Melalui novel ini pula aku menyadari bahwa setiap rumah tangga mendapatkan ujiannya masing-masing. Ada yang lewat kemiskinan, sakit, perselingkuhan dan sebagainya. Setiap pasangan diharapkan mampu melewati ujian itu dengan sebaik-baiknya dan mempertahankan pernikahan mereka.

29 komentar:

  1. Allah membenci perceraian, apakah kita mau dibenci Allah!? Jawabnya tentu tidak! oleh karena itu Pernikahan memang wajib dipertahankan sampai kapanpun dengan segala cara.

    BalasHapus
  2. Waah...Ibu, mau dong novelku direview. Nanti aku kirim ya, Bu. Tolong kasih tau alamat Ibu via pesan di fb aja ya, Bu. Makasih, Bu ^_^

    BalasHapus
  3. sepertinya tema2 cerita seperti ini sering bgt ya mbak. pasangan yg tiba2 kehilangan rasa percaya diri setelah mengalami kecelakaan. Tapi meski begitu tetap penasaran dgn akhir ceritanya hahaha..

    nice review mbak *thumb*

    BalasHapus
  4. wah, Mba Reni resensinya lengkap ... makasih yaa sdh ikut berpartisipasi

    BalasHapus
  5. Oya, buat penjelasan kenapa Emi kaget, padahal Keisha sudah membicarakan sebelumnya tentang tujuan mereka memiliki toko offline: awalnya Emi tidak setuju toko offflinenya seperti ide keisha; Toko baju bayi dengan playground, yang tentu membutuhkan banya modal. tapi akhirnya diam-diam Emi setuju

    BalasHapus
  6. judulnya rainbow ya mbak reni.,.,

    BalasHapus
  7. ikut mampir, and ikut nyimak artikelnya mbak,.,

    BalasHapus
  8. Jadi penasaran utk membaca keseluruhan isinya

    BalasHapus
  9. ulasannya enak dibaca,mbak
    makasih ya

    BalasHapus
  10. cie.. cie..
    termenungnya difoto ya mbaaak, hehe..
    saya kurang ngkitin nih kalau buku dengan genre seperti ini..

    BalasHapus
  11. @Edi >> Bener Pak, dan sebenarnya itulah yang diperjuangkan setengah mati oleh Keisha, tokoh utama dalam novel tersebut.

    @Rifka Nida Novalia >> Mbak, alamatku sudah aku kirimkan via inbox

    @zasachi >> melalui novel ini aku bisa mengetahui pergulatan batin Keisha dan Akna setelah musibah itu menimpa keluarga mereka. Kisah yang bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja.

    @Eni Martini >> tapi menurutku sih, kekagetan Emi itu masih mengesankan kalo dia emang baru mendengar ide itu utk pertama kalinya.

    @Odoy >> iya.. :D

    @Rida >> terimakasih utk kunjungannya

    @Hariyanti Sukma >> semoga kesampaian utk membaca keseluruhannya.

    @Seiri Hanako >> terimakasih utk apresiasinya :)

    @Yudi Darmawan >> iya hehehe...

    BalasHapus
  12. mantep reviewnya :)

    temanya seru yah, jd pgn baca jg..

    BalasHapus
  13. Mbak, sy juga selalu punya ketakutan spt itu. Kyknya sy harus punya buku ini

    BalasHapus
  14. kayaknya sedih ya ceritanya

    BalasHapus
  15. baca novel cuma lewat resensinya mba reni aja udh cukup... :)

    BalasHapus
  16. Bagus review nya mbak, detail.

    Jadi inget tetangga mertuaku mbak :D
    suaminya sakit, istrinya milih untuk kawin lagi (tanpa cerai) #lah, kok jadi nggosip

    :D

    BalasHapus
  17. Mbak Reni resensinya keren nih, bikin penasaran sama novelnya. Detail dan teliti.

    BalasHapus
  18. Segitu detailnya ngreview novel Mbak, sampai kalimat panjang aja di komentarin. Dan justru komentar seperti itu yang membuat seorang penulis merasa di perhatikan. Bagus Mbak :)

    BalasHapus
  19. Waaaahhh..... jadi peasaran baca keseluruhan Novelnya... Makasih ya mak review nya.... :)

    SaHaTaGo [Salam Hangat Tanpa Gosong] dari pemuda asal Mempawah yang menetap di Jogja, gak suka marah apalagi mencela, mudah-mudahan bisa senantiasa membuat orang lain bahagia dan semoga anda berkenan dengan komentar saya, haha :D

    BalasHapus
  20. kebanyakan tentang editing tulisan ya Mbak, kalimat yang panjang sampai megap-megap..
    kalau baca novel mungkin sering saat itu juga ya dihabiskan, gak mau nyisa buat besoknya :D

    BalasHapus
  21. salam kenal mba reni :)resensinya apik, komplit dan detail..jadi penasaran pengen baca bukunya:)

    BalasHapus
  22. wow.. mbak reni detail banget sampai typo dan kalimat per kalimatnya..

    BalasHapus
  23. begitulah Mbak Reni kalo ngeripiu buku selalu komplit dan menguasai isi dari buku yang dibacanya, sampai-sampai typo pun tidak lepas dari perhatiannya.
    Mudah-mudahan masuk-masukan yang Mbak Reni tulis bisa menjadi bahan pertimbangan revisi kalo seadainya akan dicetak lagi

    BalasHapus
  24. Hahaha.. modele action rek hahaha

    BalasHapus
  25. saya numpang baca aja dulu Mbak. dan salam kenal..hehe

    BalasHapus
  26. wow, detail banget ya..
    pokok e kalo mbak reni yg bikin resensi mak nyusss deh...

    BalasHapus
  27. @Nathalia Diana >> iya, temanya menarik, tentang konflik dalam rumah tangga

    @Keke Naima >> Iya mbak Keke, gak ada salahnya punya buku ini sbg pembelajaran bagi kita.

    @Mila Said >> iya, sedih sih. Tapi banyak hikmah yg bisa kita petik darinya.

    @Ri-Uz Athamir >> mbak Rini, kisah spt yg ditulis di Rainbow itu pasti dapat kita jumpai dlm kehidupan sehari-hari

    @Niken Kusumowardhani >> semoga resensiku bisa menggambarkan isi novel itu dg benar, mbak

    @Yuniarinukti >> kecenderunganku kalau baca buku ya merhatiin hal2 remeh temeh spt itu

    @Keluyuran >> semoga kesampaian baca novelnya :)

    @sari widiarti >> emang baca itu enaknya langsung diselesaikan... karena penasaran dg endingnya hehehe

    @Rina Susanti >> salam kenal kembali, mbak

    @niee >> kalau ada typo sih bikin risih bacanya, jadi otomatis ketahuan hehehe

    @Pakies >> itulah mengapa aku sengaja menuliskan typo yang ada dalam buku tersebut, dg harapan supaya saat dicetak ulang ada revisinya

    @Lozz Akbar >> kenapa action-ku... gak meyakinkan ya Kang? hehehe

    @Kstiawan >> silahkan dibaca :D

    @Gus Priyono >> hadehh, GR aku dipuji Mas hehehe

    BalasHapus
  28. doakan dicetak ulang dengan perbaikan lebih oke lagi ya mba ^_^
    buat yang mau pesan RAINBOW pesan sms 088808636156
    Pengiriman dari Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups.. semoga bisa dicetak ulang dengan perbaikan yg pastinya lebih oke. Aamiin.

      Hapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)