Rabu, 09 Juli 2014

Review : Athirah, tentang sosok wanita istimewa



Judul Buku : Ahthirah
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Noura Books
Terbit : Desember 2013
Cetakan : Pertama
Tebal : 404 halaman
ISBN : 978-602-7816-67-1

“Berjuanglah untuk perempuan yang sungguh-sungguh kau cintai, Dan, bila kau dapat, jagalah dia sepanjang hayatmu”

Novel ini berkisah tentang Bu Athirah, Emma (baca : emak) dari Bapak H. Jusuf Kalla. Tentang kenangan yang penuh kerinduan dan cinta dari seorang anak yang selama 40 tahun terus menerus mendampingi sang Emma tercinta. Tentang kenangan seorang anak akan kesetiaan, keikhlasan dan tanggung jawab dari orangtuanya. Selanjutnya, aku akan akan menyebut tokoh-tokohnya tanpa embel-embel Bu ataupun Pak di depan nama-nama mereka.

Kehidupan rumah tangga Athirah dan H. Kalla, pedagang termasyur di Makasar, tak kurang suatu apa. Rumah tangga yang dibangun di usia muda itu berjalan tenang dan penuh cinta ditambah dengan limpahan materi dari bisnis mereka yang berkembang pesat. Anak-anak yang patuh dan sholeh/sholihah, seorang bapak yang sangat dihormati seluruh anggota keluarga dan seorang ibu yang lembut dan penuh kasih adalah gambaran indah keluarga tersebut. Tak ada yang kurang ataupun tak memuaskan dari rumah tangga mereka.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Athirah, bahwa di usianya yang baru menginjak 30 tahun dan dalam harmonisnya rumah tangga mereka, suaminya tergoda wanita lain. Goncangan batin Athirah tak terbendung saat suaminya menikah lagi dan meninggalkan rumah yang telah sekian lama menaungi mereka dengan kehangatan dan cinta. Bahkan, bayi yang dikandung Athirah saat prahara itu muncul, akhirnya terlahir dalam kondisi cacat akibat beratnya tekanan batinnya.

Bukan saja Athirah yang terguncang, anak-anak mereka pun mulai merasakan kehilangan sosok bapak yang mereka cintai sekaligus mereka hormati. Untunglah, meski perasaan Athirah hancur lebur, dia tetap mampu menjaga anak-anaknya dari kehancuran. Dia berusaha sekuat tenaga menciptakan hari yang 'wajar' bagi anak-anaknya sehingga di rumah tetap tercipta kedamaian yang sama seperti sebelum prahara itu terjadi.

Namun, Athirah tetaplah manusia biasa, ada saat-saat dia benar-benar tak mampu menerima kenyataan yang ada. Namun hebatnya, dia berusaha untuk menanggung semuanya dalam diam tanpa harus membebani anak-anaknya. Tangis dalam diam dan air mata adalah teman bagi Athirah di awal-awal prahara itu terjadi. Bahkan pernah juga, Athirah mencoba mencari "orang pintar" sekedar mempertanyakan mengapa hal itu terjadi pada hidupnya. Untunglah Athirah dapat segera menyadari kesalahannya dan berusaha untuk berdamai dengan kenyataan.

Saat Athirah sudah benar-benar mampu menerima kenyataan dengan ikhlas, dia memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan memiliki bisnis sendiri. Jika sebelumnya dia hanya membantu suami menjalankan sebagian bisnis mereka, kini dia memilih untuk melebarkan sayap. Siapa sangka, bisnis yang dirintis oleh Athirah berkembang pesat. Bahkan, saat bisnis suaminya mengalami kemerosotan, Athirah tampil sebagai penyelamat dan membayarkan segala kewajiban suaminya.

Aku banyak belajar dari novel ini, khususnya tentang bagaimana perkawinan poligami dan berbagai gejolak perasaan di dalamnya. Aku juga belajar banyak dari pandangan-pandangan Athirah tentang bagaimana seharusnya istri bersikap dan memposisikan diri. Bagaimana seorang Athirah, seorang anak desa yang tanpa memiliki pendidikan tinggi, mampu merubah diri menjadi istri pedagang yang sangat sukses di Makasar, bahkan belakangan mampu menjelma menjadi pengusaha sukses.

Yang luar biasa adalah H. Kalla sejak awal telah memberi keleluasan bagi Athirah utk mengerahkan segala kemampuannya berpikir dan bekerja. Jika H. Kalla sibuk dengan pengelanaannya mencari barang dagangan dan menciptakan strategi dagang, maka Athirah mengatur dan mengurus toko serta mencatat pembukuannya. Athirah benar-benar membuat dirinya sepadan dengan kemajuan yang telah dicapai suaminya. Kerjasama yang serasi dan saling melengkapi dari mereka berdualah yang membuat usaha mereka berkembang pesat.

Prinsip H. Kalla dalam berdagang juga patut dicontoh. Menurutnya perdagangan harus didasarkan pada kejujuran, kesabaran dan keuletan. Dia menjalankan usaha dagang dengan ketaatan akan ajaran Islam yang teguh dalam berniaga. Dia juga tak mau membisniskan sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Karena taktik mencari keuntungan dari barang-barang dagangan jenis itu adalah perbuatan tidak baik (hal. 120-121).

Dalam pernikahan poligami, tak hanya perasaan istri yang tercabik, namun juga anak-anaknya. Dalam novel ini digambarkan pengalaman terberat yang dirasakan oleh Jusuf Kalla sebagai anak dalam kasus poligami adalah ketika melihat Emma-nya menahan pedih atas peristiwa itu. Dia belajar banyak tentang cinta dan kesetiaan. Semua itu ternyata membuat Jusuf Kalla tak berani menyukai gadis manapun karena yang ada dalam pikirannya hanyalah 'menjaga' Emma-nya. Alasan ketidakberanian Jusuf Kalla menyukai gadis adalah pemikiran bahwa "Orang sebaik Bapak saja bisa melukai perasaan Emma. Bagaimana denganku yang masih bodoh?" (hal. 147)

Saat akhirnya Jusuf Kalla mulai jatuh hati, ternyata jalannya sungguh tidak mudah. Butuh kesabaran dan perjuangan luar biasa untuk mendapatkan perhatian Mufidah. Terhadap semua penolakan Mufidah, Jusuf Kalla bisa menerima dengan lapang dada karena bagi Jusuf (berkaca dari pengalaman orangtuanya) laki-laki memang tak sepenuhnya bisa diyakini. Setiap wanita boleh memutuskan kepada siapa cinta dan kepercayaan hendak diberikan. Tanpa sadar Jusuf telah belajar banyak dari Emma tentang bagaimana menghargai wanita. Namun saat Mufidah mengatakan bahwa ayahnya tak suka pada Jusuf karena ayah Jusuf yang menikah lagi, tak pelak hati Jusuf pun perih tak terperi.

Membicarakan novel setebal 404 halaman ini rasanya aku tak ingin berhenti. Begitu banyak hal menarik di dalamnya. Begitu banyak pelajaran berharga aku petik darinya. Ada banyak quote indah yang aku suka.

Nasehat Bapak “Jangan pernah bercita-cita cepat menjadi orang kaya., Jusuf. Bercita-citalah menjadi orang yang bisa berbagi.” (hal 241)
Nasehat Emma, “ Allah tidak akan memberikan keindahan yang sempurna tanpa didahului perjalanan terjal.” (hal 309)

Alberthiene Endah memang terbukti jempolan dalam menuliskan kisah hidup seseorang. Dalam kepiawaiannya bercerita, aku dapat mengetahui sejarah Athirah bahkan sejak dia belum dilahirkan hingga saat meninggalnya! Semua kisah itu telah memberikan alasan tentang bagaimana keteguhan dan kesabaran Athirah terbentuk.

Pola maju mundur memang kurasakan paling tepat, mengingat panjangnya rentang kehidupan Athirah yang dikisahkan dalam novel ini. Jika penulis hanya menggunakan alur maju, aku yakin pembaca akan merasakan jemu. Selain itu lompatan-lompatan kejadian akan sangat terasa, mengingat semua kisah itu hanya terwakili oleh 400-an halaman saja.
Yang memuaskan adalah aku tak menemukan typo dalam novel ini. Biasanya, untuk novel cetakan pertama aku terbiasa menemukan banyak typo di dalamnya. Namun, Novel Athirah ini adalah pengecualian!

Sebagai penutup, aku sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang perjuangan hidup, cinta, kesetiaan dan keikhlasan.

7 komentar:

  1. aku malah belum baca mbak :)

    BalasHapus
  2. Nice post...mantap sekali review-nya Mbak...aku suka... Kebetulan aku belum beli buku tersebut, padahal pengarangnyaitu favoritku lho ... Setiap buku karangan Alberthiene tak luput kubeli... Setelah baca review-nya mbak Reni makin mantap nih pengen beli bukunya di Gramed... Btw, aku pengen juga lho pinter nge-review seperti mba Reni...ajarin donk...hehe...

    BalasHapus
  3. Review keren sangat Jeng Reni. Keluarga kekuatan masyarakat/bangsa....Nama besar Alberthiene Endah semakin berkibar melalui karya beliau.
    Mhn maaf Jeng sulit berkunjung ke blogbuku tak ada opsi nama/url blum tahu caranya.
    Selamat berakhir pekan

    BalasHapus
  4. datang berkunjung kemari sambil ngabuburite, hari fitri tinggal beberapa hari lg saya ucapkan mohon maaf lahir batin ya bu

    BalasHapus
  5. kisah yg inspiratif mb reni, reviewnya menarik sekali, tapi kok saya blm baca juga bukunya.. hehe

    BalasHapus
  6. Ini buku yang bagus dan inspiratif. Beberapa kali sudah baca sekilas ketika jalan-jalan ke toko buku. Makin mantap untuk beli setelah baca review mbak.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)