Selasa, 13 Maret 2012

Dibalik duka ada suka

Jangan berasumsi yang terlalu tinggi dulu ya setelah membaca judul di atas. Soalnya aku bukan hendak memposting suatu renungan atau cerita motivasi atau sejenisnya. Namun, aku hanya ingin bercerita tentang kisah-kisah yang masih tercecer tentang diklatku kemarin.

Kalau kemarin aku sudah bercerita tentang oleh-oleh diklat. Aku juga sudah berbagi foto-foto (narsis) selama diklat. Kali ini aku mau berbagi kisah suka duka diklat yang aku jalani kemarin. Dan, agar tak makin kelamaan... aku langsung mulai saja ya? OK?

Saat aku masih dalam perjalanan menuju Surabaya, ada pesan masuk dalam HPku. Rupanya salah seorang peserta yang sudah lebih dulu sampai di asrama tempat diklat yang mengirimkan kabar padaku. Dia mengeluh bahwa kamar asramanya jelek. Bahkan di akhir pesannya dia menulis : "kalau tahu tempatnya seperti ini, saya gak akan ikut diklat ini mbak".

Terus terang aku jadi penasaran, sejelek apa asrama yang akan kami tempati selama 12 hari itu. Dan, sesampainya aku di asrama itu, aku mendapatkan banyak kejutan yang kurang menyenangkan (walau sebelumnya sudah dapat sedikit gambaran dari temanku yang kirim pesan sebelumnya).

Ini dia hal-hal yang mengejutkan aku :
  1. kamar asrama kami letaknya paling belakang di area diklat tersebut dan terletak di lantai dua (sementara informasi yang kami dapat bahwa kelas kami terletak di area paling depan dan juga di lantai dua. Hemm... akan puas naik turun tangga deh selama 12 hari pelaksanaan diklat)
  2. kamar asramanya ternyata kecil sekali dan dalam kamar sekecil itu disediakan 3 tempat tidur. Jadi, terasa sumpek sekali.
  3. walau yang disediakan adalah kasur busa, tapi aku tahu kalau sprei yang dipasang bukan sprei baru. Kentara sekali bahwa sprei itu bekas dipakai oleh peserta diklat sebelum kami. Untung saja aku bawa selimut yang bisa aku pakai untuk alas tempat tidur.
  4. dinding asrama kami kotor karena lembab dan menyisakan sisa rembesan air di dindingnya.
  5. perabotan (almari, meja dan kursi) yang ada di kamar benar-benar seadanya, bahkan AC yang ada di kamar pun sudah  perlu diservis karena sudah tak berfungsi dengan baik
  6. kamar-kamar di lantai 2 itu berhadap-hadapan, dan seluruh peserta diklat (pria dan wanita) di tempatkan dalam lantai yang sama. Selama ini yang aku tahu, peserta pria dan wanita ditempatkan di tempat yang berbeda, tapi rupanya kali ini berbeda
  7. yang paling 'parah' adalah : kamar mandi tidak ada di dalam kamar. Kamar mandi untuk untuk seluruh peserta (pria dan wanita) ada di luar dan dijadikan satu! Bayangkan, betapa risihnya kami kalau harus antri di depan kamar mandi berbaur dengan bapak-bapak kan? Selain itu, kamar mandi di luar benar-benar menyulitkan ibu-ibu yang terbiasa buang air kecil di malam hari. Itu membuat banyak ibu yang menahan diri untuk mengurangi minum, agar saat malam hari gak harus bolak-balik ke kamar mandi. Merepotkan bukan?

Atas apa yang kami dapatkan itu panitia meminta maaf karena terpaksa menempatkan kami di asrama itu (belakangan kami baru tahu bahwa "barak" yang kami tempati selama ini memang hanya diperuntukkan peserta diklat Prajabatan. Pantas saja kondisinya 'mengenaskan' seperti itu). Panitia memberikan penjelasan mengapa kami terpaksa di sana. Selanjutnya panitia berjanji untuk secepat mungkin memindahkan kami ke asrama yang lebih layak.

Untuk asrama (kamar) kami bisa menerima dan menunggu janji panitia untuk memindahkan kami. Tapi kami meminta panitia untuk menyediakan kamar mandi yang berbeda untuk peserta pria. Dan, keesokan harinya panitia telah menyediakan kamar mandi lain untuk peserta pria. Lumayan, satu masalah telah terpecahkan.

Janji panitia untuk memindahkan kami ke asrama baru yang lebih layak baru terealisasi pada hari ke-enam! Sama seperti kamar yang kami tempati, kamar yang baru juga ditempati untuk 3 orang, tapi kamarnya sangat luas. Tapi lucunya, hanya disediakan 4 kamar dan kamar-kamar itu hanya diperuntukkan untuk peserta diklat wanita saja. Sementara untuk peserta diklat pria, masih harus bertahan di "barak".

Awalnya, peserta diklat wanita antusias menerima kunci kamar yang baru. Tapi setelah melihat lokasi kamar (yang sama jauhnya dengan barak yang kami tempati) dan mengingat bahwa di tempat baru itu tak ada peserta diklat pria, tiba-tiba seluruh para wanita mengurungkan diri pindah kamar! Rupanya, kebersamaan enam hari dan tinggal bersama satu atap dengan peserta pria membuat peserta wanita merasa aman. Walaupun kondisi kamar dan kamar mandi sebenarnya sangat tidak nyaman.

Keputusan peserta wanita untuk tetap bertahan di "barak" dan tetap bersama peserta pria (dalam suka dan duka) disambut suka cita oleh seluruh peserta pria. Rupanya, kebersamaan selama 6 hari telah menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan di antara para peserta. Hal itu membuat kami makin kompak dan solid. Bahkan, terus terang saja, aku belum pernah mengikuti diklat yang seluruh pesertanya bisa solid seperti saat itu!

Itulah yang aku maksudkan bahwa di balik duka (tinggal di "barak") ada suka (kekompakan, rasa persaudaraan dan solidaritas yang tinggi). Kebersamaan itulah yang membuat network yang terjalin di antara kami terasa sangat kuat. Sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.. (^_^)

36 komentar:

  1. Wah tempat 'diklat'nya benar-benar jd padepokan untuk melatih kesabaran banget ya Mbak. Secara umum, saya pernah ngalami kondisi yang seperti (bahkan lebih parah) karena kamar mandinya massal (hanya di bedakan laki-perempuan). Jd utk mandi tanpa sekat, akhirnya saya dan beberapa teman sepakat 'memaksa' diri utk bangun lebih dini dan pilih mandi di WC dgn resiko ngangkut air pake timba.

    Itu belum tempat tidurnya, makannnya...

    BalasHapus
  2. there're a pleasant things behind things that we thought it was bad,
    jadi kompakan dan punya persaudaraan yang baru y mbak, it's priceless!
    =D

    BalasHapus
  3. wow...ngak nyangka diakhiri dengan indah...kata slank..lapar ngak lapar asal kumpul ^^

    BalasHapus
  4. kebahagiaan yang luarbiasa adalah setelah berhasil bertahan pada keadaan duka dan melaluinya :)

    BalasHapus
  5. emang kamus hidup menuntut seperti itu mbaak hehe itu loh, pria selalu memberi rasa nyaman buat para ibu2 wanita. Kalau gak ada pria di sekeliling kita berasa ada yg kurang, nah kalau di sekeliling saya gak ada wanita jadi ngerasa kesepian haha maaf ngalor ngidul :D

    Ya, setuju, rasa kebersamaan bsa menumbuhkan sikap utk saling membutuhkan satu sama lain, jauh dari kesan sikap cuek.

    BalasHapus
  6. Kekompakan yang terjadi karena tinggal di barak ya mbak hehe...

    BalasHapus
  7. Hehe kebayang deeh....urusan kamar mandi mmg paling nggk nyaman yah. Btw itu diklat di kota mana sih mbak...jd penasaran pgn lihat foto2 nya deh :-)

    BalasHapus
  8. Turut prihatin ya mbak ;(

    Tapi yang penting pengalaman dan kebersamaannya ya kan? ^^

    BalasHapus
  9. halo mbak apa kabar?
    naik turun tangga hitung2 olah raga ya :)

    BalasHapus
  10. @Ririe >> Emang bener, diklat kemarin mengajarkan banyak hal yg tidak diberikan oleh fasilitator/Widyaiswara.
    Temanku pernah ikutan diklat yg kondisinya sama spt yg mbak Ririe alami, yaitu waktu diklat di Watukosek. :)

    @Octarezka >> yups bener sekali.. andai asrama kami bagus, mungkin kedekatan di antara semua peserta tak sesolid kemarin itu, mbak

    @iwan >> Alhamdulillah, awalnya yg sulit ternyata berakhir dg sangat menyenangkan. Bahkan temanku yg awalnya kirim pesan yang berisi penyesalan ikut diklat itu karena tempatnya yg tidak nyaman, akhirnya bisa menikmati diklat itu sepenuh hati lho.

    @Hariyanto >> kesimpulan yg sangat tepat.. Begitulah yg aku dan seluruh peserta diklat alami dan rasakan

    @Yayack >> kebetulan sikap bapak2 yg ikut diklat kemarin memang melindungi banget, jadi ibu2 merasa nyaman dan aman.

    @Anak Rantau >> harusnya judul postinganku kali ini adalah : keakraban yang berawal dari barak diklat. Kayaknya lebih seru deh hehehe.

    @Cut Maha Ratu >> memang sih mbak, kalau kamar mandi membuat kita nyaman, maka kita akan menjalaninya dg enak. Foto2nya sudah ada lho.. di postingan sebelumnya. Kan link-nya ada di postingan yg ini mbak.

    @Mayya >> pengalaman yg luar biasa mbak dan kebersamaan itu lebih berharga daripada tempat yang lebih mewah. :)

    @Lidya >> Mbak.. emang sih olahraga, tapi gara2 naik turun tangga terus aku jadi sakit punggung deh sepulan dari diklat hehehe

    BalasHapus
  11. Mengomentari diklat:
    Aku nggak terkejut Mbak Reni dan kawan-kawan diberikan fasilitas tempat menginap seperti itu. Biaya yang disediakan oleh anggarannya nampaknya standar-standar aja, dan panitia nggak akan berpikir untuk memberikan fasilitas yang lebih dari yang bisa ditanggung anggaran, Mbak. Lagian peserta mau complaint apapun, diklat akan tetap berjalan, karena tidak ada yang menuntut ganti rugi, bukan?

    BalasHapus
  12. @Vicky >> sebenarnya, kejadian yang aku dan teman2 alami adalah kejadian "luar biasa" mbak. Karena selama ini diklat spt yg aku ikuti selalu dapat tempat yang lebih layak. Alasan mengapa kemarin itu diklat kami mendapat tempat yg tidak layak adalah karena kamar yg layak digunakan utk seleksi hakim agung. Saat itu ada 50 orang yang ikut seleksi, dan masing2 orang menghendaki 1 kamar utk 1 orang. Padahal seharusnya kamar yang ada bisa dipakai utk 2 atau 3 orang. Jadinya, peserta diklat 'dikalahkan' deh. Baru setelah para calon hakim agung itu pulang, kami ditawari pindah, demikian juga peserta diklat yang lain. Saat itu kebetulan ada beberapa diklat yg sedang berlangsung bersamaan. :)
    Tapi memang sih... anggaran diklat sangat terbatas. Kondisi spt ini sama di beberapa daerah, mbak. :(

    BalasHapus
  13. Ikut diklat dan pelatihan semacam itu memang singkat dan terbatas ya Mbak waktunya..
    tapi kesannya tak kan terlupakan deh. Saya sendiri pernah ngalamin, bahkan silaturahminya tetep nyambung sampai sekarang,hehehehe

    BalasHapus
  14. walaupun susah tetap ya Mba setia kawan nomer satu :D

    BalasHapus
  15. untung yah akhirnya dapat yang layak .. :D

    BalasHapus
  16. Mbak, kayaknya aku bisa nebak dech diklatnya apa, hehe...

    BalasHapus
  17. @Apikecil >> Mbak Hana, kita punya pengalaman yg sama2 mengesankan ttg diklat ternyata ya?

    @Ria >> Betul itu... rasa setia kawan dan senasib sepenanggungan kemarin itu terasa banget..

    @Nuel >> Eh salah... sampai selesai diklat kami tetap gak dapat yg layak kok. Hayooo.. salah baca pasti.

    @Yunda Hamasah >> Mbak Keke.. aku kok jadi penasaran ya? Apa tebakan mbak tentang diklat yg aku ikuti kemarin hayooo..?

    BalasHapus
  18. Untuk masalah kamar mandinya aku setuju banget Mbak, soalnya aku juga termasuk yang paling males klo harus nikmatin kamar mandi berjamaah pas keadaan kaya gitu, tau sendiri gak semua orang bisa mandi cepet kan hhe... mungkin lebih baik klo ditiap kamar entah 1 kamar isinya berapa orang pun bisa disediain kamar mandi masing2 :)

    BalasHapus
  19. Saya senang baca akhir ceritanya mbak :)

    BalasHapus
  20. waduh diklat pegawai aja seperti itu mbak, gimana dengan diklat prajab? *membayangkan karena aku belum prajab* >.<

    BalasHapus
  21. @Ferdinand >> Sebenarnya semua peserta juga tak keberatan 1 kamar diisi 3 atau 4 orang, tapi sebaiknya kamar mandinya di dalam. Tapi... itu yg tidak kami dapatkan :(

    @Alprablog >> Iyaaa.. sudah sabar dan semua sudah berlalu :)

    @Lemo Homestay >> Thanks..

    @Hanny >> Iya mbak.. endingnya menyenangkan kok :)

    @Niee >> Lho, masak sampai sekarang belum prajab? Trus.. kapan dong prajabnya? CPNS kan gak boleh lebih dari 2 tahun?

    BalasHapus
  22. Aku komen apa ya mbak?
    Nggak bisa ngebayangin tempat diklat. Mungkin sederhana banget untuk ukuran karyawan. Tapi kalo buat pelajar kayak aku yang biasanya dikasih fasilitas tidur rame2 mungkin termasuk fasilitas yang assoy ya mbak..

    Eh ya, bukuku yang dari Leutika Prio belum juga diterbitkan
    aku gak tau alasannya, kalo dipikirin emosi juga sih.

    BalasHapus
  23. teruskanlah petualangannya ya mbak...

    ceritanya keren

    BalasHapus
  24. hehehe udah kena pria ngga bisa lepas, ya kompak selalu

    BalasHapus
  25. biasanya kumpul2 cukup lama memang bisa bikin akrab mbak :D

    BalasHapus
  26. itu mah beneran barak, mba. bukan asrama, abis kayak ga manusiawi gitu ya? tapi untung lah jd ada pengalaman seru nya :D

    BalasHapus
  27. Asyik2 orang dewasa dengan berbagai kesibukan meman asyik....

    BalasHapus
  28. waduh ngebayangin harus ikut diklat dgn tempat seperti itu pastinya males yachh...tp krna ada kebersamaan diantara para peserta jadi seneng dech.....

    BalasHapus
  29. wah karena sama sama susah ya jadi punya ikatan yang kuat.

    BalasHapus
  30. wah.. kyk pepatah.. "selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa" yah mb ??? "mangan ga mangan pokok'e kumpul..,enak ga enak. yg penting bisa ngumpul..." hehehe..

    BalasHapus
  31. hadir lagi menyapa tuan rumah blog :)

    BalasHapus
  32. @Ayu >> Nah itu dia, semua tergantung sudut pandang si pemakai memang. Bener sekali, utk ukuran karyawan, asrama yg diberikan terasa kurang memuaskan. :) Ternyata leutika belum menerbitkan bukumu to? Terus, kapan mau direalisasi?

    @Zero >> aku gak berpetualang sih sebenarnya.. hehehe

    @Pak Eka >> wkwkwk.., komentarnya lucu deh pak.

    @Ninda >> bener sekali, karena udah kumpul, jadinya gak mau pisah deh :p

    @Mila >> aku sih tetap menyebutnya asrama, karena menurutku, barak lebih parah lagi hehehe

    @Mbak Dewi >> hidup itu memang asyik, jadi anak-2, remaja ataupun dewasa semua punya keasyikan tersendiri :)

    @Mbak Nia >> sebenarnya ikut diklat itu menyenangkan, karena bisa 'refreshing' dan bebas sementara dari tugas2 rutin kantor hehehe

    @Anak kost >> memang kalau kemarin isinya cuma senang2 aja, kedekatannya pasti tak seerat saat ini

    @Mbak Lina >> Sippp... bener banget mbak. #tos

    @Hariyanto >> terimakasih kehadirannya :)

    BalasHapus
  33. kunjungan sob ..
    mau bagi-bagi kalimat motivasi sob ..
    "saya belajar menggunakan kata 'tidak mungkin' dengan sangat hati-hati."
    kunjungan balik ya sob .. :)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)