Senin, 29 April 2013

Saat Kekayaan Tak Lagi Cukup

Sudah pernah lihat drama Korea yang berjudul "Miss Ripley Who I Loved..." ? Aku bukannya ingin menuliskan sinopsis drama itu, karena sudah sangat banyak yang menuliskan sinopsisnya. Tapi bagi yang ingin tahu apa cerita drama Korea itu, secara singkat dapat kujelaskan bahwa drama Korea itu bercerita tentang kisah cinta Song Yoo Hyun seorang pewaris Mondo Group, yaitu konglomerat hotel di Korea dan Jepang.

Kali ini aku tak berminat untuk bercerita tentang kisah percintaan itu. Namun, ada satu hal yang membuatku 'tergelitik' untuk aku tuliskan disini yaitu disinggungnya rencana dari sang pewaris "tahta" Mondo Group untuk terjun ke dunia politik. Sang pewaris tahta yang masih muda itu ingin "melebarkan sayap" daripada hanya berkutat dengan bisnis hotelnya yang sudah berjalan dengan sangat sukses.

Drama Korea itu telah menampilkan sisi manusiawi tokohnya. Rupanya, dimana-mana manusia sama saja. Yup, manusia adalah makhluk yang tak pernah merasa puas.. dan itu sangat manusiawi. Adalah hal yang sangat wajar jika manusia ingin selalu "berkembang". Jika hari ini dapat satu, besok pasti ingin dapat dua, lusa ingin dapat tiga... dan seterusnya. Jika seorang anak sudah bisa tengkurap, esok diharapkan bisa merangkak, lusa diharapkan bisa duduk, kemudian berjalan dan berlari.

Jadi, apa yang diinginkan Song Yoo Hyun bukan hal yang aneh lagi. Saat kekayaan tak lagi cukup memberikan kepuasan, maka dia pun ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi yaitu lewat kekuasaan. Yang ingin dilakukan oleh Song Yoo Hyun itu pun juga terjadi di negara kita dan di semua negara lain di dunia ini. Tak sedikit para pengusaha kaya raya yang terjun ke dunia politik untuk bisa jadi kepala daerah atau anggota dewan yang terhormat. Begitu pula, makin banyak artis-artis ternama (yang juga sudah kaya) mulai melirik dunia politik untuk melanjutkan kiprahnya.

Ingin menjadi penguasa adalah juga "manusiawi". Kekayaan yang dibarengi kekuasaan benar-benar merupakan senjata yang sangat ampuh untuk mendapatkan segalanya. Tak hanya itu, kombinasi kekayaan dan kekuasaan akan mampu meletakkan seorang di puncak tahta. Dengan memiliki keduanya, orang akan mampu menguasai orang lain dengan sangat mudah. Tak hanya itu, dengan memiliki keduanya maka seakan-akan jari telunjuk pun memiliki kekuatan dan pengaruh luar biasa. Siapa tak "tergiur" dengan kondisi seperti itu?

Namun kembali lagi bahwa manusia pasti ingin selalu mendapatkan yang lebih banyak lagi. Saat kekayaan dan kekuasaan sudah di tangan, pasti dia tak ingin melepaskannya lagi sampai kapanpun. Syukur-syukur bisa makin memperbesar kekuasaan yang dimilikinya dan memiliki pengaruh yang makin luas lagi. Akhirnya, tak sedikit orang yang melakukan berbagai macam cara untuk tetap dapat mempertahankan kekayaan dan kekuasaannya.

Itulah manusia, tidak pernah puas. Semoga saja kita tidak sampai terlena dan lupa kapan harus mengendalikan diri dari nafsu kita agar kita tak jadi serakah. Mampukah kita melakukannya?



15 komentar:

  1. tidak mudah puas memang kodrat manusia ya mbak, selama bisa diarahkan dan dikontrol tak akan jadi soal, tapi bisa konsisten gak nah itu yg gak jamin hehehe

    BalasHapus
  2. Saya nggak pernah liat sinetron dan drama korea Mbak jadi nggak tahu cerita yang dimakdukan. Namun sangat menarik jika direview menjadi pembelajaran bagi kita untuk memaknai hidup ini dari sudut pandang kesuksesan. Begitulah manusia, fitrahnya melakukan apapun sejak dari kecil dengan tujuan untuk menjadi orang yang sukses. Namun tidak sedikit memaknai sukses, kesenangan dan bahagia dengan sudut pandang yang kurang tepat sehingga mendorong ia melakukan pencapaian dengan cara yang kurang tepat pula. Jika dada telah dipenuhi dengan kebendaan, kekuasaaa, popularitas tanpa ada kesimbangan 'isi hati' dan pemenuhan kebtuhan ruhani, maka ia akan terjeran dan terhimpitkan karena yang ada di dalam jiawanya adalah harta, kekuasaan dan tahta.

    BalasHapus
  3. hehehe, kdrama juga.. aku belum liat mba..

    iya, banyak hal yg menarik dr sebuah drama yang kita bisa petik bukan hanya dr sisi visualisasi

    BalasHapus
  4. Insya ALLAH saya mampu mbak Ren, kan saya durung sugih hihihi

    Yah semoga saja buat yang mencoba terjun langgang ke dunia politik ini niatnya untuk mengabdi bukan untuk semakin memperkaya diri

    BalasHapus
  5. harus sering2 bersyukur ya jadi tidak merasa tidak puas terus

    BalasHapus
  6. Wah ternyata...yaaaapenyuka drama Korea...hehehehe

    BalasHapus
  7. namanya juga manusia hidup bu
    hal semacam itu ga bakalan bisa lepas
    apapun latar belakang orang tetap saja punya keinginan itu. masalahnya hanya mau atau mampu apa engga
    itu doang...

    BalasHapus
  8. belum pernah nonton mbak.. tapi kalo di pikir" ini kisahnya sama kayak dunia politik di negeri kita ya

    BalasHapus
  9. Ternyata si ibu suka nonton K-Drama juga... Hihihihihi

    BalasHapus
  10. karena manusia memang tak pernah puas ya.

    BalasHapus
  11. @Aulawi Ahmad >> nah itu dia, jarang manusia yang mampu konsisten dalam segala kondisi ya?

    @Pakies >> rasanya kemewahan duniawi memang begitu mudah menggoda manusia utk khilaf ya Pak?

    @Hilsya >> iya, aku suka melihat kdrama mbak, apalagi jika aku dapat menemukan hikmah di balik kisahnya

    @Lozz Akbar >> semoga saja begitu Kang. Soalnya seringkali orang jadi lupa diri saat sudah dalam "zona nyaman" :D

    @Lidya >> iya mbak.. itu salah satu kuncinya

    @lies hadie >> iya mbak... suka banget ama KDrama hehehe

    @Rawins >> yups... makanya aku sebut "manusiawi" Kang hehehe

    @wina azam >> sebetulnya kiprah sang tokoh utk terjun ke dunia politik belum terwujud (krn cuma 16 episode) tapi pembicaraan akan rencana itu sering kali muncul.

    @Nuel >> iya memangg... heheheh

    BalasHapus
  12. Saya puas dengan hidup saya mbak, meski hanya sebatas menjadi pemain dangdut keliling hehehehe.

    Bersyukur.. mungkin itu kunci agar kita menjadi orang yang kaya

    BalasHapus
  13. pengen deh sinetron Indonesia kayak K-drama. Asyik gitu nontonnya, gak bosan dan mudah ditebak. :)

    ternyata Mak Reni suka nonton juga yaa :D Baru tahu. GAUL MENNN!

    BalasHapus
  14. tidak pernah puas??
    saya!
    *ngacungtangan*

    BalasHapus
  15. bener mbak.. manusia ndak pernah puas...

    kalau ndenger ceramah2, inginnya ketidak-puasan itu hrs ditujukan utk amal ibadah guna bekal saat hisab nanti.. mudah2an aku dan kita semua bisa menentukan visi misi hidup ke arah sana yah mbak... kita sama2 saling mengingatkan ya mbak...

    amiiiiin..,

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)