Senin, 23 Desember 2013

#20 Review : Seven Days



Judul : Seven Days (Tujuh Hari Bersamamu)
Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Qanita
Cetakan : I (Pebruari 2013)
Tebal : 298 halaman
ISBN : 978-602-9225-72-3
Harga : Rp. 49.000

Nilam bersahabat sejak kecil dengan Shen. Kedekatan kedua orang tua mereka, rumah mereka yang juga berdekatan serta perbedaan usia mereka yang hanya selisih 1 bulan semakin mendekatkan mereka. Hampir di setiap momen penting dalam kehidupan mereka selalu mereka lalui bersama. Singkat kata, mereka sangat dekat satu sama lain layaknya saudara.

Suatu hari Shen mengejutkan Nilam dengan idenya berlibur berdua ke Bali. Nilam yang selama 25 tahun hidupnya belum pernah menginjakkan kakinya ke Bali tentu saja antusias dengan ajakan itu. Apalagi kedua orang tua Nilam memberikan ijin. Bahkan, Reza, kekasih yang sedang menunggu jawaban atas lamarannya terhadap Nilam, pun memberikan ijin. Akhirnya, rencana Nilam dan Shen berlibur ke Bali berdua pun terlaksana.

Ternyata, berlibur selama 7 hari bersama sahabat tercinta di pulau yang sangat eksotis memberikan pengalaman yang luar biasa. Sering Nilam menjadi salah tingkah atas sikap dan perhatian Shen padanya. Kedekatannya dengan Shen kian sering menghadirkan debar-debar aneh di dadanya. Di sisi lain, Nilam merasa telah menodai kesetiaannya pada Reza. Padahal Reza sudah demikian tulus, penyabar serta penuh cinta dan perhatian padanya.

Nilam terombang-ambing dalam menentukan pilihan. Haruskah dia memilih sosok lelaki yang selalu hadir menemaninya ataukah lelaki yang dipilih oleh hatinya? Sesulit apapun itu, Nilam harus tetap memilih karena hidup memang tak lepas dari pilihan.

*****

Membaca novel ini memang sangat mengasyikkan. Gaya bahasanya asyik dan gak ribet. Cerita pun mengalir lancar dengan alur maju yang membuat nyaman pembacanya. Itu sebabnya aku tak butuh waktu lama dalam menyelesaikannya.

Cerita diambil dari sudut pandang Nilam sebagai orang pertama. Hal ini memudahkan aku untuk memahami bagaimana pergulatan batin yang dialami Nilam dalam memilih Reza atau Shen. Tak jarang aku menjadi gemes dan "geregetan" atas sikap yang dipilih Nilam. Dalam hal ini, penulis pandai sekali memainkan perasaan pembacanya.

Daya tarik novel ini tentu saja adalah settingnya : Bali! Membaca kisah Nilam dan Shen bertualang di Bali selama 7 hari dan mengunjungi berbagai tempat-tempat wisata yang asyik benar-benar membuatku iri. Membaca deskripsi yang cukup detil disampaikan penulisnya membuatku bisa ikut merasakan nyaman dan asyiknya berlibur di Bali. Bahkan seolah aku bisa ikut menggambarkan kecantikan alamnya dalam benakku. Olala... aku jadi ingin berada di Bali saat ini.

Editingnya rapi sekali. Aku tak menemukan typo dalam novel ini, padahal novel yang kubaca ini adalah cetakan pertama. Sebab, aku sering menemukan buku-buku yang dicetak pertama kali masih ada typo meskipun sedikit. Atas bebasnya typo dari novel ini aku harus mengacungkan jempol! Jenis font dan ukuran font pun pas, sehingga tidak membuat mataku lelah dalam membacanya.

Sampul buku juga manis dan tak berlebihan. Namun, rasanya akan lebih asyik jika gambar awan-awan di sampul depan diganti dengan siluet Tanah Lot. Sehingga dari sampulnya saja para pembaca sudah tahu kalau 7 hari dalam novel itu mengambil setting Bali. Namun, ini memang hanya masalah selera saja sehingga tidak mempengaruhi keasyikan dalam membaca novelnya.

Satu lagi, aku selalu suka jika aku mendapat wawasan baru setelah membaca buku. Nah, novel ini memberikan itu. Aku menjadi semakin tahu tentang Bali berikut tempat-tempat wisatanya lengkap dengan informasi tentang tempat-tempat itu. Aku juga jadi terbuka wawasanku tentang astronomi, walau aku belum memahami benar. Kecintaan penulis tentang astronomi telah tersalurkan melalui buku ini.

Oya, kejutan manis yang aku dapatkan dari novel ini adalah saat aku membaca kisah Rama - Shinta. Tak kusangka penulis memahami benar tentang epos Rama dan Shinta ini. Entahlah, penulis memang pengagum epos itu sejak lama ataukah baru mencari informasi tentang hal itu sebelum menuliskan novel ini. Jika ternyata jawabannya adalah yang kedua, lagi-lagi aku harus angkat jempol untuk penulisnya yang mau bersusah payah mengumpulkan datanya.

Heemm... rasanya memang pantas jika novel ini jadi pemenang pertama dalam Lomba Penulisan Romance Qanita. Jadi, bagi yang ingin mengisi hari dengan membaca buku yang akan membuatmu tersenyum senang setelah menutup bukunya, maka novel ini bisa dijadikan pilihan.

Tulisan ini diikutkan dalam Review Akhir Tahun yang diselenggarakan oleh Rhein Fathia

12 komentar:

  1. Saya jadi penasaran bgt cerita di balinya itu mbak, pasti nilamnya itu dag dig dug gimanaaa gitu yah hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. cerita di Bali itu seru banget lo... makanya beli aja novelnya hehehe

      Hapus
  2. Review dari mbak Reni saya bisa membayangkan serunya cerita tsb.
    semoga sukses ya mbak GA nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak Mbak doanya...
      Gak tertarik baca sendiri novelnya mbak?

      Hapus
  3. novel ini yang aku carii :D tapi gak ada di gramed Manado >.<
    karena yang juara dua ud beli, sama punya Mak Winda juga udah, masa yang juara belum beli heheheh

    Penasaran dengan epos Rama-Shinta yang ditulis di novel ini ;)
    Semoga menaaang, ibu ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gitu cari di Gramed Solo aja... pasti ketemu.
      Selamat penasaran ya..? hehehe....

      Aku salut karena penulisnya paham soal epos Rama-Shinta.

      Hapus
  4. Lagi seneng ripiyu nih kayaknya...semoga menang ya Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... terimakasih banyak utk doanya Mbak Lies

      Hapus
  5. Epos Rama Shinta dipadukan dg eksotisme Bali, wow Jeng Reni menguliknya dg apik. Sukses dlm GA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulisnya yang keren Mbak Prih... hehehe

      Hapus
  6. udah baca juga nih novel.bagus kisahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak Fanny, emang bagus kok :)

      Hapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)