Kamis, 12 Desember 2013

Dokter Volunteer, Usaha Membentuk Paradigma Baru

Beberapa hari yang lalu aku membuat sebuah tulisan yang berjudul "Dokter, Antara 2 Pilihan". Tulisan itu aku buat untuk mengikuti lomba Blog "Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan di Indonesia". Dalam tulisanku itu, aku mencatat banyaknya kejadian yang memperkuat paradigma bahwa dokter Indonesia mengutamakan materi daripada pengabdian kepada masyarakat.

Pagi ini, ada komentar masuk dari Mbak Elsa (Blogger dari Jombang) pada tulisanku di atas. Komentarnya seperti ini :
mbak, baca jawapos hari ini? halaman depan paling bawah?
keren tuh, ada komunitas mahasiswa kedokteran yang melakukan kerja sukarela, karena terketuk melihat teman-temannya sejak kuliah sudah berorientasi pada materi semata. padahal menurut mereka, seorang dokter juga berkewajiban tidak hanya mengobati, tetapi juga terjun ke tengah tengah masyarakat, membantu pencegahan dan penangkalan penyakit dengan membenahi apa apa yang kurang di masyarakat.... jadi tujuannya agar masyarakat gak sakit gitu...

Terus terang, tergelitik oleh komentar mbak Elsa itulah aku pun mencari harian Jawa Pos edisi hari ini di kantorku. Setelah menemukannya, aku segera mencari tulisan yang dimaksudkan mbak Elsa. Dan, aku sungguh terharu membaca tulisan yang berjudul : dr. Dani Ferdian, Pendiri Dokter Volunteer, Penyebar Prinsip Mengabdi kepada Masyarakat. Awalnya, dulu di sela-sela jam kuliahnya dr. Dani senang mencari tahu pendapat teman-temannya tentang apa yang akan mereka lakukan selepas mendapat gelar dokter.

Dari semua teman yang dimintai pendapatnya ternyata tak satu pun yang murni mau mengabdikan diri untuk masyarakat. Hal inilah yang membuat dr. Dani prihatin. Menurutnya, dokter sesungguhnya bukan hanya sebatas menyembuhkan penyakit dengan imbalan bayaran tinggi dari pasien. Masih menurutnya, dokter semestinya punya peran penting untuk melakukan tindakan pencegahan dengan turun langsung ke masyarakat atau dengan cara memperbaiki sistem kesehatan di pemerintah.

Atas dasar itu, dia membentuk gerakan Dokter Volunteer bersama 18 mahasiswa kedokteran di kampusnya tahun 2009 yang lalu. Saat itu, dia baru duduk di semester IV FK Unpad Bandung. Mereka sepakat bahwa paradigma dokter tidak hanya mengejar materi semata, namun mendahulukan pengabdian kepada masyarakat. Menurut dr. Dani, hal paling dasar dalam pengabdian seorang dokter adalah menolong. Dan, itu dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana seperti aksi mengukur tekanan darah di pasar, memberi penyuluhan dsb.

Aktivitas Dokter Volunteer terbagi dalam 3 bidang, yaitu : pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Wujud kegiatannya seperti mengajar anak-anak, mengadakan penyuluhan kepada anak-anak jalanan, sosialisasi kesehatan, pendampingan usaha ekonomi dll.

Saat ini Dokter Volunteer beranggotakan 200 aktivis dan 20 orang diantaranya dokter. Sementara yang lain merupakan gabungan dari tenaga medis non dokter, serta para mahasiswa lintas fakultas. Ada sekitar 50 ribu warga di Jawa Barat dan Banten yang telah merasakan pelayanan dari Dokter Volunteer ini melalui 200 kegiatan yang mereka gelar.

Semua yang telah dilakukannya itu rupanya menarik perhatian banyak orang. Bahkan dr. Dani dinobatkan sebagai Inspiring Student Movement Award 2012 dari Masyarakat Ilmuwan dan Tekonologi Indonesia. Sedangkan di tahun 2013 dia mendapatkan anugerah Young Change Maker 2013 dari Asoka Indonesia.

Dr. Dani sudah memantapkan hati untuk tidak mengikuti jejak dokter-dokter lainnya yang berlomba-lomba mendapatkan gelar dokter spesialis. Baginya, yang penting adalah bagaimana mendorong orang tetap sehat dengan mengatur sistemnya.

Membaca kisah dr. Dani itu seolah 'jawaban' dari harapan dan doaku seperti yang aku sampaikan di akhir tulisan "Dokter, Antara 2 Pilihan". Setidaknya masih ada dokter yang memiliki kepedulian dan semangat mengabdi, tanpa mengutamakan materi. Aku juga berharap semoga ke-20 orang dokter yang saat ini masih tergabung di Dokter Volunteer akan tetap konsisten dalam semangat pengabdian mereka dan tak tergoyahkan oleh godaan materi semata. Aamiin.


41 komentar:

  1. dokter itu sebuah profesi yang mengaggumkan sehingga tidak jarang orang-orang bertanya pada anaknya. nak mau jadi apa besok?
    anak: dokter bu
    ibu: wah keren belajar yang rajin ya

    dari sini kita bisa lihat kalo dokter itu orang-orang yg memiliki otak lebih encer dari yang lain. tapi kepintaran itu tidaklah sempurna jika tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang dokter yang mengabdi pada masyarakat.
    maaf mbak komenku kepanjangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang profesi dokter adalah profesi yg prestisius mbak... selain itu juga secara materi memang 'menjanjikan' makanya banyak ortu yg pengen punya anak dokter atau bermenantukan seorang dokter hehehe...

      Hapus
  2. Dari sekian buaannyaaak dokter, hanya ada dua dokter yang melekat di dalam pikiran saya. Alasannya:
    1. setiap akan mengobati pasien selalu membaca bismilah dan berdo'a bahwa kesembuhan hanya Alloh Ta'ala yang menentukan, dokter hanya berikhtiar saja
    2. Dokter tersebut sangat dekat dengan pasien, mau mendengarkan setiap keluhan pasien dan menjawab sampai tuntas perihal permasalahan yang dihadapi pasien

    Sementara itu banyak sekali saya temukan dokter yang jaim, seolah dialah manusia istimewa yang harus diistimewakan dalam banyak hal. Sudah gitu jika menlayani pasien seperti hanya tiga langkah nanya apa keluhan, lalu distetoskop, lalu di suntik (jika perlu) dan selanjutnya dibuatkan resep terakhir tentu saja mbayar yang sudah ditentukan 'harganya', lebih sedih lagi jika dikit-dikit memvonis agar 'ngamar' dirumah sakit yang ditunjukknya.
    Jika ditanya menjawab seperlunya saja. Dokter model gini biarpun terkenal 'manjur' sibisanya saya menghindarinya.
    #Edisi_Curhat hhhh
    duh laki-laki kok curhat
    nggak apa-apa lah sekali-kali sapa tahu ada dokter yang mmembaca artike ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata memang anggapan bahwa dokter lebih banyak mengejar materi itu ada dimana-mana ya Pak? Mereka memperlakukan pasien sebatas SOP aja, tanpa niat 'menolong' pasiennya dg memberikan pelayanan dg hatinya.

      Aku pernah ke dokter THT Pak, eh dokternya galak banget. Aku cerita ttg keluhan2 Shasa dan kecurigaanku ttg sakitnya, eh malah dimarahi. Aku tanya2 dimarahi juga. Hadeehh... Kapok aku ke dokter itu lagi, Pak.

      Trus itu kedua dokter yang hebat itu ada di Blitar ya? Andai semua dokter spt mereka berdua ya?

      Hapus
    2. nggih Mbak Ren, dan ada satu lagi dokter anak di Kediri yang sudah sepuh tapi sangat familiar pada pasien dan keluarga

      Hapus
  3. jadi ingat sama dokter hewannya Lucky mba
    namanya dokter dewi, dia baik banget konsultasi bisa satu jam sama dia gratis lagi paling cuma bayar obat yang buat Lucky aja
    jarang2 kan ada dokter yang uang konsultasinya gratis, si dokter dewi gak pelit ilmu dia senang berbagi sama pemilik hewan yang sakit, dia pengen pemilik hewan bisa menjaga hewannya agar gak sakit lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hebat sekali dr. Dewi. Salam ya buat bu dokter yang baik itu...
      Sepertinya dia bener2 cinta dg hewan shg bener2 melakukan hal2 yg dirasanya penting demi kesehatan hewan2 peliharaan ya?

      Hapus
  4. Makin banyaknya lulusan dokter harusnya membuat masayarakat makin sehat, tp pengalaman disaat mertuaku sakit, sempat dokternya salah diagnosa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah diagnosa, mbak? Terus bagaimana?

      Hapus
  5. hmm keren bgt ya mereka. masih ada orang yg seperti Dr. Dani. Kadang2 memang para dokter yg baru lulus pengennya langsung praktik dan mendapatkan uang. mungkin karena kuliahnya jg mahal kali yah. tapi sekarang dokter2 muda yg PTT, rata2 di tempatkan di desa terpencil jg keren kok. sekalian mengabdi pada masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener... yang membanggakan adalah mereka adalah anak2 muda yang tak takut membuat pembaharuan ke arah yang lebih baik.

      Hapus
  6. keren nih mba dokter volunteer. Yang aku heran kalo kita ke daerah2 gitu ga ada dokter loh, dokter semuanya ada di kota. jadi kasian kalo org sakit dari desa musti jalan ratusan kilometer ke kota cuman buat cari dokter doang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo di daerah2 sih gak hanya tenaga dokter yang terbatas, tapi juga tenaga guru juga terbatas. Kasihan ya... padahal justru di daerah2 spt itu malah lebih membutuhkan tenaga2 handal yang bisa segera membantu mereka mengejar ketertinggalan dari masyarakat di perkotaan.

      Hapus
  7. Ya...Makanya kadang ada orang yg mikir ribuan kali buat berobat ke dokter, apalagi dokter spesialis... Sudah sakit, eh tambah mikir duitnya buat berobat... Tambah puyeng... Akhirnya malah berobatnya gak ke dokter, tapi ke "dukun"... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat ini memang pengobatan alternatif banyak menjadi pilihan masyarakat yang sedang sakit. Mungkin penyebabnya karena biaya berobat ke dokter yang mahal ya?

      Hapus
  8. Aku malah gak mau jadi dokter Mbak...dulu takut mayat hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk... sama dong berarti dengan aku mbak :D

      Hapus
  9. dokter juga manusia ya mbak :) apalagi kemudahan jadi pns bagi para dokter saat ini tak semudah jaman omku dulu. So wajar jika sulit untuk "tulus" melayani pasien bagi sebagian dokter hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, maksudnya sekarang ini dokter2 gak mudah jadi PNS trus mereka jadi tak mudah juga untuk melayani pasien?

      Hapus
  10. dokter penuh kontroversi...
    padahal profesi yg mulia namun kadang harus dibeli dengan uang pertolongannya....
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, akhir2 ini memang sedang banyak pro dan kontra terkait profesi yang satu ini dalam memberikan pelayanan

      Hapus
  11. Walau belum pernah bertmeu dokter yang galak - jangan sampai deh :roll: - , tapi sy juga sempat berkesimpulan bahwa dokter lebih banyak mengejar materi.
    Berharap semakin banyak gerakan Dokter Volunteer2 lain di seluruh Indonesia, bukan hanya di Bandung, bukan hanya calon dokter Unpad, tapi menyebar ke dokter2 lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga saja makin banyak dokter yang mau melakukan kerja sukarela spt yang dilakukan oleh dokter volunteer. :)

      Hapus
  12. bagus ya program dokter volunteer ini. kedua dokter yang diceritakan di sini keren banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dokter Volunteer memang luar biasa, bagaikan setetes air segar di tengah dahaga ya? :)

      Hapus
  13. Kalau aku berfikir bahwa profesi dokter itu sama aja mbak dengan profesi lainnya. Ada yang memanfaatkan ilmunya untuk masyarakat murni, ada yang sebagaimana mestinya menerima bayaran dari pasien, dan ada juga yang salah dengan jalannya.

    Sama aja kayak guru, sama aja kayak insinyur, petani. Sama aja seh IMHO

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Niee... ya kebetulan aja, sekarang ini yang sedang ramai dibicarakan adalah dokter hehehe.

      Hapus
  14. aku pernah membaca sebuah kalimat mba, " carilah seorang dokter yang lebih percaya kepada Tuhan dibanding asosiasi kedokteran, maka kau sudah menemukan mutiara "

    profesi dokter lumayan akrab dgn kehidupanku, aku nyaris bersinggungan dgn medis dan dokter 10 thn terakhir, smg Allah memberikan kesembuhan melalui dokter2 yg dipertemukan dgnku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aku baru tahu "pesan" dalam memilih dokter itu, lho. Tapi jika dipikir bener juga sih bunyi pesan itu.

      Semoga saja dengan banyaknya pertolongan dokter2 yang baik buat mbak Irma selama ini, bisa membuat Mbak Irma sehat2 selalu dan bahagia dalam menjalani hidup. :)

      Hapus
  15. Disini sering sekali menemukan dokter yang galak mbak, jadi bingung deh, kita sakit kok dimarahin sih, enggak enak lagi diajak konsultasi, tapi sekarang sudah tahu sih mana dokter yang enak diajak konsultasi jadi lebih nyaman saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, kesempatan bisa konsultasi dengan dokter itu jadi ternyata telah menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih dokter.
      Dengan masyarakat yang semakin pinter saat ini memang seorang pasien tak lagi hanya datang ke dokter untuk periksa dan dapat resep. Namun mereka butuh konsultasi lebih mendalam agar tahu hal-hal terkait penyakitnya ya?

      Hapus
  16. hahaha bener juga tuh smeuanya yg diatas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang di atas yang mana? postingan di atas atau komentar2 masuk di atas?

      Hapus
  17. jadi inget dokter yang ada didepan rumah mertuaku mb Ren.. Orang china sudah sangat tua, namun kepedulian sosialnya sangat tinggi, terutama untuk orang2 disekitar daerahnya.
    Sering tuh para tetangga yg tidak mampu datang untuk berobat, namun tidak pernah dipungut biaya.. malah obat2an yang dia ada dikasih dengan cuma2.. kalau penyakit pasiennya parah, justru dia sering menyuruh asistennya untuk datang kerumah pasien menanyakan apakah sudah baikkan ato malah sebaliknya.. karna praktek dia sendiri ga pernah sepi..
    Sayangnya.. sdh hampir setahun ini beliau meninggal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mertua juga tinggal di Surabaya, mbak? Seneng dan terharu ya mbak saat baca ada dokter yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi spt itu.
      Hebat banget beliau, sampai menyuruh asistennya untuk melihat keadaan pasiennya.
      Semoga kebaikannya selama ini mendapatkan imbalan dan pastinya doa dari orang-orang yang pernah dibantunya akan mengiringinya meski beliau sudah meninggal.

      Hapus
  18. Balasan
    1. Ya kalau berdasarkan artikel yang tertulis di Jawa Pos itu memang hanya 20 dokter yang terlibat mbak. :)

      Hapus
  19. Gema postingan Jeng Reni, semakin banyak dokter yang melaksanakan pengabdian ini. Tim layanan kesehatan di komunitas yang kami ikuti didukung oleh beberapa dokter yang mengabdi dengan tulus Jeng. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak... kabar baik ini. Tentu saja ini kabar yang menyenangkan bagi semuanya. Semoga saja para dokter yang terlibat dalam komunitas tersebut dan rela melakukan pengabdian tersebut mendapatkan pahala yang luar biasa. Aamiin.
      Semoga saja makin banyak dokter yang melakukan hal serupa... karena masih sangat banyak masyarakat kita yang membutuhkan pertolongan dari para dokter.

      Hapus
  20. Sedang googling dan tak sengaja menemukan dan terhubung ke blog ini, terimakasih atas apresiasinya mba Reni, sebuah kehormatan bagi saya ditulis di blognya mba Reni. Doakan agar kami senantiasa istiqamah, konsisten. Semoga bisa menginspirasi yang lain, dan terlahir banyak dokter yang lebih baik dari kami. Dokter yang berorientasi pada kemanusiaan, beretika, dan memiliki kompetensi yang mumpuni.

    Regards,
    dr. Dani Ferdian
    Volunteer Doctors

    BalasHapus
  21. Apa kabar, Mbak Reni? :)
    Pasti kaget tiba2 saya komen di tulisan ini hehehehe
    Saya lagi nyari2 akun twitter Dokter Volunteer, eh, nemu tulisan Mbak Reni yang ini.

    Minggu lalu, saya ketemu teman2 Dokter Volunteer di acara Festival Kampung Sarjana di Cibuyutan. Ada 11 orang yang datang, terdiri dari satu orang dokter dan beberapa mahasiswa kedokteran. Untuk menuju Desa Cibuyutan, bukan hal mudah. Butuh waktu dua jam untuk jalan kaki.

    Ketika mereka mau pulang, saya bertanya dengan dokternya, "Dok, apakah ini medan paling sulit yang pernah ditempuh?"

    Dan jawaban dokternya iya. Meski ia sering keluar pulau Jawa menjamah pulau2 terpencil, tapi untuk ke Cibuyutan yang notabene di daerah Pulau Jawa di Bogor, medannya menurut dia paling sulit. Salutlah! :)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)