Selasa, 03 Desember 2013

Mereka juga orang Indonesia

Kita tentu masih belum lupa tentang aksi demo yang dilakukan para dokter di Indonesia sebagai wujud dari gerakan solidaritas terhadap nasib yang menimpa rekan seprofesi mereka, dr. Ayu. Terhadap aksi demo tersebut, pro dan kontra muncul di masyarakat. Masing-masing pihak dari yang pro dan kontra itu memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga tentu saja akan memandang masalah ini dengan berbeda pula. Sesuatu yang wajar sebetulnya dan kita tak bisa memaksakan kedua pihak itu memiliki persepsi yang sama.

Di tengah hiruk pikuk pro dan kontra atas aksi demo dokter-dokter itu, muncul berita tentang dokter yang mengabdikan dirinya sepenuhnya bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang tidak mampu. Mereka adalah dr Lo Siaw Ging dan dr Maria Retno Setjawati. Kedua dokter itu sama-sama peduli dan mengabdikan hidup mereka pada kaum marjinal di Solo. Jika dr Maria rela dibayar sangat murah, dr Lo malah rela menggratiskan biaya berobat pasiennya. Bahkan tak jarang dr Lo juga yang membayar biaya obat pasien-pasiennya hingga ratusan juta.

Namun, aku di sini bukan hendak bicara tentang profesi dokter berikut pro-kontra yang mengikutinya akhir-akhir ini. Yang ingin aku bicarakan adalah tentang "siapa" sebenarnya dr Lo dan dr Maria. Entah bisa dibilang sebagai "kebetulan" atau tidak, yang jelas kedua dokter itu sama-sama keturunan Tionghoa. Fakta bahwa keduanya adalah warga negara keturunan, membuat apa yang mereka lakukan jadi santer dibicarakan. Masyarakat seolah tak percaya bahwa masih ada dokter (warga keturunan pula!) yang peduli pada orang-orang yang tidak mampu.

Fakta tersebut menarik, karena tak bisa dipungkiri bahwa meskipun Indonesia telah merdeka selama 68 tahun, tapi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa masih "dianaktirikan". Tak sedikit warga pribumi "mencurigai" setiap gerak-gerik warga keturunan Tionghoa ini. Contoh nyatanya adalah peristiwa kerusuhan tahun 2008 yang lalu. Contoh terbaru adalah munculnya nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saat itu, begitu banyak "serangan" yang ditujukan kepadanya karena dia berdarah Tionghoa. Penolakan warga terhadapnya lebih banyak dikarenakan garis keturunannya, bukan pada kinerjanya selama ini. Belakangan, baru muncul banyak dukungan terhadapnya setelah melihatnya bekerja dengan mengedepankan aturan dan mengutamakan masyarakat.

Beberapa hari yang lalu aku baru membaca tulisan yang dibuat oleh Ang Tek Khun di Kompasiana. Dia bercerita tentang ayahnya (yang mungkin adalah seorang WNA di Indonesia yang sampai akhir hayatnya dan tidak mengurus dokumen kewarganegaraan di Indonesia, karena ketidakpahamannya). Meski "berbeda" dari warga pribumi di pedalaman Sulawesi tempat mereka tinggal, tapi Ayah Ang Tek Khun sangat peduli pada warga sekitar dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Diceritakan bahwa apabila dalam perjalanannya bersepeda motor ke pedalaman untuk mengurus kebunnya dan Ayah Ang Tek Khun melihat sayur atau pisang tergantung di rumah penduduk untuk dijual, dia selalu berhenti untuk membelinya. Tidak selalu jualan itu lebih murah, namun dia selalu membelinya. Ternyata dia bermaksud untuk menebus jualan itu dengan uang tunai agar warga desa itu tidak perlu menempuh jalan jauh menggunakan gerobak atau berjalan kaki untuk menjualnya di pasar.

Mengapa dr Lo, dr Maria dan Ahok mau melakukan semua yang telah mereka lakukan selama ini? Aku yakin jawabannya adalah karena orangtuanya. Ahok sendiri mengakui bahwa peran Ayahnya sangat besar dalam membentuk karakternya. Dr Lo sendiri juga mengakui bahwa pesan ayahnya yang membuatnya mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada masyarakat. Cerita Ang Tek Khun tentang Ayahnya sudah menjelaskan mengapa dia bertekad memberikan karya bagi Indonesia, negeri yang dicintai ayahnya dengan tanpa kata-kata.

Selain nama-nama yang telah aku sebutkan di atas, kita juga pasti tak akan lupa bahwa Rudi Hartono, Liem Swie King, Susi Susanti dll telah mengharumkan nama Indonesia di manca negara. Sumbangsih Prof. Yohanes Surya, PhD terhadap dunia pendidikan (khususnya Sains) tentu saja tak bisa kita pungkiri. Aku yakin di luar sana masih ada banyak orang-orang seperti nama-nama yang aku sebutkan di atas, meski tak terpublikasikan di media. Meski mungkin awalnya kehadiran mereka dipandang sebelah mata, atau mungkin malah ada yang memandang mereka dengan penuh kecurigaan, namun ternyata mereka telah memberikan karya nyata bagi bangsa dan negara ini. Mereka juga bagian dari kita. Mereka juga orang Indonesia!

Tentu saja ada juga orang-orang warga keturunan yang tinggal di Indonesia yang hanya mengambil keuntungan semata dari bangsa dan negara ini. Tapi, tak sedikit juga warga pribumi yang juga hanya mengambil keuntungan semata dari bangsa dan negara yang katanya mereka cintai ini. Sudah bukan saatnya melihat ke-Indonesia-an seseorang dari warna kulitnya atau dari sipit atau tidaknya matanya.

Jadi, marilah kita hentikan memberikan stigma negatif kepada orang lain hanya karena dia warga keturunan. Marilah kita bergandengan tangan untuk memperkuat tekad dan langkah kita, demi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai ini. Yakinlah bahwa kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan untuk bangsa dan negara ini, tetap akan memberikan efek positif bagi negeri ini. Karena... tak ada perbuatan yang sia-sia.

22 komentar:

  1. Nice info . . .
    salam kenal . . :)

    BalasHapus
  2. Bersatu padu, memperkuat tekat dan langkah demi kejayaan Negeri tercinta.....

    BalasHapus
  3. Nasionalisme itu dari hati yah berarti?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari hati yang diwujudkan dalam tindakan nyata tentu saja

      Hapus
  4. betul mbak mereka juga orang Indonesia dan loyal terhadap negara jadi setidaknya harus dihargai juga

    BalasHapus
  5. kalau sewaktu saya di aceh, jarang sih yg menganak tirikan keturunan tionghoa. kalau di jakarta lumayan banyak. padahal mereka baik2. teman2 saya yg consultant jg banyak yg tionghoa tapi pada baik2 bgt. care bgt dan ganteng2. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal justru di Jakarta kan multi etnis ya? Kenapa malah dianaktirikan di sana?

      Hapus
  6. Di kampung saya juga ada orang China mbak, dan warga kampung seperti mendiskriminasi orang tersebut. Bahkan saat meninggalpun tidak ada yang datang, cuma keluarganya saja yang mengurus jenazahnya. Miris banget rasanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun mbak... itu sih sudah parah. Kenapa dia sampai dikucilkan warga seperti itu?

      Hapus
  7. dr Lo benar-benar manusia langka di negeri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang tak banyak orang spt dr Lo itu ya?

      Hapus
  8. Kalau di Jakarta sudah lebih berbaur, mba :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya Jakarta tempat Mak Leyla Hana beda dg Jakarta tempat Meutia pernah tinggal dan bekerja ya?

      Hapus
  9. ya kita juga harus saling menghargai..

    BalasHapus
  10. ada memang golongan mereka itu yg sangat baik n mau menyatu dengan pribumi mbak, tapi byk juga yg lebih mementingkan golongan mereka sendiri n tak mau bersosialisasi :) ironisnya...saat ini kaum pribumi sendiri byk juga yg lebih mementingkan kelompok atau golongannya sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah manusia, tak akan ada yg sempurna. Jadi tak seharusnya kita saling membenci dan memandang rendah lainnya kan?

      Hapus
  11. Aku dulu besar di Pekalongan dimana keturunan, Jawa, Cina & Arab nyampur begitu aja. Kita suka heran krn di kota lain mrk berkelompok jika tak mau menyebut eksklusif, mungkin karena merasa kurang aman. Beruntung saya dibesarkan di lingkungan heterogen. Indonesia adalah negara yg heterogen tapi pemerintahnya tidak memperlakukan masyarakatnya secara heterogen pula.

    BalasHapus
  12. Betul mba, saya setuju. Prof. Yohanes Surya, saya pakai metode matematika gasing nya utk anak saya :D

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)