Sabtu, 01 Maret 2014

Bank Sampah Banyuwangi

Membaca harian Surya hari ini (Sabtu, 1 Mei 2014) aku membaca berita yang menarik tentang Bank Sampah Banyuwangi (BSB). Pendiri dari BSB itu adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Banyuwangi. Saat ini BSB telah memiliki lebih dari 3.000 nasabah dan telah memiliki 33 unit bank sampah yang tersebar di Banyuwangi. Dari nasabah sebesar itu, setiap bulan dapat terkumpul dana lebih dari Rp. 15 juta.

BSB tidak menerima setoran uang dari para nasabahnya. Setiap nasabah menyetorkan sampah kering ke BSB untuk kemudian disetor dan didaur ulang. Setiap sampah yang masuk dihargai dengan nilai uang yang kemudian akan dimaksukkan ke dalam rekening nasabah masing-masing.

Selasa, 25 Februari 2014

Review : Dear Umbrella



Judul : Dear Umbrella
Penulis : Alfian Daniear
Penerbit : teen@noura
Cetakan : I (Mei 2013)
Tebal : x + 310 halaman
ISBN : 9786027816404

Bagi kita, payung hanyalah sekedar payung, sebuah benda yang nyaris tak memiliki arti penting dalam hidup kita. Namun, sangat berbeda bagi Raline, seorang remaja desa di Magetan. Baginya, payung itu menyimpan kenangan yang sangat berharga.

Minggu, 23 Februari 2014

Siapa menebang, siapa meradang

Sebenarnya ini adalah cerita 2 minggu yang lalu, di kediaman orang tuaku. Dan... sebelum aku bercerita tentang kejadian 2 minggu lalu itu, aku mau menjelaskan dulu tentang denah lingkungan di mana rumah orang tuaku berada. Daripada pusing aku menjelaskannya, aku gambar aja ya? Nah, kurang lebihnya seperti inilah 'letak' rumah orang tuaku.


letak rumah orang tuaku, biru dan bertanda panah

Kamis, 20 Februari 2014

Debu dan pasir dimana-mana

Sepekan telah berlalu paska erupsi Gunung Kelud. Selama sepekan pula semua warga yang terkena dampak erupsi Gunung Kelud sibuk membersihan debu. Di kantorku sendiri, malah sejak Jumat (14 Pebruari 2014) segera setelah terjadinya erupsi, petugas kebersihan sibuk membersihkan debu yang menyelimuti halaman kantor. Sebuah perjuangan yang luar biasa tentu saja, karena saat itu hujan abu masih turun dan debu beterbangan kemana-mana.

Untungnya, mulai Jumat sore itu hujan turun. Meski tidak deras cukup membantu untuk 'menggelontor' abu / debu yang ada di genteng. Selain itu, cukup untuk membuat debunya tidak beterbangan kemana-mana. Sejak Jumat sore itu pun di rumah kami sibuk membersihan endapan abu / debu yang menempel di halaman dan diselokan. Kegiatan itu terus berlangsung... hingga hari ini.

Senin, 17 Februari 2014

Berburu Masker

Jumat pagi, 14 Pebruari 2014, pukul 03.50 WIB kudengar teriakan ibu di jalan depan rumah. Ibu yang saat itu hendak beli sayur mayur tak jauh dari rumah kami berteriak-teriak karena kaget ada hujan abu. Ibu pun membatalkan niatnya untuk belanja sayur mayur dan kembali masuk ke rumah. Saat itu, kami semua menduga bahwa Gunung Kelud akhirnya meletus juga.

Buru-buru kuhidupkan HPku untuk mencari berita terakhir. Benar ternyata, Gunung Kelud meletus pada hari Kamis malam (13 Pebruari 2014) pukul 22.49 WIB. Kulihat di luar masih sangat gelap sehingga kami belum tahu seberapa banyaknya abu yang turun. Namun karena hujan abu masih terus turun, maka cahaya matahari terhalang sehingga kotaku tampak tetap gelap.