Sabtu, 26 Desember 2009

Puisi kemiskinan

Jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin sampai saat ini belum juga terjembatani. Masih sering kudengar dan kubaca berita-berita memilukan tentang kemiskinan. Dalam kemiskinan, sayangnya anak-anaklah yang paling sering menjadi korban penderitanya. Rasanya sudah banyak contoh yang tersebar di sekeliling kita, sehingga tak perlu lagi aku mengambil salah satunya.


Kemiskinan versus kekayaan, dan kekayaan berkorelasi dengan kekuasaan. Mungkin itulah "dalil" yang dipegang pada saat ini. Begitulah jika uang sudah punya kuasa, maka seringkali hati nurani tak berani bicara. Bukankah sudah banyak bukti yang menguatkan "dalil" tersebut di atas ?





Ada satu puisi yang setiap kali aku membacanya, selalu saja aku tak mampu menahan air mata. Sebuah puisi yang dengan gamblang memotret pedihnya kemiskinan yang ada di negeri kita tercinta ini. Semoga saja puisi ini tidak menggambarkan hati kita yang makin asing dengan nurani....

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
(untuk adinda: Khaerunisa)


Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil


Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi


Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong


Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku


Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta


Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini


Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya


Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.


aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil


(Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005)
Puisi di atas adalah sebuah puisi lama yang mungkin sudah banyak dibaca oleh sahabat blogger. Namun, aku sengaja menyalinnya lagi disini. Alasanku adalah agar kita kembali kepada hati nurani. Selain itu, agar kita dapat belajar dari sang penyair yang meskipun pada saat menulis puisi itu masih berusia 10 tahun, tapi memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Ataukah mungkin anak-anak memang lebih memiliki hati nurani daripada orang dewasa ?

Gambar diambil dari sini

28 komentar:

  1. Berkali-kali aku juga telah membacanya. Benar, setiap membacanya akan selalu ada setitik air yang menggenangi sudut mata kita. Nurani, di mana kau kini di negeri ini?

    BalasHapus
  2. puisi yang sungguh menggetarkan mbak...

    BalasHapus
  3. sungguh puisi yg luar biasa ya mba,terlebih ditulis oleh seorang anak kecil berumur 10 thn.

    sungguh peka sekali dengan jiwa anak2nya memandang kehidupan ini...jiwanya telah awas memnadang sekitarnya mba.

    BalasHapus
  4. benar-benar puisi yang menyentuh mbak...kadang2 penderitaan yang ada selalu menorehkan cerita duka bagi yang mengalaminya...

    BalasHapus
  5. Waw... luar biasa Mbak puisinya, saya sampai butuh 2x baca demi memahami pesan yg ingin disampaikan.

    BalasHapus
  6. Puisi yang pekat dan dalam. Sayapun ikut tergetar mbak.

    BalasHapus
  7. wah puisi yg bagus mba' memang sulit jika ingin mencari permasalahan antara si miskin dan si kaya, semua punya pembenaran untuk semua tindakan mereka!!!howin

    BalasHapus
  8. Setelah selesai membaca...
    Ada butirab bening serasa menyeruak mencari jalan keluar.
    Puisi yang sangat menyentuh mbak... tentang potret miris kemiskinan di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

    BalasHapus
  9. saya baru skrg baca puisinya mba...
    saya lebih kaget lagi kalau ternyata yang nulis baru 10 tahun...

    mungkin bener kata mba reni, "mungkin anak-anak memang lebih memiliki hati nurani daripada orang dewasa"

    puisinya bikin saya miris mba... hicks...

    BalasHapus
  10. nurani seorang anak memang masih bersih mbak, belum terbentur dengan segala macam problem seperti orang dewasa...mungkin sichh

    BalasHapus
  11. Blog yang unik dan kreatif.
    Tapi backgroundnya kok gelap ya.
    Bikin mata cepat lelah...

    BalasHapus
  12. apa kabar mbak reni
    wowo asyik nich postingnya, lengkapa kupasannya, ada puisi lagi
    tx ya

    BalasHapus
  13. sungguh perih ya bu...
    kejadian di depok, orangtua yang meninggalkan anak2nya karena dikejar2 penagih hutang sungguh membuat miris. sementara pejabat bersengketa tentang perlakuan terhadap koruptor

    BalasHapus
  14. biarlah dia tenang dan damai dibawah Kasih sayang Allah Sekarang hanya itu yang bisa menghibur hati kita atas semua itu

    BalasHapus
  15. puisi yang benar2 menyentuh, apalagi yang nulisnya anak umur 10 tahun... hebat, salut n angkat topi niih...

    BalasHapus
  16. jangan sampe deh jurang antara yang kayak dan miskin makin lebar...

    BalasHapus
  17. puisi yang sungguh menyentuh

    BalasHapus
  18. sangat mengharukan nich...
    .lagi-lagi moral diangkat

    BalasHapus
  19. waduh mba.... jangan ada jurang diantara kita deh mba.... hehehehehe......

    BalasHapus
  20. memang mba
    diteliti pake alat analisis ekonomi pun emang ternyata jurang kemiskinan itu besarrrrr sekali
    pakar ekonomi cuma bisa ngomong
    DPR malah asik goyang2 kaki keenakan dapat tunjangan gedhe

    BalasHapus
  21. Apakah mereka butuh belas kasian?? BIsa jadi iya bisa juga tidak..

    BalasHapus
  22. Kadang menag kita begitu miris melihat kemiskinan mbak
    kita sendiri pengin bantu
    tapi mereka kadang tak ingin dibantu

    BalasHapus
  23. :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fuuuuullllllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  24. :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:



    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fuuuuullllllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  25. Makasih sdh berbagi dgn kami, mbak. Tapi soal miskin dan kaya juga ketidakadilan akan selalu ada di atas bumi. Tinggal apa yg mau kita lakukan utknya. Kita takkan pernah bisa menghilangkannya, tp justru dgn adanya jurang itu kita akan bisa berkarya buat sesama.

    BalasHapus
  26. puisinya bikin terharu mbak... :'(

    mungkin emang bener yah,, hati anak kecil itu lebih murni...

    BalasHapus
  27. Mbak lw puisi diatas aq update d facebookQ boleh gk???? Soalny puisiny bgus bgt?????

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)