Senin, 24 Maret 2014

[Resensi] Storycake For Your Life : Living Abroad



Judul : Storycake for Your Life : Living Abroad
Pengarang : Nurul Asmayani, dkk
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013
Tebal : 290 halaman
ISBN : 978-979-22-9558-0
Harga : Rp. 58.000

Bagi yang belum pernah menjalani, mungkin tinggal di luar negeri terasa menyulitkan. Kita tak tahu apapun tentang seluk beluk negara lain termasuk bagaimana pemerintah di sana mengatur warganya, bagaimana pola pergaulannya dan sebagainya.

Nah, buku Storycake for your life : Living Abroad ini memberikan semua jawabannya. Buku yang ditulis oleh 26 orang Ibu anggota IIDN ini menceritakan kisah-kisah seru tentang suka dukanya tinggal di luar negeri. Tak lupa diberikan juga tips dan informasi seputar KBRI, masjid, toko makanan dan restoran halal, dan lain-lain dari berbagai negara.

Beberapa fakta penting dan menarik dari berbagai negara antara lain :
  • Di Arab Saudi, konten ATM terbagi dua : laki-laki dan perempuan. Bank pun demikian, customer service untuk perempuan tidak bercampur dengan laki-laki (hal. 9-10)
  • Pada Hari Raya Idul Fitri di Brunei Sultan Haji Hassanal Bolkiah mengadakan open house selama 3 hari untuk warganya. Semua orang boleh datang ke istana Nurul. Tradisi ini diikuti oleh rakyat Brunei, selama bulan Syawal setiap rumah mengadakan open house (hal. 17)
  • Di Jepang, usia anak untuk masuk sekolah tidak boleh ditawar. Tanggalnya meleset 1 hari saja, anak harus menunda keinginannya bersekolah ke tahun berikutnya (hal. 33)
  • Anak adalah elemen masyarakat terpenting di Korea sehingga pada Hari Anak orangtua harus memberikan hadiah dan pakian bagus untuk anaknya dan meluangkan waktu untuk bermain dan berlibur bersama mereka (hal. 49)
  • Perempuan di Qatar sangat dihormati. Bus umum akan mengutamakan keluarga dan perempuan dengan memberi tempat duduk paling depan di dekat sopir (hal. 85)
  • Bagi Masyarakat Comoro Rivadavia, cium tempel pipi adalah sopan santun yang dilakukan saat saling bertemu (hal. 147)
  • Pemerintah Rio de Janeiro sangat memperhatikan pelestarian lingkungan sehingga penduduk dilarang menebang pohon tanpa ijin (hal. 160)
  • Calgary disebut kota sapi, karena peternak sapi banyak berada di sini. Daging sapinya terkenal sangat enak dan susu sapinya juga sangat segar dan enak rasanya (hal. 173)
  • Sebanyak 98% penduduk Kentucky adalah pemeluk agama Kristen yang taat. Di sana, seseorang tidak boleh berduaan dengan lawan jenis yang bukan suami, istri atau saudara di dalam mobil, atau dalam ruangan dengan pintu tertutup (hal. 183)
  • Gaya hidup masyarakat Trinidad Tobago sangat santai, serta kebiasaan pesta sambil ngobrol dan minum alkohol membuat pembangunan di Trinidad Tobagi berjalan sangat lambat (hal. 189)
  • Di Belgia, setiap anak yang lahir dari orangtua yang membayar pajak penghasilan berhak mendapat tunjangan kelahiran dan tunjangan anak. Selain itu, dengan bertambahnya jumlah anak, kewajiban pajak penghasilan yang dibayar semakin berkurang (hal. 220)
  • Bagi orang Jerman semua memang ada tempatnya. Bermain ada tempatnya, pejalan kaki ada tempatnya, pengendara mobil dan sepeda masing-masing ada jalannya (hal. 252)
  • Kurikulum di Swedia tidak begitu padat seperti di Indonesia (hal. 278)

Persamaan yang muncul di antaranya :
  • Tak sulit untuk menemukan makanan halal dan toko yang menjual aneka bumbu dapur dan aneka jenis buah dan sayuran
  • Masjid juga ada dan mudah ditemukan
  • Banyak tempat rekreasi gratis dengan pemandangan alam yang indah
  • Ternyata masyarakatnya banyak yang ramah dan suka menolong tanpa pandang bulu
  • Proses administrasi kependudukan yang sangat rapi, mudah dan cepat dengan pelayanan yang menyenangkan
  • Di Korea dan Calgary sangat mudah menemukan taman bermain anak, dengan kondisi yang sangat terawat dan bisa dikunjungi secara gratis
  • Masyarakat Thailand, Swedia dan Finlandia sangat mencintai dan menunjung tinggi bahasa ibunya.

Kesimpulannya adalah bahwa di manapun di dunia ini silaturahmi dan tolong menolong tidak terbatas pada warna kulit, ras, agama dan latar. Agar bisa tinggal di perantauan dengan nyaman yang terpenting adalah memahami dengan baik segala hal tentang negara tersebut, memilih komunitas yang tepat serta mengutamakan kehati-hatian guna keselamatan diri dan keluarga.

*****

Minggu siang kemarin (23 Maret 2014) aku baru tahu kalau tulisanku di atas telah dimuat di Koran Jakarta dengan judul : "Mengenal Kultur dan Kebiasaan Negeri Orang" pada tanggal 8 Januari 2014 yang lalu. Aku baru tahu, karena semula aku pikir tulisan yang akan dimuat akan dikonfirmasikan terlebih dahulu kepada penulisnya. Ternyata enggak.

Aku seneng sih tulisanku di muat, tapiii... setelah membaca tulisanku yang sudah diedit oleh Koran Jakarta kok aku jadi pengen nangis ya? Informasi menarik dari suatu negara dicampur dengan negara lain. Lebih parahnya, informasi tentang suatu negara belum selesai malah sudah berganti alinea. Daaann.. kelanjutannya ada di alinea berikutnya. Yah, aku tak bisa apa-apa sih karena memang redaksi Koran Jakarta berhak untuk mengedit tulisan itu. Aku hanya berharap semoga yang baca tidak bingung setelah membaca resensiku itu.

30 komentar:

  1. Waaah keren mak .... resensi mak Reni selalu dalam dan kritis. Coba lagi mak kirim. Saya mupeng euy dimuat di sini. Baru kirim satu, belum ada kabarnya (belum ada seminggu sih). Mudah2an bisa dimuat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak.... aku juga pengen bisa kirim lagi ke Koran jakarta :)
      Pasti tulisan mak Niar bakal dimuat kan tulisan mak Niar keren.

      Hapus
  2. Emang kalo nulis di koran begitu, mending kalo editornya bagus. Tapi dapet honornya kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dapat honor sih Mas biasanya... hehehe

      Hapus
  3. hmm, mungkin memang ketika kita pergi ke negara orang, pikiran kita akan semakin terbuka. berhubung saya jg baru pulang dari Jepang dan Korea, jd terasaaa bgt bagaiman hidup di negri orang. ayo mbak, travelling :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iyaaa... bagaimana ceritanya di Jepang dan Korea?
      Seru yaaa...?
      Duh penasaran deh, kapan aku nyusul ya?

      Hapus
  4. tapi katanya cari makanan halal di luar negeri kudu jeli lihatnya, Bu..

    :D

    selamaat, senangnyaaa tulisan dimuat di koran ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang tapi berdasarkan pengalaman ibu2 yang ditulis dalam buku itu ternyata selalu ada tempat kok untuk makanan2 halal disana

      Hapus
  5. aku pingin mbak tinggal diluar hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya di negara mana Mak Lidya?

      Hapus
  6. Referensi yang bagus untuk mereka yang ingin tinggal di LN,
    kalau saya masih cinta negeri tercinta ini, tapi maunya fasilitasnya kayak di LN
    dengan tetap kultur kita,
    *hore, honornya buat traktiran :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku tsb memang bisa jadi panduan bagi orang2 yang hendak tinggal di luar negeri biar gak terlalu bingung di tempat baru :D

      Hapus
  7. Pengen deh berkunjung ke Qatar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mak... apalagi sahabatku ada yang tinggal di Doha sekarang ini

      Hapus
  8. Kejelian Jeng Reni memilah-milah kemudian mencari benang merah penghubung antar cerita luar biasa rapi, ikutan belajar ah..... Selamat ya Jeng Reni untuk lolosnya tulisan ke media masa (meski sayang ya editing kadang tak sesuai dengan maksud penulis).
    Salam hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku hanya menuliskan fakta2 menarik dari masing2 negara kok Mbak Prih, sebenarnya jika tak dibatasi jumlah karakter (di Koran Jakarta) pasti yang aku tulis akan jauh lebih panjang lebar hehehe

      Hapus
  9. pengen sih bu keluar negeri mengais rejeki dengan meraup dolar.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. semoga saja terwujud. Aamiin

      Hapus
  10. waaah kok begitu ya cara editnya? O_o
    apa memang penulis tdk berhak tahu kapan tulisannya dimuat? x_x

    ohya mbak Reni, bagus nih bukunya...
    Jepang memang strict banget yah... dan aku jd ingin jalan2 ke Brunei dan menyekolahkan anak di Swedia.. hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kebijakan dari redaksinya seperti itu mbak... jadi yang ngirim naskah kudu rajin2 ngecek ke Koran Jakarta hehehe

      Walah, kok keingingan mbak Thia banyak sekali sih hehehe. Oke deh, semoga terwujud semuanya.

      Hapus
  11. wah sepertinya seru ya buk kalau bisa tinggal di luar negeri, pasti ada suka dan duka. Saya aja tinggal di daerah lain (masih di indonesia) agak pusing terutama dalam hal bahasa, budaya, dan lain sebagainya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan memang tiap daerah punya adat istiadat sendiri2 hehehe
      Makanya, dengan bekal pengetahuan tentang masing2 daerah/negara kita bisa hidup dengan nyaman disana :D

      Hapus
  12. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... betul sekali... Itu peribahasa yang tepat Prof :)

      Hapus
  13. Hampir keseringan demikian mbak yach..editan di media sering kepotong mungkin masalah halaman, sedih pasti itu terjadi bagi si penulis..namun sukses mbak yach..lolos dan terpilih di media cetak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin memang pengaruh dari halaman... tapi kan sayang sekali kalau jadinya tulisan itu dimuat belepotan spt itu :(

      Hapus
  14. buku yg bermanfaat nih.. terima kasih resensinya, mbak Reni :)

    BalasHapus
  15. Jadi ingin baca bukunya, penasaran soalnya hehe :D

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)