Sabtu, 29 Agustus 2009

Dari balik jendela


Dalam bulan Agustus ini, aku sudah 3 kali bolak balik Madiun - Jakarta dengan menggunakan Kereta Api. Selama itu pula, aku sedapat mungkin memilih tempat duduk di dekat jendela. Meskipun sebagian besar waktu perjalananku malam hari, dan pemandangan dari balik jendela tak bisa aku nikmati, namun aku tetap suka berada di dekat jendela. (gambar diculik dari sini).

Saat pagi menjelang, aku dapat melihat banyak hal dari balik jendela. Begitu banyak potret kehidupan yang tertangkap olehku. Potret suram dari kehidupan kelas menengah kebawah. Potret tentang kerasnya kehidupan sebagian dari masyarakat kita.

Sebagian besar pemandangan yang tersaji di kanan kiri rel kereta api bukanlah pemandangan yang menyenangkan. Meskipun tetap saja masih ada pemandangan sawah yang hijau membentang, tapi itu pun tidak banyak lagi terlihat. Jikalau ada pemandangan tentang indahnya komplek-komplek perumahan dan pertokoan yang megah berdiri, tapi dengan segera tergantikan oleh gambaran buram kemiskinan. Dan, gambaran yang terakhir inilah yang lebih mendominasi pemandangan pagiku yang singkat.

Tak bisa kulepaskan dari pikiranku, gambaran rumah-rumah petak yang berjajar rapat di sepanjang sisi rel Kereta Api. Rumah-rumah yang beratapkan seng, berdinding triplek atau anyaman bambu dan sedikit batako, dan seringkali 'berhias' dengan potongan spanduk-spanduk yang berguna untuk menutup bagian bangunan lainnya. Tidak menyenangkan untuk dipandang.., namun itulah kenyataan yang tersaji di depan mataku. (gambar diculik dari sini)

Belum lagi pemandangan wanita-wanita yang mencuci baju di sungai kecil yang tak lagi bersih, di dekat perkampungan yang padat penduduknya. Tak jauh dari sana ada sekelompok anak yang mandi bersama di sungai kecil itu. Dan, pemandangan seperti itu masih dilengkapi dengan 'bangunan' ala kadarnya dari anyaman bambu untuk tempat buang hajat.

Wajah anak-anak yang lugu dan polos banyak terekam olehku. Anak-anak yang tampil dengan wajah kotor dan baju dekilnya berdiri menatap lajunya Kereta Api. Sementara sebagian yang lebih besar, berjalan kaki disepanjang sisi rel Kereta Api menuju ke sekolah masing-masing. Banyak pula laki-laki dewasa berjalan dengan membawa karung di pundak berangkat memulai kerja mereka. Pemandangan pagi seperti itulah yang terekam dari balik jendela Kereta Api-ku.

Masih dari balik jendela pula, aku pernah melihat seorang laki-laki pemulung tua, yang duduk di antara barang-barang hasil kerjanya sedang mencoba membuat makanan di samping rumah kardusnya di bawah jembatan. Entah mengapa, yang terbayang saat itu adalah, si pemulung tua telah menemukan daging sisa makanan dari suatu tempat sampah, dan setelah dibersihkannya... daging itu dicoba untuk kembali direbusnya...! Sungguh, aku tak ingin bayangan itu yang hadir di benakku... namun aku tak mampu mengusir bayangan itu pergi...

Aku ingin memotret dunia yang lebih ramah dan menyenangkan dari balik jendela Kereta Api-ku. Namun, sejauh ini aku tak mampu menemukannya. Mungkin dunia yang ada di dekat rel Kereta Api memang seperti itu. Sementara dunia yang ramah yang ingin aku temukan tak akan dapat aku lihat dari balik jendela Kereta Api-ku.

33 komentar:

  1. O Im Gie, moga 10 taun lagi anda melihat di balik jendela sudah tak memprihatinkan lagi....

    BalasHapus
  2. Masya alloh....moga cerahlah esok hari....

    BalasHapus
  3. Ya Allah...masih ada yang semiskin itu di Indonesia?Sedih dengernya sis.Semoga pemerintah Indonesia bisa melihat itu.dan membantu mareka.

    BalasHapus
  4. Dalam hidup yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri nikmat dan belajar berbagi dengan tulus. Semoga jendela sedih tak kita lihat esok.

    Salam sahabat.

    BalasHapus
  5. Itulah gambaran masyarakat kita yang belum tersentuh kemerdekaan yang sebenarnya Bu... Semoga dengan berjalannya waktu, semakin baik pula kehidupan saudara-saudara kita..

    BalasHapus
  6. selalu melihat kebawah ya mbak..biar selalu bisa bersyukur setiap hari..

    semoga mereka biar miskin tapi hepi..

    BalasHapus
  7. negeri impian yang ironis. hak hidup yang lebih baik atas jaminan negara, hanya impian belaka. lalu siapa yang layak dipersalahkan?!

    BalasHapus
  8. Ya karena hanya pinggiran rel kereta api yang mereka dapatkan untuk berteduh dan mengais rezeki para tuna wisma yang membuat pemandangan seperti itu..membuat nurani kita terenyuh miris.

    BalasHapus
  9. itulah dunia nyata mba'... sekiranya itu pun bisa di kategorikan dunia ramah mba' :(

    BalasHapus
  10. Begitu jendala kenyataan yang ada mbak..moga esok hari akan cerah...
    Nice artikel mbak..maaf udah lama gak mampir kesini

    BalasHapus
  11. itulah realita kehidupan masyarakat kebanyakan kita y mba,menyedihkan memang.

    apa kbr mba ?
    mba mksh koment di blogku,seneng bgt kalo mba bs temenan sm aku d fb.
    My Fb irma susanti...mksh y mba

    BalasHapus
  12. ya mbak, itulah realita di negeri ini. di satu sisi seperti yang mbak reni gambarkan tadi. tapi di sisi lain, banyak orang yang menghambur-hamburkan uangnya, Mabuk-mabukan, dll. kesenjangan sosial sangat terasa.

    BalasHapus
  13. Di luar jendela, sungguh masih banyak kemelaratan. Kenyataan harus dikabarkan. Nice post, mbak.

    BalasHapus
  14. Sepanjang jalan yg dilewati kereta api, rata2 pemandangannya kumuh.
    Benarkah apa yg saya lihat?
    Tapi saya juga tetep lebih suka dekat jendela...

    BalasHapus
  15. bisa di jadikan renungan nih mbak hihihi....

    BalasHapus
  16. Memang itu gambaran nyata sebagian besar masyarakat kita, mbak! Kita yg hidup di kota besar hampir lupa bahwa masih banyak orang yg tak seberuntung kita. Dalam hidup ini, selalu akan ada yang kaya dan yang miskin. Yang beruntung dan yang malang. Makanya kita kudu selalu bersyukur akan apa yang kita miliki, apapun keadaannya.

    Kalau mbak Reni memandangnya dari sisi lain, belum tentu dgn kehidupan sederhna itu mereka tak bahagia loh. Mungkin saja mereka malah kasihan pada kita yg begitu tergantung pada konsumerisme, dan kehilangan banyak waktu utk sekedar bersosialisasi dengan tetangga, untuk menikmati alam.

    Nice sharing mbak!

    BalasHapus
  17. buka mata lebar-lebar saat menatap ke luar jendela mbak. di sana banyak hal yang perlu kita perhatikan

    BalasHapus
  18. hmm..memprihatinkan. menyentuh banget nih X(

    BalasHapus
  19. Semakin kagum aja dengan mbak Reni... apapun bisa menjadi cerita yang memberi inspirasi tak terkecuali dari balik jendela... salam kasih ya mbak...

    BalasHapus
  20. Beginilah gambaran nyata kehidupan mbak. Bukan hanya itu,masih banyak lagi orang-orang yang tidak bisa menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan, tidak bisa pergi kemana-mana, tidak mampu mencicipi hasil keringat sendiri hanya karena keterbatasan fisik. Kadang hasrat dan ambisi mereka terhalang dan hanya bisa menghayal dan merenung dengan segala keterbatasan mereka...

    BalasHapus
  21. Rapatnya petak2 rumah di pinggir rel, semoga menggambarkan rekatnya pemimpin dengan rakyat....(Benarkah....?)

    BalasHapus
  22. Ya dari balik jendela kita akan melihat realitas kehidupan sepanjang perjalanan kita, meski baru secara kasat mata. Nice posting.

    BalasHapus
  23. aduh..agak kelam ya... semuanya akan baik baik saja mb..

    BalasHapus
  24. Mbak...welcome to real Indonesia!

    BalasHapus
  25. Sepertinya sekali-sekali para pemimpin negeri ini perlu diajak berkereta api ria..
    Biar mereka tahu bagaimana potret negeri ini.

    nice sharing

    BalasHapus
  26. makasih ya kunjungan baliknya :D

    BalasHapus
  27. sisi lain dari kehidupan .........ada baik ada buruk!!

    BalasHapus
  28. Dari balik jendela,.... terlihat potret miris sebagian masyarakat kita yang sangat membutuhkan kedulian.

    Semoga rasa syukur akan apa yang kita miliki akan menjadi penggerak untuk senantiasa berbagi dengan orang yang memerlukan.

    BalasHapus
  29. Begitulah Allah menciptakan berbagai macam alur kehidupan, mestinya sbg manusia yg tercipta memiliki pikiran n perasaan bisa peka utk saling brbagi, krn dgn brbagi qta merasa memiliki lebih.

    BalasHapus
  30. pengamatan yang bagus mbak.
    inilah realita yang ada, tapi sangat jarang 'ditangkap' oleh pejabat di negri ini.
    mungkin karena mereka lebih suka mengamati dari sisi lain, sisi yang bagus aja, dan laporan ke atas juga hanya ABS.
    mudah2an indonesia bisa lebih makmur sehingga pemandangan spt ini berangsur-angsur menghilang.
    semoga.

    BalasHapus
  31. @all : pemandangan spt itu memang membuat miris yg melihatnya. Itulah gambaran sebagian besar saudara-2 kita yg masih hidup di bawah garis kemiskinan. Semoga saja pemerintah dapat segera mengangkat mereka ke taraf kehidupan yang lebih baik. Amin.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)