Kamis, 18 Agustus 2011

Cerita di hari ulang tahun kemerdekaan

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI di kotaku, selama ini panitianya bergantian antara Pemerintah Kota Madiun dan Pemerintah Kabupaten Madiun. Maklum saja, Pendopo Kabupaten Madiun lokasinya tepat berada di depan alun-alun Kota Madiun. Oleh karena itu, untuk upacara pengibaran dan penurunan bendera, Kota dan Kabupaten Madiun memakai alun-alun secara bersamaan. Dan, kali ini yang menjadi panitia untuk perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI adalah Pemerintah Kabupaten Madiun.

Upacara 17 Agustus, begitu biasanya disebut, yang hanya dilaksanakan setahun sekali sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Itu sebabnya, meski sedang kurang enak badan, aku memaksakan diri untuk tetap mengikuti upacara tersebut. Dan, pada perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI kali ini aku mempunyai banyak cerita.

Saat menunggu upacara dimulai, aku mendengar ada kisah sedih di balik persiapan upacara yang akan digelar di Alun-alun Kota Madiun. Ada salah seorang staf  (wanita) yang mengalami kecelakaan pada saat mengantar undangan upacara yang dititipkan kepadanya. Saat mengendarai motor, dia terserempet dan kemudian dia terjatuh ke dalam selokan yang berbatu-batu. Saat ditemukan kurang lebih 1 jam kemudian, tubuhnya yang basah dan bersimbah darah sudah kaku. Di bawah jok sepeda motornya ditemukan 3 buah baju baru untuk ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Dia meninggal saat menjalankan tugasnya.

Sebelum upacara dimulai, protokol sudah meminta agar HP dimatikan atau di-silent. Tentu saja dering yang mengganggu akan merusak suasana upacara. Namun, baru saja upacara dimulai, tiba-tiba saja terdengar suara dering HP yang cukup keras dari barisan peserta upacara. Terdengar gerutuan beberapa orang karena ternyata masih ada saja yang tidak mematuhi instruksi dari protokol itu. Sementara yang lain ada yang geleng-geleng kepala dengan kesal.

Pulang dari upacara, aku memutuskan untuk tidur, karena badanku terasa panas dingin. Bangun tidur kutemukan 5 SMS yang masuk. Sewaktu kubuka, ternyata semuanya mengabarkan berita duka. Seorang teman yang sudah pensiun setahun lalu, kemarin siang telah berpulang selamanya. Innalillahi wa ina Ilaihi rojiuun. Aku dan beberapa teman sepakat untuk takziyah setelah mengikuti upacara penurunan bendera.

Sesaat sebelum aku berangkat mengikuti upacara penurunan bendera, HPku berdering lagi. Lagi-lagi berita duka. Kali ini mengabarkan meninggalkan serorang teman (yang juga sudah pensiun beberapa tahun lalu) karena terkena serangan jantung. Innalillahi wa ina Ilaihi rojiuun. Dalam sehari aku menerima 2 berita duka.

Walau sebenarnya ragu-ragu untuk berangkat, akhirnya aku ikut juga menghadiri upacara penurunan bendera di alun-alun Kota Madiun. Selama pelaksanaan upacara, angin bertiup sangat kencang. Aku sampai menggigil kedinginan, meskipun aku sudah menggunakan jas yang tebal. Untung saja, upacara dapat berlangsung dengan lancar.

Seperti rencana semula, setelah upacara selesai, kami pun segera takziyah. Sesampai di sana, suasana sudah sepi, karena jenazah sudah dimakamkan pada pukul 3 sore. Keluarga almarhum terlihat ikhlas dan tabah. Keluarga kasihan melihat penderitaan almarhum sewaktu sakit. Aku sendiri sempat menjenguk almarhum sewaktu kritis di rumah sakit, sehari sebelum beliau meninggal dunia. Saat itu aku tak tega melihat kondisi almarhum yang terlihat sangat kesakitan.

Sayang kami tak bisa berlama-lama, kami harus segera pulang, karena adzan Maghrib yang berkumandang.

27 komentar:

  1. Innalilahi wa inna ilaihi roji'un...saya turut berduka mbak utk temanmu..semoga arwahnya di terima disisi-Nya dan keluarga yg ditinggal tabah....

    BalasHapus
  2. Semoga semua saudara kita tersebut mendapat tempat terbaik disisi-Nya ya mbak..

    BalasHapus
  3. Semoga temen-temen mb mendapatkan tempat yang indah ya mb, apalagi di hari baik dan bulan baik ini.
    Saya sedih yang ibu2 keserempet ibu mb...mana bawa baju anaknya lagi pasti baju buat lebaran, kasihan sekalai mb.

    BalasHapus
  4. Sesungguhnya ajal itu memang ga bs ditebak ya mba, bisa saja orang2 yg qt kenal dengan bersamaan meninggal.
    dhe terharu mendengar ibu yang meninggal diserempet itu. kok bs baru ditemukan 1jam setelahnya yah :(, smoga mereka yang meninggal diberi kelapangan di alam barzah. amin!!

    BalasHapus
  5. ditempatku sepi tuh mbak,ga ada acara apa-apa

    BalasHapus
  6. Saya juga mengikuti upacara pengibaran bendera tkt provinsi di kota saya. Yang paling saya tunggu adalah para paskibraka. Mereka piawai dalam hal baris berbaris. Oh ya, di bulan puasa tahun ini, saya juga kerap kali mendengar berita kematian. Frekuensinya sangat sering dibandingkan bulan2 yg lain

    BalasHapus
  7. ibu pertiwi pun sebenarnya berduka saat perayaan hari jadinya kali ini
    negara ini belum juga lepas dari masalah...

    BalasHapus
  8. wah, 2 berita duka di hari kemerdekaan mbak..

    yang penting gak hilang semangat kemerdekaan di diri kita..

    BalasHapus
  9. Semua berasal dari Allah dan kepada Allah akan kembali... temen seumurku juga ada beberapa yang meninggal, kita tidak tau kapan kita akan dipanggil...

    BalasHapus
  10. Innalillahi wa ina Ilaihi rojiuun. semoga keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran ya.

    btw, tinggal di madiun ya mbak? aku juga orang madiun.. kangen madiuuunn!! sudah satu tahun lebih gak mudik :(

    BalasHapus
  11. Lho, kok sama sih mbak. Setelah upacara 17 an kemarin, saya dan teman-teman juga langsung layat, ayah teman meninggal dunia...

    BalasHapus
  12. innalillahi wa innailaihi roji'un..
    semoga berita duka itu membuat diri kita juga lebih bersiap ya mbak,..
    oia, pas tgl 17 kmrn emang angin bertiup sangat kencang deh..disini jg! bikin nggreges awak mbak!

    BalasHapus
  13. kemarin ke sini pake hape, eh pas koment ilang.
    ----

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sejak awal bulan ramadhan, di tempat saya ada juga beberapa orang yang meninggal yang tentu bisa menambah dzikir kita untuk mengingat bahwa kematian adalah hal ghaib yang kita tidak tahu kapan datangnya.
    Semoga kita semua terpanggil dalam keadaan khusnul khotimah

    BalasHapus
  14. innalillahi wa inna ilaihi rojiun. semoga arwah mereka yg meninggal diterima Allah swt, amiin

    BalasHapus
  15. turut berbelasungkawa tuk 2 berita dukanya mbak :(

    BalasHapus
  16. Innalilahi wa inna ilaihi roji'un, saya ikut berduka ya bu B"(

    BalasHapus
  17. Salut buat Mbak yang memaksakan diri untuk mengikuti upacara walaupun dengan kondisi kurang sehat.

    IKut berduka cita atas meniggalnya sahabat Mbak.

    Salam. .

    BalasHapus
  18. di bulan ramadhan ini ada bebrapa tman chika mba yang menemui ajalnya,,,
    semoga orang2 yang meninggal di bulan ramadhan
    mendapat syafaat :) amin

    BalasHapus
  19. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un,.

    Di tempat saya tak begitu meriah Dirgahayu Indonesia kali ini,. mungkin karena bersamaan dengan ramadhan kalee,.

    BalasHapus
  20. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un,.

    Iya, 17 Agustus kemaren angin kenceng banget, dan saya jadi kangen upacara di Alun2 Madiun (paginya hanya lewat)...

    Salam kenal dan mengajak tukar link?

    BalasHapus
  21. Di upacara tempat saya, banyak peserta yang pingsan karena cuaca panas terik menyengat. Beda dengan upacara penurunan benderanya, yang pingsan cuma satu orang saja.

    BalasHapus
  22. innalillahi wainnalillahi rojiuunn.. turut berduka ibuu..

    BalasHapus
  23. innalillahi wainnalillahi rojiuun.... turun berduka cita semoga almarhum diterima disisinya ya mba...amin...:)

    BalasHapus
  24. ikhlas kan saja karna setiap manusia pasti akan kembali kepada penciptanya entah itu kapan,,, :)

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)