Minggu, 07 Agustus 2011

Kaliurang Yogyakarta

Mau melanjutkan lagi nih ceritaku yang tertunda tentang Yogyakarta. Cerita terakhir tentang acara cutiku di Yogyakarta kemarin adalah tentang Masjid Besar dan Kranon. Nah, sekarang adalah cerita lanjutannya.

Setelah dari Kranon dan berkunjung ke rumah saudara-saudara, tanggal 30 Juni 2011 agendanya adalah pergi ke Kaliurang Yogyakarta. Untuk acara jalan-jalan ini mertuaku memilih tidak ikut. Mertuaku memilih menunggu kami di rumah salah seorang saudara saja. So, aku pergi bersama keluarga serta saudara-saudara suami.

Awalnya kami belum sepakat tentang tempat yang ingin kami kunjungi. Ada yang ingin ke tempat wisata di Kaliurang, sementara suamiku ingin ke lokasi bencana Merapi. Akhirnya disepakati bahwa kami akan mengajak anak-anak bermain di tempat wisata Kaliurang baru kemudian ke lokasi bencana Merapi.

Tempat wisata Kaliurang yang kami kunjungi sepi sekali. Heran juga sih, padahal saat itu kan libur sekolah. Tapi anak-anak justru menikmati 'kesepian' itu karena mereka bisa leluasa bermain sampai puas.

Trio Kusuma bermain ayunan

di depan patung gajah

yuk main seluncuran.. (^_^)

naik patung 'Buto Ijo"

"Ayun yang kenceng pakde," teriak Shasa

Senyum bahagia Shasa
Melihat lokasi tempat wisata itu, sama sekali tak terlihat tanda-tanda pernah terjadi peristiwa letusan gunung Merapi. Tumbuhan masih terlihat subur dan menghijau. Bangunan yang ad di sekitar tempat itu juga masih utuh semua.

Selanjutnya kami mengunjungi lokasi bencana letusan gunung Merapi. Sebenarnya bagiku ini adalah kunjunganku kedua ke tempat itu. Kunjunganku yang pertama adalah sewaktu aku mengikuti kegiatan Observasi Lapangan sewaktu aku diklat bulan April-Mei 2011 yang lalu.

Apa yang aku saksikan di lokasi bencana itu masih sama seperti kunjungan pertamaku dulu. Masih terlihat 'semrawut' dan gersang. Namun, aku sudah mulai melihat rehabilitasi terhadap rumah-rumah yang hancur akibat letusan gunung Merapi beberapa waktu yang lalu.

keluarga kecilku di bibir jembatan yang rusak menuju Kaliurang

air di bawah jembatan telah berganti dengan timbunan pasir

kerusakan akibat letusan Gunung Merapi

puing-puing bangunan yang hancur

telah ada upaya membangun kembali kerusakan itu
Kami tak bisa membawa kendaraan sampai ke atas. Kami harus memarkir kendaraan di batas yang sudah ditentukan. Jika kami ingin sampai ke atas, atau sampai ke bekas rumah Mbah Marijan, kami harus naik ojek atau sewa motor. Tarifnya untuk perjalanan PP dikenakan tarif Rp. 20.000. Memang saat ini salah satu mata pencarian penduduk korban letusan Merapi adalah sebagai tukang ojek di lokasi "wisata bencana" itu.

Namun saudara-saudaraku tak ada yang berminat ikut naik. Jadi hanya aku, suami dan Shasa yang naik ke atas. Sementara saudara-saudara yang lain menunggu di tempat parkir. Aku beruntung mendapatkan tukang ojek yang mau bertindak sebagai 'guide' juga. Dia banyak bercerita tentang kejadian meletusnya Gunung Merapi itu.

Ini dia tukang ojek yang merangkap guide bagi kami

Awalnya kami diajak ke tempat tertinggi yang dapat kami datangi. Dari tempat itu kami dapat melihat dari dekat puncak Gunung Merapi yang saat itu tertutup kabut tebal. Selanjutnya kami diantarkan ke tempat bekas rumah Mbah Marijan. Karena semakin gelap maka sebelum Maghrib kami putuskan untuk segera turun menuju tempat parkir kendaraan.

Dan inilah beberapa dokumentasi kami sewaktu kami ke atas.

keluarga kecilku di tempat teratas yang bisa dikunjungi

pemandangan daerah bekas rumah mbah Marijan disaksikan dari atas

lautan pasir dimana-mana memberikan pemandangan kelabu yang luas

penunjuk arah menuju ke desa Kinahrejo

berfoto di depan bekas rumah mbah Marijan

Nah.., itulah ceritaku di Kaliurang akhir Juni yang lalu. Aku masih punya cerita acara jalan-jalan di Yogyakarta lainnya, semoga ada waktu untuk berbagi ceritanya esok hari ya?

24 komentar:

  1. mba renii kangen deh baru komen lagi aku disini ^^
    gak ada tanda2 kehidupan ya mba ditempat bencana merapi

    BalasHapus
  2. wah... ada yah bencana malah dijadiin wisata gitu x_x

    ini nih ciri khas org indonesia yg bikin kit2 tahan banting, sesulit apa pun keadaan msh bisa cari sisi positif.

    BalasHapus
  3. wah, asik ya mba...
    kpn2 aku mau ah jln2 kesitu
    ^_^

    BalasHapus
  4. Siank Mbak.... :)

    Wah abis jalan2 toh ternyata, tempatnya yg gak biasa lagi dilokasi bencana yogya wakt kemaren itu, hem itu tempat udh gak ada penghuninyakah mbak? Kok digambar sepi bener :)

    Haduh tapi itu sasha udh tinggi amat ya... hampir sama kaya ibunya dikit lagi... wah sma bisa kebalap tuh tinggimu mbak wkwk..
    Karna besok masih ada cerita lanjutannya, jadi aku nungguin lanjutannya aja lah hhe...
    Happy sunday..

    BalasHapus
  5. asyiknya jalan2 mengisi liburan ya mbak, ditunggu cerita selanjutnya..

    BalasHapus
  6. Wah perjalanan yang menyenangkan sekaligus mebawa hikmah seputar bencana merapi

    BalasHapus
  7. wah kemarin sekalian ke kaliurang ternyata, kirain di terus pulang :)
    photonya bagus mba...
    TFS :)

    BalasHapus
  8. lihat gambarnya aja miris, apalagi yg mengalami kejadian letusannya yah.
    semoga mereka diberi kesabaran, dan segera bisa beraktifitas kembali.

    BalasHapus
  9. wah lama juga ya rehabilitasi desa yang terkena bencana gunung merapi itu.

    BalasHapus
  10. oii oii oiii naek be3.. :(
    tar ketangkep pa poliis tuuh :p

    BalasHapus
  11. ini kaliurangnya dekat mana ya?
    ga ada satupun yg ku kenal dari photo tersebut
    mungkin karena udah hancur kali ya

    BalasHapus
  12. ini namanya wisata sosial ya mbak,..sekalian berempati kepada penduduk yg pernah kena bencana..:)
    miss u mbak,..maaf aku baru komen krn kmrn2 aku ga bs masuk ke blogmu mbak,...setelah pake OPERA/INTERNET EXPLORER baru bisa. pake google chrome itu pasti aku ditolak masuk sini..:)

    BalasHapus
  13. Suka liat foto fotonya. Tentang puing2 akibat merapi yang sudah mulai terbangun kembali. Padahal tadinya sangat mengenaskan sekali. Syukurlah kalau sudah mulai diperbaiki..

    BalasHapus
  14. Aku pernah ke Jogja tapi belum pernah ke Kali Urang, ntar kalo ada kesempatan ke Jogja lagi pengen ke situ ah.

    BalasHapus
  15. wisata bersama keluarga sungguh bahagia,inyong pernah ke kaliurang dulu waktu masih kuliah

    BalasHapus
  16. dari dulu pengen banget ke kaliurang tapi gak ada temennya nih. hehee...

    BalasHapus
  17. aku malah belum pernah ke sana dan ngeliat suasana pasca bencana. pernah sih sekali (tapi malem2, jadinya g keliatan --")

    BalasHapus
  18. Dalam kesengsaraan rakyat sekitaran gunung merapi masih memberikan kenikmatan ya mbak meski itu hanya ojek tapi itulah Tuhan berikan kesempatan dalam kesengsaraan... :D

    BalasHapus
  19. sejak merapi mereda, aku malah belum sempat nengokin kesana bu
    kayaknya dah mulai normal lagi ya..?

    BalasHapus
  20. asik ya mb, tapi sudah kelihatan ada yg mulai tumbuh ya mb....hmm entah kapan saya bisa kesana

    BalasHapus
  21. shasha tinggi juga ya mbak

    BalasHapus
  22. wah bekas rumah mbah Marijan pasti udah jadi tempat yg dijadikan kunjungan wisata;) Sekali-kali pengen maen Jogja ah..!

    BalasHapus
  23. wah, jadi kangen pingin muleh jogja niki bu..........simbah... romo....

    BalasHapus
  24. Makasih mbak...terobat rinduku dg lokasi kaliurang (apa masih dingin dan masih bnyak yg jualan bandrek disana mbak)...lho, itu lokasi bencana dijadiin objek wisata ya...apa gak ada lagi yg bakal membangun disana...

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)