Senin, 19 April 2010

Kisah Seorang Satpol PP

Dulu..., sewaktu pertama kali diterima bekerja, tak pernah terbersit dalam benaknya dia akan menjadi seorang Satpol PP. Apalagi ternyata saat pertama dia ditempatkan sebagai CPNS, tempatnya adalah di sebuah kantor yang tak ada sangkut pautnya dengan Satpol PP.

Waktu berlalu dengan cepat dan tak banyak perubahan berarti yang terjadi padanya. Hingga suatu hari, dia dialihtugaskan ke kantor Satpol PP. Sebagai seorang abdi negara, tentu saja dia harus siap untuk ditempatkan dimana saja. Suka atau tidak, siap atau tidak... tapi perintah tetap harus dijalankan. Maka.., mulailah dia menjalani hari-hari menjadi anggota Satpol PP sejak beberapa tahun yang lalu.

Segalanya berjalan lancar dan baik-baik saja, hingga suatu hari dia menerima surat tugas untuk ikut menertibkan Pedagang Kaki Lima yang ada di sekitar alun-alun kota. Sesuatu bergolak dalam hatinya, berat baginya untuk menjalankan tugas tersebut mengingat kebanyakan Pedagang Kaki Lima yang ada di seputar alun-alun kota adalah tetangga-tetangganya sewaktu kecil dulu. Namun sekali lagi.., sebagai seorang abdi negara dia haris menjalankan tugas yang dibebankan padanya.

Seperti yang dibayangkannya, saat operasi penertiban Pedagang Kaki Lima berlangsung, terjadi kericuhan. Pedagang-pedagang itu menolak ditertibkan. Saat para pedagang itu mengenalinya, sebagai tetangga masa kecilnya dulu, terlontar kata-kata yang menyakitkan hati. Mereka menuduhnya telah lupa asal-usulnya setelah menjadi pegawai kantoran. Mereka menuduhnya tega bersikap sewenang-wenang kepada tetangga-tetangga lamanya.

gambar diculik dari sini

Kejadian seperti itu terjadi berulang kali, setiap kali dia harus berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya dalam operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Memang, orang tuanya dulu adalah juga Pedagang Kaki Lima sama seperti mereka. Beruntung, dia dan kedua saudara kandungnya memiliki nasib yang baik sehingga dapat diangkat sebagai PNS. Setelah dia dan kedua saudara kandungnya mulai mapan dalam hidupnya, kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak lagi menjadi Pedagang Kaki Lima.

Peperangan dalam batinnya terus menerus terjadi setiap kali dia menjalankan operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Hingga akhirnya, setelah tak kuat menderita tekanan batin yang amat sangat... dia menderita tekanan darah tinggi dan... terkena stroke. Dengan kondisinya yang demikian itu.., akhirnya dia dialihtugaskan ke kantor yang tidak memerlukan kekuatan fisik dalam bekerja.

Tak lama bekerja di tempat yang baru, dia pun terpaksa diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dengan hak pensiun karena kondisi fisiknya yang tak memungkinan untuk bekerja. Dengan kondisi fisik seperti itu, memang tak memungkinkan bekerja dimanapun, bahkan di tempat yang paling ringan sekalipun. Dan keputusan pemberhentian itupun mau tak mau harus diterimanya dengan lapang dada.

Begitulah.., terkadang hidup tak memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih. Seringkali kita dihadapkan pada situasi sulit yang menjadi tanggung jawab kita untuk dijalani. Tak semua orang bisa menjalani tugasnya dengan riang gembira. Terkadang dalam menjalani tugasnya seseorang harus berperang dengan hati nuraninya sendiri. Setiap profesi memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri.

Kisah ini berdasar pada sebuah kisah nyata dan.... apakah yang dapat sahabat-sahabat semua petik dari kisah ini..? Semoga memberi manfaat bagi semua....

25 komentar:

  1. Hemmm,awalnya saya sangat gak suka dengan satpol pp,karena setiap ada mereka,pasti ada bentrokan. Tapi setelah saya membaca tulisan di atas,saya jadi mikir,mereka melakukan hal tsb,hanya karena tugas,untuk hidup juga. .tapi,,hemmm. .bingung mbak. .

    BalasHapus
  2. Benar mbak, tugas dan peranan serta tanggung jawab terkadang terjadi pertentangan batin, yang terkadang tugas itu jadi beban yg teramat berat untuk di jalankan

    BalasHapus
  3. iya mbak, kasian yaa...mereka bisa bilang apa kalo udah yg nyuruh walikota ato gubernur? disuruh berkelahi ya berkelahi, mreka ga ngerti apa2 mba..

    BalasHapus
  4. sebenarnya memang kasih terjadi penertiban2 seperti itu..cuma terkadang memang tidak tertib...entah siapa yang harus disalahkan..entah siapa yang benar...tetangga menjadi dibenci tentangganya..

    BalasHapus
  5. pol PP banyak tanggung jawabnya

    BalasHapus
  6. memang benner mbak....terkadang hidup tak memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih. Seringkali kita dihadapkan pada situasi sulit yang menjadi tanggung jawab kita untuk dijalani.... namun semua itu haruslah dihadapi dengan hati yang lapang.

    BalasHapus
  7. mgkn sama ceritanya dengan seorang tentara amrik yg muslim tapi di tugaskan di iraq atau afganistan, nurani mereka pasti teriak...
    nice posting, buk....

    BalasHapus
  8. Subhanallah.. beratnya tugas dia yah, mbak..??? Saya juga kadang kesel ama mereka, kadang lihatnya pada arogan. Tapi, nggak nyangka, dibalik kearoganan mereka adalah demi tugas.

    BalasHapus
  9. Harus berani mengambil sikap!

    BalasHapus
  10. kasian.. sekarang nasipmu gimana satpol pp

    BalasHapus
  11. Kisah simbol dari kesewenang wenangan pemimpin rusak, saya bersyukur ada yang mati saat menggusur, karena mereka perlu diberi pelajaran.......mereka mengambil sandang dan pangan orang, dan mereka pantas mendapat kutukan paling keji hehehe

    BalasHapus
  12. BERKUNJUNG MALAM SOBAT SUKSES UNTUK BLOGNYA SALAM HANGAT
    SEE U......

    BalasHapus
  13. pekerjaan yg membuatnya berada dalam posisi serba salah ya. kadang saya bingung, kenapa harus menyalahkan satpol PP tapi di sisi lain kasihan melihat para pedang kaki lima....
    sulit sekali

    BalasHapus
  14. sering kali kita di hadapkan dalam situasi yang sulit antara tugas dan hati nurani sebagai pribadi di masyarakat

    BalasHapus
  15. Yang salah adalah mereka yang keluar dari aturan mbak, baik itu pedagang kaki 5, saptol PP, aparat, ustadz, kyai, presiden, dll.

    BalasHapus
  16. wah, telat bgt saya....

    mbak reni, mau menyikapi komen mbak di postingan saya, "kan mbak yang nyuruh nulis puisi dari hati,gitu deh jadinya, nanti ada lagi postingan dari hati, ditunggu mbak,hehe...
    postingan lama saya byk yg dari hati mbak..."

    lho?kok saya ngga komen postingannya mbak reni yah?hehe...maaf mbak, berkunjung aja, buru2 nih...kabuurrr...

    BalasHapus
  17. Saya cuma bingung aja? Kalo emang Satpol PP itu merasa rakyat juga, bilapun harus menertibkan kenapa semuanya diangkut? Kan barang2 dagangan yg merupakan modal hidup dia harusnya dibalikin dong? Hanya buat efek jera dengan menahan gerobaknya kan cukup? salam kenal bu?

    BalasHapus
  18. yups mbak, setiap kerjaan tentu ada resikonya, tergantung cara mensikapi kita menghadapi resiko2 itu.. semaakin cerdas, semakin selamatlah ia.. :-)

    BalasHapus
  19. Selama profesi itu dihalalkan oleh ukum tentu resikonya semakin kecil, tentang satpol pp misalnya, mungkin perlu di benahin lagi software di profesi itu kali ya... hehehe

    BalasHapus
  20. kasihan beliau yah
    harus menjalankan tugas dengan makian dari orang2 sekitarnya
    tp itulah kehidupan

    BalasHapus
  21. saya anggota Pol PP. di Kota kecil Jabar, setiap ada penugasan penertiban PKL, saya beralasan mau ngerjain hal lain seperti tugas Admn. dll.karena bertentangan dg hati nurani,(yang akhrnya dialihtugaskan sbg tng. Bag. Keu.) buat diketahui semua. sebenarnya perang bathin itu emang ada pd setiap anggota. kalo seandainya bisa dan ada kesempatan tuk jamin masa depan dan masa tua, kita mungkin berprofesi di luar itu, sulit menentukan plihan profesi di negeri ini, apalagi kami hanya rakyat kelas bawah,pgwai kelas sendal jepit, dan dihadapkan hal seperti itu.......

    BalasHapus
  22. Justru sang "prajurit" tadi segera ambil keputusan begitu kontradiktif terjadi dlm batinnya, sesuatu yg salah kenapa mesti hrs diterima dan dijalaninya,atau setidaknya dia berani menyuarakan ke atasannya bahwa semua yg dilakukan mestinya bisa dilakukan dgn cara yg lebih humanis.
    Coba perhatikan sekarang, kondisi yg tdk berdaya dengan diawalai perang batin jelas adalah sebuah akibat buruk, dan endingnya pemerintah main pecat/PHK atau apalah namanya, lalu kehidupan berikutnya pemerintah tdk akan mau tahu, sdh banyak contoh, para Veteran, Para Atlit Nasional dan Internasional yang harus tidur dirumah kontrakan, bekerja sebagai kuli angkut pelabuhan hingga jadi tukang becak...
    jadi... Kalo prajurit Satpol PP masih punya nurani, ganti profesi aja, terlalu luas dunia ini kalo hanya sekedar utk memenuhi kebutuhan hidup kita yg paling2 sampai usia 60 - 70 thn...

    BalasHapus
  23. satpol pp tidak punya hati nurani, bukan cuma sama pedagang, sama pengamen juga begitu suku memukuli menendang padahal pengamen juga manusia.
    merubuhkan rumah warga tanpa memikirkan nasibnya kemudian..
    satpol pp sangat dibenci dicibir, makanya satpol pp tidak ada sama sekali orang yg sukses semua serba kekurangan karena kerjanya sangat dibenci warga.

    BalasHapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)