Sabtu, 03 April 2010

Maaf, aku punya cinta yang lain

Seperti biasa, setelah mandi dan makan malam, aku menuju meja kerjaku. Segera kunyalakan komputerku karena aku ingin segera kembali menyapa teman-temanku di facebook. Sebuah dunia yang baru aku kenal setahun belakangan ini, namun telah benar-benar membuatku sangat kecanduan. Rasanya beban pekerjaanku yang berat akan terlepas setelah aku menyapa teman-temanku di facebook.

Dari sudut mataku, kulihat kau melangkah ragu-ragu mendekatiku. Aku tentu saja merasa heran, karena kau tahu bahwa aku tak suka diganggu jika sudah berada di depan komputerku.

"Mas.., boleh aku bicara ?" tanyamu hati-hati sambil mendekatiku. Kulihat tanganmu yang meremas-remas tissue. Gelisah, itu penilaianku padamu.

Sejenak kuangkat pandanganku dari layar monitor yang ada di depanku.
"Ada apa?" jawabku singkat.

Sekilas kulihat keraguan di matamu. Kau masih berdiri gelisah di depanku dan aku masih menunggu apa yang akan keluar dari bibirmu.

"Mas.., maaf aku punya cinta yang lain," bisikmu pelan, nyaris tak terdengar olehku, namun cukup mengagetkanku. Sejenak aku kehilangan kata-kata, hanya kupandangi sosokmu yang berdiri gelisah di depanku.


Kebisuan menggantung cukup lama di antara kita. Aku tak menemukan kata sementara kau tak berani mengeluarkan kata. Kikuk dan tegang terasa kental di udara yang menyelimuti kita.

Kupandang dirimu dan baru kusadari betapa telah banyak perubahanmu yang luput dari perhatianku. Matamu tak lagi menampakkan cahaya dan semangat sebagaimana mata yang begitu kupuja dulu. Wajahmu pucat dan terlihat tirus. Kelelahan jelas terpancar dari dirimu. Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali kulihat kau tertawa ceria. Astaga.., apakah memang sudah terlalu lama kau tak tertawa ?

"Mengapa ?" akhirnya hanya itu kata yang berhasil keluar dari bibirku setelah sekian lama terdiam.

"Apakah mas benar-benar ingin tahu alasannya ?" jawabmu ragu-ragu.

"Karena... banyak hal mas," lanjutmu setelah melihatku mengangguk. "Terus terang aku makin hari makin merasa kesepian dan tersisih. Mas begitu sibuk dengan pekerjaan kantor. Sementara di rumah, Mas juga sibuk terus di depan komputer. Tak ada waktumu untukku, Mas. Mas terlalu sibuk menjelajahi pertemanan lewat Facebook daripada menjaga hubungan kita. Mas terlalu sibuk dengan dunia Mas sendiri, sementara aku kesepian dan tersisih disini."

Kata-katamu mulai bergetar. Aku tahu, kau berusaha menahan isakmu. Memang benar apa katamu, aku telah terlena dengan duniaku sendiri. Kesibukan kantor yang luar biasa memang melelahkanku, dan belakangan aku bisa merasakan rasa fresh dan kesenangan saat sedang ber-Facebook. Gairahku dalam ber-facebook makin menjadi saat aku bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama dan juga mantan-mantan pacarku dulu.

"Mas.., di saat aku sibuk mempertahankan hubungan kita, Mas malah sibuk tebar pesona lewat facebook. Kata-kata yang mas tulis di status Mas dan komentar-komentar Mas di wall teman-teman Mas, rasanya telah membuatku seperti tak berharga. Siapa pun yang membaca tulisan Mas, akan mengira bahwa Mas tak bahagia hidup bersamaku. Bahwa Mas terpaksa memilihku sebagai pendamping hidupmu, Mas. Aku merasa tak berharga sama sekali."

Mungkin apa yang kau katakan benar, tapi aku sebenarnya hanya bermaksud bercanda saat menulis semua kata-kata yang menurut istilahmu tebar pesona itu. Aku terlalu senang dapat bertemu teman-teman lama dan mantan-mantan pacarku dulu. Memang sekali dua kali, aku menulis kenanganku dengan mantan-mantanku di wall mereka. Memang sesekali aku menggoda mereka. Tetapi semua itu hanya untuk bercanda, tapi ternyata kau menangkap lain. Apakah orang lain juga menangkap yang sama seperti dirimu juga ?

"Mas.., di saat aku merasa tak berharga dan kesepian, ada orang yang mendekat padaku. Aku berusaha untuk tidak menanggapinya pada mulanya, tapi dia begitu santun. Aku tak sanggup berkata dan berbuat kasar padanya. Awalnya dia hanya SMS padaku, tapi akhir-akhir ini dia mulai sering meneleponku. Tapi sekali lagi, aku tak ada alasan untuk marah dan memusuhinya karena dia begitu santun."

"Mengapa kau jatuh cinta padanya ?" tanyaku akhirnya setelah sekian lama hanya diam mendengarnya bicara. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

"Dia sangat peduli dan perhatian padaku. Kebetulan kami sekantor, walaupun kami tak berada dalam divisi yang sama. Dia banyak menguatkanku, walaupun tak sepatah kata pun aku katakan padanya tentang kondisi rumah tangga kita. Mungkin, dia bisa meraba gejolak yang ada di dadaku, Mas."

Perhatian..? Rasanya memang aku sudah lama tak memberikan perhatian padamu, bahkan perubahan pada dirimu pun terlewatkan olehku. Mungkin aku juga kurang peduli padamu akhir-akhir ini, bahkan aku tak tahu keinginanmu. Mungkinkah ini karena aku telah tenggelam terlalu dalam di duniaku sendiri ? Sudah sekian jauhkah aku melangkah sendiri ?

"Dia tak setampan dirimu, Mas. Tapi aku merasa nyaman saat ngobrol dengannya. Dia baik. Dia senang mendengarkan aku berbicara tentang apa saja. Terus terang, aku sebenarnya tak bermaksud untuk memberikan perhatian lebih padanya. Namun semenjak aku merasa sendirian dan kesepian, hanya tangannya yang terulur untuk membantuku keluar dari rasa sepi dan sendiri itu. Sementara dirimu tak pernah tahu betapa aku merasa sangat tersisih."

Kau usap ujung matamu dengan tissue yang mulai lusuh di tanganmu. Brengsek..! Padahal sejak tadi aku tahu betapa kau berjuang keras untuk tidak menangis di depanku, tapi tak juga aku tawarkan bahuku untukmu menyandarkan dukamu. Bahkan, aku pun tak meraih tanganmu dan membimbingmu duduk di dekatku. Rupanya benar-benar telah mati rasa peduliku padamu.

"Mas.., maafkan aku. Aku kini punya cinta yang lain. Walau aku tak pernah berharap ini terjadi, tapi kini aku tak kuasa menolaknya. Maafkan aku, Mas. Sejujurnya kukatakan bahwa rasa cintaku padamu sangat besar, sehingga penolakanmu untuk berada dekat denganku rasanya sangat menusuk hatiku. Kekecewaan dan kepedihanku terasa sangat dalam, hingga aku takut jika berubah membencimu. Walau ku ingin mendampingimu hingga akhir hidupku, tapi rasanya kehadiranku tak berarti bagimu."

Ternyata, sebegitu dalamkah luka yang kutorehkan padamu akibat ketidakpedulianku ? Tetapi tak tepat jika ini kau katakan ketidakpedulian, karena aku melakukannya dengan tidak sengaja. Aku hanya tak sempat memperhatikanmu karena aku memang sedang tenggelam dalam duniaku sendiri. Ternyata, bahkan aku telah kehilangan waktu untuk memperhatikanmu.

"Mas..., demi kebahagiaan kita bersama, ijinkah aku mundur dari hidupmu. Agar kau bisa lebih bahagia menjalani hari-hari tanpa aku. Dan.., agar aku tak memendam kekecewaan lagi padamu. Biarlah rasa cintaku padamu kusimpan di sudut hatiku. Sementara sebagian besar hatiku akan kucoba untuk kuserahkan pada cintaku yang lain, yang baru aku temukan lewat deritaku."

"Siapa dia..?," tanyaku akhirnya dengan rasa pahit yang tak terduga muncul tiba-tiba membanjiri hatiku.

"Pak Dani, mungkin Mas masih ingat dia. Semenjak istrinya meninggal 3 tahun yang lalu, Pak Dani memang cenderung menutup diri. Mungkin, kepedihanku dapat tertangkap olehnya dan seakan merefleksikan kepedihannya sendiri. Mungkin itu yang membuatnya mencoba membantuku. Semoga kebersamaan kami akan memberikan kebahagiaan bagi kami masing-masing. Kami berharap dapat menguatkan satu sama lain."

Kau tundukkan kepalamu menghindari tatap mataku. Aku tak sempat menangkap adakah binar cinta yang baru tumbuh di sana. Tapi aku tahu, kau sangat keras kepala. Sekali kau mengambil keputusan, maka tak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Bahkan aku pun tak akan bisa membuatmu menyurutkan langkah. Jadi, rasanya tak ada harapan bagiku untuk membuatmu mengubah keputusanmu.

"Mas..., maafkan aku. Rasanya perpisahan di antara kita harus segera di akhiri. Biarkan aku simpan kenangan indah bersamamu. Semoga Mas akan segera mendapatkan pendamping baru yang jauh lebih baik daripadaku. Pendamping yang benar-benar dapat memahami Mas sepenuhnya. Maafkan aku jika selama kita bersama aku tak mampu membahagiakanmu. Semoga Mas ridho atas semua perbuatanku selama ini."

Kau melangkah maju, meraih tanganku dan menciumnya. Setitik air mata terjatuh di punggung tanganku. Hangat terasa.... namun anehnya hatiku terasa sangat dingin dan membeku. Sebegitu dinginnya, hingga terasa sangat perih dan mengiris hati.

Nanar kutatap langkahmu yang gontai meninggalkanku. Apakah benar kau tak mampu membahagiakan aku ? Rasanya tidak..! Kau telah membuatku bahagia selama ini hanya saja aku tak sempat memberitahumu tentang hal itu. Aku tak punya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku. Salahku jika kau merasa tak berharga. Salahku jika kau kecewa padaku. Salahku jika  aku mencari kebahagiaan semu itu lewat facebook.

Arrgghh..., tiba-tiba saja facebook menjadi sangat tidak menarik bagiku. Ternyata kebahagiaanku bukan dari facebook, melainkan bersama denganmu. Sayang sekali... kesadaran ini terlambat sekali datang padaku.


Sebuah catatan tentang kisah yang kudengar kemarin malam
** gambar diculik dari sini **

28 komentar:

  1. duh
    saya nahan nafas membacanya
    sedih sekali buat saya kisahnya...

    BalasHapus
  2. ketigaxx deh...


    kisah cinta yg naas...bkn kisah pribadi kan mbak?hehe...

    tulisan ini kayak cambuk juga, buat suami2 yg girang fb-an ktimbang ngurus kluarga...

    BalasHapus
  3. facebook ya biang keroknya -_-"

    BalasHapus
  4. hayaaa ..... ini banyak terjadi sekarang! sesak dada ini, peringatan bagi kita jangan melupakan keluarga hanya karena tenggelam terlalu dalam di dunia maya!

    BalasHapus
  5. ini kisah nyata ya mbak?jadi ingat keisenganku pasang status2 aneh di FB, semoga suamiku tidak berfikir aneh2 juga..jadi berfikir ulang untuk iseng lagi

    BalasHapus
  6. Semoga saja hal itu tidak terjadi pada diri kita. Amien...
    FB oh FB, kadang bikin masalah

    BalasHapus
  7. hehehehehehe.............sepertinya ini jadi pelajaran juga buat kita ya!!!! jadilah lebih mawas diri, agar tidak menyesal nantinya!!!

    nice story mba!!!

    BalasHapus
  8. cerita mbak ren ini semakin mengukuhkan pendapat bahwa dunia maya memang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh

    miris mbak. dan saya rasa ada banyak pasangan diluar sana yang mengalami hal seperti ini

    BalasHapus
  9. lagi2 gara2 pesbuk yah..... candu pesbuk

    BalasHapus
  10. Waduw..kasian amat ya si FB.
    Lagi2 dijadiin biang keladinya, xixixixiixix... :D

    BalasHapus
  11. Yaaah...kasian banget deh suaminya.
    Tapi postingannya bagus ni mbak, maknanya dalem.
    Bagi yang udah punya keluarga, jadi harus mawas diri dalam berhubungan di dunia maya, jangan samapi kelewat batas :D

    BalasHapus
  12. Hahahaha. .sejak kenal blog,saya malah menjauh dari facebook,padahal dulunya kecanduan juga.Hi3. .

    met pagi ya mbak. .

    BalasHapus
  13. walah ini bukan kisah pribadikan mba ??? yah bukan hanya FB, situs jejaring yg lainpun memungkinkan terjadinya hal seperti ini...

    BalasHapus
  14. mank yach Facebook tLah membawa bnyak pngaruh besar d dunia ini....

    BalasHapus
  15. salamsobat
    haru mba bacanya
    karena dunia maya ya mba,,,

    BalasHapus
  16. uhmmm sedih rasanya baca ceritnya ibu..sebegitunya pengaruh dunia maya terhadap suatu hubungan..ughh...
    ya diriku juga pernah mengalami kejadian kek gitu,aku membaca msg inbox dari seorang perempuan ke mas ku,isinya ttg aku dan ga menyenangkan,,bener2 berantem dah.tapi sejak itu kami berdua berusaha jaga komunikasi,dan hal kecil itu ga diributkan lagi,karena ga ada gunanya :)

    nice story ibu...jadi pelajaran untuk kedepannya
    ibu sayah link yah blog na n follow
    happy sunday

    BalasHapus
  17. Mbak reni sudah bisa bikin novel kayaknya, tulisanya bikin saya penasaran dan larut dalam membacanya.

    BalasHapus
  18. Kisah yang sangat menyentuh...

    Untung aku nggak keranjingan FB,.. mending ngeblog.

    BalasHapus
  19. Selamat siang Mbak...
    Berkunjung disaat break.

    BalasHapus
  20. cara menyajikan cerita ini sangat menarik mbak...salut dengan alur ceritanya....

    BalasHapus
  21. ini kisah nyata mba?
    perih sekali...

    BalasHapus
  22. dunia maya lagi ya?
    terlambat menyadari bahwa cinta ada bersamanya.

    BalasHapus
  23. ini kisah nyata yah mbak?? duuhh.. sesak aku bacanya T_T

    aku pernah baca gini, katanya saat seorang laki2 selingkuh dia akan berdalih bahwa pasangannya tidak cukup untuk memuaskannya, tapi kalo perempuan yang selingkuh dalihnya adalah karena ia merasa tidak dicintai...

    dari situ kita bisa menilai sendiri ajah deehh... :)

    BalasHapus
  24. Fesbuk memang memabukkan
    kadang bisa membuat lupa diri
    kecanduan yang tiada habisnya

    BalasHapus
  25. facebook, oh facebook :(

    BalasHapus
  26. perceraian bukan akhir segalanya.. dan juga bukan awal dari kehidupan/kebahagiaan baru...

    mencari jalan keluar tanpa perceraian lebih baik...

    facebook juga menjadi penyakit...pembunuh...peracun...yang diharap dapat menjadi penghubung dan pemudah komunikasi..

    jika kejadian ini terjadi..apakah pihak facebook dapat bertanggung jawab???

    atau siapakah yang pantut dituntut??

    kembalilah kepada diri kita masing...dimanakah dunia kita...dimananya tempat kita...

    dimanakah kasih sayang yang seharusnya kita berikan...waktu yang seharusnya kita habiskan bersama..

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)