Surat untuk Papa

Jumat, 16 April 2010

Papa...,
Aku tahu kau tak pernah mengeluh mendapatkan anak sepertiku
dan tetap memperlakukanku dengan kasih sayang yang tulus
tak berbeda dengan besarnya kasih sayang untuk anak-anakmu yang lain

Papa...,
Aku tahu berat bebanmu merawat anak invalid sepertiku
tapi kau tak pernah mengeluh pada siapa pun juga
bahkan kau selalu mampu memancarkan senyum di wajahmu

Papa...,
Maafkan jika selama ini aku telah sering membuatmu cemas akan keadaanku
Sungguh aku tak bermaksud begitu karna sebenarnya yang kuinginkan hanyalah membahagiakanmu
dan membuatmu bangga akan diriku

Papa...,
Aku tak akan pernah lupa betapa paniknya dirimu
ketika aku meneleponmu dan mengatakan bahwa kakiku tersiram air panas
sewaktu aku berusaha untuk membuat minum sendiri saat Bik Inah tak masuk kerja hari itu

Dan aku tak akan pernah lupa betapa dalam duka di matamu
saat kau menemukanku yang tergolek tak berdaya
setelah aku menyayat-nyayat kakiku sendiri dengan sebilah pisau

Papa...,
Sebenarnya semua itu kulakukan karena aku ingin bisa mandiri
Aku ingin bisa berjalan dan melakukan banyak hal seperti wanita lain
Aku ingin berguna dan tak terus menerus menjadi beban bagi orang lain
Tapi aku tak mampu menerima kenyataan yang ada
bahwa diriku memang tak sama dan kakiku memang tak berdaya

Papa...,
Meskipun kakiku melepuh karena tersiram air panas
dan terluka parah akibat sayatan pisau yang aku lakukan dengan sengaja
tapi aku sama sekali tak merasakan sakit di kakiku
Apakah Papa sudah lupa ...?
Bahwa telah lama kakiku telah mati rasa.

Papa...,
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Aku janji tak akan membuat resah hatimu lagi
Aku janji tak akan membuatmu berduka lagi
Aku janji...

Papa...,
Aku tak akan melakukan tindakan-tindakan bodoh lagi
dan aku akan berusaha untuk lebih bisa sabar dan ikhlas
menjalani takdirku...
dalam kesendirianku dan keterbatasanku.

Akan kujalani sisa hariku untuk menyenangkanmu
hingga leukemia ini membuatku menyerah
dan merenggut hidupku dari kebersamaan kita....

Papa...,
Biarkan aku menikmati setiap detik kebersamaan kita
dan mereguk manisnya kasih sayang dan perhatianmu
sampai di detik terakhir hidupku....

33 catatan dari sahabat:

Sou Stalker mengatakan...

saya ikut tersentuh mbak :'(

ajeng mengatakan...

Bapak ijinkan saya jadi anak 'juara', setidaknya juara untukmu.. Ijinkan saya sedikit membuatmu bisa tersenyum..

attayaya mengatakan...

aku sejak kecil tak ketemu bapak
karena beliau telah dipanggil-Nya
semoga kuburnya dilapangkan dan dibuatkan sebuah taman dari taman di surga

nuansa pena mengatakan...

Surat hati yang indah namun membuat trenyuh yang membacanya! Semoga kebahagian yang diperolehnya! Amin!

Trimatra mengatakan...

jika boleh aku meminta papa...ijinkan aku jadi yang terbaik tidak hanya di matau tapi juga dalam hatimu...

eNeS mengatakan...

Sebuah surat yang sangat menyentuh hati...

Oya mbak, saya udah cek di Chrome, IE, Opera, Flock, dan Sapari, semuanya ok kok mbak, gak kelihatan di tengah-tengah.
Mungkin temen salah lihat, hehehe...

KucingTengil mengatakan...

hiks.... jadi kangen ma papa... I love u paaaaap T^T

munir ardi mengatakan...

ini puisi untuk seseorang atau diri sendiri mbak sedih aku cuma ingat bapak yang juga sudah tiada

Aulawi Ahmad mengatakan...

puisinya sungguh menyentuh mbak, tq dah berbagi...

Newsoul mengatakan...

Amin. Sebuah doa yang tulus mbak. Selamat malam mbak Reny.

siroel mengatakan...

amankan posisi 11.

siroel mengatakan...

terharu saya mbak reni, siapa yang leukimia mbak?

HAPIA Mesir mengatakan...

weh...saya ko' g pernah ngirim surat kerumah ya mbak..pa lagi buat papa...cuma sms aja...hehehe

richoyul mengatakan...

salah satu keinginanku yang belum terwujud aku pgn mensiunin bapakku biar bs menikmati hari tuanya , namun sampai sekarang blm terwujud

Clara mengatakan...

anaknya ini udah meninggal ya mbak?
kisah yang menyedihkan

buwel mengatakan...

sangat menyentuh...

achen mengatakan...

Puisi dari anak yang berbakti ea mbak...

bonk ava mengatakan...

wahhhh jdi sedih nih!

Linda Belle mengatakan...

mbak reni...
udh lama saya gk bekunjung, maap ya

puisinya sedih amat ya...sapa yg sedang sakit mbak?

ieyaz mengatakan...

mengharukan sekali mbak..
hikz..hikz..

BrenciA KerenS mengatakan...

tidaaaaakkkkk... Aku jadi kangen sama bapakku... T_T

JHONI mengatakan...

saya juga cinta papa saya mba!!!!! biasanya saya panggil Bapak!!!!

attayaya mengatakan...

kenapa harus menyayat kaki sendiri
jangan putus asa

Lina Marliana mengatakan...

Sedih... baca tulisan ini.. speecless... o_o

Agung Aritanto mengatakan...

aku juga mau minta maaf sama bapa karena selama ini aku hanya jadi anak yang menyusahkan

Cerita Tugu mengatakan...

mengingatkan inyong pada papa inyong yang tlah tiada

Blogger Bumi Lasinrang mengatakan...

aku juga sangat sayang Papa, selamat berlibur mbak mudah-mudahan sehat selalu

munir mengatakan...

jalan-jalan di minggu pagi bu

U-marr mengatakan...

wah saya tersentuh nih mbak,
mbak, papa disana maksudnya suaminya cewek tersebut yah??

Den Hanafi mengatakan...

menyentuh banget mbak.

semoga mbak sekeluarga diberikan kesehatan. amin

Quinie mengatakan...

ayah mba reni pasti ayah no.1 di dunia :)

Kang Sugeng mengatakan...

hiks... menyentuh sekali mbak artikelnya kali ini, jadi inget sama almarhum Bapak saya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

duh, sedih banget mbak puisinya