Jumat, 07 Oktober 2011

Semua hanya sementara

Setahun yang lalu, dia masih bergelimang dalam kekuasaan. Dengan kekuasaan ada di tangannya, dia bisa berbuat sesuka hatinya tanpa ada orang yang berani mencegahnya. Tak ada orang yang berani menegurnya saat dia melakukan kesalahan. Semua hanya menuruti apa saja maunya. Hanya beberapa tahun dia mampu mengatur semua sesuka hatinya dengan telunjuknya, namun kini segalanya berbeda.

Setelah tak memegang kekuasaan, dia ibarat tak lagi berharga. Bahkan, masa-masa sulit sedang dihadapinya kini. Orang-orang yang dulu diam-diam tak suka dengan sikapnya, kini dengan terang-terangan menyudutkannya. Orang-orang yang dulu ditekannya dengan kekuasaan yang dimilikinya, kini seolah berlomba membalas sakit hati mereka kepadanya. Tak ada kesan tersisa bahwa dia pernah menggenggam kekuasaan di tangannya.

Yang lebih menyakitkan adalah orang-orang yang dulu tunduk pada kekuasaannya ternyata kini mengkhianatinya. Mereka pun pergi begitu saja meninggalkannya. Ternyata, hanya kekuasaannya yang menarik mereka mendekat padanya selama ini. Namun begitu kekuasaan itu tak ada lagi, mereka pun serta merta pergi dan berlindung pada penguasa yang lain.

Baru disadarinya kini bahwa kekuasaan yang dulu dimilikinya tak mampu menghadirkan sahabat sejati padanya. Kekuasaan yang pernah digenggamnya tak mampu memberikan ketulusan persahabatan dari orang-orang di dekatnya. Nyatanya, begitu dia terpuruk dan kalah tak ada lagi yang ingat padanya. Tak ada lagi yang menoleh untuk menolongnya.

Andai saja dia sadar sejak dini,  bahwa semua yang diterimanya bersifat sementara, pasti sikap dan tindakannya akan berbeda. Tak akan dia gunakan telunjuknya untuk mengatur segala sesuatu sesukanya. Tak akan dia gunakan kata-katanya untuk meremehkan orang lain. Tak akan dia gunakan kekuatannya untuk menekan dan menyudutkan orang lain.

Andai saja dia sadar sejak dulu bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Namun semua telah terjadi dan dia hanya mampu menerima hasil dari apa yang dia tanam selama ini.

27 komentar:

  1. benar sekali tulisan ini..segala sesuatu hanya sementara..jika kita sedang di atas ..jangan terlalu sombong..karna kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya

    BalasHapus
  2. apa yang kita tabur, iulah yang kita tuai.. :)

    BalasHapus
  3. nice post mbak :) sebagai pengingat kita semua

    BalasHapus
  4. andai segala perbuatan kita didasari keikhlasan...

    BalasHapus
  5. begitulah kehidupan ya mba, terkadang diatas,kadang dibawah. roda selalu berputar...

    tyiidak ada keabadian dlm kamus kehidupan....

    BalasHapus
  6. Harus amanah ya mba Ren, dan semua perbuatan (baik ataupun buruk) akan tetap kembali pad akita pada akhirnya..

    BalasHapus
  7. kita di dunia ini bagaikan gelas tanpa air..!!! cari sendiri artinya ?? hehehe


    (gw juga ngak tau artinya tuch apaan )

    BalasHapus
  8. segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepadaNYA ...

    manusia hanya mendapat titipan semata ...

    selamat siang - selamat beraktifitas

    BalasHapus
  9. ARtikel ini sudah mengingatkan saya

    BalasHapus
  10. Sebuah pembelajaran untuk kita semuanya Mba. Sukses selalu.

    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  11. terima kasih sudah diingatkan mbak

    BalasHapus
  12. hmmm, ini semacam post power syndrome gitu kah?

    ah sedih ya bacanya, orang yg dulu dikala kita jaya mereka dekat. namun disaat kita turun tahta, mereka melengos.....

    BalasHapus
  13. memang tak ada yg kekal ya di dunia ini

    BalasHapus
  14. kalau pensiun artinya kekuasaan "pensiun" juga yah :D

    BalasHapus
  15. seperti bersedekah.. pasti akan mendapat balasan yang melimpah ruah jika kita ikhlas..

    BalasHapus
  16. kadangkala manusia lupa akan asalnya..

    BalasHapus
  17. yah, memang begitulah hakikatnya hidup..
    subhanallah..

    BalasHapus
  18. Di dunia ini memang tak ada yang abadi. Semua akan kembali kepadaNYa, harta, jabatan, pangkat dan yang kita miliki hanyalah titipan.

    BalasHapus
  19. @Batz >> sayangnya manusia suka lupa ya? Saat sedang berada di atas dia lupa jika suatu saat roda kembali berputar dan dia kembali berada di bawah.

    @Nuel >> Seep... setuju banget.

    @Nurlailazahra >> terutama pengingat bagiku juga... :)

    @MAV >> kadang sangat sulit berbuat ikhlas bukan? Itulah manusia... :)

    @Irma >> kata orang bijak, yang abadi itu adalah perubahan mbak... hehehe

    @Orin >> semua memang akan kembali kepada kita, dan dengan mengingat itu Insya Allah kita dapat tetap rendah hati kan ya?

    @Rizal >> walah... apa tuh artinya? #garuk2kepalaygtakgatal

    @Saladine >> Yups... semua memang hanya titipan dari Allah ya?

    @Nurul Imam >> Alhamdulillah ya.. :)

    @Ejawantah >> pembelajaran juga untuk aku. Sukses juga buatmu ya...

    @Lidya >> terima kasih kembali mbak :)

    @Olivia >> emm... bisa juga spt itu, tapi lebih tepatnya adalah orang yang berbuat semena-mena pada saat berkuasa dan saat sudah tak berkuasa menderita karena orang2 yg pernah sakit hati karena ke-semena-menaannya dulu banyak yang membalaskan sakit hatinya. Padahal saat itu dia sudah tak punya teman2 dekat yg dapat dipercayainya.

    @Fanny >> yups... yang kekal adalah perubahan itu sendiri mbak. :)

    @r10 >> ya iyalah... setelah pensiun dia tak lagi punya pengaruh yg kuat spt saat berkuasa dulu.

    @Said >> begitulah... Analoginya pas bener :)

    @Ketty >> itulah manusia mbak... aku pun masih spt itu kok #jadimalu

    @Yudi >> Bahwa semua hanya bersifat sementara? Seperti itulah adanya...

    @Halaman Putih >> ya, semua yg kita miliki suatu saat pasti akan diambilNYA lagi kan?

    BalasHapus
  20. @Batz >> sayangnya manusia suka lupa ya? Saat sedang berada di atas dia lupa jika suatu saat roda kembali berputar dan dia kembali berada di bawah.

    @Nuel >> Seep... setuju banget.

    @Nurlailazahra >> terutama pengingat bagiku juga... :)

    @MAV >> kadang sangat sulit berbuat ikhlas bukan? Itulah manusia... :)

    @Irma >> kata orang bijak, yang abadi itu adalah perubahan mbak... hehehe

    @Orin >> semua memang akan kembali kepada kita, dan dengan mengingat itu Insya Allah kita dapat tetap rendah hati kan ya?

    @Rizal >> walah... apa tuh artinya? #garuk2kepalaygtakgatal

    @Saladine >> Yups... semua memang hanya titipan dari Allah ya?

    @Nurul Imam >> Alhamdulillah ya.. :)

    @Ejawantah >> pembelajaran juga untuk aku. Sukses juga buatmu ya...

    @Lidya >> terima kasih kembali mbak :)

    @Olivia >> emm... bisa juga spt itu, tapi lebih tepatnya adalah orang yang berbuat semena-mena pada saat berkuasa dan saat sudah tak berkuasa menderita karena orang2 yg pernah sakit hati karena ke-semena-menaannya dulu banyak yang membalaskan sakit hatinya. Padahal saat itu dia sudah tak punya teman2 dekat yg dapat dipercayainya.

    @Fanny >> yups... yang kekal adalah perubahan itu sendiri mbak. :)

    @r10 >> ya iyalah... setelah pensiun dia tak lagi punya pengaruh yg kuat spt saat berkuasa dulu.

    @Said >> begitulah... Analoginya pas bener :)

    @Ketty >> itulah manusia mbak... aku pun masih spt itu kok #jadimalu

    @Yudi >> Bahwa semua hanya bersifat sementara? Seperti itulah adanya...

    @Halaman Putih >> ya, semua yg kita miliki suatu saat pasti akan diambilNYA lagi kan?

    BalasHapus
  21. tak ada sesuatu yang abadi, jadi jangan sampai kita lena.

    BalasHapus
  22. Orang akan kelihatan dihargai dg tulus atau gak setelah masa kekuasaannya berakhir ya mbak..

    BalasHapus
  23. setuju mbak, we'll never know what the future hold.. ^^

    BalasHapus
  24. wah mbak... meskipun latarnya tokoh ini begitu menyebalkan tapi endingnya saya kasihan... ngga ada orang yg lebih kasihan daripada merasa punya segalanya tapi sebenarnya dia ngga punya apa2

    BalasHapus
  25. kayak roda, selalu berputar~

    BalasHapus
  26. Jadi inget lagunya Ariel.."tak ada yang abadi.."

    BalasHapus
  27. semuanya sudah ada suratanya mbak,,sbar z,,

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)