Kamis, 10 Maret 2011

Makanan anak autis

Dulu waktu Shasa masih Taman Kanak-kanak, ada teman sekelasnya yang menyandang autis. Dia cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sulit sekali mengajaknya  berkomunikasi dan berinteraksi, seolah-olah dia hidup dalam dunianya sendiri. Dia juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Namun menurutku, gejala autis yang diderita anak itu masih bisa digolongkan ringan.

Karena sulit mengikuti pelajaran di sekolah, akhirnya ibunya memindahkan anaknya itu ke sekolah khusus bagi anak autis. Setahun kemudian barulah anak itu 'dikembalikan' lagi ke sekolah Shasa. Pada saat itu, sudah terlihat adanya perubahan. Dia sudah mulai mau berinteraksi dan berbicara dengan orang lain, walaupun masih sedikit. Tapi itu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Informasi yang aku dapatkan, sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Namun anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan, sehingga makanan bagi mereka juga harus sangat diperhatikan. Itu sebabnya orang tua anak-anak autis harus ekstra hati-hati dalam memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak-anak itu.

Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan bagi para orang tua dalam memberikan makanan bagi anak-anak mereka yang menyandang autisme :

1. Makanan yang dihindari
  • Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-ku
  • Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
  • Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu.
  • Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi.
  • Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.
  • Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast.
  • Semua jenis keju.
  • Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain.
  • Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing.
  • Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain.
  • Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
  • Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis.
  • Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.

2. Makanan yang dianjurkan
  • Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya.
  • Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya.
  • Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya.
  • Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.
  • Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu.
  • Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar.
  • Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur.
  • Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain.
  • Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.

3. Cara mengatur makanan secara umum
  • Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
  • Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa.
  • Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng.
  • Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
  • Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
  • Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium).
  • Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya.
  • Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
  • Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.

Semoga saja informasi di atas bermanfaat. Untuk informasi lebih lanjut seputar autis dapat langsung menuju ke http://www.autis.info/


29 komentar:

  1. nice share mbak... *save save*

    BalasHapus
  2. Informasi menarik mba, jadi inget sama Lukman Sardi, konon katanya waktu kecil dia autis juga ....

    BalasHapus
  3. emang ada hubungan nya yah bu makanan tersebut sama kaum autis?? pnasaran

    BalasHapus
  4. saya sedang membaca buku berjudul Dunia Di Balik Kaca, kisah nyata tentang seorang anak autis. Sedih rasanya membaca buku ini. Semoga para orang tua yang diuji dengan anak-anak yang autis tetap sabar menghadapi mereka yang berbeda dalam banyak hal.

    BalasHapus
  5. makasih ya bun. adik sepupu ata juga penderita autisme. sekarang umurnya udah 13 tahun kalo ga salah. cuma udah bisa berinteraksi banyak. soalnya ikut therapy lumba-lumba. ternyata effectnya bagus ;D

    BalasHapus
  6. q dulu jg punya teman autis, tapi syang dia sering dikucilkan oleh teman2...tp q g ya

    BalasHapus
  7. Tetangga rumahku ada Mb..1 tahun juga ikut pengobatan khusus dan sekarang bisa masuk sekolah sd...meskipun agak sulit tapi bisa dibilang sudah alhamdullilah anak tetanggaku dibanding dulu mb.

    BalasHapus
  8. ooo, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengidap autisme....

    BalasHapus
  9. wah sip neh Bu Reni sekarang... :-)

    BalasHapus
  10. Moga sembuhlah semua orang yang mengidap ini...

    BalasHapus
  11. info yang bermanfaat buk, smoga dengan memilih makanan yang tepat penderita penyakit autis bisa sembuh, amin...:D

    BalasHapus
  12. kasihan sekali ya penderita autis ini karena makanannya ternyta harus diatur sedemikian rupa. Semoga orang rumah dan yang meraawt penderita autis selalu diberikan kemudahan dan kesabaran

    BalasHapus
  13. saya akan cari temen kampus yang autis, trus menjalankan nasihat ibu, huahaha, bcanda mode on

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut anda autisme sesuatu yg lucu dan wajar dijadikan bahan canda ya? Ente kuliah dimana? Koq otaknya goblok sih?

      Hapus
  14. saya belajar dari adek sepupu saya yang autis, memang untuk makan nggak boleh sembarangan.. mau makan daging ayam aja harus yang ayam kampung, gak boleh broiler..repot, tapi alhamdulillah sekarang udah mendingan.

    anak autis emang nggak boleh kebanyakan gula.. bisa hiperaktif juga.

    BalasHapus
  15. ya keduluan mbak reni deh...aku jg pny niat mau posting tentang autis,tp gak jd2...krn aku jg punya pengalaman bergaul dg anak autis laki2 yg skrng sdh berumur 19th..dan apa yg mbak ungkapkan itu benar lho...anak ini memang tidak bisa banget klu sdh termakan roti yg memakai bhn soda kue atau mknan yg ada penyedapnya.....maka anak ini sangat tidak tenang dan mulai susah utk mengendalikan dirinya sndri....tp klu ia tidak melanggar pantangannya..ank ini benar2 asyik lho...

    BalasHapus
  16. sebenarnya pola makan yg dianjurkan u anak autis itu bagus juga lho buat kita yang mau hidup sehat ^_^

    BalasHapus
  17. kasihan deh kalo lihat anak autis tu yaa
    mereka berada di dunianya sendiri
    terpenjara dalam dinding yang mengepungnya
    kitalah yang harus menjebol dindingnya
    agar bisa berkomunikasi dengannya

    BalasHapus
  18. Anak autis memang perlu penanganan khusus yah Mba

    BalasHapus
  19. bantu mereka untuk mandiri,
    karena mereka juga punya cita-cita tinggi.
    mereka sama seperti kita ini ,
    jangan lupakan mereka,
    jangan kucilkan mereka, jangan...
    karena ciptaan DIA semuanya indah...
    ( sedikit karya saya untuk adik2 ABK )

    BalasHapus
  20. terimakasih mba,, atas informasinya... semoga bisa bermanfaat

    BalasHapus
  21. sip banget nih infonya. thx ya....

    BalasHapus
  22. Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak (PTTKA) Rumah Sahabat Yogyakarta melayani deteksi dini anak berkebutuhan khusus dengan psikolog, terapi wicara, sensori integrasi, fisioterapi, behavior terapi, Renang& musik untuk anak berkebutuhan khusus, terapi terpadu untuk autism, ADD, ADHD, home visit terapi & program pendampingan ke sekolah umum. informasi lebih lanjut hubungi 0274 8267882

    BalasHapus
  23. postingan yang menarik, kami juga punya artikel terkait 'Anak Autisme' silahkan buka link ini
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3521/1/Jurnal%20penerimaan%20orang%20tua%20pada%20anak%20MR.1_2.pdf
    semoga bermanfaat ya

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)