Selasa, 01 Maret 2011

Kenapa dilarang ?

Maaf fotonya kabur

Tulisan seperti itu makin banyak bertebaran di beberapa tempat dalam area perumahanku. Bahkan, pengumuman sejenis juga terpasang di banyak area perumahan lainnya. Terus terang aku pribadi kurang sepaham dengan adanya papan pengumuman itu. Khususnya aku keberatan dengan adanya larangan masuk bagi pemulung.

Aku tahu, alasan dipasangnya pengumuman itu. Pemulung, pengamen dan pengemis yang banyak berkeliaran di area perumahan dituduh sebagai "biang keladi" dari banyaknya kasus pencurian di area perumahan kami. Itu sebabnya mereka dilarang masuk ke area perumahan kami, meskipun belum pernah ada yang tertangkap tangan saat pencurian berlangsung.

Aku tak mempermasalahkan larangan terhadap pengamen dan pengemis. Aku hanya mempermasalahkan larangan bagi pemulung. Aku tahu banyak orang yang tak sependapat denganku. Bahkan suamiku pun tak sepenuhnya sependapat denganku dalam hal ini. Tapi aku punya alasan sendiri mengapa aku keberatan jika pemulung dilarang masuk ke area perumahan kami.

Alasanku adalah pemulung berjasa dalam mengurangi sampah di area perumahan kami. Sebagai gambaran selama ini petugas sampah di lingkungan kami harus mengurus sampah yang ada di 3 RT. Masing-masing RT terdiri dari 46 s/d 55 rumah. Jadi total sampah yang harus diurusi oleh seorang petugas sampah kami kurang lebih 150 rumah. Nah... terbayang kan banyaknya sampah yang harus dibuang?

Biasanya petugas sampah itu mengambil sampah di lingkungan kami 2 atau 3 hari sekali. Sering aku melihat gerobak sampahnya sudah penuh meskipun dia baru mengambil rumah dari 1 RT saja. Maklum saja, dalam waktu 2 atau 3 hari itu, sampah yang terkumpul dari masing-masing rumah tentu sudah menggunung. Dengan sampah sebanyak itu, berapa kali dia harus bolak-balik ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang lumayan jauhnya dari lingkungan kami?

Aku sering melihatnya terseok-seok membawa gerobak sampahnya. Dalam kondisi penuh seperti itu sudah pasti sangat berat. Selain itu, bau sampah basah yang sudah membusuk selama 2-3 hari pasti sangat luar biasa. Itu sebabnya aku sangat senang jika ada pemulung yang masuk ke lingkungan perumahan kami. Setidaknya pemulung bisa mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang oleh petugas sampah kami. Selain itu, pemulung bisa menjadi solusi penumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Selama ini di kotaku belum semua warga sadar untuk memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Kebanyakan masih membuang sampah-sampah itu menjadi satu. Jika tak ada yang memisahkan sampah-sampah itu, maka bisa dipastikan timbunan sampah di TPA akan dengan cepat menggunung, karena sampah-sampah anorganik tak dapat membusuk dan terurai.

Disinilah fungsi dan manfaat pemulung menurut kacamataku. Pemulung-pemulung bisa mengambil sampah-sampah anorganik yang dapat didaur ulang. Sementara tugas dari petugas sampah adalah mengambil dan membuang sampah-sampah organik ke TPS. Jika semua TPS hanya terisi sampah-sampah organik, maka sampah yang diangkut ke TPA pun hanya sampah organik saja.

Memang bisa saja para pemulung itu mengambil sampah-sampah anorganik dari TPS atau TPA saja. Tapi tentu saja ada kendalanya. Para pemulung itu akan sangat kesulitan untuk mengais-ngais timbunan sampah mencari barang-barang yang masih bisa dipakai. Jika timbunannya sudah terlalu tinggi, bisa jadi banyak barang-barang yang sebenarnya masih bisa dipakai tapi tak berhasil ditemukan para pemulung.

Selain itu, apa kita tak kasihan jika para pemulung itu harus mencari rejeki dengan mengais-ngais timbunan sampah yang sudah menggunung? Jika barang yang mereka cari ketemu pun, sudah pasti sangat kotor. Merka tak bisa langsung menjualnya. Mereka masih harus membersihkannya terlebih dahulu sebelum bisa menjualnya kembali.

Mengapa kita tak bantu mereka, toh mereka sudah membantu mengurangi sampah kita? Mengapa tak kita ijinkan saja mereka mengambil langsung sampah-sampah anorganik yang bisa didaur ulang itu langsung dari tempat sampah kita? Mengapa tak langsung kita pisahkan saja sampah-sampah kita, sehingga pemulung itu bisa mengambil sampah anorganik yang masih bersih dari tempat sampah kita? Menurutku itu tak sulit kok.

Aku sudah sejak lama peduli pada masalah sampah ini. Aku sudah sejak lama memisahkan sampah dari rumahku. Aku tak hanya memiliki 2 keranjang sampah untuk memisahkan sampah, tapi aku malah memiliki 3 keranjang sampah untuk memisahkan sampah yang berbeda. Keranjang pertama untuk sampah basah (organik). Keranjang kedua untuk sampah kering (anorganik) yang biasanya diambil oleh pemulung. Keranjang ketiga untuk sampah kering (anorganik) yang biasanya tidak diminati oleh para pemulung.


Selain itu aku juga tak sembarangan membuang sampah. Jika ada sampah yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan maka aku akan menyimpannya. Aku berusaha untuk mengalihfungsikan / reuse beberapa barang daripada dibuang ke tempat sampah. Semua itu aku lakukan dengan harapan agar timbunan sampah di kotaku tak dengan cepat menggunung.

Nah, sekarang tentang stigma masyarakat bahwa para pemulung itu juga mencuri. Menurutku itu tak sepenuhnya benar. Jika memang ada pencuri yang berpura-pura sebagai pemulung, maka tak seharusnya semua pemulung dianggap sebagai pencuri. Sebenarnya untuk mengatasi hal itu sangat mudah.
  • Warga harus lebih berhati-hati menjaga barang-barang miliknya di dalam rumah.
  • Jangan meletakkan barang-barang yang masih di pakai di depan rumah atau di luar pagar.
  • Kunci pintu pagar dan kunci kendaraan bermotor yang terparkir di halaman rumah.

Wah.., pembelaanku terhadap pemulung ternyata panjang juga ya? Semoga yang membaca tak bosan. Maaf... selama ini jika bicara masalah sampah aku memang menggebu-gebu. Dulu suamiku heran dengan keribetanku dalam mengurusi sampah, sekarang dia sudah terbiasa... ^_^

Nah.., apakah ada yang setuju dengan pendapatku di atas? Kalau begitu... larangan masuk bagi pemulung itu harus segera dicoret bukan?

31 komentar:

  1. ya kalo dilarang masuk ditempat-tempat tertentu sih menurut saya ngga apa-apa. kecuali pemulung dilarang ada... itu baru ngga boleh... ^_^. tapi jasa para pemulung kalo dihitung-hitung besar juga ya...

    BalasHapus
  2. aku setuju banget mbak, kalo kita udah terbiasa memisahkan sampahnya, tapi sayang di bak sampah di TPS tidak menyediakan itu, sehingga sering aku yg udah misahkan nya tetap aja jadi kecampur di TPS nya.

    mengenai pemulung juga ndak keberatan selama dia tidak melirik barang yg di rumah kita .... hehehehe

    BalasHapus
  3. aku setuju mbak, dihapus aja. Kasian kalau mata pencaharian satu2nya gitu sekarang malah jadi terhambat.


    dapet tambahan nih dari mbak Reni perihal sampah, yang selama ini tidak serinci mbak dalam mendapatkan perhatian saya sendiri.

    BalasHapus
  4. Hanya saja tidak semua orang bisa dan sempat memberikan pengamanan terhdap barangnya karena keterbatasan rumah yang belum ada pagar atau sejenisnya. Tapi benar juga ya Mbak, semua kembali pada pribadi masing-masing bagaimana agar bisa menjaga rumah dan tidak mengundang orang lain melakukan hal-hal yang tidak semestinya.
    Saya sendiri tinggal dipinggir jalan raya utama jadi keberadaan pemulung biasanya langsung menuju ke tempat pembuangan.

    BalasHapus
  5. kalo aku mbak setuju dengan papan itu. tapi setelah di jelasin sm mbak reni masih tetap setuju dengan papan itu, hehehe... karena di komplek rumah saya banyak kasus pencurian yang memang di lakukan oleh oknum pemulung *udah ada buktinya*

    kan di luar komplek udah ada pool sampah besar dimana sampah dari rumah-rumah di buang kesitu. hehehe

    BalasHapus
  6. Positive thinking terhadap pemulung harus, dan untuk pemulung hindarkan perbuatan negative.

    BalasHapus
  7. kalau pemulungnya bener2 kerja mengambil barang yg sudah terbuang sih gapapa.
    tapi kalau yg lain?
    iya, memang bener kita mesti hati2 dan teliti juga dalam menyimpan barang milik kita.
    pro kontra terhadap hal ini mesti ada, karena memang kadang kita jumpai hal baik dan hal buruk, selalu bersebelahan.

    BalasHapus
  8. pemulung yg bener2 ya kita dukung, kita senang dgn keberadaannya.

    BalasHapus
  9. banyak begituan di mana-mana mbak. mungkin karena ada pemulung yang suka jail, tapi bukankah tetangga kita juga banyak yang begitu. justru orang-orang susah kalo diperlakukan seperti itu menurut saya akan lebih berbahaya karena merasa dimusuhi.

    BalasHapus
  10. klu aku sih prihatin dg kehidupan pemulung.....krn mrk bnyk disekitar rmhku (pas jln besar dan dkt pasar)..tp kdang jg kesel...krn mereka gak bisa lht brng nganggur, kalu pas pintu pagar gak ketutup dan gak ada orang...udh deh gak tahu gmn caranya...jemuran alumunium dan kursi plastik ku lupa dimasukin ke garasi jd hilang deh......

    BalasHapus
  11. wah kalo saya malah punya pengalaman buruk tuh sama pemulung mba, masa sepatu bola saya yg lagi dijemur diembat......untung aja deh dilihat ama tetangga saya !!!! hehehehehe

    BalasHapus
  12. yah setiap wilayah punya kebijakan sendiri2 pak.. :)

    BalasHapus
  13. klo ane tambah dgn : PEMULUNG JUGA MANUSIA

    suka kata2 "emang ada pemulung yang mencuri tp tdk semua pencuri adalah pemulung...

    klo rasa empati kita ke sesama msh ada pasti kt gak bakalan masang papan yg ngusir keberadaan mereka...

    ane jg pernah jd korban pencurian, klo di tempatku di makassar namanya PA'YABO..
    tp sbg mahluk sosial jujur ane mo bilang biarkan mereka masuk dan ikuti saran mbak reni..



    Salam

    BalasHapus
  14. mungkin karena mengganggu mbak. iya kalau pemulungnya membawa pergi sampah-sampah, kalau cuma diacak-acak trus ditinggal pergi? kan menyusahkan jadinya

    BalasHapus
  15. mungkin mencegah kalau2 terjadi semacam kejahatan dari pemulungnya mbak

    BalasHapus
  16. Setuju Mbak.... ! karena diri kita juga yang diuntungkan dengan memisahkan mana yang organik atau yang bukan.

    Salam

    "Ejawantah's Blog"

    BalasHapus
  17. :: eh mba... aku kemaren habis wisata hijau lho di jakarta...

    ::: semuanya adalah tempat pengomposan untuk pupuk dari sampah organik kita... seru2 lho....

    BalasHapus
  18. Setuju banget, salut deh buat Mbak yang sudah memilah milah sampah berdasarkan jenisnya.

    BalasHapus
  19. saya sepakat bu... kalo pengemis sama pengamen mungkin ga papa dilarang masuk, tapi kalo pemulung?? itu salah besar. pemulung kan juga ada gunanya. salah satunya yah yang ibu sebutin tadi. hehehhe....

    BalasHapus
  20. btw saya salut sama kepedulian ibu sama lingkungan. ckckck...

    BalasHapus
  21. emang ya sebagian orang klo pemulung pasti slalu dpt cap negativ pdhal g smua pemulung ky gitu kali, pemulung adalah pekerjaan mulya dari pada copet

    BalasHapus
  22. ga ada yang salah atau benar sebenarnya. semua akibat itu kan karena ada sebab bu. seperti di komplekku, dulu pemulung bebas berkeliaran. tapi yagitu, kebebasan dan keprcayaan itu gabisa dipelihara oleh mereka. ditegur juga cuma sembuh beberapa waktu trus kumat lagi. lagipula kan susah mengidentifikasi satu persatu pemulung yang ada. akhirnya mereka dilarang masuk komplek dan hanya boleh mengais sampah di tempat penampungan diluar pagar komplek.
    dengan alasan kemanusiaan kadang kita ingin bela orang lain. tapi kalo yg dibela ga mau tau, apa ya harus kita terusin..?

    BalasHapus
  23. Saya sependapat dengan sampean Mbak..

    Mbak Ren ini, lebih pencinta alam dari anak PA, salut;

    BalasHapus
  24. nggak sadar juga tulisan begituan dipajang kadang ngurangin jatah rejeki juga sama pemulung, pengamen, pengemis.. jadi koq berasa kita ngehalangin rejeki mereka yah?.

    trus kalo dituduh biang kerok pencuri dll.. koq rasanya kita suuzon duluan sama mereka yah?..

    BalasHapus
  25. Wah luar biasa Emba ini perhatiannya terhadap pemulung" aku juga prihatin kalau ini terus dilakukan sama saja menjholimi. Dan perlu diketahui do'a orang yg terjholimi itu tidak ada hijab dimata Tuhan artinya langsung dikabulkan klu ia berdo'a

    BalasHapus
  26. iya saya juga sebenernya ngerti pemulung itu sangat dibutuhkan tapi mungkin karena kasus pencurian yang sering dilakukan pemulung, saya malah kadung kesel. pernah kejadian sih pemulung nyuri barang di rumah -.-" anyway bu, satu-satunya solusi ya kita mulai dari diri kita sendiri buat mulai membiasakan memisahkan sampah ;D

    BalasHapus
  27. Larangan Masuk bagi pemulun , pengemis, dan pengamen , di karenkan ada kasus kehilangan/pencurian.
    Menurutku jangan menuding langsung kalau itu adalah ulah mereka, mungkin juga itu ulah warga sekitaran sana, lebih baik daripada membuat prboden seperti itu alangkah baiknya petugas keamanan lingkungan lebih fokus lagi dalam menjaga keamanan tiap RT nya. Pak Hansip petugas Ronda sok atuh yang bener... jaga keamanannya. Hidup Hansip...

    BalasHapus
  28. Bukannya negative thinking sm pemulung yah mba, soalnya ada sebagian pemulung yg sambil mulung sambil merhatiin situasi rumah kita....

    BalasHapus
  29. pemulung di tempatku kadang suka nyuri. bikin sebel...

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)