Mbah Di, adalah tetangga pemilik warung kopi yang ada di komplek perumahan kami. Suamiku sangat dekat dengan Mbah Di, karena kebetulan hobby mereka berdua sama : senang burung berkicau dan memancing. Setiap kali suami pergi ke luar kota selama beberapa hari, Mbah Di yang akan dititipi memelihara burung-burung berkicau milik suami.
Begitu juga dengan urusan memancing. Hampir di semua kegiatan memancing yang dilakukan suami, bisa dipastikan Mbah Di pasti ikut serta. Bahkan, setelah memancing biasanya hasil yang diperoleh akan dimasak dan dinikmati bersama di warung kopi milik Mbah Di.
Warung kopi milik Mbah Di merupakan tempat favorit suamiku untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Meskipun kecil, warung kopi Mbah Di banyak juga pengunjungnya, yaitu : bapak-bapak penghuni kompleks perumahan. Dari warung kopi itu jugalah suamiku sering membawa 'oleh-oleh' berupa berita hangat yang terjadi di kompleks. (Ternyata.., bapak-bapak suka juga ngerumpi ya..?)
Karena kedekatan suamiku dengan Mbah Di, maka seringkali suami minta bantuan Mbah Di jika kebetulan dia sedang repot atau sakit. Seperti saat orangtuaku hendak pergi ke Magetan untuk takziah, kebetulan suami sedang sakit. Karena aku tak bisa mengemudikan mobil, maka Mbah Di yang dimintai tolong untuk mengantarkan kedua orangtuaku ke Magetan.
Keluarga kami dengan Mbah Di menjadi sangat dekat. Bahkan saat suamiku wisuda S2 di Malang tahun 2008 lalu, Mbah Di juga yang kami ajak serta. Mbah Di sering membantu suamiku untuk memperbaiki mobil. Mbah Di juga yang dulu dititipi Shasa untuk memelihara kelincinya, saat aku keberatan Shasa memeliharanya di rumah (karena baunya pesing). Dalam beberapa peristiwa Mbah Di pula yang diminta bantuannya. Pokoknya.., sudah berulang kali bantuan (tenaga) Mbah Di sangat berarti bagi kami.
Namun kini semua berbeda..., Mbah Di sudah pindah. Kebetulan rumah yang dikontraknya tak diperpanjang lagi kontraknya oleh pemilik rumah. Konon kabarnya rumah itu hendak diperbaiki. Mau tak mau Mbah Di harus mencari rumah kontrakan yang baru dan ternyata tempatnya cukup jauh dari rumah kami.
Terus terang, kami (khususnya suamiku) sangat kehilangan dengan kepindahan Mbah Di itu. Yang jelas, suamiku (dan juga tetangga sekitar) tak lagi punya tempat yang menyenangkan untuk ngerumpi dan kumpul-kumpul. Selain itu, kami akan kesulitan untuk meminta bantuan (tenaga) dari Mbah Di karena satu-satunya kendaraan yang dikuasainya hanyalah mobil, karena dia tak bisa naik sepeda ataupun motor. Jadi, kemungkinan dia untuk bisa sampai ke rumah kami sewaktu-waktu dibutuhkan (tenaganya) juga sangat kecil.
Mbah Di..., we miss you.... *halah*
Begitu juga dengan urusan memancing. Hampir di semua kegiatan memancing yang dilakukan suami, bisa dipastikan Mbah Di pasti ikut serta. Bahkan, setelah memancing biasanya hasil yang diperoleh akan dimasak dan dinikmati bersama di warung kopi milik Mbah Di.
Warung kopi milik Mbah Di merupakan tempat favorit suamiku untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Meskipun kecil, warung kopi Mbah Di banyak juga pengunjungnya, yaitu : bapak-bapak penghuni kompleks perumahan. Dari warung kopi itu jugalah suamiku sering membawa 'oleh-oleh' berupa berita hangat yang terjadi di kompleks. (Ternyata.., bapak-bapak suka juga ngerumpi ya..?)
Karena kedekatan suamiku dengan Mbah Di, maka seringkali suami minta bantuan Mbah Di jika kebetulan dia sedang repot atau sakit. Seperti saat orangtuaku hendak pergi ke Magetan untuk takziah, kebetulan suami sedang sakit. Karena aku tak bisa mengemudikan mobil, maka Mbah Di yang dimintai tolong untuk mengantarkan kedua orangtuaku ke Magetan.
Keluarga kami dengan Mbah Di menjadi sangat dekat. Bahkan saat suamiku wisuda S2 di Malang tahun 2008 lalu, Mbah Di juga yang kami ajak serta. Mbah Di sering membantu suamiku untuk memperbaiki mobil. Mbah Di juga yang dulu dititipi Shasa untuk memelihara kelincinya, saat aku keberatan Shasa memeliharanya di rumah (karena baunya pesing). Dalam beberapa peristiwa Mbah Di pula yang diminta bantuannya. Pokoknya.., sudah berulang kali bantuan (tenaga) Mbah Di sangat berarti bagi kami.
Namun kini semua berbeda..., Mbah Di sudah pindah. Kebetulan rumah yang dikontraknya tak diperpanjang lagi kontraknya oleh pemilik rumah. Konon kabarnya rumah itu hendak diperbaiki. Mau tak mau Mbah Di harus mencari rumah kontrakan yang baru dan ternyata tempatnya cukup jauh dari rumah kami.
Terus terang, kami (khususnya suamiku) sangat kehilangan dengan kepindahan Mbah Di itu. Yang jelas, suamiku (dan juga tetangga sekitar) tak lagi punya tempat yang menyenangkan untuk ngerumpi dan kumpul-kumpul. Selain itu, kami akan kesulitan untuk meminta bantuan (tenaga) dari Mbah Di karena satu-satunya kendaraan yang dikuasainya hanyalah mobil, karena dia tak bisa naik sepeda ataupun motor. Jadi, kemungkinan dia untuk bisa sampai ke rumah kami sewaktu-waktu dibutuhkan (tenaganya) juga sangat kecil.
Mbah Di..., we miss you.... *halah*

31 catatan dari sahabat:
wah pindah kemana nih, yah pasti akan sangat kehilangan, t4 yang biasa di jadikan ajang sosialisasi pindah tempat, mampir balik yah
pertamax g yah semoga pertamax, asal g pindah ke tulungagung, soalnya tulungagung dah kebanyakan warkop, apa lagi pelayannya cew2 sexy.... he.... he....
yah gagal pertamax deh, no 2 jadinya, gpp deh
kepergian seseorang menyisahkan kenangan terhadapnya. terkadang kita akan mengingat dia ketika kepergian telah membawanya dari hadapan kita
wah, tetangga yg baik hrs pindah, semoga tetangga penggantinya tidak klh baeknya dg mbah di...
udah bener2 kaya' keluarga yah mba'...
wah skr ngopinya dimana nie??
we miss you too :)
merasa kehilangan bila ea telah pergi
kadangkala tetangga itu sudah seperti sodara sendiri bahkan lebih dekat dari sodara sendiri...ya pasti laah kepergian si mbah meninggalkan kesedihan dan kehilangan bagi keluarga ibu secara udah dekat banget...
huhuh gag kebayang kalo diriku pindah hikz
wah ..silaturahminya mantabz...pasti si mbah orangnya menyenangkan...deskripsi tentang si mbah jadi pingin ktemu sama si mbah itu..mbah apa kabar? moga baik dan sehat selalu !!
Memang punya tetangga yang baik itu menyenangkan. Semoga saja ada Mbah Di lain yang jualan kopi deket rumah mbak, hehehe...
weew, enak banget tuh warungnya tante, aku juga pasti bakal sering ke warung itu, kalo banyak yang nongkrong" di sana, sekalian sosialisasi ma tetangga,hmmm moga" mbah Di pindah lagi ke deket rumah yaa ^^~
suaminya mau tak mau harus dibuatin kopi sama mbak reni... hehehe
pasti kehilangan banget yah. tapi kira-kira kalo rumahnya udah diperbaiki, dia bakal balik lagi kesitu gak?
Mudah mudahan nanti ketemu solusinya biar tetap seperti dulu ya mba...
aku juga punya teman seperti itu mbak meski bukan saudara tapi seperti sudah jadi seperti saudara, temen ngobrol, temen mancing dan temen main catur kalau nggak lagi ngeblog dia juga punya warung deket rumah
akh, senangnya punya tetangga sebaik itu ya.
oo mbah Di hehehe, tenang mbak kan mbah Di masih di indonesia toh pasti suatu saat kan bertemu lagi walau tak seperti dulu :(
kira2 beliau punya fb gak ya? kan masih bisa fb-an he he ...
Semoga silaturahmi tidak terputus... Ada baiknya yang muda tetap menjaga silaturahmi...
Salam kenal dan persahabtan dari Balikpapan.
salam sembah untuk mbah Di
moga mbah Di bisa balik lagi tinggal di kompleksnya mbak hehehe
apa tetangga baruku itu mbah Di-nya mbak Reni ya...tar aku tanyain ya mbak. Mau titip salam? hehe
agak sedih nih mba jadinya bc crita mba.
emang kdg kalo seswtu hal yg udh lama bersama kita, lalu hal itu menghilang, maka akan terasa betapa kehilangannya kita.
salam bwt mbah Di kalo ktemu ya mba...
yg jls mba jgn tinggalin blog penghuni60 ya...!
te2p ngeblog, dan jalin persahabatan.jgn sedih ya...
jd terharu nih... hiks..
wah tetangga jadi sodara ya, ^^
menyenangkan,
wah, jadi warung kopinya juga pindah, mb reni gak dapet "oleh-oleh" lagi dunk,hehehe..
Senangnya punya tetangga seperti mbah di yang hoby memancing ikan.
yang penting jangan samapai Silahturahmi putus ya mbak...
Kenangan indah bertetangga!
Silaturahmi tetap terjaga walaupun pindah!
kehilangan tetangga yg baek pa lg kl dah dipercaya emang sedih y sis,..
Poskan Komentar