Jumat, 11 Juni 2010

Belajar kejujuran

Mulai Senin, tanggal 7 sampai dengan 11 Juni 2010 Shasa menjalani Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas. Dua hari yang lalu, Shasa bercerita padaku tentang seorang temannya yang berbuat curang saat UAS. Kata Shasa, temannya itu sudah mempunyai soal UAS persis seperti yang akan diujikan pada hari itu. Aku tentu saja heran, kok bisa temannya itu mempunyai soal UAS ? Padahal untuk soal-soal untuk UAS itu sama untuk sekolah-sekolah SD dalam satu cabang Dinas Pendidikan. Kata Shasa sih, temannya itu mendapatkan soal itu dari guru lesnya.

Yang menjadi pertanyaan bagiku adalah darimana guru les itu bisa mendapatkan bocoran soal UAS ? Lantas apa motivasi guru les itu memberikan 'bocoran' soal UAS pada murid-murid lesnya. Apakah dia ingin murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang memuaskan dalam UAS itu ? Apakah dia ingin mendapatkan 'nama baik' karena berhasil membantu murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang baik ?

Apapun alasan guru les itu, aku sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukannya. Bagaimanapun juga, dia telah mengajarkan kecurangan pada murid-muridnya. Dia telah membuat muridnya tak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dia bukannya menolong muridnya tapi justru makin menghancurkan muridnya sendiri dengan mengajarkan kecurangan itu. Aku yakin, orang tua dari murid lesnya pasti tak tahu dengan kecurangan itu, karena jika para orang tua tahu tentang tindakan guru les itu, pastilah mereka tak akan mengirimkan anak-anaknya untuk les disana.

Aku hanya bisa berpesan pada Shasa bahwa aku tak suka dengan tindakan yang curang seperti itu. Berbuat curang seperti itu sama saja membohongi diri sendiri dan juga orang lain. Aku tegaskan bahwa berapapun hasil yang diperolehnya saat ulangan akan aku terima karena aku sudah melihat usaha kerasnya dalam belajar. Aku akan sedih sekali jika ternyata Shasa mendapatkan nilai yang baik tapi dengan cara yang curang seperti itu.

Aku berusaha membuat Shasa mengerti bahwa kejujuran itu jauh lebih menyenangkan. Kukatakan juga padanya bahwa jika Shasa selalu jujur, aku akan bisa menolongnya jika dia berada dalam kesulitan. Seperti jika saat dia mendapatkan nilai ulangan yang buruk, maka aku akan tahu bahwa dia belum menguasai pelajaran itu sehingga aku bisa membantunya entah itu dengan cara mengajarinya atau mendaftarkannya ke tempat les. Mendengar semua penjelasanku itu, Alhamdulillah Shasa mengerti.

Dan kemarin Shasa menceritakan perkembangan kasus temannya itu. Rupanya, kemarin ada seorang teman Shasa yang melaporkan kecurangan itu kepada guru wali kelas. Selanjutnya, teman Shasa yang berbuat curang itu dipanggil ke ruang guru dan dia 'diadili' di sana. Keluar dari ruang guru teman Shasa itu hanya bisa menangis, apalagi saat guru wali kelasnya memintanya menyerahkan bocoran soal UAS yang dibawanya hari itu. Teman Shasa itu takut menyerahkannya karena dia sudah diwanti-wanti guru lesnya agar soal itu dikembalikan lagi setelah UAS selesai. Namun karena takut pada guru wali kelasnya, akhirnya bocoran soal itu diserahkan juga.

Semoga kejadian yang menimpa temannya itu dapat menjadi pelajaran bagi Shasa bahwa berbuat curang hanya akan merugikan diri sendiri. Dan semoga saja penjelasanku yang panjang lebar kemarin dapat diingat terus oleh Shasa sehingga dia akan dapat tetap berbuat jujur apapun yang terjadi. Amin.

Terus terang saja, kejadian di atas membuatku berpikir. Aku yakin semua anak ingin dilahirkan pandai. Memang mudah bagi anak-anak yang pandai untuk tetap berlaku jujur dalam ujian. Sementara bagi anak-anak yang kurang pandai, ujian menjadi sangat menakutkan, apalagi jika dibayang-bayangi kekhawatiran tidak naik kelas, ancaman dan tuntutan dari orang tua. Terkadang, bagi anak-anak yang kurang pandai, serajin apapun dia belajar hasil yang diperolehnya tak juga maksimal dan hal itu tentu saja menakutkan.

Dalam kondisi seperti itu keinginan mendapatkan nilai baik menimbulkan godaan untuk berbuat apa saja asal bisa mendapatkan nilai baik. Godaan itu tentu saja sangat berat, namun jika ternyata mereka berani memilih untuk tetap berlaku jujur (dan mendapatkan nilai yang buruk karena mereka tak mampu mengerjakan soal ujian) maka mereka adalah anak-anak yang hebat. Semoga saja keberanian untuk tetap bersikap jujur itu akan terus dibawanya hingga dia dewasa kelak.

Yang patut diperhatikan sekarang adalah meyakini bahwa semua anak itu pandai dan kepandaian itu tidak hanya berkutat pada akademis semata. Inilah waktunya bagi orang tua (dan juga sekolah) untuk mengembangkan kepandaian di bidang lain seperti kepandaian di bidang musik, olah raga, seni dan sebagainya. Sudah banyak bukti bahwa tak hanya anak yang berprestasi di bidang akademis saja yang akan meraih keberhasilan dalam hidup. Justru orang-orang yang kreatif dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kepandaiannya akan menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidupnya.

27 komentar:

  1. itulah kendala sekarang bu guru dan murid takut untuk menghadapi ujian secara jujur bahkan belum berusaha dengan giat tetapi yang diotak cuma dipikirkan cara ringkas menghadapi ujian nya

    BalasHapus
  2. Yep, setuju mbak. Kejujuran makin mahal harganya ya.

    BalasHapus
  3. YIPIIEE bener mba,.,emank kejujuran itu sangat penting,,namun susah untuk dilakukan,,karna memank banyak godaannya,,tp hasil dari kejujuran adalah suatu kenikmatan yg bisa kita nikmati kana kerja keras kita :D

    BalasHapus
  4. Masih adakah kejujuran didunia pendidikan

    BalasHapus
  5. Dari buwel SMP kasus seperti ini sudah terjadi, eh ternyata masih ada juga ya Mbak. Duh
    Moga cerahlah esok pagi.... O

    BalasHapus
  6. Mari lestarikan Kejujuran selamanya....

    BalasHapus
  7. lho shasa udah UAS y mbak. hmm ntar lagi SMP dunk.

    kalo gitu setelah shasa selesai UAS, giliran murid private saya nih yang ujian

    BalasHapus
  8. yang anehnya Mba, yang mendorong anak2 untuk berlaku tidak jujur justru gurunya sendiri. Duuuhhhhh!!

    BalasHapus
  9. emang susah y klo jujur?
    pdhl klo ga jujur endingnya gak enk kn..

    BalasHapus
  10. setuju mbak..mendidik anak supaya tumbuh dengan sifat kreatif akan membawa dia pada kesuksesan dimasa depan.....

    BalasHapus
  11. sip!... kejujuran tak terbeli dan tak ternilai...

    btw, sy inget kira2 10 thnan lalu punya tmen klo pas saat2 anaknya ujian berusaha nyari2 bocoran dr para guru2 kemana-mana, sampe ke plosok2 gang2 kecil. Katanya, buat apa susah2 belajar, lah buktinya aku sendiri bukan gara2 insinyur elektro bisa jadi top sales, ga pake ilmu sekolah apa2 kok....

    BalasHapus
  12. Baca tulisan2 mba Reni membuat aku selalu berpikir sulitnya membesarkan dan mendidik seorang anak. Huuff...semoga saat waktunya tiba nanti aku mampu ya mba.

    Salam buat Shasha, dia pasti bangga punya ibu sehebat mba Reni :)

    BalasHapus
  13. JAdi inget postingan Q yang say no to nyontek. Kita memang harus bisa selalu belajar jujur

    BalasHapus
  14. nice blog..

    salam kenal ya..

    BalasHapus
  15. nice blog..

    salam kenal ya..

    BalasHapus
  16. nice blog..

    salam kenal ya..

    BalasHapus
  17. Ya mbak, saya pun berusaha menanamkan kejujuran kpd anak2 sy. Saya samakan pencontek itu dengan pencuri, ingin mendapat sesuatu yg bukan haknya. Saya ingin anak2 berusaha keras untuk mendapat hasil yg baik, kalaupun tdk berhasil (ttp mendapat nilai yg kurang bagus) kita hrs ttp menunjukkan kebanggaan kita kpd mereka krn telah jujur dlm hidupnya.

    BalasHapus
  18. Haduh...jadi ingat sama dosen saya yang ngasih tau soal ujian semesteran besok.
    Ya..tapi mau apa lagi, saya gak nolak mbak, wkakakka...
    *Contoh gak baik nih :D

    BalasHapus
  19. Wah..anak mbak jujur banget yah.
    Kalo saya, kayaknya gak bakalan deh bisa begitu.
    Termasuk orang yang seneng nih kalo dapet soal bocoran, wkakakak....

    BalasHapus
  20. Semoga saja sis.Wah,hebat ya Shasa,mendengarkan nasehat ibunya.jadi malu nih,saya nyontek terus tiap ujian sis hihihi.

    BalasHapus
  21. Salut dengan shasa bu , jama sekarang jarang anak seperti dia

    BalasHapus
  22. kejujuran gak bisa dibayar dengan uang....anak SD udah diajarkan berbuat curang...bagaimana kelak kalo dia dewasa nanti...ya... kayak 'anak TK' itu. yang sering ngerebut uang rakyat tanpa peduli dengan rakyatnya sendiri....

    BalasHapus
  23. saya setuju bgt mba, apalagi kalo baca paragraf terakhir,ortu hrs bs tanggap trhdp kepandaian atw kemmpuan yg dipunyai anaknya, siapa tau anak kita bs sukses lwt kreatifitas dan kepandaian dibidang yg ia senangi..

    BalasHapus
  24. ini adalah hal2 yang sering terjadi namun tak terungkap. dengan begini, kita jadi tahu yang sebenarnya, dan semoga pengungkapan cerita mb reni bisa menjadi kontrol bagi mereka yang biasanya melakukannya..

    BalasHapus
  25. saya harus menjadikannya sebagai pelajaran, untuk anak saya yang kelak akan menempuh tahap seperti shasa..

    BalasHapus
  26. kayanya soal kejujuran mulai punah deh mba di dunia pendidikan, soalnya yang pada lulus UN aja pastinya ga mungkin bisa 100% tiap sekolah,sama waktu jaman aq dulu, tapi kdg skolah gmw reputasinya jd jelek cm gra2 ada siswanya yg ga lulus,jd sengaja dibantuin nilainya sm guru juga. syukur alhmdllh mba reni bisa didik shasanya jd siswa yg jujur..salut bgt ^0^

    BalasHapus
  27. Jujur itu di cari orang, tul nggak bunda... karena nyari orang jujur sekarang itu susah. Mudah2an kita termasuk orang2 yang jujur, Amin.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)