Jumat, 10 Desember 2010

Belajar menerima kesalahan

Sobat.., hidup bersama dengan orang lain tidak mudah. Begitu juga hidup bersama pasangan kita. Karena setiap individu itu tidaklah sama sehingga sangat mungkin terjadi benturan-benturan satu sama lain. Selain itu, sangat manusiawi jika manusia berbuat salah dan khilaf. Jika kita tak mampu belajar menerima kesalahan orang lain (termasuk pasangan kita), maka hidup tak akan menjadi nyaman dan menyenangkan.

Setiap hari kita selalu berhubungan dengan banyak orang. Terbayang kan betapa capeknya hati kita jika setiap hari orang-orang itu berbuat salah dan tak mampu kita maafkan ? Betapa seharian hati kita menjadi sangat jengkel dan kita menjadi uring-uringan karenanya. Sehingga dengan berdamai dengan keadaan dan belajar menerima kesalahan akan membuat kita tetap dapat menjalani hari dengan penuh senyuman.

Sebagai ilustrasi, berikut ini aku share sebuah kisah yang menarik dan semoga mampu menjadi renungan buat kita semua. Kisah ini aku dapatkan dari seorang teman yang mengirimkannya via email. Entah kisah siapa, tapi tak ada salahnya aku berbagi disini. Silahkan dilanjut membacanya ya...?

Dua puluh lima tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah itu. Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Setiap hari dia selalu bangun sejak pagi dan terus bekerja keras sepanjang hari. Maklum, di rumah kami tidak ada pembantu. Menjelang pukul 7 malam, mama selesai menghidangkan makan malam untuk papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena adik merengek, mama terpaksa meninggalkan sebentar kegiatannya memasak di dapur. Hasilnya, tempe dan telur mata sapinya sedikit gosong. Saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.

Setelah itu, kami menunggu dengan tegang apa reaksi papa saat makan nanti. Papa selalu pulang kerja di malam hari dalam keadaan capek, kasihan sekali jika melihat makan malamnya hanya tempe dan telur mata sapi yang gosong.

Namun yang terjadi sungguh di luar bayangan kami. Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum. Papa bahkan berkata, "Mama terima kasih !". Tak ada yang berbeda dari sikap Papa, bahkan Papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah jawaban Papa atas permohonan maaf Mama. Saat itu Papa berkata, "Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong."

Sebelum tidur, seperti biasa saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada Papa. Saat itu karena terdorong oleh rasa penasaran, saya bertanya padanya apakah papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong.

Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, "Anakku, Mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek. Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun bukan ?"

Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya. Belajar menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk merayakannya adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat dan abadi.

Semoga saja cerita di atas dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa kesalahan orang lain bukanlah sebagai sasaran tembak untuk menyakitkan orang yang kita sayangi, tetapi justru menjadi pintu masuk menyatakan sikap sayang dan pintu maaf. Siapa yang setuju ?

16 komentar:

  1. oya follow me owh mbak... hahahahah

    BalasHapus
  2. that's true, Mbak Reni, kalo pacaran sih salah sedikit bisa minta putus, tapi kalo sudah suami istri ada kesalahan sedikit saja bubar..blas...ngga begitu juga kali. Maaf dan meaafkan dan keluasan hati untuk menerima dan memberi maaf penting banget dalam sebuah perkawinan.

    BalasHapus
  3. setuju...
    orang berbuat salah itu wajar....

    BalasHapus
  4. sebuah kesalahan memang harus kita terima sebab kesalah awal dari kebenaran

    BalasHapus
  5. Makasih mbak inspirasinya... Alhamdulillah saya punya suami yg dapat bersikap seperti gitu mbak.
    Tapi gimana kita bersikap kalo selalu disalahkan ... sepertinya kita ndak pernah benarnya ...??

    BalasHapus
  6. Tapi klo selalu dimaafkan n orang yg bikin salah ga berubah2 gimana yah mbak?

    BalasHapus
  7. Alaa Bidzikrillaah Tatdmainnal Quluuub....
    hanya dengan mengingat Allah_lah hati ini menjadi tenang..... jika Setiap aktifitas yang kita lakukan ikhlas hanya mengharap ridha Allah. Jazaa kumullahu khairan katsira....

    BalasHapus
  8. oke banget, harus harus bisa menerima semua kesalahan yang di perbuat :)

    BalasHapus
  9. wah, papa yang buaaaiiik sekali.

    #semoga kelak saya bisa menjadi papa yang baik juga.. :D

    a lot of learning point here.. like this

    BalasHapus
  10. Lagi lagi saya menemukan secuil kisah inspiratif di sini. Makasih lho Mbak.

    BalasHapus
  11. Kisahnya memberi pelajaran yang berarti bagi kita semua untuk mengamalkan sikap pemaaf kepada sesama.

    BalasHapus
  12. Kakak bisa minta tolong gak?

    BalasHapus
  13. Pengen nangis baca ini mba. Jadi inget betapa saya sering menjadikan kesalahan seseorang sbg sasaran tembak, tanpa tahu apa yg telah mereka lakukan di balik semua itu sehingga akhirnya malah melakukan kesalahan tersebut.

    apalagi contoh yg ditulis tentang Ibu. duh, jadi ngerasa berdosa sama mama karena saya banyaaaaaakkk banget nuntut dan komplain sama beliau.

    BalasHapus
  14. Salam Kenal Bu Reni, nice artikel..
    " belajar menerima kesalahan orang lain & MEMILIH UNTUK MERAYAKANNYA" satu pelajaran lagi yang saya dapat..terima kasih banyak ..

    BalasHapus
  15. I really agree that in your article i like to reading. Thanks sharing

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)