Kamis, 06 Januari 2011

Mengapa harus sinis?

Dalam hidup ini, kita pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang sinis. Orang-orang seperti itu lebih suka mengejek dan memandang rendah orang lain. Akibatnya, mereka hanya melihat sisi negatifnya saja dan tanpa disadari telah membuang (atau melupakan) hal-hal yang positif.

Terus terang saja, sangat melelahkan berhadapan dengan orang-orang yang sinis seperti itu. Apapun yang kita lakukan pasti salah di matanya. Dan ajaibnya, dia selalu saja dapat melihat kesalahan dari seseorang atau dari suatu peristiwa. Banyak sekali hal atau kejadian yang tak bisa memuaskannya.

Banyak orang yang akhirnya memilih bersikap sinis juga saat berhadapan dengan orang-orang sinis itu. Tapi apakah memang kita pun harus berbuat sinis dalam menghadapi orang-orang sinis itu? Apakah yang akan terjadi jika kita pun bersikap sinis? Coba kita renungkan bersama....

Mengapa harus sinis? Padahal dengan bersikap sinis kita menjadi sangat lelah karena yang terbayang dan terlihat hanyalah kesalahan-kesalahan orang lain dan hal-hal yang tak memuaskan lainnya.

Mengapa harus sinis? Padahal akibat bersikap sinis kita sulit menjadi gembira karena banyak hal indah dalam hidup ini yang terlewatkan oleh kita.

Mengapa harus sinis? Padahal gara-gara bersikap sinis kita membuat jarak dengan orang-orang di sekitar kita sehingga mereka tak berani mendekat dan berkawan dengan kita.

Mengapa harus sinis? Padahal sikap sinis membuat kita menjadi pribadi yang tidak menyenangkan, tak pernah puas, selalu menuntut sehingga akhirnya dijauhi oleh lingkungan kita.

Mengapa harus sinis? Padahal hidup ini sedemikian singkat sehingga sangat sayang rasanya jika kita tak dapat memanfaatkannya untuk membuat diri kita berarti bagi orang lain dan lingkungan kita.

Mengapa harus sinis? Padahal sikap sinis justru menjauhkan kita dari menabung kebaikan dan pahala untuk bekal kita di akhirat nanti.

Bagaimana, masihkah kita akan bersikap sinis? Jika orang-orang sinis itu tak bisa kita pengaruhi agar mengubah sikap mereka, maka (menurutku) lebih baik kita tinggalkan saja. Yang terpenting adalah, jangan sampai kita pun terbawa untuk bersikap sinis juga. Karena sikap sinis itu tak hanya merugikan diri kita sendiri dan juga merugikan orang lain.

Bagaimana, setuju bukan?

27 komentar:

  1. Kalau saya kadang terbawa emosi juga. Apabila ada orang sinis, saya sinis juga kedia. Tapi membaca tulisan diatas, saya harus berpikir ulang. Karena benar, bersikap sinis ini cukup melelahkan jiwa dan perasaan

    BalasHapus
  2. Mmm.. Kalau Ana, ada yang sinis, sinisin balik hehehe *serius* halah :D

    Mbak, kangen suasana dulu di blog, kita rame2, ada Mbak Elly, Mbak Fanda, Mbak Fanny, Mbak Elly, Itik pokoknya teman2 semuanya. Lah sekarang kan Ana dah jarang ngbelog :D

    Mbak, ada info lomba lagi tuh *hahahaha.. jadi blognya untuk update lomba doank*

    BalasHapus
  3. @Ifan > sangat manusiawi jika kita ikutan sinis juga, karena itulah 'pertahanan diri' yang secara otomatis akan muncul dari kita. Tapi sebelum sikap sinis itu berlanjut terus, tak ada salahnya kita utk introspeksi kan..?

    @M.Anaz > trus.. kapan dong sikap sinis itu akan berakhir? :p
    BTW, aku kangen juga dg kawan2 lama kita mbak. Sekarang udah banyak yg mundur, spt mbak Tisti itu juga. Ada lomba apa lagi ya...?

    BalasHapus
  4. Saya mah anjing menggonggong kafilah berlalu, selama saya kira diri saya benar loh.
    Salam.. .

    BalasHapus
  5. betul mba'... kadang aneh juga ketika yang dilihat hanya sisi negatif saja... soalnya bisa juga dengan bersikap sinis jadi terlihat seakan dia yang paling sempurna -_-" tinggalkan kalau memang tidak bisa diajak untuk memperbaiki diri >.<

    BalasHapus
  6. orang sinis adalah orang yang tidak bisa berpikir positif dan memberi saran atas suatu ketidaksesuaian (menurutnya).
    dia hanya bisa mengkritik. pedas pula tuuuh

    BalasHapus
  7. @mood > baguslah, jangan biarkan si sinis mengganggu hidupmu.

    @Inge > orang2 sinis memang menilai bahwa dirinya yg paling benar...

    @Bang Atta > bener... kritikan dari orang2 sinis memang sangat pedas... (cabe kali pedas... hehehe)

    BalasHapus
  8. orang seperti itu kena virus SMS (Senang Melihat orang Susah, Susah Melihat orang Senang), kasihan ya mbak...
    hidup hanya sebentar, sayangkan kalo di isi dengan sinis2an, itu bikin cepet tua loh khan garis2 wajah semakin jelas, betul ndak mbak...??

    BalasHapus
  9. Astaghirullah..... semoga kita semua terhindar dari sifat jelek itu, mbak....

    BalasHapus
  10. sinis kadang memang perlu mbak...asal tepat pada porsinya....

    BalasHapus
  11. setuju..kalo bersikap manis oke tuh. hehee...

    BalasHapus
  12. salam kenal nih...mampir dulu baca-baca yah.
    http://f4dlyfri3nds.blogspot.com

    BalasHapus
  13. dengki rasanya penyakit parah, semoga kalopun aku terjangkit segera ketemu obatnya.

    BalasHapus
  14. menurutku janganlah terbawa oleh seseorang yang sinis tersebut, kadang kalo kita bisa membuat orang sinis menjadi tidak sinis itu adalah suatu ibadah. bahkan kalo kita bisa menghibur seseorang yang lagi sinis itupun suatu ibadah. UNtuk itu jadikan diri kita tidak terbawa atau tidak ikut-ikutan sinis terhadap orang yg sinis.

    BalasHapus
  15. wah, aku setuju bgt mba...!
    ^_^

    BalasHapus
  16. mungkin sinis karena tak mampu untuk bisa lebih maju xDD

    BalasHapus
  17. hem setuju banged mba, ngga usah dipikir kesinisan orangnya yg penting inget kebaikannya aja biar ngga sakit hati meski jujur agak maksa sih... hehe

    BalasHapus
  18. @m.Sukma > Wah ada virus baru rupanya, virus SMS. semoga saja kita tak sampai menjadi orang2 yg spt itu, mbak.

    @Fajar > masalahnya, aku tak tahu seberapa porsi tepatnya hehehe

    @M.Fanny > memang lebih menyenangkan bersikap manis kan mbak?

    @f4dLy > salam kenal kembali

    @A Vip > aku juga sudah siap2 obatnya mulai sekarang kok, hehehe

    @DJ Tri > memang sulit menjaga diri agar tak terbawa arus negatif spt itu. Tapi kita tetap harus berusaha bukan?

    @Penghuni60 > terima kasih..

    @Clara > ya, mungkin juga begitu. Mungkin juga karena iri dg keberhasilan orang lain..

    @M.Rosi > memang tak mudah ya mbak.. tapi emang buat apa kita mikirn kesinisan orang lain terus?

    BalasHapus
  19. iyah mba
    ad sebagian orang yang sinis
    tapi kadang gx nyadar
    termasuk chika hehee...^^

    BalasHapus
  20. kayaknya ada beberapa orang yang memang tabiatnya hidup untuk sinis, mencela dan mencari kesalahan orang artinya memang nggak pernah bisa trukun dengan orang lain disekitarnya, di sekolahku ada juga yang begini mbak

    BalasHapus
  21. iyaah yaa mbak, sebel banget deh klo liat orang yg sini.. kek gmanaaa gituuu :D

    BalasHapus
  22. kedewasaan berfikir dan bersikap sangat diperlukan. Berfikir positif mungkin bisa jadi solusi. Santailah dan bersyukur saja karena masih ada orang yg sudi membuang2 energy untuk kita.

    Cheers..

    BalasHapus
  23. ia mbak... setuju banget... mengapa harus bersikap sinis? hanya bikin hati enggak damai...

    BalasHapus
  24. @chika > semua orang mungkin pernah kok bersikap sinis, karena tak ada manusia yg sempurna kan?

    @Bang Munir > orang2 spt itu ada dimana-mana, Bang.

    @Diah > iya sih... sebel juga ama orang2 spt itu.

    @Zainul > betul, lebih baik kita mikirnya spt itu aja ya..? hehehe

    @M.Goen > makanya, mari kita berusaha utk membuat hati kita selalu damai... ^_^

    BalasHapus
  25. aah..emang tidak salah saya juluki mbak Reni sebagai ibu yang selalu bijak..

    yup, kenapa harus sinis yak?.
    nggak penting amat..

    BalasHapus
  26. wah sinis kan hobi saya mbak :P

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)