Minggu, 06 Februari 2011

Catatan Emha Ainun Nadjib (1)

Catatan kali ini tentang karya Emha Ainun Nadjib yang berjudul Seribu Masjid Satu Jumlahnya : Tahajjud Cinta Seorang Hamba. Sebenarnya ini buku yang sudah lama sekali yang sengaja aku cari dari tumpukan buku lamaku. Aku ingin bicara tentang buku ini, tapi bukan mereviewnya.

Kali ini aku ingin menulis ulang beberapa tulisan yang menarik bagiku dari buku itu. Karena ada beberapa tulisannya yang kuanggap menarik, maka aku akan mempostingnya dalam beberapa bagian. Oya, aku mencatatnya persis seperti yang ada di buku dan tidak melakukan perubahan apapun.

Pembunuh dan Penyembelih

Seusai mengaji Al Qur'an bersama, di sebuah surau, terdengar suara Pak Guru berbicara tentang keburukan kepada murid-muridnya.

"Kenapa dalam kenduri tadi malam tak kita sebut Fulan membunuh ayam, melainkan Fulan menyembelih ayam? Kenapa Fulan tak kita sebut pembunuh, melainkan penyembelih?"

"Karena kebaikan dan keburukan itu bentuk pekerjaannya bisa sama, tetapi berbeda perhubungan nilai dan haknya. Kalian menggenggam sebilah pedang. Kemarin kalian menebaskannya ke dahan pohon, hari ini ke leher seseorang.. Yang kalian lakukan semata-mata menebaskan pedang, tetapi pada tebasan yang kedua, kalian menghadirkan sesuatu tidak pada tempatnya dan tidak pada haknya."

"Selembar kertas yang bersih kalian hamparkan di atas lantai rumah yang bersih : kertas itu menjadi kotoran pada lantai. Demikian pula jika kalian tidur di tengah jalan raya, sembahyang subuh di siang bolong, atau menyanyikan lagu keras-keras di rumah sakit. Keburukan ialah kebaikan yang tidak diletakkan pada ruang dan waktunya yang tepat."

"Makan gulai itu baik dan bergizi, tapi ia menjadi kejahatan jika kalian lakukan tanpa berbagi dengan seseorang yang kelaparan yang pada saat itu berada dalam jangkauanmu."

"Mengucapkan kata-kata, mengungkapkan pengetahuan atau menuturkan ilmu; betapa mulia. Tetapi pada keadaan tertentu yang kalian ucapkan adalah dusta. Jadi, mengucapkan dan mengucapkan itu berbeda, seperti perbedaan antara surga dan neraka."

"Mengambil air di sumur, mengambil bebuahan di ladang atau mengambil uang di saku: baik itu adanya. Tetapi sumur siapa, ladang siapa dan saku siapa : itulah yang menentukan apakah kalian mengambil ataukah mencuri"

1987, Emha Ainun Nadjib
dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya : Tahajjud Cinta Seorang Hamba (hal. 29)

Semoga ada faedah dan manfaatnya. Terima kasih.

22 komentar:

  1. insya alloh bermanfaat.. dalem mbak maknanya.. makanya ada yang bilang juga kalo baik dan buruk itu tipis batasnya.. tergantung niat juga.

    BalasHapus
  2. buku kecil berwarna biru ya Mbak, kebetulan saya juga punya dan memang isinya sangat mantab dan inpiratif. Bahkan di TV swasta Kediri, acara Cak Nun "Padhang mBulan" masih sering tayang

    BalasHapus
  3. wah... menginspirasi banget mbak... thanks ya...

    BalasHapus
  4. saya suka dengan ceramahnya emha ainun najib, kalau di Dhoho tv ada acaranya namanya padahang mbulan

    BalasHapus
  5. dunia penuh hikmah...
    bedanya, bedakan.. hati yang tertutup dan terbuka atas izinNya

    BalasHapus
  6. dah lama banget gak pernah denger monolognya caknun bu. asik tenan tuh...

    BalasHapus
  7. Selalu suka dengan karya Mas Emha, banyak manfaat yang terkandung didalamnya.

    BalasHapus
  8. Terima kasih atas postingannya, semoga Mbak N sobat-sobat semua di beri kesehatan oleh Allah S.W.T sehingga bisa berkarya.

    BalasHapus
  9. banyak kata-kata yang memberikan pelajaran baik ya mbak ^^

    BalasHapus
  10. mantap sekali karya tulis Emha Ainun Nadjib itu ya mbak...

    BalasHapus
  11. sip, mbak. Insya Allah manfaat sekali. Saya juga suka buku itu. Bahkan salah satu puisinya sempat dijadikan puisi wajib di kegiatan BGMKP ("Bulan Gemar Membaca dan Kunjung Perpustakaan") tempatku bekerja.

    Kalo melihat ada episode-nya, saya yakin mbak reni bakal memposting tulisan lain dari buku itu hehe ... lanjutkan, mbak.

    BalasHapus
  12. oya, salam kembali buat mbak Shasa dari Cici. Place to Study membuat Cici pengen belajar review buku katanya hehe ...

    BalasHapus
  13. sesuatu sepatutnya diposisikan sesuai tempatnya.
    slilit sang kyai juga punya kang emha khan?
    lli = lupa-lupa ingat

    BalasHapus
  14. karyanya bener2 bisa membukakan mata hati kita,,,,untuk peduli diantara sesama,,,
    makasih banget udah di share ma kita2 ya mbak,,,,

    BalasHapus
  15. wah sebuah hal untuk perenungan ^^

    BalasHapus
  16. makasih mbak, renungan pagi nya..

    BalasHapus
  17. makasih renungannya, banyak manfaatnya.

    BalasHapus
  18. Membaca dan merenung.

    Tiap tiap kalimatnya sederhana, tapi justru disanalah kekuatan yang Emha miliki. Mampu menyampaikan pesan yang berbobot dengan kata yang ringan..

    BalasHapus
  19. buku yang penuh dengan perenungan ya mbak, melihat kedalam diri kita..

    BalasHapus
  20. buku yang penuh dengan perenungan ya mbak, melihat kedalam diri kita..

    BalasHapus
  21. Benar banget. Segala sesuatu ada aturannya. Tidak mungkin kita melakukan sesuatu tetapi tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Pasti semuanya akan kacau sebagaimana yang dipaparkan pada tulisan diatas bahwa tidak mungkin melakukan sholat subuh disiang bolong

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)