Sabtu, 05 Februari 2011

Pengacara Jalanan


Novel karya Jhon Grisham ini langsung dibuka dengan adegan yang cukup menegangkan. Sembilan orang pengacara handal dari Drake & Sweeney, biro hukum raksasa di Washington, DC., disandera oleh seorang gelandangan yang berhasil menyusup ke kantor tersebut.

Gelandangan itu bersenjata dan sedikit mengalami gangguan mental. Semua tawanannya itu dipaksa untuk menyerahkan dompet, jam tangan, uang dan perhiasan yang mereka miliki. Meskipun begitu, dia tak menyakiti kesembilan pengacara yang menjadi tawanannya itu.

Kepada kesembilan pengacara itu, gelandangan tersebut mengajukan aneka pertanyaan yang sangat aneh. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain adalah : berapa penghasilan mereka per tahun, berapa persen yang mereka sumbangkan untuk orang kelaparan dan tunawisma, dsb.

Akhir dari drama penyanderaan itu adalah polisi berhasil menembak mati sang gelandangan dan membebaskan kesembilan pengacara tanpa luka sedikitpun. Dan, kejadian itu segera menjadi kenangan buruk yang harus segera dilupakan oleh para pengacara itu. Namun tidak bagi Michael Brock.

Sebelum menjadi salah satu korban penyanderaan itu, Michael adalah seorang pengacara handal yang karirnya melesat dengan pesat. Bahkan karena terobsesi dengan karir dan pekerjaannya, rumahtangganya mulai goyah. Namun, gaji yang tinggi dan jaminan akan menjadi partner dalam waktu 3 tahun lagi, tak membuat Michael terlalu peduli dengan rumah tangganya.

Keadaan berubah setelah peristiwa penyanderaan itu. Michael yang kebetulan paling banyak berinteraksi dengan sang penyandera, menjadi gelisah. Satu hal yang sangat disyukurinya adalah dia tidak mati dalam penyanderaan itu. Pekerjaan menjadi tidak penting lagi baginya. Hidup dan mati menjadi pemikiran utamanya.

Michael pun mulai terusik untuk menyelidiki penyebab kenekadan gelandangan itu. Ternyata gelandangan itu menjadi salah satu korban  kesewenang-wenangan dari biro tempatnya bernaung. Hasil penyelidikannya membuat Michael semakin gelisah. Walau masih ragu-ragu, Michael mulai memikirkan untuk mengalihkan pekerjaannya sebagai pengacara jalanan, pengacara bagi orang miskin dan tunawisma.

Tentu saja hal itu mendapat tantangan keras dari berbagai pihak. Keluarga dan teman-teman sejawatnya berusaha untuk mempengaruhinya membatalkan niatnya. Berbagai macam cara dilakukan namun Michael tetap memilih melepas karirnya yang cemerlang. Dia rela mengganti kantornya yang mewah dengan kantor yang kumuh dan dingin. Bahkan itu berarti dia harus melepas gajinya sebesar $ 120.000/tahun dan menggantinya dengan gaji $ 30.000/tahun.

Sayangnya, Michael keluar dari biro-nya yang besar itu dengan membawa masalah. Suatu berkas rahasia yang telah diam-diam diambilnya dalam rangka penyelidikannya terhadap gelandangan itu tak berhasil dikembalikannya.  Hilangnya berkas itu tentu saja membuat biro hukum raksasa itu kalang kabut. Polisi dan petinggi biro tak kesulitan untuk mengetahui pelaku pencurian itu. Sejak itu... Michael menjadi buronan.

Kehidupan menjadi semakin tidak mudah bagi Michael. Rumah tangganya benar-benar ambruk karena istrinya tak mau menerima keputusannya menjadi pengacara jalanan. Tak ada keluarga dan teman yang mendukungnya. Hidup selalu diliputi perasaan khawatir karena takut jika tertangkap polisi dan dipenjara. Selain itu, dia harus belajar menyesuaikan diri hidup  sendiri, keluar dari apartemen mewahnya, gaji yang pas-pasan dan harus mulai membiasakan diri berhadapan dengan orang miskin dan tunawisma.

Perkenalannya dengan keluarga tunawisma yang terdiri dari seorang ibu muda dengan ketiga anaknya, makin memantapkan hati Michael dalam membela  orang miskin. Dia telah mampu melibatkan diri secara emosional dengan mereka. Setelah itu, berbagai masalah yang menyangkut orang-orang miskin dan tunawisma sudah tak asing lagi baginya.

Pada dasarya, aku suka dengan tema yang diangkat dalam novel ini. Hanya saja aku kurang puas dengan pengembangan konflik pribadi Michael. Perubahan pemikiran yang radikal pada diri Michael terjadi dalam waktu yang  terlalu singkat. Selain itu pergolakan emosi Michael yang mengiringi pengambilan keputusan itu masih sangat kurang.

Namun, dari novel ini aku mendapatkan gambaran bagaimana masyarakat dan pemerintah USA menangangi orang miskin dan tunawisma. Ternyata ada banyak gerakan (baik itu oleh masyarakat, gereja, swasta ataupun pemerintah) dalam usahanya membantu orang miskin dan tunawisma disana. Pelayanan yang tersedia bagi orang miskin dan tunawisma yang aku catat dari novel ini antara lain adalah :
  • adanya dapur umum tempat orang miskin dan tunawisma mendapatkan makanan gratis
  • disediakannya tempat penampungan tunawisma
  • adanya klinik kesehatan yang melayani pemeriksaan dan pemberian obat secara gratis
  • adanya women's center yang memberikan aneka macam bantuan dan pelayanan termasuk rehabilitasi bagi para wanita pecandu obat bius
  • klinik hukum yang memberikan konsultasi hukum atau bantuan hukum secara murah dan seringkali gratis
  • banyaknya sukarelawan untuk berbagai jenis pelayanan
  • banyaknya donatur yang menyumbangkan aneka kebutuhan mulai bahan makanan sampai pakaian
Setelah membaca itu semua aku jadi bertanya-tanya tentang kondisi di negeriku. Baru kusadari bahwa aku tak tahu apakah ada program-program dan kegiatan terorganisir seperti itu yang dilakukan untuk orang miskin dan tunawisma di negeriku? Betapa malunya aku saat menyadari betapa sedikit nya pengetahuan yang kuketahui dari negeri ini *tersipu*

Ada tulisan yang membuatku termenung setelah membacanya :
... seorang lelaki hidup di jalanan, keluar masuk tempat penampungan, bekerja serabutan untuk mendapat upah minimum, berusaha sebaik-baiknya untuk menghidupi dirinya sendiri. Kemudian dia ditangkap karena hidup di kolong jembatan. Dia pasti tak ingin tidur di kolong jembatan, tapi setiap orang kan harus tidur, dimanapun. Dia dianggap salah karena dewan kota dan orang-orangnya yang hebat telah menetapkan bahwa menjadi tunawisma termasuk tindak kriminal. Dia harus membayar $30 hanya agar bisa keluar dari penjara, dan $30 untuk denda. Total $60 dari kantong yang sangat kering. Jadi orang itu terjerumus semakin dalam....

Pengarang : John Grisham
Judul : The Street Lawyer (Pengacara Jalanan)
Terbit : Tahun 2006 (cetakan keempat)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 480 halaman
ISBN : 979-605-936-3

28 komentar:

  1. Ah novel yang keren. Sudah difilmkan belum ya mbak Reni ?
    Memang di negara2 maju seperti Amerika ini segala fasilitas untuk menangani masyarakat yg lemah sdh sgt banyak. Walau selalu ada hal2 ironis yang mewarnainya ya.

    BalasHapus
  2. Dimulai dari sebuah penyanderaan, hingga adanya kesadaran dari si tokoh cerita. Wah sepertinya sangat bagus nih Mbak.

    BalasHapus
  3. sebuah perubahan hidup yang begitu drastis. Terkadang seseorang baru terbuka pikirannya ketika ada orang lain yang memberikan peringatan pada kita. Sebagaiana gelandangan yang merobek nurani Michel.
    kayaknya syik banget ya Mbak

    BalasHapus
  4. novel yang mantap ya mbak, saya jadi penasaran membacanya, oh iya mbak ,templatenya keren mbak...

    BalasHapus
  5. Terharu mbak membacanya,,,,jadi ingin membaca novel nich,,,,

    BalasHapus
  6. Eh..eh.. kok kita sehati ya mbak? Aku juga barusan review novelnya John Grisham loh..
    Aku dah lama banget baca novel ini, sampe dah lupa jalan ceritanya

    BalasHapus
  7. Smoga pemimpin qta jg membaca buku ini.
    Smoga pemimpin kita lebih peduli dengan rakyatnya...,

    lam knal...

    BalasHapus
  8. Smoga pemimpin qta jg membaca buku ini.
    Smoga pemimpin kita lebih peduli dengan rakyatnya...,

    lam knal...

    BalasHapus
  9. kisah yang sangat menarik, kayak film The Devil's Advocate

    BalasHapus
  10. andai saja di indonesia ada pengacara seperti michael....


    btw pengen nyoba baca deh...

    BalasHapus
  11. sepertinya novel yang menarik mbak, tapi saya baca resendinya masih nggajk mudheng kenapa koq pengacara tuh ngajuin pertanyaan yang aneh2 kayak gitu?. apa motifnya mengorek sesuatu motif yang tersembunyi?..

    tapi emang di USA sono yang namanya kesejahteraan rakyat emang diperhatikan banget yah..

    BalasHapus
  12. keren novelnya....
    coba difilm-in kayak film2 yang lain....
    yang nonton para pejabat, seru tuh.....

    BalasHapus
  13. john grisham adalah salah satu favorit saya ...

    BalasHapus
  14. sebuah tamparan untuk negeri dan orang-orang kaya sesungguhnya pada harta mereka ada hak orang miskin

    BalasHapus
  15. saya sendiri jarang baca novel, mungkin nanti saya akan pertimbangkan untuk baca novel yg satu ini..:D

    salam kenal

    BalasHapus
  16. novel yang bagus sebagai pelajaran buat kita..

    BalasHapus
  17. bukunya bagus mba aku baru baca reviewnya udah tertarik hehehe

    BalasHapus
  18. Review menarik mbak. John Grisham salah seorang penulis yang saya suka. Cuma lupa, yang ini sudah saya baca belum ya....?

    BalasHapus
  19. Wah buku lama yah,
    saya nggak pernah melihat sampulnya di toko buku...
    Sepertinya menarik... :)

    BalasHapus
  20. plot ceritanya keren juga. mungkin lebih seru kalau nonton filemnya lgsung, tapi apa mungkin filemnya juga ada? atau sekadar di novel?

    BalasHapus
  21. salam kenal mabk resensinya street lawyer sangat bagus
    wah aku terkesan bagaimana pelayanan bagi mereka yang kurang mampu disana
    trus kita bandingkan denagan negeri ini
    sebenernya kita juga bisa memulai tindakan untuk membantu
    bila tidak bisa menjadi penolong yang besar kita mulai dari penolong yang kecil

    trus menurutku kalau aku soroti dari gelandangan tersebut dia melakukan tindakan yang hampir sia-sia
    tapi menurutku tindakannya adalah tindakan yang besar karena bertujuan untuk mengingatkan para pengacara
    dan hasilnya michael pun sadar

    kadang kita berpikir tindakan itu mustahil dan tidak munkin untuk merubah sesuatu
    tapi bila tidak dimulai kapan lagi
    salut buat gelandangannya

    shasa itu anak mbak ya dia juga sering resensi buku bagus juga :)
    ijin follow sekalian mbak
    salam persahabatan
    GBU

    BalasHapus
  22. menggugah banget hehehe iizin di copas...

    BalasHapus
  23. jangan pamer buku terus bu. bikin aku gatel pengen cepet pulang. jangankan gramed disini, wong onlen saja modal hape bersinyal laplep. makanya susah banget pengen jalan jalan ke blogtemen..

    BalasHapus
  24. wah mantep neh reviewnya jadi pengen ngebaca entar deh kalo ke gramedia

    BalasHapus
  25. mbak Reni suka baca novel seru kayak gini ya.

    BalasHapus

Maaf ya, komentarnya dimoderasi dulu. Semoga tak menyurutkan niat untuk berkomentar disini. Terima kasih (^_^)